Bab 6 Si Manusia Kulkas

Bab 6 Si Manusia Kulkas


Pak Rehan menggeser map kedua ke tengah meja.

Ruangan langsung terasa lebih sunyi.

Ziva menatap map cokelat itu selama beberapa detik. Seolah benda tersebut bisa menjawab sendiri kenapa nama Mama selalu muncul bersama rumah sakit, jadwal pengobatan, dan lembaran-lembaran yang harus ia tanda tangani.

Pak Rehan membuka halaman paling depan.

"Ini formulir konfirmasi data penanggung jawab keluarga untuk jadwal cuci darah Mama Anda minggu depan, Bu Ziva. Rumah sakit sudah menerima surat penjaminan biaya sesuai amanat Pak Arif, jadi untuk pembiayaan tidak ada kendala."

Ziva mengangguk pelan.

"Terus?"

"Karena Anda tercatat sebagai penanggung jawab keluarga, pihak rumah sakit membutuhkan tanda tangan Anda untuk melengkapi administrasi." Pak Rehan menunjuk salah satu bagian di halaman terakhir. "Untuk persetujuan tindakan medis, dokter tetap akan menjelaskannya langsung di rumah sakit kepada Mama Anda dan keluarga."

Ziva memperhatikan kolom tanda tangan tersebut.

Tangannya tidak langsung bergerak.

"Jadwalnya hari apa, Pak?"

"Selasa pagi."

Ziva melirik tanggal yang tercetak di sudut formulir.

Masih beberapa hari lagi.

Namun tetap terasa terlalu dekat.

"Kalau aku tanda tangan sekarang, nanti aku tetap harus datang ke rumah sakit?"

"Tetap. Ada data keluarga yang harus diverifikasi langsung. Kalau memungkinkan, sebaiknya diselesaikan hari ini supaya tidak mendadak."

Ziva mengangguk kecil.

"Boleh aku baca dulu?"

"Tentu."

Pak Rehan mendorong map itu ke arahnya.

Ziva membaca setiap bagiannya pelan-pelan. Kalimat-kalimat di atas kertas itu terasa terlalu resmi dan terlalu dingin.

Nama Mama.

Nomor rekam medis.

Diagnosis leukemia dengan komplikasi pada ginjal.

Jadwal cuci darah.

Namanya sendiri sebagai penanggung jawab keluarga.

Semuanya tampak seperti data biasa. Barisan huruf dan angka yang bisa dibaca siapa saja tanpa merasakan apa-apa.

Namun bagi Ziva, satu lembar itu berarti Mama akan kembali duduk berjam-jam di ruangan dingin. Berarti Nayla akan menunggu kabar sambil pura-pura kuat. Berarti adiknya yang satu lagi akan bertanya apakah Mama akan baik-baik saja, lalu Ziva harus menjawab iya meskipun ia sendiri tidak pernah benar-benar yakin.

Dan itu juga berarti Ziva harus pulang.

Setidaknya sebentar.

Di sebelahnya, Davin duduk diam.

Tidak bertanya.

Tidak membaca dari balik bahunya.

Tidak memberi komentar yang tidak diperlukan.

Anehnya, diam Davin kali ini tidak membuat Ziva kesal.

Setelah membaca sampai selesai, Ziva mengambil pena dari atas meja. Ia membubuhkan tanda tangan pada kolom yang ditunjukkan Pak Rehan. Garis terakhirnya sedikit miring.

Begitu pena diletakkan kembali, Bu Linda menyentuh punggung tangannya pelan.

"Semoga pengobatan Mamamu lancar, ya."

Ziva tersenyum tipis.

"Terima kasih, Bu."

Pak Rehan memeriksa tanda tangannya, lalu menutup map.

"Nanti staf kantor saya akan mengantarkan formulir ini ke rumah sakit. Tapi Bu Ziva tetap perlu datang untuk melengkapi verifikasi data keluarga."

"Hari ini aku ke rumah sakit."

"Saya antar."

Suara Davin terdengar dari sampingnya.

Ziva menoleh.

Davin masih duduk dengan punggung tegak, kemeja putih rapi, dan wajah datar. Seolah kalimat tadi tidak lebih besar daripada mengatakan ia akan mengantar dokumen ke kantor.

Ziva teringat percakapan mereka semalam. Davin memang sudah menawarkan hal yang sama.

"Iya," jawab Ziva. "Makasih."

Pak Rehan memandang keduanya, lalu tersenyum tipis.

"Bagus. Saya senang kalian saling membantu."

Bu Linda kemudian berdiri dari sofa.

"Jangan dipikirkan terlalu berat dulu, Ziva. Saya dan Pak Rehan bisa mengurus barang kami sendiri."

"Mbak Sari akan membantu," kata Davin.

"Tidak perlu, Pak Davin," ujar Pak Rehan. "Kami tidak mau merepotkan."

"Panggil Davin saja, Pak. Bapak dan Bu Linda sudah mengenal saya sejak kecil."

Pak Rehan tersenyum.

"Baik, Davin. Tapi kami benar-benar tidak mau merepotkan."

"Bukan merepotkan. Memang itu bagian dari pekerjaannya."

Ziva menatap Davin.

Kalimatnya tetap terdengar seperti keputusan rapat. Namun setidaknya ia tidak membiarkan dua tamunya mengangkat koper sendiri.

Hero yang sejak tadi berbaring di dekat pintu kaca tiba-tiba bangun. Husky besar itu berjalan mendekati koper Bu Linda, lalu mengendus salah satu rodanya cukup lama.

"Hero," panggil Davin.

Hero menoleh. Kedua telinganya langsung tegak.

"Jangan."

Husky itu mundur dua langkah, lalu duduk.

Ziva mengangkat alis.

"Kok sama kamu langsung nurut?"

"Karena dia sudah terbiasa dengan saya."

Ziva melihat Hero yang kini duduk tenang di samping Davin.

"Pantes. Sama-sama irit ngomong."

Bu Linda tertawa kecil.

"Hero memang paling nurut sama Davin. Dari kecil sudah dibiasakan begitu."

Ziva menoleh kepada Hero.

"Dari kecil? Umur Hero berapa?"

"Dua tahun," jawab Davin.

"Masih muda banget."

"Dan dia bukan irit bicara," kata Davin. "Dia memang tidak bisa bicara."

Ziva menatapnya selama dua detik.

"Makasih penjelasannya, Pak Guru."

Bu Linda tertawa kecil. Pak Rehan ikut tersenyum.

Davin berdiri, lalu meraih pegangan koper Pak Rehan.

"Kamarnya di lantai bawah. Saya antar."

"Davin, tidak perlu. Kopernya biar saya bawa sendiri."

"Tidak masalah."

Pak Rehan akhirnya menyerah.

"Baik."

Mereka berjalan menyusuri lorong lantai bawah. Kamar tamu berada di sisi kanan rumah, tidak jauh dari ruang makan dan menghadap taman samping. Mbak Sari sudah menunggu di depan pintu dengan dua gelas air di atas nampan.

Ziva berjalan paling belakang.

Bukan karena ingin membantu.

Ia hanya belum tahu harus berdiri di mana.

Bu Linda melihat ke dalam, lalu mengangguk kecil.

Kamar itu cukup luas. Ada tempat tidur ukuran king, lemari kayu, meja kecil di dekat jendela, serta kamar mandi di dalam. Tirai krem sudah dibuka, membiarkan cahaya pagi jatuh di atas lantai mengilap.

"Kamar ini masih seperti dulu," kata Bu Linda. "Hanya warna tirainya yang berubah."

"Nyaman sekali. Terima kasih, Davin."

"Sama-sama, Bu."

Ziva mengangkat alis kecil.

Ternyata manusia kulkas itu tahu cara menjawab ucapan terima kasih.

Pak Rehan meletakkan tas kerjanya di atas meja.

"Saya akan ke kantor sebentar setelah ini. Ada beberapa dokumen yang harus diselesaikan."

Davin mengangguk.

"Saya akan mengantar Ziva ke rumah sakit lebih dahulu, baru ke kantor."

Pak Rehan menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

Pak Rehan melihat jam tangannya.

"Sebelum saya berangkat, ada satu hal lagi, Davin."

Davin menoleh.

"Apa?"

"Direksi Kings Group menjadwalkan rapat internal siang ini. Mereka ingin membahas posisi Anda setelah kepulangan dari Manchester dan pelaksanaan amanat Pak Arif."

Wajah Davin tidak berubah.

Namun Ziva melihat jemari cowok itu mengencang di sisi tubuh.

"Jam berapa?"

"Pukul satu."

"Saya hadir."

Pak Rehan mengangguk.

"Baik. Saya sengaja menyampaikannya langsung supaya kabarnya tidak terlambat."

Davin mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengirimkan sebuah pesan.

"Pak Radit sudah menunggu?" tanyanya kepada Mbak Sari.

"Sudah, Pak. Di depan."

Davin kembali menatap Ziva.

"Setelah ini siapkan KTP dan dokumen yang diminta rumah sakit. Kita berangkat tiga puluh menit lagi."

Ziva mengangguk. "Iya."

Pak Rehan tersenyum samar.

"Davin memang jarang menawarkan bantuan. Tapi kalau dia sudah bilang akan melakukan sesuatu, biasanya dia benar-benar melakukannya."

"Aku tahu, Pak," jawab Ziva.

Jawaban itu terdengar cukup wajar di telinganya sendiri.

Pak Rehan dan Bu Linda mulai membereskan barang-barang mereka. Davin keluar lebih dahulu dari kamar tamu. Ziva menyusul setelah berpamitan.

Begitu pintu kamar tertutup dan mereka sudah berjalan beberapa langkah di lorong, Ziva merendahkan suara.

"Rapat lo jam satu, kan?"

"Iya."

"Terus kerjaan pagi lo?"

"Saya sudah memindahkan dua agenda."

Ziva menoleh cepat. "Cuma buat nganter gue ngurus administrasi?"

Davin tetap berjalan menuju tangga.

"Bukan cuma administrasi. Anda juga perlu menemui Mama Anda."

Langkah Ziva melambat.

Davin tidak menoleh lagi.

"Tiga puluh menit, Zivanya."

Ziva memandangi punggungnya yang semakin jauh.

Ia masih dingin.

Masih kaku.

Masih menyebalkan.

Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, Ziva tidak hanya melihat lelaki yang menikahinya karena terpaksa.

Ada sesuatu di balik kalimat-kalimat pendek, perintah, dan wajah datarnya. Sesuatu yang tidak pernah Davin jelaskan, tetapi selalu muncul ketika benar-benar dibutuhkan.

Ziva belum memercayainya.

Belum.

Namun untuk pertama kalinya, ia mulai ingin tahu siapa sebenarnya Davin Wijaya.

Si Manusia Kulkas.


Report Page