Bagian 2.

Bagian 2.

Anaka Djaraki

Akhirnya Indonesia harus menuai kritik dan pujian di saat bersamaan. Saat inilah gua bertemu Kak Nadin, mahasiswa Semarang yang katanya sih lagi liburan. Cari inspirasi buat tugas akhir. Tapi gua tahu, Kak Nadin mencari sesuatu yang lebih besar dari sekadar inspirasi. Dia mencari orang yang mau merubah situasi negara tercinta.


Suatu hari gua datang ke penginapannya sambil bawa makan siang, gudeg buatan ibu. Gua tahu makanan itu gak akan bisa ditolak Kak Nadin jadi dia terpaksa menerima gua masuk ke dalam kamar.


"Kak, inspirasi macam apa sih yang kakak cari? Sampai-sampai satu minggu belum juga ketemu." Gua gak langsung duduk, tapi ngikut Kak Nadin ke dapur dan bantu ambil piring. Kak Nadin sendiri gak langsung menjawab, tapi gak kelihatan sedang berpikir juga.


"Kalau saya jujur, emang kamu mau apa? Dari kemarin nempel terus saya ke mana-mana pasti ikut. Mau apa sih?" Dari wajahnya aja gua udah tahu kalau Kak Nadin ini sengaja mancing-mancing.

"Ya siapa tahu gua bisa bantu. Kak, percaya deh ga ada yang kenal tempat ini dengan baik kecuali gua." Pokoknya gua rayu sebisa mungkin, makan aja masih gua dipelototi.


Sampai akhirnya dia menyerah dan dengan sendirinya cerita. "Saya tahu kamu ... jebolan tempat rehabilitas kan? "


Sialan.

Aura dalam kamar langsung berubah, gua merasa terintimidasi dengan pertanyaannya. Bukan karena seram, tapi nada bicaranya seakan merendahkan. Gua hampir merubah segala penilaian tentang Kak Nadin, tapi setelahnya wajah Kak Nadin terlihat lebih bersahabat.


"Tegang banget, kaget ya? Hahaha. Na, saya bahkan tahu lebih banyak tentang tempat itu daripada kamu yang pernah masuk ke sana."


Memang benar, ada sesuatu yang gak gua tahu di tempat rehabilitas itu. Di sana, kita dipisahkan per kelas. Dinilai dari tingkat kecerdasan dan sejauh apa moral kita rusak. Setelah masuk kelas gua gak boleh keluar dari area tersebut. Maka betul apa kata Kak Nadin, banyak yang gua gak tahu dari tempat itu karena dikurung.


"Saya tahu kamu masuk kelas terendah dengan empat puluh lima remaja lain. Kelas ini mirip sekolah seperti biasa, gak ada perlakukan kekerasan. Semua memang ditujukan untuk pembelajaran, istirahat kalian juga cukup." Kak Nadin berhenti sejenak untuk minum air.


"Tapi remaja dengan tingkat kerusakan moral yang tinggi, mereka gak diperlakukan seperti kamu dan kawan-kawan. Semuanya disiksa sampai mati. Mau ditunggu selama apapun oleh keluarganya, tidak akan ada yang keluar."


Gua keluar dari penginapan dengan wajah kusut. Keterangan Kak Nadin didukung bukti-bukti yang kuat, gua gak bisa membantah pakai argumen biasa. Lagipula tujuan Kak Nadin di sini cuman menceritakan, urusan gua percaya atau engga itu sih bukan urusannya.


"Na, saya di sini mah mengumpulkan pemuda-pemudi terbaik dan mendirikan organisasi untuk membantu Indonesia. Kamu tertarik?"


Gua, tertarik? Gila. Kalau memang negara kita sejahat itu maka ajakan Kak Nadin sama dengan misi bunuh diri.


Satu minggu setelahnya Kak Nadin pulang ke Semarang, gua gak main ke penginapan selama itu. Entah karena takut atau masih butuh waktu untuk berpikir. Tapi tekad gua semakin bulat setiap harinya, rasanya gua terbakar semangat. Gua mau Indonesia yang sempurna rupa dan isinya. Jadi di bulan selanjutnya, saat Kak Nadin kembali mengunjungi Yogyakarta gua sudah sampai di penginapan.


"Selamat datang di Buntala, Anaka. Kamu anggota ke delapan kami. Lusa saya kenalkan sama kawan-kawan lainnya."


Buntala (Sansekerta) yang mempunyai makna tombak tajam. Ada juga yang menyebutkan arti lain dari buntala yaitu: bumi, tanah, jagat.


Tanggal 8 September (dua bulan yang lalu), lahirlah Buntala. Organisasi yang punya satu tujuan, yaitu menyembuhkan Indonesia. Membuatnya tumbuh lebih kuat dan kokoh.


Awal berdirinya Buntala, tugas kami semua sederhana. Meracuni pikiran anak-anak dengan perbuatan baik dan terpuji, menyebarkan budaya tiap suku dan membangun kembali moral tiap-tiap dari mereka yang telah roboh. Tapi rahasia-rahasia pahit terus berdatangan, sampai kami merasa bahwa yang jahat adalah mereka yang sekarang sedang berkuasa.


"Buntala sudah punya banyak anggota, kita tumbuh lebih kuat tapi rintangan juga turut berkembang. Tolong jangan dulu tenggelam, kita masih bisa berjuang."

Report Page