Belimbur

Belimbur

BLACKOPIUM

Setiap pagi, kabut tipis menggantung di atas Sungai Mahakam. Dari beranda rumahnya di Tenggarong, Andi kecil sering melihat perahu-perahu melintas seperti garis hitam yang membelah permukaan air. Ayahnya selalu berkata bahwa sungai itu menghidupi banyak orang karena tidak pernah memilih siapa yang boleh mengambil manfaat darinya.

Namun, Andi tumbuh dengan keyakinan berbeda. Baginya, hidup adalah soal berada lebih tinggi daripada orang lain.

Keluarganya memiliki usaha pengangkutan hasil perkebunan. Rumah mereka besar, mobil lebih dari satu, dan segala kebutuhan Andi tersedia sebelum sempat diminta. Ia cerdas, mudah disukai, tetapi juga terbiasa menang. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima nasihat dan terlalu rapuh untuk mengakui kesalahan.

Saat diterima di Universitas Brawijaya, Malang, ia merasa dunia sedang membukakan pintu khusus untuknya.

Malam sebelum keberangkatan, keluarga mereka mengadakan beseprah. Tikar panjang dibentangkan di lantai. Nasi, sayur asam Kutai, ikan haruan, sambal raja, dan nasi bekepor tersaji dalam wadah-wadah besar. Saudara, tetangga, pegawai ayahnya, hingga beberapa awak kapal duduk sejajar.

Andi memilih duduk dekat pintu sambil sesekali memeriksa ponsel.

“Beseprah mengajarkan kita merendahkan badan sebelum meninggikan cita-cita,” ujar ayahnya. “Di atas tikar, tidak ada orang yang lebih mulia karena hartanya.”

Andi tersenyum tipis. Baginya, itu hanya petuah lama yang diulang pada acara keluarga.

Ia belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ia akan merindukan tikar itu ketika tidak ada seorang pun bersedia duduk di sebelahnya.

Malang menyambut Andi pada awal musim hujan. Udara dingin turun lebih cepat selepas petang. Pohon-pohon di sekitar kampus meneteskan air, sementara aroma tanah basah bercampur wangi bakso dari gerobak di pinggir jalan.

Pada semester pertama, Andi masih menjadi kebanggaan keluarga. Ia rajin mengikuti kuliah, aktif berdiskusi, dan memperoleh nilai tinggi. Foto-fotonya di depan gedung kampus rutin dikirim kepada ibunya.

Namun, kebebasan mempunyai cara halus untuk menguji orang yang belum mengenal batas.

Andi mulai menerima ajakan berkumpul di kafe. Dari kafe, mereka pindah ke tempat hiburan. Awalnya hanya pada malam minggu, lalu tiga malam dalam seminggu, kemudian hampir setiap malam. Ia pulang menjelang subuh dengan pakaian berbau rokok dan minuman keras. Ketika alarm kuliah berbunyi, ia mematikannya tanpa membuka mata.

“Sekali-sekali ga masalah,” kata teman-temannya.

Sekali berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi kebutuhan.

Andi mengenal taruhan bola, pesta, dan hubungan tanpa arah. Uang bulanannya habis sebelum pertengahan bulan. Kepada ibunya, ia mengaku membutuhkan buku impor. Kepada ayahnya, ia menyebut biaya praktikum. Kebohongan-kebohongan kecil itu bertumpuk seperti sampah di kamar kosnya—mula-mula dapat disembunyikan, lama-lama mengeluarkan bau.

Pada masa itulah Liana hadir.

Liana berasal dari sebuah desa di kaki Gunung Kawi. Ia kuliah sambil membantu ibunya menjual cenil, mendol, dan ketan bubuk di pasar setiap Minggu pagi. Sejak ayahnya meninggal, ia terbiasa menghitung uang sampai kepingan terkecil. Namun, kekurangan tidak membuatnya merasa lebih rendah.

Mereka berkenalan ketika Andi meninggalkan dompet di lapak milik Liana. Saat kembali, ia mendapati dompet itu dibungkus kantong plastik agar tidak terkena gerimis.

Andi memeriksa isinya. Tidak ada yang hilang.

“Kamu ga ambil uangnya?” tanyanya spontan.

Liana menatap Andi cukup lama.

“Kalau aku miskin, bukan berarti aku pencuri.”

Wajah Andi memanas. Ia meminta maaf, meski masih terdengar seperti orang yang tidak terbiasa melakukannya.

Liana tidak mudah terpesona oleh mobil Andi atau jam tangan di pergelangannya. Ia lebih tertarik pada sisi Andi yang sesekali muncul ketika lelaki itu berhenti membanggakan diri—caranya membicarakan Sungai Mahakam, kerinduannya pada masakan ibu, dan kecerdasannya saat menjelaskan sesuatu yang benar-benar ia pahami.

Mereka mulai sering bertemu. Liana mengajak Andi belajar di perpustakaan, membawakannya bekal, dan menyalin jadwal tugas yang kerap ia lupakan. Ia tidak pernah melarang Andi berteman dengan siapa pun. Ia hanya terus mengingatkan bahwa setiap pilihan memiliki harga.

Namun, Andi belum siap membayar harga perubahan.

Suatu malam, Liana menunggunya di depan kos. Kabut turun bersama gerimis. Lampu teras memantulkan bayangannya pada aspal yang hitam dan basah. Mereka seharusnya mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan pagi.

Andi baru pulang lewat tengah malam dalam keadaan mabuk.

“Kamu bilang mau berhenti,” kata Liana.

“Aku cuma ketemu teman.”

“Aku menunggu hampir tiga jam.”

“Siapa yang suruh menunggu?”

Liana menahan napas. “Nilaimu makin turun. Kalau kamu terus begini—”

“Jangan atur hidupku!”

Suaranya memecah sepi. Beberapa pintu kamar terbuka.

“Aku cuma ga mau kamu menghancurkan—”

“Aku ga butuh diselamatkan anak penjual cenil!”

Kalimat itu meluncur cepat, tetapi luka yang ditinggalkannya menetap.

Liana memandangnya tanpa menangis. Ia meletakkan kotak makanan di atas pagar.

“Benar,” katanya lirih. “Aku memang bukan penyelamatmu.”

Ia berjalan menembus gerimis. Andi tidak mengejar. Kesombongannya masih lebih kuat daripada penyesalannya.

Pagi hari, Andi menemukan secarik kertas di dalam kotak makanan.

Aku ga bisa menyelamatkanmu. Tapi kalau suatu hari kamu memilih menyelamatkan dirimu sendiri, aku mau menemani.

Andi melipat kertas itu dan menyimpannya di dompet. Berhari-hari ia tidak menghubungi Liana. Meminta maaf terasa seperti mengaku kalah, sedangkan Andi lebih rela kehilangan seseorang daripada kehilangan kebanggaan.

Kehidupan akhirnya memaksanya menyerah.

Menjelang akhir semester kelima, pihak universitas mengirimkan surat peringatan akademik ke rumahnya. Ayah Andi terbang ke Malang tanpa memberi kabar. Ia menemukan kamar kos yang pengap, botol-botol kosong di bawah tempat tidur, surat tagihan di meja, dan lembar hasil studi yang selama ini disembunyikan.

Ayahnya berdiri di tengah kamar seperti orang yang baru menyadari rumah yang dibangunnya telah terbakar dari dalam.

“Tiga tahun kamu berbohong?”

Andi menunduk.

“Aku bisa memperbaikinya, Pak.”

“Kamu bahkan belum berani melihat Bapak.”

Untuk pertama kalinya, Andi mendengar suara ayahnya patah.

Ayahnya melunasi tunggakan kuliah agar Andi masih memiliki kesempatan menyelesaikan studi. Namun, mobil dibawa pulang dan kiriman uang dihentikan.

“Bapak tidak membuangmu,” katanya sebelum pergi. “Tapi Bapak juga tidak akan membiayai kehancuranmu.”

Teman-teman yang biasa memenuhi kamar Andi menghilang satu per satu. Pesannya tidak dibalas. Orang yang pernah meminjam uang darinya berbalik arah saat melihatnya di kampus.

Ketika tidak ada lagi pesta yang bisa ia bayar, tidak ada lagi orang yang memanggilnya sahabat.

Andi menjual jam tangan, sepatu, dan barang elektronik untuk bertahan hidup. Sesudah semuanya habis, ia mengurung diri. Tirai kamar tidak pernah dibuka. Siang dan malam kehilangan perbedaan.

Liana datang pada hari kelima.

Tubuh Andi kurus, rambutnya kusut, dan matanya seperti jendela rumah kosong. Ia berdiri di ambang pintu, tidak sanggup menatap perempuan yang pernah direndahkannya.

“Kenapa kamu datang?”

“Karena aku masih sayang.”

Andi mengangkat wajah.

“Tapi dengar baik-baik,” lanjut Liana. “Aku tidak akan membayar utangmu, mengerjakan tugasmu, atau berbohong kepada keluargamu. Kalau kamu memilih tenggelam, aku tidak akan ikut tenggelam.”

Liana mengambil sapu yang tersandar di dinding, lalu meletakkannya di depan kaki Andi.

“Kalau mau berubah, mulai dari kamarmu.”

Setelah Liana pergi, Andi memandangi sapu itu cukup lama.

Sore harinya, ia membuka tirai.

Cahaya masuk bersama debu yang beterbangan. Andi menyapu lantai, membuang botol-botol kosong, dan mencuci piring yang menumpuk. Tidak ada keajaiban. Utangnya belum lunas, nilainya tetap buruk, dan keluarganya masih kecewa. Namun, malam itu ia tidur di kamar yang untuk pertama kalinya terasa layak dihuni.

Keesokan hari, ia menemui dosen pembimbing akademik. Dengan tenggorokan kering, Andi mengakui seluruh kegagalannya. Ia menerima rencana pemulihan studi, mengulang mata kuliah, dan mengikuti konseling kampus.

Untuk membiayai hidup, ia bekerja malam di warung kopi milik Pak Sabar, seorang perantau Madura yang telah puluhan tahun tinggal di Malang. Andi mencuci gelas, mengangkat kursi, dan membersihkan lantai setelah pelanggan pulang.

Pada malam Jumat Legi, warung tutup lebih awal. Warga berdatangan membawa nasi, sayur, jajanan pasar, dan doa. Mereka duduk melingkar dalam slametan sederhana. Seorang tukang becak berada di samping pemilik toko. Mahasiswa duduk bersebelahan dengan buruh bangunan.

“Kenapa makanannya dikumpulkan?” tanya Andi.

Pak Sabar tersenyum. “Supaya kita ingat, rezeki paling nikmat itu yang tidak dimakan sendirian. Kesusahan juga begitu. Kalau dipikul bersama, beratnya berkurang.”

Andi menatap nasi yang tersaji di tengah lingkaran.

Ia teringat beseprah di Tenggarong—tikar panjang, bahu-bahu yang sejajar, dan nasihat ayah yang dahulu hanya lewat di telinganya.

Ternyata, untuk memahami kerendahan hati, ia harus lebih dahulu kehilangan segala sesuatu yang membuatnya merasa tinggi.

Perubahan Andi tidak berjalan lurus. Ada malam ketika aroma minuman keras membangunkan keinginan lamanya. Ada hari ketika ia malu berada di kelas bersama mahasiswa yang lebih muda. Beberapa kali ia hampir menyerah setelah melihat nilai yang tidak kunjung membaik.

Liana tetap menemani, tetapi tidak lagi berjalan di depannya. Mereka melangkah berdampingan. Jika Andi jatuh, Liana mengulurkan tangan; keputusan untuk meraihnya tetap milik Andi.

Sedikit demi sedikit, hidupnya pulih. Ia melunasi utang dari upah warung, menyelesaikan mata kuliah yang tertunda, dan menulis skripsi tentang jaringan distribusi berbasis gotong royong bagi usaha kecil.

Lima tahun setelah pertama kali datang ke Malang, Andi keluar dari ruang sidang dengan mata merah. Liana menunggu di lorong sambil membawa dua bungkus nasi jagung.

“Lulus?” tanyanya.

Andi mengangguk.

Ia mengeluarkan kertas lusuh dari dompet—pesan Liana yang bertahun-tahun disimpannya.

“Aku pernah menyebut pekerjaan ibumu untuk merendahkanmu,” katanya. “Padahal, saat semua yang kubanggakan hilang, makanan dari tangan kalian yang membuatku bertahan. Maafkan aku.”

Liana menerima kertas itu.

“Aku memaafkanmu,” ujarnya. “Bukan karena kamu sudah lulus. Karena akhirnya kamu berani melihat dirimu sendiri.”

Setelah wisuda, Andi pulang ke Tenggarong. Ia datang tanpa mobil mahal, hanya membawa koper tua, ijazah, dan Liana di sisinya.

Ayahnya menunggu di beranda menghadap Mahakam.

Andi mencium tangan lelaki itu.

“Aku tidak bisa mengembalikan tahun-tahun yang hilang,” katanya. “Tapi kalau Bapak mengizinkan, aku mau membangun kembali kepercayaan itu.”

Ayahnya tidak langsung memeluknya.

“Kepercayaan bukan rumah yang selesai dalam sehari,” jawabnya. “Mulailah dari satu batu.”

Andi memulai dari bawah. Ia memeriksa muatan, mencatat bahan bakar, dan ikut mengantar barang ke desa-desa di hulu Mahakam. Kemudian ia membangun jaringan pengiriman bersama bagi perajin manik-manik Dayak, pembuat amplang, serta penenun ulap doyo agar mereka tidak menanggung ongkos distribusi sendirian.

Usaha itu berkembang perlahan. Begitu pula hubungannya dengan keluarga.

Beberapa tahun kemudian, dalam perayaan Erau, Andi dan Liana berdiri di tengah keramaian Tenggarong. Gong berbunyi, tawa pecah, lalu air beterbangan saat belimbur dimulai. Orang-orang saling menyiram sebagai lambang penyucian diri.

Seember air mengenai tubuh Andi. Liana tertawa, lalu menyiramkan segayung air ke bahunya.

Di seberang jalan, ayah dan ibunya melambai.

Andi dahulu mengira kesempatan kedua berarti kembali menjadi manusia yang belum pernah melakukan kesalahan. Di tengah percikan air itu, ia akhirnya memahami: masa lalu tidak dapat dibersihkan sampai hilang. Ia akan tetap tinggal sebagai bekas luka, pengingat arah pulang, dan batas agar langkah tidak kembali tersesat.

Andi menggenggam tangan Liana. Mereka menghampiri kedua orang tuanya, lalu berjalan bersama menuju rumah.

Di hadapan mereka, Sungai Mahakam terus mengalir—membawa ranting patah, lumpur, dan sisa hujan dari hulu, tetapi tidak pernah kehilangan jalan menuju muara.

Report Page