Beban Sebuah Nyawa
HAÜSSLER.Pintu jati yang berat di ruang pribadi itu tertutup dengan bunyi klik, mengunci dunia jazz dan denting gelas di luar. Di dalam, suasana terasa menyesakkan, beraroma perkamen tua dan besi dingin. Haüssler tidak menawarkan tempat duduk; ia berdiri di balik mejanya, kehadirannya membayangi bagai seorang hakim yang membisu. Pendatang itu melangkah maju, suaranya berupa bisikan panik saat ia meminta sekumpulan koordinat yang menjaga rahasia paling berbahaya di kota ini. Haüssler mendengarkan, ekspresinya sekaku batu, sebelum perlahan menggelengkan kepala. "Informasi itu tidak dijual," ucapnya, suaranya bariton rendah yang bersifat mutlak. "Menyentuhnya sama saja mengundang badai yang akan meratakan bar ini dan siapa pun di dalamnya. Pergilah, selagi kau masih punya napas."
Namun, pria itu tidak bergerak. Sebaliknya, ia jatuh berlutut, tangannya gemetar saat mencoba meraih ujung celemek Haüssler. "Tolong," pria itu terengah, "mereka memburu keluargaku. Jika aku tidak memiliki informasi itu, mereka akan membakar semua yang kucintai. Ambil nyawaku saja! Aku akan memberikan jiwaku, darahku—apa pun—selamatkan saja mereka!" Udara di ruangan itu seakan turun beberapa derajat. Mata Haüssler, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, berkilat dengan kemurkaan yang dingin. Bagi Haüssler, keputusasaan adalah mata uang, tetapi mengorbankan diri untuk penyebab yang sudah kalah adalah penghinaan terhadap keahlian yang telah ia sempurnakan.
Kemurkaan itu tidak meledak-ledak; itu adalah ketegangan yang tiba-tiba dan mematikan. Haüssler membenci orang lemah yang menawarkan nyawa mereka seolah-olah hal itu memiliki nilai di dunia yang dibangun atas kekuasaan. Dalam satu gerakan yang mulus dan cepat, sebilah pisau perak muncul dari balik lengannya. Sebelum pria itu sempat menyelesaikan permohonannya, tangan Haüssler melesat maju dengan presisi bedah. Baja dingin itu menemukan bagian paling lunak di leher sang pendatang, memutus urat nadi dalam satu tusukan bersih. Tidak ada perlawanan, tidak ada teriakan; pisau itu begitu tajam dan serangannya begitu akurat sehingga kematian tiba sebelum otak sempat memproses sensasi rasa sakit.
Mata pria itu seketika meredup saat ia jatuh tersungkur di lantai mahoni. Haüssler menarik kembali pisaunya, tak setetes darah pun menodai manset putihnya yang bersih. Ia menghela napas panjang dan lelah, menatap tumpukan daging yang dulunya adalah seorang pelanggan. "Kebodohan adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan," gumamnya pada ruangan yang kosong. Menawarkan nyawa yang memang sudah di ujung tanduk bukanlah sebuah tawar-menawar—itu adalah gangguan. Ia tidak butuh martir, ia hanya butuh mereka yang mengerti harga sebenarnya dari bertahan hidup.
Tanpa menoleh ke belakang, Haüssler meraih lonceng perak kecil di mejanya dan membunyikannya sekali. Dentingnya terdengar jernih dan halus. Hampir seketika, dua bayangan muncul dari sudut ruangan—bawahannya yang pendiam, terlatih untuk bergerak tanpa suara. "Bereskan ini," perintah Haüssler, suaranya kembali ke ketenangan profesional yang biasa. "Aku ingin ruangan ini disikat bersih. Jangan ada sebutir debu pun, jangan ada satu pun sidik jari, dan pastikan tidak ada jejak keberadaan si tolol ini yang tersisa saat fajar tiba."
Ia memperhatikan sejenak saat kekacauan itu mulai menghilang dengan efisiensi klinis. Mayat itu digulung ke dalam permadani tebal, dan lantai dibersihkan dengan cairan kimia khusus yang menghapus bahkan ingatan akan tumpahan apa pun. Haüssler berbalik ke cermin kecil di dinding, merapikan rompinya dengan teliti dan menghaluskan kerutan di kemejanya. Ia adalah orang yang teratur, dan kekacauan dari mereka yang putus asa tidak punya tempat di tempat sucinya.
Sambil merapikan dasinya, Haüssler melangkah keluar dari kantor dan kembali ke cahaya temaram bar. Transisi itu begitu sempurna; sang eksekutor dingin menghilang, digantikan sekali lagi oleh bartender karismatik yang tampak lelah. Ia mengambil tempat di balik meja bar, mengambil gelas bersih, dan mulai menyekanya dengan tangan yang stabil. Malam masih muda, dan masih banyak rahasia yang menunggu untuk disajikan.