Bab 9 Paket Suami Kontrak
Hari Selasa datang lebih cepat daripada yang Ziva inginkan.
Pukul enam pagi, alarm di ponselnya baru bergetar sekali ketika tangannya langsung meraba-raba meja kecil di samping kasur. Ia mematikannya sebelum bunyi kedua sempat keluar, lalu membuka mata dengan napas berat. Kamar masih remang-remang. Tirai belum dibuka dan lampu di sisi kasur Davin sudah mati.
Kasur besar di seberang ruangan kosong.
Ziva mengangkat kepala, lalu melihat pintu kamar mandi tertutup. Suara air terdengar dari dalam. Ia menjatuhkan wajahnya kembali ke bantal sambil menarik selimut sampai ke kepala.
"Manusia apa yang mandi jam segini tanpa disuruh?" gumamnya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Davin keluar dengan rambut masih sedikit basah dan handuk kecil di tangannya. Ia sudah mengenakan celana bahan hitam, tetapi kemeja putihnya belum dikancingkan seluruhnya.
Ziva buru-buru membuang muka ke arah dinding.
"Kenapa?" tanya Davin.
"Kancingin dulu baju lo."
Davin melihat kemejanya sendiri. "Saya sedang mengancingkannya."
"Ya jangan sambil jalan-jalan."
"Ini kamar saya."
"Kamar kita," koreksi Ziva, lalu langsung menyesali ucapannya sendiri.
Davin berhenti sesaat. Tatapannya berpindah dari Ziva ke kasur ungu muda di dekat jendela, kemudian kembali lagi kepadanya.
"Anda sendiri yang mengatakan kamar ini milik Anda juga."
"Udah, jangan dibahas. Pagi-pagi otak gue belum siap debat soal kepemilikan aset."
Davin melanjutkan mengancingkan kemejanya tanpa menjawab. Ziva turun dari kasur, mengambil pakaian yang sudah disiapkannya semalam, lalu masuk ke kamar mandi. Ketika ia keluar dua puluh menit kemudian, Davin sudah berdiri di depan meja kerja sambil memeriksa sesuatu dari ponselnya.
"Pak Radit sudah menunggu," katanya.
Ziva melihat jam. "Sekarang?"
"Kita harus menjemput Mama Anda lebih dulu."
"Gue tahu. Tapi masih jam tujuh kurang."
"Jadwal rumah sakit pukul delapan tiga puluh."
"Lo hafal banget."
"Anda mengirimkan jadwalnya tadi malam."
Ziva mengambil tas dari atas kursi. Ia memang mengirimkan foto jadwal itu, tetapi tidak menyangka Davin akan memperhatikan sampai ke jam kedatangan. Laki-laki tersebut bahkan sudah mengatur keberangkatan tanpa perlu diingatkan lagi.
Saat mereka turun ke ruang makan, Pak Rehan dan Bu Linda sudah duduk di sana. Mbak Sari baru saja meletakkan dua piring nasi goreng di meja.
"Sarapan dulu," kata Bu Linda. "Rumah sakit tidak akan pindah hanya karena kalian makan sepuluh menit."
Ziva menarik kursi. "Aku takut telat, Bu."
"Kita tidak akan terlambat," ujar Davin sambil duduk di sebelahnya.
Ziva menatap kursi yang dipilih Davin. Biasanya cowok itu duduk di ujung meja. Pagi ini ia justru duduk di samping Ziva, mungkin supaya mereka terlihat seperti pasangan normal di depan Pak Rehan dan Bu Linda.
Atau mungkin ujung meja terlalu jauh dari nasi goreng.
"Makan," kata Davin setelah melihat Ziva masih diam.
"Iya, Pak Ketua Jadwal."
Pak Rehan menurunkan cangkir kopinya. "Ketua jadwal?"
""Davin suka ngatur jadwal aku juga, Pak. Kayaknya sebentar lagi aku harus absen pagi"jawab Ziva.
Davin mengambil sendok. "Ide bagus."
Bu Linda tersenyum sambil melihat keduanya. "Kalian kelihatan semakin akrab."
Ziva langsung menyuapkan nasi goreng ke mulut. Davin tetap makan dengan tenang seolah tidak mendengar apa pun. Kalau Bu Linda terus membuat kesimpulan secepat itu, Ziva yakin perempuan tersebut bisa menganggap mereka sedang bulan madu hanya karena duduk di meja yang sama.
BMW hitam itu kembali menarik perhatian ketika masuk ke jalan perumahan Mama Ziva. Seorang bapak yang sedang menyapu halaman berhenti untuk melihat. Dua ibu di depan warung ikut menoleh, bahkan salah satunya sempat melambaikan tangan kepada Ziva saat mobil berhenti.
"Tuh, kan," kata Ziva. "Sekarang satu komplek pasti tahu gue pulang lagi."
Davin melepas sabuk pengaman. "Itu masalah?"
"Nggak. Cuma besok mungkin mereka pasang jadwal kedatangan lo di pos ronda."
Pak Radit menahan senyum dari balik kemudi.
Nayla sudah menunggu di depan rumah bersama Mama. Begitu melihat Davin ikut turun, alisnya langsung terangkat.
"Pak Menteri datang lagi."
"Nayla," tegur Mama pelan.
Ziva menunjuk mobil. "Tuh, Dav. Bukan cuma gue yang bilang."
Davin memandang Nayla. "Saya bukan menteri."
"Iya, Kak. Menteri juga belum tentu mobilnya sebagus itu."
Ziva menahan tawa ketika Davin memilih membuka pintu belakang untuk Mama daripada melanjutkan percakapan. Ia membantu Mama masuk dengan hati-hati, memastikan ujung pakaiannya tidak tersangkut, lalu menunggu sampai Nayla duduk di sebelahnya.
"Kamu tidak perlu ikut sampai selesai, Nak," kata Mama kepada Davin setelah semuanya masuk. "Katanya Ziva, kamu sibuk."
"Saya sudah mengosongkan agenda pagi, Ma."
Ziva menoleh cepat. Davin mengucapkan panggilan itu tanpa ragu, seolah sudah terbiasa. Mama tersenyum kecil, sedangkan Nayla langsung melihat Ziva dengan tatapan yang terlalu ramai untuk ukuran orang yang belum mengatakan apa-apa.
Ziva menyipitkan mata, memperingatkan adiknya agar tidak mulai.
Nayla justru tersenyum semakin lebar.
Rumah sakit sudah ramai ketika mereka tiba. Pak Radit menurunkan mereka di dekat pintu masuk utama, lalu membawa mobil ke area parkir. Ziva berjalan di samping Mama, sementara Nayla membawa tas berisi dokumen dan pakaian ganti.
Davin mengambil tas itu dari tangan Nayla.
"Aku bisa bawa, Kak," kata Nayla.
"Saya tahu."
"Terus kenapa diambil?"
"Supaya kamu bisa membantu Mama."
Nayla mengangguk, lalu berpindah ke sisi Mama. Ziva memperhatikan Davin yang berjalan sambil membawa tas bermotif bunga milik Mamanya. Kemeja putih, celana hitam, jam tangan mahal, dan tas bunga ungu. Pemandangan itu terlalu aneh untuk tidak dikomentari.
"Tasnya cocok sama lo."
Davin menatap tas di tangannya. "Apa yang lucu?"
"Nggak ada. Tinggal tambah jepit rambut kupu-kupu."
"Very funny."
"Akhirnya lo ngerti juga kalau gue lucu."
"Saya sedang menyindir."
"Terlambat. Gue terima itu sebagai pujian."
Mereka menyelesaikan pendaftaran tanpa banyak kendala. Setelah perawat memanggil nama Mama, mereka mengantarnya sampai ke depan ruang tindakan. Nayla menunggu di luar bersama Davin karena hanya satu anggota keluarga yang diperbolehkan masuk untuk mendampingi persiapan.
Ziva keluar sekitar dua puluh menit kemudian. Davin masih duduk di kursi yang sama dengan laptop terbuka di pangkuannya. Tas bunga milik Mama berada rapi di sebelah kakinya.
"Lo belum pergi?"
Davin mengangkat wajah dari layar. "Saya bilang akan mengantar."
"Mengantar itu biasanya sampai depan, terus pulang."
"Itu definisi Anda."
Ziva duduk di kursi sebelahnya. "Rapat lo gimana?"
"Pukul dua."
"Kalau Mama selesainya lama?"
"Pak Radit akan tetap di sini bersama Anda."
"Terus lo?"
"Saya tetap di sini sampai harus berangkat."
Ziva terdiam. Davin mengatakannya sambil kembali melihat laptop, tanpa nada lembut dan tanpa ekspresi yang sengaja dibuat menenangkan. Justru karena itulah kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang benar-benar akan dilakukannya, bukan ucapan baik agar Ziva berhenti khawatir.
"Makasih," katanya pelan.
"Hm."
"Jawabannya sama-sama, Dav."
"Anda sudah mengucapkannya terlalu sering sejak kemarin."
"Orang bilang makasih malah dikomplain."
Davin menutup salah satu dokumen di layar. "Sama-sama."
"Nah. Bisa, kan?"
"Saya sedang bekerja, Zivanya."
"Iya, Bos."
Seorang perawat berjalan melewati mereka, kemudian berhenti ketika mengenali Ziva.
"Mbak Zivanya?" tanyanya.
Ziva langsung berdiri. "Iya, Sus."
Perawat itu melihat Davin. "Suaminya, ya?"
Ziva dan Davin sama-sama diam selama satu detik.
"Iya," jawab Davin lebih dulu.
"Bisa ikut sebentar? Ada data keluarga yang perlu dikonfirmasi."
Davin menutup laptopnya, lalu berdiri sambil membawa tas Mama. Ziva mengikutinya dengan langkah cepat.
"Kenapa lo yang jawab?" bisiknya.
"Karena saya suami Anda."
"Di atas kertas."
Davin menoleh singkat. "Perawat itu tidak menanyakan di atas kertas atau di bawah kertas."
Ziva berhenti selama setengah detik. Ia tidak menyangka manusia kulkas bisa melontarkan jawaban seperti itu tanpa mengubah ekspresi. Ketika Ziva kembali berjalan, Davin sudah berada dua langkah di depannya.
"Dav."
"Apa?"
"Lo barusan ngelawak?"
"Tidak."
"Terus kenapa lucu?"
"Mungkin standar humor Anda terlalu rendah."
Ziva mendecak, tetapi sudut bibirnya tetap naik. "Sombong banget."
Mereka berhenti di meja perawat dan menjawab beberapa pertanyaan singkat mengenai data keluarga. Tidak ada hal rumit. Namun ketika perawat meminta tanda tangan Davin sebagai keluarga pasien, cowok itu tidak membantah. Ia membubuhkan tanda tangan pada kolom saksi tanpa terlihat keberatan.
Setelah urusan tersebut selesai, Davin melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit.
"Saya harus berangkat ke kantor."
Ziva mengangguk. "Iya. Pak Radit masih di sini, kan?"
"Masih. Hubungi saya kalau ada perubahan."
"Gue bisa ngurus."
"Saya tahu."
Davin mengatakannya tanpa keraguan. Bukan seperti orang yang sedang mengambil alih, melainkan seperti seseorang yang benar-benar percaya Ziva mampu menangani keluarganya sendiri.
"Terus kenapa harus ngabarin lo?"
Davin terdiam sebentar. "Karena saya perlu tahu."
Ia berbalik sebelum Ziva sempat bertanya lebih jauh. Tas bunga milik Mama masih berada di tangannya.
"Dav!"
Davin berhenti dan menoleh.
Ziva menunjuk tas tersebut. "Itu mau lo bawa rapat?"
Davin melihat ke bawah. Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah sakit, wajahnya menunjukkan kebingungan tipis.
Ziva langsung tertawa. "Bawa aja. Biar direksi Kings Group tahu CEO mereka akhirnya punya warna dalam hidup."
Davin berjalan kembali, menyerahkan tas itu tanpa mengatakan apa pun, lalu pergi menuju pintu keluar.
Ziva masih tersenyum ketika melihat punggungnya menjauh.
Paket suami kontraknya ternyata bukan cuma menyediakan layanan antar-jemput.
Kadang-kadang, ada bonus hiburan juga.