Bab 7 Ketua RT

Bab 7 Ketua RT


Tiga puluh menit kemudian, Ziva sudah duduk di kursi belakang BMW X5 milik Davin.

Tas kecil berisi KTP, kartu keluarga, dan kartu pasien milik Mama berada di pangkuannya. Di sebelahnya, Davin menatap layar ponsel sambil membaca pesan yang terus masuk.

Pak Radit mengemudikan mobil keluar dari Villa Panbil.

Ziva melirik jam di layar tengah.

Pukul 09.42.

Rapat Davin dimulai pukul satu.

Harusnya masih cukup.

Harusnya.

Namun melihat ponsel Davin yang tidak berhenti bergetar membuat Ziva ikut merasa dikejar waktu.

“Kalau lo mau batal nganter, sekarang masih bisa,” katanya pelan.

Davin tidak mengangkat kepala.

“Tidak.”

“Gue serius. Pak Radit bisa nganter gue sendiri.”

“Saya juga serius.”

“Tapi rapat lo—”

“Pukul satu.”

“Gue tahu jamnya.”

“Berarti tidak perlu ditanyakan lagi.”

Ziva mendecak, lalu memalingkan wajah ke jendela.

Baru beberapa detik, suara Davin terdengar lagi.

“Anda sudah membawa semua dokumennya?”

“Udah.”

“KTP?”

“Udah.”

“Kartu keluarga?”

“Udah.”

“Kartu pasien Mama Anda?”

Ziva menepuk tas di pangkuannya.

“Lengkap, Pak Ketua RT.”

Davin akhirnya menoleh.

“Saya hanya memastikan.”

“Iya, iya. Makasih udah memastikan hidup gue nggak berantakan sebelum jam sepuluh pagi.”

Davin kembali melihat ponselnya.

Namun dari pantulan jendela, Ziva sempat melihat sudut bibir cowok itu bergerak tipis.

Entah tersenyum.

Entah cuma menahan kesal.

Sama Davin, bedanya memang tipis.

Mereka tiba di rumah sakit sekitar dua puluh lima menit kemudian.

Pak Radit menurunkan mereka di dekat pintu masuk utama sebelum membawa mobil menuju area parkir. Ziva berjalan lebih cepat sambil mencari bagian administrasi yang disebutkan Nayla semalam.

Davin mengikutinya beberapa langkah di belakang, membiarkan Ziva mencari loket yang dituju tanpa mengambil alih.

Setelah sempat bertanya kepada petugas informasi, Ziva akhirnya menemukan loket administrasi pasien di ujung lorong lantai satu. Ada enam orang yang sudah menunggu. Ia mengambil nomor antrean, lalu duduk di kursi kosong.

Davin duduk di sebelahnya.

Ziva menoleh.

“Lo nggak harus nunggu di sini.”

“Lalu saya harus menunggu di mana?”

“Kafe, mobil, kantor, Manchester. Bebas.”

“Nomor antreannya berapa?”

Ziva melihat kertas kecil di tangannya.

“A-37.”

Davin menunjuk layar pemanggil di atas loket.

A-32.

“Lima orang lagi,” katanya.

“Gue bisa ngitung.”

“Bagus.”

Ziva mendengus pelan.

Di seberang mereka, seorang ibu menggendong anak yang sedang tertidur. Di sudut lain, seorang laki-laki tua membolak-balik map plastik berisi hasil pemeriksaan. Bau antiseptik bercampur dengan aroma kopi dari mesin minuman dekat pintu.

Ponsel Davin kembali bergetar.

Kali ini ia mengangkat panggilan.

“Iya.”

Nada suaranya berubah lebih formal. Lebih tajam.

“Kirimkan laporan terakhir ke email saya. Rapat tetap dimulai pukul satu.”

Ia mendengarkan beberapa detik.

“Tidak perlu menunggu konfirmasi lagi. Saya tetap hadir.”

Davin menutup telepon.

Ziva memperhatikan profil wajahnya.

“Mereka nyariin lo?”

“Mereka memastikan saya hadir.”

“Berarti rapatnya penting?”

“Kalau tidak penting, saya tidak akan datang.”

Ziva mengangkat alis. “Nah. Ternyata lo bisa jawab normal.”

“Saya selalu menjawab normal.”

“Menurut lo.”

Ziva gagal menahan kekehannya. Sejak berangkat, baru kali ini pikirannya terlepas sebentar dari rumah sakit.

Nomor A-37 dipanggil beberapa menit kemudian.

Ziva berdiri dan menghampiri loket. Davin ikut bangkit, tetapi berhenti satu langkah di belakangnya.

“Atas nama pasien siapa, Bu?” tanya petugas.

Ziva menyebutkan nama lengkap Mamanya, lalu menyerahkan KTP, kartu keluarga, dan kartu pasien.

Petugas itu memeriksa layar komputer cukup lama. Jemarinya bergerak dari satu halaman ke halaman lain, kemudian berhenti pada data penjaminan.

“Formulir konfirmasi dari Pak Rehan sudah kami terima,” katanya. “Untuk biaya tindakan juga sudah dijamin oleh Kings Group. Jadwal cuci darah tetap hari Selasa pukul tujuh pagi. Pasien diminta datang paling lambat tiga puluh menit sebelumnya.”

“Hari Selasa saya harus mendampingi Mama juga?” tanya Ziva.

“Sebaiknya, karena Ibu tercatat sebagai penanggung jawab keluarga. Nanti dokter juga akan menjelaskan kondisi terbaru pasien sebelum tindakan.”

Ziva mengangguk.

“Baik.”

Petugas tersebut menyerahkan satu lembar formulir tambahan. Ziva membaca bagian yang ditandai, mengisi beberapa data, lalu menandatanganinya.

Tidak sampai lima belas menit, semuanya selesai.

Saat mereka menjauh dari loket, Ziva mengembuskan napas panjang.

“Sudah?” tanya Davin.

“Sudah.”

“Selasa pukul tujuh pagi.”

Ziva menoleh. “Lo dengar?”

“Saya berdiri di belakang Anda.”

Davin mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya.

“Lo ngapain?”

“Mencatat.”

“Buat apa?”

“Supaya tidak lupa.”

Ziva menatapnya beberapa detik.

“Itu jadwal Mama gue.”

“Saya tahu.”

“Lo nggak harus ikut ngurus sampai segitunya.”

Davin selesai mengetik, kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku.

“Saya tidak ikut mengurus. Saya hanya mencatat.”

“Sama aja.”

“Tidak.”

Ziva ingin membantah, tetapi ponselnya lebih dulu bergetar.

Pesan dari Nayla.

Nayla: Kak, udah selesai?

Ziva langsung membalas.

Ziva: Udah. Mama di rumah?

Jawabannya datang hampir seketika.

Nayla: Di rumah. Dari tadi nunggu Kakak.

Ziva menatap layar sedikit lebih lama.

Davin melihatnya, tetapi tidak mencoba membaca.

“Nayla bilang Mama nunggu gue.”

“Kita ke rumah Mama Anda.”

Ziva mengangkat wajah.

“Rapat lo?”

“Masih ada waktu.”

“Kalau cuma nganter gue sampai depan, nggak apa-apa. Gue bisa pulang sendiri nanti.”

Davin berjalan menuju pintu keluar.

“Kita lihat nanti.”

Ziva memandang punggungnya.

Seperti biasa, Davin sudah memutuskan sebelum Ziva sempat memberi jawaban. Anehnya, kali ini ia tidak merasa ingin membantah.

Rumah keluarga Ziva berada di kawasan perumahan sederhana yang jalannya hanya cukup untuk dua mobil berpapasan pelan-pelan.

BMW hitam Davin terlihat terlalu mencolok di antara motor yang terparkir di depan rumah-rumah. Beberapa orang yang sedang duduk di warung ujung jalan ikut menoleh ketika mobil itu berhenti.

“Nah, kan,” gumam Ziva. “Mobil lo bikin satu komplek tahu gue pulang.”

Davin melihat keluar jendela.

“Saya harus mengganti mobil?”

“Minimal jangan yang kelihatan kayak mau jemput menteri.”

Pak Radit menahan senyum dari balik kemudi.

Ziva membuka pintu, lalu menoleh kepada Davin.

“Lo tunggu di mobil aja. Gue cuma mau lihat Mama sebentar.”

Davin melihat jam tangannya.

“Saya ikut masuk.”

“Rapat lo tinggal—”

“Empat puluh lima menit sebelum saya harus berangkat ke kantor.”

“Lo ngitung juga?”

“Iya.”

“Hidup lo capek banget, ya.”

Davin turun tanpa menjawab.

Pintu rumah terbuka sebelum Ziva sempat mengetuk.

Nayla muncul dengan kaus putih longgar dan celana pendek. Rambutnya dikuncir asal. Begitu melihat Ziva, wajahnya langsung cerah.

“Kak!”

Ia memeluk Ziva erat.

“Pelan-pelan,” protes Ziva, meskipun tangannya ikut memeluk. “Kakak masih bisa napas.”

Nayla melepaskannya, lalu baru menyadari ada Davin berdiri di belakang.

Tubuhnya langsung tegak.

“Kak Davin.”

“Halo, Nayla.”

Ziva menoleh cepat kepada Davin.

Nada suaranya tetap datar, tetapi setidaknya ia tidak menjawab seperti sedang menerima laporan keuangan.

“Masuk, Kak,” kata Nayla. “Mama dari tadi nanya terus.”

Ruang tamu rumah itu tidak besar. Sofa lamanya sudah sedikit turun di bagian tengah. Ada meja kayu dengan beberapa botol obat, dua gelas air, dan kotak tisu di atasnya.

Mama duduk di sofa dekat jendela dengan selimut tipis menutupi kakinya. Wajahnya terlihat lebih pucat daripada terakhir kali Ziva pulang, tetapi senyumnya langsung muncul saat melihat anak sulungnya.

“Ziva.”

Ziva menghampiri dan berjongkok di depannya.

“Mama gimana?”

“Baik.”

“Nayla bilang Mama semalam nggak bisa tidur.”

Mama melirik Nayla yang masih berdiri dekat pintu.

“Adikmu itu kalau cerita suka ditambah-tambah.”

“Mama bolak-balik bangun empat kali,” sahut Nayla.

“Nah, kan.” Ziva menyentuh tangan Mamanya. “Masih mual?”

“Sedikit.”

Baru setelah itu Mama melihat Davin.

“Davin, masuk, Nak. Jangan berdiri saja.”

Davin mendekat, lalu menundukkan kepala dengan sopan.

“Bagaimana keadaan Mama?”

“Masih begini. Kamu sampai repot-repot ikut ke sini.”

“Tidak repot.”

Mama menatap Ziva, lalu kembali melihat Davin.

“Kalian baik-baik?”

“Baik,” jawab keduanya hampir bersamaan.

Ziva dan Davin saling menoleh.

Nayla menutupi mulut, tetapi bahunya bergerak menahan tawa.

Mama tersenyum kecil.

“Syukurlah.”

Ziva buru-buru mengambil salah satu botol obat dari meja.

“Ini udah diminum?”

“Sudah.”

“Yang ini?”

“Belum. Setelah makan siang.”

Ziva memeriksa satu per satu obat tersebut. Di belakangnya, Davin duduk di ujung sofa. Ponselnya kembali bergetar, tetapi kali ini hanya dilihat sekilas sebelum dibalik di atas pahanya.

Mama memperhatikan gerakan itu.

“Kamu ada pekerjaan, Vin?”

“Ada rapat pukul satu.”

Ziva langsung melihat jam dinding.

Sudah lewat pukul sebelas.

“Dav, lo berangkat aja,” katanya. “Gue di sini dulu.”

Davin tidak langsung menjawab. Ia menatap obat-obatan di tangan Ziva, kemudian melihat Mama.

“Saya akan minta Pak Radit kembali menjemput Anda sore nanti.”

“Nggak usah repot. Aku bisa pulang sendiri nanti.”

“Pak Radit akan menjemput,” kata Davin tenang. “Anda tidak perlu terburu-buru.”

Davin menyampaikannya seperti jadwal yang sudah disusun. Namun untuk sekali ini, keputusan itu justru memberi Ziva lebih banyak waktu bersama keluarganya.

“Iya,” jawab Ziva akhirnya. “Terima kasih.”

Davin berdiri, lalu berpamitan kepada Mama dan Nayla.

Sebelum melangkah keluar, ia menoleh kepada Ziva.

“Kalau ada perubahan jadwal dari rumah sakit, beri tahu saya.”

“Iya.”

Pintu tertutup beberapa detik kemudian.

Suara mesin mobil terdengar dari luar, lalu perlahan menjauh.

Ziva kembali duduk di samping Mama.

Nayla mengambil tempat di kursi seberang sambil menatap kakaknya dengan senyum aneh.

“Apa?” tanya Ziva.

“Nggak ada.”

“Muka lo jelas banget ada apa-apa.”

“Kak Davin ternyata nggak sedingin yang Kakak ceritain.”

Ziva mendecak.

“Dia emang begitu kalau ada orang.”

Ponsel Ziva bergetar di atas meja.

Satu pesan masuk dari Davin.

Davin: Jadwal hari Selasa sudah saya catat. Saya akan kosongkan pagi.

Ziva membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Belum sempat ia membalas, satu pesan lagi masuk.

Davin: Pastikan Anda ikut makan siang. Jangan hanya mengingatkan Mama Anda.

Nayla menjulurkan leher, berusaha mengintip layar.

Ziva langsung membalik ponselnya.

“Apaan?” tanya Nayla.

“Nggak ada.”

“Tapi sekarang Kak Davin sudah nggak ada di sini,” kata Nayla. “Terus kenapa Kakak senyum?”

Ziva menyentuh bibirnya sendiri.

Senyum itu langsung hilang.

“Siapa yang senyum?”

Nayla dan Mama saling pandang.

Ziva meraih salah satu bantal sofa, lalu memeluknya di depan dada.

“Udah. Jangan mulai aneh-aneh.”

Namun saat Mama dan Nayla mulai membahas jadwal pengobatan, tangan Ziva diam-diam meraih ponselnya lagi.

Ia mengetik balasan singkat.

Ziva: Iya, Pak Ketua RT. Fokus rapat sana.

Balasan Davin datang kurang dari semenit.

Davin: Saya bukan ketua RT.

Ziva menahan tawa.

Manusia kulkas itu ternyata bukan cuma bisa mencatat jadwal.

Dia juga bisa membalas pesan tidak penting.

Belum sempat Ziva menyimpan ponselnya, terdengar ketukan dari pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

“Permisi, Bu! Pak RT nih!”

Ziva menatap layar ponselnya, lalu menoleh ke arah pintu.

Nayla mengangkat alis.

“Nah, yang asli datang.”

Ziva langsung menutup wajahnya dengan bantal.




Report Page