Bagian 1.
Anaka DjarakiBiar gua ceritakan dari awal. Sejak setahun yang lalu Indonesia mulai dilanda krisis moral dan pelunturan budaya. Iya, budaya kita yang istimewa itu macam dibakar habis sama kita-kita sendiri. Gak ada yang peduli. Setelah dilakukan penilaian, Pulau Jawa diyakini sebagai pulau dengan kondisi terparah. Anak-anak sudah gak tahu apa itu sopan santun, bahasanya ke mana-mana, dan belum pernah gua ngobrol dengan orang yang bisa bahasa daerahnya sendiri selama setahun ini (percayalah, gua beneran tanya satu-satu orang yang gua temuin). Festival budaya yang rutin diadakan juga hilang, ditelan.
Pemerintah yang kewalahan makin ditekan dengan banyaknya kritik dari negeri tetangga. Bayangkan aja, karena hal ini bidang pariwisata ikutan merosot, Indonesia bisa jatuh miskin. Akhirnya warga Indonesia dipecah, kami mulai dibagi per kelompok. Merah dan putih. Putih bagi mereka yang masih suci, tahu mana benar dan salah, sungguh masih terjaga dan punya wawasan luas tentang budaya. Remaja asli Nusantara. Sedangkan yang merah tentu kebalikannya, kami adalah produk cacat globalisasi.
Karena dapat label merah, gua langsung dimasukkan ke fasilitas rehabilitasi di Sulawesi. Gua diajarkan bagaimana cara berperilaku, seolah gua hewan yang perlu dijinakkan. Tinggal di sana selama lima bulan, gua mulai menemukan istimewanya budaya Sunda. Suku yang harusnya gua banggakan sedari dulu, suku yang harusnya menjadi identitas gua. Gua mulai mengenal bahasanya lagi, seolah terlahir jadi gadis Kota Kembang dan gak pernah angkat kaki dari sana. Gua juga diajarkan sedikit tentang budaya Yogya, sebagai pengingat aja kalau Indonesia itu punya banyak suku apalagi gua pribadi tinggal di Yogya.

"Ini namanya Angklung, alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Terbuatnya dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan. Kamu mau coba??" Ini kata salah satu pengawas di sana sambil menyodorkan angklung terkecil.
Awalnya gua ragu banget buat pegang angklung, ragu mempelajari bahasa Sunda. Pokoknya mempertanyakan apakah ini benar-benar gua? Apakah gua harus banget belajar kayak gini? Tapi pada akhirnya ... hei, gua anak Indonesia lho!
Dan harus gua akui kalau pemerintah yang berusaha keras buat bikin program ini berjalan lancar. Sayangnya rencana mereka ada titik lemahnya alias cacat. Gak sempurna. Dari banyaknya anak yang ikut rehabilitas (penanaman kembali moral dan nilai budaya sukunya masing-masing), yang kembali ke keluarganya gak sampai 50%. Bayangin, setahu gua ada sekitar satu per empat remaja Indonesia yang diberi label merah, dan gak sampai setengahnya keluar dari gedung rehabilitas. Ngapain coba? Susah banget diajar sampai gak dibolehkan keluar?
Gua juga kaget banget waktu kabar ini sampai ke telinga, ternyata banyak anak yang butuh waktu lama untuk menyerap ajaran ini. Moral gak tahu ke mana, budaya diinjak-injak, ternyata agamanya juga jelek. Gua beruntung masih bisa menelan informasi baik dan keluar dari sana. Gua dan Hanan.