Dark Night
Jáckio Estienne
Gelap, adalah kata pertama yang terlintas dipikirannya saat menatap langit dari balkon kamarnya. Matahari telah tenggelam sedari tadi, menyisakan kegelapan yang mendominasi. Tak ada bintang, hanya ada bulan diujung langit yang bentuknya tak lagi bulat sempurna.
Sedari tadi Jack memperhatikan Danella dan Camille yang masih sibuk merapikan baju-baju milik Jack. Sebenarnya Jack sudah menawarkan bantuan kepada mereka, karena mau bagaimanapun itu adalah barang-barang miliknya dan ia tak mau merepotkan. Namun, agaknya Danella dan Camille keras kepala, tetap tak mau dibantu oleh Jack. Katanya sih, takut Jack kelelahan karena perjalanan jauh yang ditempuhnya tadi siang.
Jack terkesiap ketika Okimi muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Senyuman lebar terpatri di bibir, merasa tak bersalah atas tindakannya yang hampir saja membuat mata Jack keluar saking terkejutnya.
"Omong-omong kamu keberapa?"
Yang ditanya hanya mengerjap bingung. "Hah? Keberapa apanya, ya?"
"Urutan," ujar Okimi.
Camille terkekeh pelan melihat raut kebingungan yang lebih tua. Tungkainya melangkah, mendekati Barrie yang tengah membungkuk disamping Darren, mereka sedang sibuk membereskan kardus-kardus.
"Kak, di rumah ini hierarki itu penting banget. Kalau lebih tua tuh bisa begini."
Lalu dengan kencang Camille menendang pantat Barrie, membuat pemuda itu ambruk dan kepalanya terbentur lantai.
Barrie mendengus, mengusap dahinya yang baru saja ciuman dengan lantai. "SAKIT TAUUU! KAK NELLA, KAK MILLE NYA NIH!"
"Camille!"
Camille cemberut, air mukanya berubah lebih gelap. Menatap Barrie dengan sinis, tak lupa dengan cibiran yang keluar dari bibir manisnya. "Huh cengeng, ngadu aja bisanya."
"Mille, jangan iseng deh," tegur Danella.
Jack memandang semuanya dengan senyuman tipis, pertengkaran itu merupakan pemandangan baru baginya. Tak banyak anak seusianya yang tersisa di panti asuhan, kebanyakan dari mereka sudah diadopsi dan hanya menyisakan anak dengan rata-rata umur empat hingga sepuluh tahun.
Jack melamun, hingga tarikan diujung kemejanya membuat lamunannya buyar seketika. "Kenapa, Mi?"
Okimi kembali tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi-gigi rapi miliknya. "Disini yang ada di urutan pertama alias yang paling tua itu Kak Nella, urutan kedua Kak Darren, ketiga aku, lalu Mille terus Barrie. Kak Jack urutan keberapa?"
"Oh, aku lahir tahun 2002 bulan—"
"Berarti kedua!" potong Barrie sembari tertawa lebar, "HAHAHAHA, Kak Darren harus nurut sama Kak Jack!"
Pemuda itu menatap seisi ruangan dengan tatapan jengah, menautkan kedua alisnya kemudian melangkah pergi dengan kaki yang terhentak.
"Cepet turun, sebelum papa marah."
ㅤㅤ

ㅤㅤ
Makan malam telah usai sejak satu jam yang lalu. Kini, dua kakak-beradik itu sedang mengelilingi rumah; lebih tepatnya, yang satu sedang menemani kakaknya berkeliling, dan yang satunya lagi sedang menghapal seluk-beluk rumah mewah ini.
"Nah ..." Camille membuka pintu terakhir di rumah itu, pintu yang terletak paling ujung, dekat dengan pintu menuju taman di belakang rumah. "Ini perpustakaan, Kak. Emang nggak terlalu banyak jenis buku sih, isinya rata-rata buku-buku kesukaan mama sama papa, juga buku-buku buat kita belajar."
"Ah, iya. Kita belajar disini? Nggak di sekolah?" Dipandanginya ruangan luas yang didominasi warna coklat itu. Terlihat sangat nyaman untuk dijadikan tempat membaca.
"Nggak, Kak. Papa nggak akan pernah kasih izin kita untuk keluar dari rumah ini, walau cuma selangkah." Lalu pintu coklat itu ditutup kembali. Camille mendongak, menatap lurus Jack yang lebih tinggi darinya. "Kita nggak pernah keluar dari rumah ini, Kak. Semua kegiatan kita lakukan di dalam sini, termasuk belajar. Yah, seenggaknya ada guru yang papa panggil setiap minggunya untuk ngajarin kita."
"Mmm ... Papa itu ... ketat banget ya orangnya?"
Mille mengangkat kedua bahunya, melangkah maju meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Jack. "Gitu deh. Nanti Kakak juga bakal tau sifat papa kaya gimana. Tapi yang terpenting—"
Langkah itu terhenti, Mille menundukkan kepalanya.
"—jangan sekali-kali kakak bantah perintah papa, kalau Kakak nggak mau celaka," lirih Mille.
Suasana menjadi senyap seketika, Mille tak bergeming di tempatnya, begitupun Jack yang menatap bingung gadis bersurai coklat di depannya.
"Kakak nggak boleh ngerasain apa yang aku rasain. Waktu itu aku ngebantah papa, dan Kakak tau selanjutnya apa?" Mille bergumam, suara pelannya masih dapat ditangkap oleh pendengaran Jack. "Hahaha, aku ... dik—"
"Hoi!"
Kalimat itu belum selesai terucap, namun, pemuda berpiyama Donald Duck itu memotongnya secara tiba-tiba.
"Ih, kok kalian belum ke kamar? Udah mau jam 10, lho. Cepet masuk kamar sebelum ketauan papa." Okimi mengernyit, memandangi keduanya dengan raut gelisah.
Mille melirik sekilas ke arah jam dinding di depannya. Benar, jarum panjangnya telah sampai di angka 11.
"Yaudah, aku ke kamar duluan. Selamat malam, Kakak-kakak!" seru Mille sebelum punggung itu menghilang dibalik dinding yang memisahkan ruangan.
"Kak Jack, yuk ke kamar." Okimi memulai langkahnya, membiarkan yang lebih tua mengikutinya dibelakang. "Yang lain udah masuk kamar semua, Kakak nggak takut gitu berkeliaran di sini malem-malem?"
"Nggak tuh, kenapa harus takut?"
"Kakak belum tau aja gimana seremnya kalau berkeliaran di luar kamar malem-malem gini, apalagi kalau udah lewat jam 10." Okimi bergidik, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila harus berjumpa lagi dengan dia.
Satu persatu anak tangga dipijak, melewati lorong-lorong dengan lukisan hampir disetiap jengkal dindingnya. Benar, semakin malam disini semakin menyeramkan. Rata-rata lukisan yang berada di sini berupa manusia. Lukisan diujung sana yang paling menarik perhatian Jack, lukisan seorang pria dan seorang wanita yang memakai pakaian khas kerajaan eropa jaman dulu.
Menyadari kemana arah pandang Jack, Okimi berucap, "Itu lukisan mama sama papa, Kak. Jangan dilihatin terus, nanti mata mereka ngelirik ke Kakak lho."
"Mi, jangan nakut-nakutin dong. Aku penakut anaknya," gerutu Jack.
Decihan keluar dari belah bibir milik pemuda bermanik amber. "Tch, badan gede tapi takut sama lukisan, AHAHAHA—"
Ding dong ding dong!
Dentingan jam bandul yang berada tepat di atas lukisan itu membuat tawa Okimi terhenti. Terganti dengan raut datar dan bibir yang menipis.
"Kak, masuk—"
Brak!
"—kamar, sekarang ..." Pandangannya bergerak, menatap kesana kemari dengan gelisah.
"Bentar mi, itu kayanya ada yang jatuh dibawah." Langkah besar diambil Jack, berniat menuruni tangga untuk mengecek keadaan sebelum bentakan kuat diterimanya.
"KAK! Masuk kamar!!" bentak okimi.
"Kenap— eh!"
Jemari sang adik bergerak, menarik pergelangan tangan Jack yang hendak melangkah ke bawah, membawa tubuh keduanya masuk kedalam kamar Okimi.
"Lho? Kok dikunci kamarnya, mi?"
Gelengan kuat diberikan Okimi, telunjuk pemuda yang lebih muda ditaruh didepan bibirnya sendiri. "Ssstttt! Kakak diem dulu. Malam ini, Kakak tidur sama aku. Nggak boleh keluar kamar sebelum matahari terbit, jangan juga buka kunci kamarnya. Sama jangan pernah bukain pintu untuk siapapun, kalau ada suara ketukan atau apapun suara diluar sana, pura-pura nggak denger aja, anggep itu nggak ada."
Tubuh keduanya menegang ketika mendengar suara gelak tawa, bersamaan dengan suara decitan lantai kayu yang semakin mendekat.
"Itu ..."
"Mama."