Bab 8 Pengkhianat

Bab 8 Pengkhianat


Pak RT hanya mampir sebentar setelah melihat Ziva pulang. Ia sedang memperbarui data warga dan meminta Ziva mengisi perubahan status perkawinan serta domisilinya sekarang. Kedatangan itu sempat membuat Nayla kembali mengejek soal “ketua RT palsu” yang tadi mengirim pesan kepada Ziva. Setelah formulir ditandatangani, Pak RT langsung berpamitan untuk melanjutkan pendataan ke rumah sebelah.

Pak Radit datang menjemput Ziva tepat pukul empat sore. Setelah memastikan Mama sudah makan dan semua keperluannya tersusun rapi, Ziva berpamitan. Mama sempat menyuruhnya menginap, tetapi keberadaan Pak Rehan dan Bu Linda membuatnya tidak bisa meninggalkan Villa Panbil terlalu lama. Apalagi ini baru hari pertama mereka tinggal di sana. Kalau Ziva langsung menghilang semalaman, Pak Rehan mungkin belum sempat membongkar koper, tetapi sudah harus membuka map pelanggaran.

Sepanjang perjalanan, Pak Radit lebih banyak diam. Ziva sempat bertanya apakah rapat Davin sudah selesai, tetapi laki-laki itu hanya menjawab belum mendapat kabar.

“Pak Davin kalau rapat emang selama itu, Pak?”

Pak Radit melihat Ziva sebentar melalui kaca spion. “Kalau urusannya penting, bisa sampai malam, Bu.”

“Panggil Ziva aja, Pak. Tiap dipanggil ibu, aku berasa habis jemput anak dari sekolah.”

Pak Radit tersenyum tipis. “Baik, Bu Ziva.”

Ziva memejamkan mata sebentar. Ternyata bukan cuma Davin yang susah diajak kompromi. Semua orang yang bekerja untuk keluarga Wijaya sepertinya dibekali kesopanan berlapis sebelum diterima kerja.

“Bapak memang disuruh balik jam empat?”

“Iya. Pak Davin yang minta.”

“Dia ngingetin langsung?”

“Sebelum masuk ruang rapat.”

Ziva mengangguk sambil melihat keluar jendela. Ia mengatakan pertanyaannya cuma basa-basi, meskipun dirinya sendiri tidak terlalu percaya. Entah sejak kapan ia perlu memastikan Davin benar-benar mengingat janji yang dibuatnya. Padahal laki-laki itu mencatat jadwal Mama Ziva seperti sedang memasukkan agenda rapat ke kalender perusahaan.

Saat mobil memasuki halaman Villa Panbil, suara mesin bor dari taman sudah tidak terdengar. Para tukang yang sejak pagi mengerjakan kamar Hero tampaknya telah pulang. Ziva baru turun ketika Hero berlari dari halaman belakang. Husky itu berhenti di depannya, mengibaskan ekor sambil menjulurkan lidah.

“Tumben nyambut gue.”

Hero mendekatkan hidung ke tas Ziva.

“Oh, nyari makanan.” Ziva mengangkat tasnya lebih tinggi. “Dasar. Gue kira kangen.”

Hero mengeluarkan suara pendek, lalu berjalan kembali menuju taman. Ziva mengikutinya sampai ke bangunan baru yang berdiri beberapa meter dari rumah utama. Kamar Hero sudah hampir selesai, lengkap dengan dinding kayu jati bercat putih, pintu kaca, ventilasi besar, serta pendingin udara di bagian atas. Di dalamnya sudah ada tempat tidur anjing berukuran besar dan lemari kecil untuk menyimpan makanan serta perlengkapannya.

Ziva berdiri di depan pintu kaca sambil berkacak pinggang. “Kamar lo lebih bagus daripada kamar gue sebelum nikah. Lo juga nggak perlu pura-pura nikah buat dapetin ini.”

Hero duduk di sampingnya seolah sedang menikmati pujian.

“Lo enak, Her. Nggak ada notaris yang ngurusin hidup lo. Nggak ada surat wasiat. Nggak ada manusia kulkas yang ngatur jam tidur.”

Hero menjulurkan lidah.

“Iya, gue tahu. Bos lo tajir.”

“Ziva?”

Suara Bu Linda membuatnya menoleh. Perempuan itu berjalan dari arah teras belakang sambil membawa secangkir teh.

“Sudah pulang?”

“Baru sampai, Bu.”

“Bagaimana Mamamu?”

“Masih lemas, tapi urusan rumah sakitnya sudah beres. Hari Selasa mulai cuci darah lagi.”

Bu Linda mengangguk pelan. “Semoga semuanya lancar.”

“Amin. Terima kasih, Bu.”

Bu Linda ikut melihat ke dalam kamar Hero. “Kalau soal Hero, Davin memang suka berlebihan.”

“Aku baru tahu ada anjing punya kamar pakai AC.”

“Katanya Hero susah tidur kalau udara terlalu panas.”

Mulut Ziva membentuk huruf O. Ia menatap Hero yang membalas tatapannya dengan wajah polos, seolah kamar berpendingin udara merupakan hak dasar semua anjing di dunia.

“Ibu masuk dulu, ya. Mau bantu Mbak Sari menyiapkan makan malam.”

Ziva mengangguk ramah. Setelah Bu Linda berjalan menuju teras, ia kembali memandang Hero, berharap husky itu bisa memberikan penjelasan yang lebih masuk akal.

“Jangan lihat gue begitu. Gue nggak akan cocok sama bos lo,” bisiknya.

Hero berdiri dan mengikuti Bu Linda tanpa menoleh lagi.

“Pengkhianat. Baru punya kamar ber-AC aja udah lupa teman.”


Pukul tujuh lewat dua puluh, suara mobil terdengar memasuki halaman. Ziva sedang duduk di ruang tengah bersama Pak Rehan dan Bu Linda. Televisi menyala tanpa ada yang benar-benar menonton, sementara Hero berbaring di bawah meja dengan kepala menempel pada kaki Ziva.

Davin masuk beberapa saat kemudian. Jas hitamnya tersampir di lengan, dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, dan dasinya sudah tidak terpasang. Wajahnya masih tenang, tetapi ada lelah yang tidak berhasil disembunyikan sepenuhnya.

Pak Rehan berdiri. “Bagaimana rapatnya?”

“Baik, Om.”

Ziva memperhatikan wajah Davin. Ia tahu Pak Rehan dan Bu Linda sedang melihat mereka, tetapi otaknya belum menemukan kalimat yang terdengar seperti ucapan seorang istri normal. Pada akhirnya, mulutnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

“Sayang capek?”

Davin menoleh. Ada sedikit kekakuan di sudut rahangnya. “Tidak.”

Ziva menelan ludah setelah mendengar sendiri drama yang baru saja keluar dari mulutnya. Pak Rehan berdeham kecil, sedangkan Bu Linda langsung menoleh kepada suaminya.

“Cie, pasangan muda, ya, Pah.”

Pak Rehan tersenyum. Di belakang mereka, Mbak Sari mengatupkan bibir rapat-rapat agar tidak ikut tertawa. Ziva berusaha mempertahankan wajah biasa saja, sementara Davin berdiri kaku seperti baru saja dipanggil untuk menerima penghargaan yang tidak pernah ia daftarkan.

“Dewan menyetujui wewenang operasionalmu?” tanya Pak Rehan.

Davin meletakkan tas kerja di sofa kosong. “Sementara. Selama empat bulan ke depan, sesuai ketentuan wasiat, setiap keputusan strategis saya tetap harus mendapat persetujuan dewan.”

Pak Rehan mengangguk. “Itu masih sesuai perkiraan. Kita bicarakan di ruang kerja setelah makan.”

Davin membalas dengan anggukan. Bu Linda kemudian menatapnya seperti seorang ibu yang sudah hafal kebiasaan anaknya sendiri.

“Kamu sudah makan?”

“Belum, Bu.”

“Kalau begitu, ganti baju dulu. Mbak Sari sudah menyiapkan makan malam.”

Davin hendak berjalan menuju tangga ketika matanya bertemu dengan Ziva. “Bagaimana Mama Anda?”

“Masih lemas, tapi urusan rumah sakitnya sudah selesai.”

“Jadwal hari Selasa tetap pagi?”

“Iya.”

Davin mengangguk kecil. “Baik. Saya akan mengantar Anda.”

“Gue belum minta.”

“Saya juga tidak menunggu Anda meminta.”

Ziva hampir membalas, tetapi ia teringat Pak Rehan dan Bu Linda masih berada di sana. Ia menarik napas, kemudian memaksakan senyum yang sama kakunya dengan panggilan sayang tadi.

“Terima kasih, Sayang.”

Davin terdiam selama dua detik. “Sama-sama.”

Bu Linda menyenggol lengan Pak Rehan pelan. Ziva pura-pura tidak melihatnya. Kalau akting mereka dilanjutkan lebih lama, mungkin besok pagi Bu Linda sudah sibuk memilih nama untuk cucu.

“Anda sempat makan siang?” tanya Davin.

Pertanyaan itu membuat Ziva menatapnya. Pesan Davin beberapa jam lalu langsung terlintas di kepalanya: Pastikan Anda ikut makan siang. Jangan hanya mengingatkan Mama Anda.

“Sempat.”

“Bagus.”

Hanya itu jawabannya. Namun di tengah urusan rumah sakit dan rapat direksi, manusia kulkas itu ternyata masih sempat memastikan Ziva tidak melewatkan makan siang.

Sebelum Davin sempat naik ke lantai dua, ponsel Bu Linda berdering. Nama Vania muncul di layar.

“Anak saya,” kata Bu Linda sambil tersenyum. “Di sana pasti baru selesai makan siang.”

Ia menerima panggilan video tersebut. Wajah seorang perempuan muda muncul di layar dengan rambut panjang yang diikat asal. Dinding kamar di belakangnya dipenuhi foto dan catatan kecil.

“Mama!” sapanya ceria.

“Baru selesai makan siang?”

“Iya. Di sana sudah malam, ya?”

“Sudah. Papa juga ada di sini.”

Pak Rehan mendekat dan menyapa putrinya. Bu Linda kemudian mengarahkan kamera sedikit lebih lebar. Begitu melihat Davin, ekspresi Vania langsung berubah semakin cerah.

“Kak Davin!”

Untuk pertama kalinya, Ziva melihat senyum yang benar-benar utuh di wajah Davin. Bukan gerakan tipis yang nyaris tidak terlihat, melainkan senyum sungguhan.

“Hai, Van,” jawab Davin. “Sudah selesai urusan kampusnya?”

“Hampir. Kak Davin masih ingat janji, kan?”

“Janji apa?”

“Jemput aku kalau pulang.”

“Kapan?”

“Minggu depan.”

Ziva yang sejak tadi diam tiba-tiba membetulkan posisi duduk. Tidak ada alasan khusus. Hanya terasa kurang nyaman, mungkin karena kepala Hero masih menekan kakinya. Atau mungkin karena Davin ternyata bisa tersenyum tanpa perlu dipaksa notaris.

Bu Linda mengarahkan kamera kepada Ziva. “Van, ini Ziva.”

Vania langsung mendekatkan wajahnya ke kamera. “Kak Ziva! Akhirnya ketemu juga.”

Ziva tersenyum. “Hai.”

“Aku dengar banyak tentang Kakak.”

“Dari siapa?”

Vania membuka mulut, tetapi matanya lebih dulu melirik Davin melalui layar. “Rahasia.”

“Kalau rahasia, kenapa diumumin?”

Vania tertawa. “Kak Ziva ternyata benar-benar lucu.”

“Nah, sekarang aku makin curiga. Siapa yang bilang aku lucu?”

“Nanti aku ceritain kalau sudah sampai Batam.”

Ziva menatap layar dengan mata menyipit. “Jangan-jangan kamu sama Kak Davin suka gibahin aku.”

“Saya tidak pernah bergosip,” sela Davin.

“Orang yang langsung membela diri biasanya justru paling mencurigakan.”

“That makes no sense.”

“Tuh, Van. Kalau bahasa Inggrisnya udah keluar, berarti dia mulai terpojok.”

Vania tertawa semakin keras. Bu Linda ikut tersenyum, sedangkan Pak Rehan memilih duduk kembali seperti tidak ingin terlibat dalam sidang dadakan tersebut. Davin tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia justru berjalan menuju tangga seolah percakapan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

“Minggu depan jangan lupa jemput aku, Kak!” seru Vania sebelum Davin menghilang dari pandangan.

Davin mengangkat satu tangan tanpa menoleh. “Kirim jadwal penerbangannya.”

Vania tersenyum puas. Ziva melihat layar ponsel Bu Linda, lalu punggung Davin secara bergantian. Ia tahu Vania adalah anak Pak Rehan dan Bu Linda. Ia juga tahu Davin menganggap perempuan itu seperti adiknya sendiri. Jadi, seharusnya tidak ada yang aneh.

Tidak ada sama sekali.

Namun, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Davin cerita apa tentang gue?


Report Page