CHAPTER ONE: EYES THAT LOOK AT ME WITH HATRED

CHAPTER ONE: EYES THAT LOOK AT ME WITH HATRED

Arlend Rexander

Singapore, Mei 2021

Siang hari itu tampak lebih tenteram dari biasanya. Suara dentingan sendok sesekali terdengar, mengisi kesunyian di ruang makan keluarga Salim. Hingga akhirnya, wanita paruh baya itu membuka suara.

"Arlend, kamu menang gokart lagi, ya, sayang? Mami dengar dari Miss di sekolahmu, nilai kamu juga paling tinggi lagi," katanya dengan penuh senyum.

Sementara itu, perempuan yang duduk di hadapannya hanya menatap Arlend dengan tatapan tidak suka.

"Bagus, loh, Arlend. Pintar memang anak Papi," ujar pria yang Arlend panggil dengan sebutan Papi tersebut.

Lagi-lagi, perempuan di hadapannya hanya menggenggam erat kedua alat makannya.

"Arlend lagi, Arlend lagi! Arlend terus! Aku kapan?!" bentak perempuan itu.

"SARAH!" tegas sang ibu.

Sementara Arlend hanya menundukkan kepalanya, merutuki dirinya sendiri.

"Ade kamu dapat penghargaan, ya harus dibanggakan. Kenapa kamu bilang begitu?" ucap sang ibu lagi, masih menatap anak pertamanya.

"Aku juga dapat, tapi Mami nggak pernah lihat aku! Pokoknya, aku benci Alen!" ucap Sarah sebelum meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

"Thank you for the food, Mami. Alen naik ke kamar dulu."

Arlend kemudian berjalan menuju kamarnya.


Kini hatinya dipenuhi rasa bersalah. Semua yang ia lakukan terasa salah di mata kakaknya. Pemuda itu akhirnya tertidur dalam lamunannya sendiri.

Rasa serak di tenggorokannya membangunkan Arlend dari tidurnya. Ia berjalan keluar kamar untuk mencari segelas air di dapur. Namun, perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara dari kamar kakak pertamanya.

"Mami nggak pernah ngajarin kamu begitu, loh, ya. Arlend itu cuma menang penghargaan dan nilainya bagus."

Suara itu terdengar samar dari balik pintu.

"Aku cuma mau Mami lihat aku. Nggak melulu lihat Arlend. Aku tuh berusaha supaya terlihat seperti Mami. Aku mau jadi model kayak Mami."

Perdebatan itu membuat Arlend terpaku. Ia kemudian duduk di depan pintu kamar sang kakak pertama.

"Nggak gini caranya, Sarah! Mami nggak pernah nyuruh kamu mengikuti Mami. Mami nyuruh kamu meneruskan perusahaan Papi. Kamu itu anak pertama, tanggung jawabmu lebih besar."

"Nggak! Aku mau jadi model kayak Mami! Mami suruh aja Arlend terusin perusahaan Papi, anak pintar kesayangan Mami itu!"

"Mami harus ngomong gimana lagi sih sama kamu, Ce? Mami sayang kamu, sayang Raisa, sayang Arlend juga."

"NO, YOU DON'T! Mami cuma sayang Aica sama Alen, bukan aku!"

"SARAH!"


Perdebatan itu masih terus berlangsung, sementara Arlend tetap duduk di depan pintu kamar kakaknya dengan wajah yang sulit dijelaskan. Ia hanya tertunduk.

Padahal, sejak kecil ia hanya ingin menjadi seperti kakaknya. Ia tidak pernah bermaksud melakukan apa pun yang membuat Sarah merasa tersaingi.

Tak lama kemudian, sebuah tangan menarik Arlend untuk bangkit.

Raisa, kakak kedua Arlend.

Tangan itu membawanya menuju halaman belakang keluarga Salim yang cukup luas.

"Nih," ucap Raisa sambil memberikan Arlend sebuah es krim.

"Kalau lagi sedih, butuh yang manis-manis. Ya, lu nggak suka manis, tapi sekarang lu butuh ini," lanjutnya sambil menyodorkan es krim tersebut.

"Thanks," jawab Arlend singkat.

"Ce Sarah nggak benci lu, kok. Nggak usah terlalu dipikirin," ucap Raisa, mencoba menenangkan adiknya.

"Kayaknya Ce Sarah nggak pernah suka gua, deh. From when we were kids, from that pudding. Padahal gua cuma pengen kayak dia. Puding yang gua dapat selalu gua kasih ke dia, tapi dia selalu buang puding yang gua kasih dari kecil. Entah dibuang, entah cuma ditaruh di meja," ucap Arlend sambil menghela napas.

"But I always eat that pudding, right? Ya, kalau hari itu lu nggak nangis karena puding lu ditolak Ce Sarah dan gua makan puding itu, kayaknya kita nggak akan sedekat sekarang," ucap Raisa sambil terkekeh kecil.

Kini keduanya sudah duduk di ayunan yang berada di halaman rumah mereka.

"Yaa, masa kelam, Ce. Hahaha. But thank you for that day. Setidaknya puding itu nggak sia-sia gua dapetin," ucap Arlend lalu tersenyum tipis.

"And thank you udah mau nanggung beban gua sama Ce Sarah, walaupun dia nggak tahu lu maksain diri jadi boneka Salim supaya gua sama Ce Sarah bisa milih apa yang kita mau," ucap Raisa lagi.

"Yeah, I think I should do that. From the first, Ce Sarah selalu mau kayak Mami. Mami selalu nekan dia buat nerusin perusahaan Papi, but she always wanted to be a model. And you too. Lu juga pengen banget jadi model and fashion designer. Cuma ada gua di sini, and I am willing to bear it for both of you," ucap Arlend pelan.

"But are you okay?" tanya Raisa dengan perasaan sedikit bersalah.

"No, I'm not. Awalnya gua oke, soalnya di antara kita semua cuma gua yang nggak punya tujuan. Ce Sarah wants to be a model like Mami, and you too. Lu pengen banget jadi model and fashion designer. But me? Gua nggak tahu apa yang gua mau. Gua nggak tahu apa yang gua suka. Semuanya udah diatur dari kecil. Tapi, yaa, setidaknya Papi ngenalin gua ke gokart. Entah kenapa, gua ngerasa bebas pas ngendarain itu. But still... itu cuma bisa jadi hobi masa kecil. Pas gua gede, gua harus jalan sesuai yang mereka mau, kan?" ucap Arlend dengan senyum getir.

Sementara itu, Raisa hanya menatap adiknya dengan rasa kasihan.

"Oh iya, minggu depan lu ada lomba, kan? Semoga lu menang. Papi udah jor-joran tuh sponsori elu. Awas lu kalau nggak menang. Gua udah pamer nih ke teman-teman gua kalau ade gua ikut lomba gede," ucap Raisa, mencoba mengalihkan topik.

Ucapannya hanya disambut tawa kecil dari Arlend.

"Iya, iya. Gua usahain, deh, ya," jawab Arlend.



Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Perlombaan gokart yang selalu dinantikan Arlend akhirnya dimulai.

Kini dirinya sudah duduk di salah satu racing kart miliknya. Pertandingan berlangsung selama 15 lap. Balapan semakin sengit ketika memasuki tiga putaran terakhir.

Hingga akhirnya, kart yang Arlend kendarai ditabrak oleh salah satu peserta lain. Benturan tersebut membuat sistem rem kart-nya bermasalah.

Kart Arlend kehilangan kendali saat memasuki tikungan dan menabrak barrier. Tabrakan itu menyebabkan Arlend mengalami luka ringan.

Tidak. Ia tidak menang.

Pertandingan itu telah dicurangi oleh rivalnya.

Arlend pulang dalam keadaan terluka. Orang-orang di rumahnya langsung bergerak panik, sementara Arlend hanya memegangi helm yang ia kenakan selama pertandingan.

Entah bagaimana perasaannya saat itu. Semua emosi seolah bercampur menjadi satu.


Masalahnya, ini bukan pertama kalinya ia dicurangi. Namun, kali ini berbeda. Ini adalah kompetisi final yang sangat besar, kompetisi yang selama ini menjadi salah satu impiannya.

Sementara itu, pihak yang ia harapkan akan memahami perasaannya seolah tidak peduli. Bahkan orang yang menabraknya kini sudah berdiri di posisi yang sangat Arlend inginkan.

Rahangnya mengeras. Matanya berkaca-kaca.

Pemuda itu berpikir bahwa ia telah melenyapkan harapan orang tua dan kakaknya.

Yang terus berputar di kepalanya hanya satu pertanyaan:

Apakah dirinya masih berguna?

Sementara itu, ibunya sudah memegangi wajah anaknya yang penuh luka dan berlari mencari kotak P3K. Ayahnya sibuk menghubungi pihak perlombaan untuk meminta keadilan.

Saat itu, Raisa belum pulang dari sekolahnya.

Sarah hanya duduk di hadapan Arlend, melipat kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Mungkin kepuasan.

Atau kekhawatiran.

Atau mungkin ia sengaja menahan perasaannya.

Entah.

"Bahkan pas lu hancur aja, Papi sama Mami masih sayang sama lu," ucap Sarah.

Arlend langsung menatap Sarah dengan tajam. Pegangannya pada helm yang sedang ia genggam semakin erat.

"Apa maksud lu?" tanya Arlend dengan dingin.

Sarah hanya menelan ludah.

"Apa maksud lu, gua tanya?!" lanjut Arlend dengan tegas.


Ia kemudian membanting helm yang sedang digenggamnya ke lantai. Suara benturan itu membuat kedua orang tuanya langsung menghampiri mereka.

"Puas, kan, lu lihat gua gagal? Ini kan yang lu mau? Puas lu lihat gua hancur?"

Napas Arlend mulai bergetar.

"Harusnya dari awal gua nggak maksain diri buat lu. Harusnya dari awal gua biarin aja lu tersiksa sama pilihan Mami sama Papi. Harusnya dari awal gua nggak baik sama lu. Harusnya dari awal gua benci aja sama lu, Ce."

Matanya mulai dipenuhi air mata.

"Bahkan sejak awal lu nggak pernah jadi Cece buat gua. Lu egois. Lu cuma peduli sama diri lu sendiri. Lu orang paling jahat yang pernah gua temuin, dan sialnya... lu Cece gua."

Arlend mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam.

Sarah hanya menatapnya dengan kesal.

"ARLEND! MAMI NGGAK PERNAH NGAJARIN KAMU BEGITU! IKUT MAMI!" ucap sang ibu sambil menarik anaknya yang berjalan tertatih-tatih.

Sementara sang ayah berusaha menenangkan anak perempuannya.

Arlend menangis sejadi-jadinya di hadapan sang ibu.

"Apaan sih salah Alen, Mi? Apa salah Alen? Kenapa Mami lahirin Alen kalau cuma buat dibenci Ce Sarah? Kenapa Mami maksain Ce Sarah sampai Ce Sarah benci Alen? Salah Alen di mana, Mi?"

Pertanyaan itu sontak membuat sang ibu memeluk anaknya dengan erat.

"Maaf. Maaf kalau Mami dan Papi bikin Alen merasa begitu."

Satu kalimat itu sukses membuat Arlend menyesali semua perkataannya.

"Maafin Mami yang nggak bisa cegah orang-orang buat jahat sama Alen," ucapnya lagi sambil menepuk punggung anaknya.

"Maafin Mami yang belum bisa jadi Mami yang baik buat Alen. Maaf, ya, sayang?"

Arlend memeluk erat ibunya tanpa satu pun perkataan yang terlontar dari mulutnya.

Air matanya terus jatuh, sementara hatinya hanya mengutuki dirinya sendiri.

Sore itu menjadi hari yang panjang bagi Arlend.

Semua yang selama ini ia pendam akhirnya terlontar begitu saja.

Saat itu, pria kecil itu merasa dunianya telah hancur.

Entah bagaimana semuanya akan berjalan setelah hari itu.

Report Page