Dari Telegram ke Kamar Hotel
Hams & NeynungHams sudah menunggu di depan restoran ketika Neynung datang.
Neynung melihatnya dari seberang jalan. Cowok itu berdiri sambil memegang ponsel, sesekali melihat jam. Wajahnya sama seperti di foto atau saat mereka biasa video call, cuma terlihat lebih gugup.
“Hams?”
Cowok itu menoleh cepat. “Neynung?”
Mereka sama-sama tersenyum, tapi gak langsung berjabat tangan.
“Udah lama nunggu?” tanya Neynung.
“Enggak. Baru datang.”
Padahal dari layar ponselnya, Neynung sempat melihat pesan Hams yang dikirim hampir satu jam lalu.
Mereka makan siang di restoran kecil. Awalnya obrolan mereka masih terasa canggung. Selama ini mereka terbiasa ngobrol lewat layar, bisa menghapus pesan, menunggu beberapa detik sebelum membalas, dan menyembunyikan ekspresi masing-masing.
Sekarang mereka duduk berhadapan.
“Beda ya, dibandingkan kalau kita ngobrol di tele” kata Hams.
Neynung mengangkat alis. “Beda gimana? lebih jelek?”
“Beda lebih cantiklah.”
Neynung menunduk sambil tersenyum. “Gombal.”
“Beneran. Serius”
“Mas Hams juga lebih ganteng” Neynung merasakan pipinya lebih hangat karena merona.
Setelah makan, mereka pergi ke bioskop. Hams membelikan minuman dan popcorn, sementara Neynung memilih filmnya.
Pengabdi Setan 7
Di dalam studio, tangan mereka beberapa kali bersentuhan ketika mengambil popcorn.
Pada awalnya, keduanya langsung menarik tangan.
Lama-lama, Neynung membiarkan tangannya tetap di sana. Kelingking Hans ada di atas kelingking Neynung. Keduanya bertatapan
Neynung tersenyum kecil lalu mengangguk.
Hams menggenggam tangannya. Tidak erat, tetapi cukup untuk membuat Neynung terus memikirkan sentuhan itu selama film berlangsung.
Ada beberapa orang di atas tempat duduk mereka, entah fokus menonton atau juga merasakan hal yang sama seperti yang Hams dan Neynung rasakan.
Neynung menyandarkan kepalanya ke bahu Hams. Perlahan Hams lebih menggeser badannya ke arah Neynung. Ketika ada adegan mengejutkan, tangan Neynung mendekap lengan Hams lebih erat. Hams hanya tersenyum cabul, maksud saya, tersenyum tipis 😂, kemudian ia mencium rambut Neynung.
Sekali
Dua kali
Ketiga kali, Neynung memutar kepalanya, melihat Hams dari bawah, menatap mata pria yang dikenalnya lewat aplikasi Telegram selama beberapa bulan terakhir ini.
"Kamu bilang mau cium aku kalo ketemu" Neynung menyodorkan bibirnya, kini wajah keduanya hanya berjarak 4 senti.
"Boleh sekarang?" tanya Hams.
Neynung tidak menjawab, ia lebih dulu mendaratkan bibirnya ke bibir Hams. Keduanya berciuman cukup lama di tengah pemutaran film Joko Anwar itu.
Tangan Hams bergerilya, ia meremas kedua payudara Neynung bersamaan. Neynung menggeliat di kursi bioskop. Tangan Hans turun perlahan, menelusup melewati celana jeans Neynung.
"Sayang.." bisik Neynung sambil menggigit bibirnya sendiri saat tangan Hams bermain di celah Neynung.
Setelah beberapa waktu, tiba-tiba beberapa penonton menjerit bersamaan karena adegan jumpscare. Hams refleks melepaskan tangannya, dan Neynung kembali ke tempat duduknya.
Sepanjang sisa film, tangan Neynung mengelus batang Hams dari luar, sedangkan Hams sesekali memasukkan tangannya dari bawah kaus yang dipakai Neynung, ia memelintir puting Neynung lembut.
Setelah bioskop, mereka tidak langsung ke hotel, melainkan pergi ke pasar malam. Lampu-lampu wahana menyala terang, musik terdengar dari berbagai arah, dan orang-orang berjalan sambil membawa makanan.
Hams memenangkan gantungan kecil di permainan lempar gelang. Ia menyerahkannya kepada Neynung.
“Buat kamu.”
“Mas Hams jago amat”
“Enggak. Kebetulan.”
“Padahal dari tadi sampai tiga kali gagal.”
“Yang penting akhirnya dapat. Kayaknya karena kekuatan senyumanmu”
Neynung tersenyum sambil memasukkan gantungan itu ke tas. “Makasih.”
Mereka berjalan pelan melewati kerumunan. Kadang bahu mereka bersentuhan. Kadang Hams menyentuh punggung Neynung ketika mereka melewati orang yang berdesakan.
Saat malam semakin larut, mereka kembali ke hotel yang sudah dipesan Hams.
Di depan pintu kamar, mereka berhenti.
“Masih mau masuk?” tanya Hams.
Neynung memandangnya. “Kalau gak mau, dari tadi aku udah pulang.”
Hams mengangguk, lalu membuka pintu.
Di Kamar
Kamar itu sederhana. Ada satu ranjang, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke jalan. Neynung menaruh tas di kursi, sementara Hams meletakkan kunci di meja.
Mereka kembali berdiri berhadapan.
Seharian mereka sudah saling menyentuh namun tidak mencapai kepuasan, tetapi sekarang tidak ada lagi keramaian yang bisa mengalihkan perhatian. Tidak ada suara film, orang-orang pasar malam, atau percakapan yang bisa dipakai untuk menutupi rasa gugup.
"Aku ke kamar mandi bentar" kata Neynung lalu menutup pintu kamar mandi. Sementara Hams membuka koper dan membereskan barang-barangnya.
Setelah Neynung keluar dari kamar mandi, Hams mendekat.
Neynung tidak mundur.
Ia mengangkat tangan dan menyentuh dada Hams, merasakan napas cowok itu yang mulai berubah. Hams menatap matanya, lalu menyentuh pipinya.
“Ciuman kamu enak banget tadi” kata Hams.
Neynung tersenyum. “Oh ya?”
Hams mencium bibirnya pelan.
Neynung merasakan hangat bibir Hams. Ia menatap wajahnya, melihat cowok itu menunggu reaksi.
Neynung menarik kerah baju Hams.
Ciuman panas dari Neynung berlangsung lebih lama. Hams merangkul pinggangnya, sementara Neynung melingkarkan tangan ke lehernya. Tubuh mereka mendekat sampai gak ada jarak.
Neynung bisa merasakan Hams masih menahan diri. Ia gak terburu-buru, gak memaksa, dan tetap berhenti setiap kali Neynung menarik napas panjang. Justru itu yang membuat Neynung semakin ingin dekat.
Ia mengusap rambut Hams, lalu mencium sudut bibirnya. Hams membalas dengan mencium pipi, kening, dan lehernya. Neynung memejamkan mata, membiarkan dirinya menikmati setiap sentuhan.
Mereka berhenti sebentar. Saling menatap dan tersenyum,
Hams kembali mencium Neynung. Kali ini lebih dalam dan lebih lama. Neynung membalas sambil memeluknya semakin erat. Ia merasakan tangan Hams menyusuri punggungnya, menahannya dekat, seolah-olah perjalanan jauh dan semua penantian selama ini berakhir di kamar itu.
Mereka berpindah ke sisi ranjang tanpa memutus ciuman. Neynung duduk, sementara Hams berdiri di depannya. Ia menarik Hams mendekat dengan kedua tangan.
“Jangan jauh-jauh,” bisiknya.
“Aku di sini.”
Hams mencium bibirnya lagi. Neynung memeluk pinggangnya, lalu menyandarkan kepala ke tubuhnya. Hams mengusap rambutnya, mencium keningnya, kemudian kembali mencari bibirnya.
Neynung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Hams melepaskan kaus Neynung, kemudian lansgung berlanjut membuka jeans biru yang agak sulit dibuka.
Neynung duduk di kasur, melepas celana dalamnya perlahan, kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar. Hans melepaskan seluruh pakaiannya tanpa sedetikpun berkedip menatap kemaluan Neynung.
Hams berlutut di depan Neynung, ia mendekatkan wajahnya, lalu mulai menjilat area intim Neynung. Neynung menengadah, matanya terpejam, menikmati permainan Hams yang begitu liar di bawah sana.
"AHH! HAMS!" Neynung melenguh, ia menjambak rambut Hams. Cairannya keluar begitu saja, Neynung squirt panjang beberapa kali.
"gantian.." ucap Neynung lalu mendudukkan Hams. Kali ini ia yang berlutut dan mulai memainkan batang Hams. Dalam posisi yang hampir sama, Hams menjambak lembut rambut Neynung, menjadikan tangannya sebagai pengganti ikat rambut, dan Ney melahap teratur batang Hams.
SLRRPP, SLRRRPP
"Wait, aku ambil kondom" kata Neynung tiba-tiba, ia bangkit berdiri, kemudian mengeluarkan sebungkus kondom dari dalam tasnya.
"Duh, muat ga ya, tititmu gede banget" Neynung susah payah memasukkan karet itu, dan usahanya membuahkan hasil, seluruh titit Hams berhasil tertutup.
Neynung berdiri di tepi kasur, Hams mengangkat salah satu kaki Ney, sementara tititnya mencari lubang Neynung. Setelah masuk, Hams menggoyangkan pinggulnya naik turun.
"Uhh... Uhhh, Hams..." Neynung memutar kepalanya, mencari bibir Hams. Keduanya saling melumat sementara bagian bawah mereka bersenggama dengan gerakan teratur.
"Ney, uhh! Ney!" Hams menahan tubuhnya, ia merasakan adanya gelombang yang akan ia lepaskan. Mereka berganti posisi, kali ini Neynung di kasur, Hams memasukkan miliknya dari belakang, titit panjangnya menerobos masuk hingga mentok. Keduanya mengatur gerakan seragam.
Ketika akhirnya Hams merasakan spermanya sudah siap menyembur, ia mempercepat gerakannya.
"Fuck..! Ah! Ahh!" keduanya mengerang bersamaan, tubuh Hams mengejang beberapa kali. Setelah berhenti, Neynung membalikkan badannya lalu mereka kembali berciuman dan berpelukan.
Keduanya masih membicarakan beberapa hal, menceritakan teman-teman Telegram mereka, keseruan yang pernah mereka bicarakan, hingga akhirnya mereka terlelap.
~
Pagi datang terlalu cepat.
Neynung terbangun dalam pelukan Hams. Satu tangan cowok itu berada di pinggangnya. Hams masih tidur, wajahnya terlihat tenang setelah malam hebat yang mereka lewati bersama.
Neynung menyentuh tangannya.
Hams membuka mata. “Udah bangun?”
“Iya.”
"Nyesel ga?" tanya Hams setelah terdiam cukup lama.
Neynung mencium pipi Hams. “Enggak.”
Hams tersenyum. “Aku cuman takut semuanya berubah setelah kita ketemu.”
“Memang berubah.”
Wajah Hams langsung serius.
Neynung menyentuh hidungnya. “Sekarang aku lebih susah kangen.”
Hams tertawa lega, lalu memeluknya lagi. Neynung menyandarkan wajah di dadanya, mendengarkan detak jantungnya.
“Kamu bakal balik lagi?” tanya Neynung.
“Pasti.”
“Jangan cuma ngomong yaa.”
“Aku bakal selau usahain.”
“Bukan usahain.”
Hams menatapnya. “Aku pasti balik.”
Neynung mengangguk. “Aku juga gak mau berhenti di sini.”
Mereka berpelukan lebih lama. Hams mencium keningnya, lalu bibirnya. Neynung membalas dengan lembut.
Di luar, kota mulai ramai. Hari pertama mereka sudah selesai, tetapi hubungan yang dimulai dari Telegram itu baru benar-benar mereka jalani.
Mereka belum tahu akan sesering apa bertengkar, seberapa berat jarak setelah Hams pulang, atau kapan mereka bisa bertemu lagi.
Namun sebelum meninggalkan kamar untuk sarapan, Hams menggenggam tangan Neynung di depan pintu kamar.
“Terus sama aku, ya.”
Neynung menatapnya.
“Selama kamu juga terus sama aku. Ga gampang kegoda cewek-cewek Tele yang pake PP Pinterest”
Keduanya tertawa. Hams mengangguk.
“Janji.”
Dan pagi itu, mereka pergi dari hotel dengan janji yang sederhana: sejauh apa pun jarak mereka nanti, mereka akan tetap mencari jalan untuk kembali bersama.