Busy busy
Lumine Daphne E.ㅤKesunyian melanda ruangan itu, hanya bunyi dari halaman buku yang dibalik, bolpoin yang digariskan ke kertas, dan detakan jam yang bisa terdengar. Jam sudah menunjukkan pukul 20.35 dan ruangan itu sudah dalam keadaan seperti itu dari jam 1 siang.
ㅤGadis berambut hitam bergelombang itu menyender ke kursinya, memejamkan mata sebentar, guna menghilangkan penat yang mulai menyerang. Sungguh, jika manusia benar-benar bisa menyerap materi yang ada di buku hanya dengan memakannya, ia rasa ia akan menjadikan buku sebagai makanan pokoknya. Memijat pelan dahinya, ia tersentak kala jendela kamarnya berbunyi dari luar. Mengerjapkan matanya, ia menatap was-was jendela kamar yang sudah tertutup tirai itu.
Dok!
ㅤDengar! Itu bukan ketukan, gila saja. Kamarnya ada di lantai dua, orang gila mana yang akan memanjat demi mengetuk jendela miliknya itu. Nada dering dari ponselnya kembali mengalihkan perhatian. 'Dearest'. Nama yang tertera di layar ponsel miliknya, tanpa berpikir panjang ia langsung saja mengusap layar ponselnya keatas.
'Buka jendelamu, itu aku.'
ㅤIa mengernyitkan dahi, dengan perlahan ia berjalan kearah jendela miliknya dan membukanya. Maniknya melebar kala menangkap sosok lelaki dengan jaket hitamnya di bawah sana tengah mendongak, menunggu gadisnya itu menyadari kehadirannya.
ㅤTanpa ba-bi-bu, surai hitam panjang itu kembali masuk dan turun menuju pintu rumahnya. Ia mendekati lelaki yang berdiri menyender kearah mobilnya tersebut. "Sialan, kenapa tidak langsung menelepon saja? Aku kaget setengah mati saat mendengar jendelaku dilempari sesuatu."
ㅤTawa keluar dari mulut sang lelaki, tangannya naik mengusak surai hitam panjang kesukaannya itu. Dengan sengaja membuatnya berantakan. Gadis di depannya berdecak kesal, tangannya mencubit pelan lengan milik lelaki di hadapannya. "Ingin saja, lagipula jika aku meneleponmu langsung, memangnya kau akan mengangkatnya? Kau sangat sibuk dengan bukumu itu sampai-sampai lupa dengan kekasih mu ini, bukan?"
ㅤGadis di hadapannya menyengir lebar, membuat matanya menyipit. "Kenapa kau kesini?" Lelaki itu mengangkat bahu, tanda tidak tahu. "Entah, ingin saja. Wanna grab some food? You definitely haven't had dinner yet."
ㅤSi surai panjang membisu, benar apa yang dikatakan sang kekasih. Jam sudah menunjukkan pukul 20.55 dan ia belum keluar kamar sama sekali sejak siang. Bahkan ia sama sekali tidak menyadari apakah perutnya berteriak meminta makan atau tidak saking fokusnya membaca.
ㅤ"Aku tidak menerima penolakan, aku yakin kau sudah hapal isi bukumu itu sampai ke akarnya, jangan memberikan alasan lain." Tangannya ditarik masuk ke mobil, ia benar-benar tidak memberikan penolakan. Sebab ia memang butuh refreshing, otaknya benar-benar sudah tidak kuat. Jika ia hidup menjadi karakter kartun, sudah dipastikan asap keluar dari kepalanya saat ini.
ㅤ"Coba ambil paperbag di kursi belakang." Gadis yang tengah menguncir rambut panjangnya itu menoleh, lantas mengambil paperbag berwarna putih tulang di kursi bagian belakang mobil. "Buka." Ia mengerjapkan mata, memilih untuk mengikuti apa kata sang kekasih, ia membukanya. Alisnya naik saat menyadari isi dari paperbag tersebut. "Bunga?" Sang lelaki mengangguk membenarkan.
ㅤBuket bunga berwarna merah muda cantik itu diangkat oleh si surai panjang. Mencium wanginya pelan, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kenapa tiba-tiba?" Yang ditanya hanya mendengus tipis, diam tak menjawab. Mereka berhenti di Drive thru, lelaki berambut coklat gelap itu memesan burger untuk mereka berdua.
—
ㅤ"Ayo." Manik gelap milik si rambut panjang mengerjap saat sang kekasih memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Matanya mengikuti pergerakan sang kekasih yang berjalan kearah pintu penumpang, detik berikutnya pintu mobil penumpang dibuka oleh sang lelaki. Gadis itu melangkah keluar, lantas digenggam tangannya oleh sang kekasih. Keheningan melanda selama mereka berjalan, tak ada yang memulai pembicaraan.
ㅤ"Kau tahu? Grandprix semalam agak kacau." Si gadis menoleh, memusatkan seluruh atensinya kepada sang kekasih. "Really? Aku tidak menontonnya semalam." Menganggukkan kepala, si rambut coklat bergerak memasukkan genggaman mereka kedalam saku jaket. Dingin.
ㅤ"Aku tahu. Rasanya tidak mungkin kau akan mengintip grandprix semalam sementara kau sibuk berkutat dengan buku-bukumu itu." Tawa terdengar dari si gadis, tidak mengeluarkan bantahan untuk itu.
ㅤManiknya melirik saat mereka melewati sebuah pusat hiburan video game. Lampu yang menyala warna-warni tampak menarik perhatiannya, namun langkahnya masih ditetapkan untuk berjalan lurus. Perlakuannya tersebut tak luput dari pandangan sang kekasih, memilih untuk tetap diam. Ia tahu, tak ada gunanya menawarkan hal seperti itu kepada kekasihnya jika bukan ia sendiri yang meminta.
—ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤ"Lihat bulannya." Ucapan itu lantas membuat si lelaki mendongak, menatap bulan yang saat ini tengah bersinar terang. "She's beautiful, isn't she?" tanya si gadis. Bibirnya mengukir senyuman tipis. Lelaki berambut cokelat itu menoleh, menatap lekat wajah sang kekasih. "Yea, definitely." Tangan dari si gadis terangkat, mendorong pelan wajah sang kekasih yang masih setia menatap kearahnya. "Kenapa menamparku?!" Alis milik si gadis bertaut saat mendengar protes dari si rambut coklat. "I'm not??? It's just you being dramatic, my love."
ㅤSi lelaki mencibir, detik berikutnya diam membisu. "Today's our monthversary." Manik milik si gadis membola, dengan cepat ia menoleh. "...So that's the reason for the flower bouquet earlier. So sorry, I really don't remember because of studying." Senyum manis terpampang di wajah lelaki berambut cokelat itu. "It's okay, doll. I understand."
ㅤ"Can I hug you?" Gadis berambut hitam bergelombang itu diam sejenak, detik berikutnya ia menggelengkan kepala. "Nope." Wajah dari lelaki berambut cokelat itu berubah lesu. Terlihat telinga anjing imajiner muncul diatas kepalanya. Kekehan terdengar dari sebelahnya.
ㅤ"Kau tahu pencapit boneka di tempat video game tadi?" tanyanya tiba-tiba. Si lelaki mengangguk mengiyakan. "Jika kau bisa mendapatkan 1 boneka untukku, kau bisa mendapatkan apa yang kau mau." Mata bulat dari si lelaki berbinar, mengangguk antusias tawaran dari sang kekasih. "Tapi..."
ㅤSi gadis dengan cepat berdiri dan berlari menuju pusat hiburan video game tadi. "Siapa yang duluan sampai, berarti pemenangnya!!" Si lelaki diam mencerna sebelum setelahnya berteriak. "You cheater!!!" Menyusul sang kekasih, ia berlari sekencang mungkin. Tawa kencang terdengar dari keduanya, menghiasi malam ini.
