Bab 5 Tanda Tangan
Zivanya terbangun karena suara pintu lemari dibuka.
Matanya masih berat. Cahaya pagi sudah masuk dari sela tirai kamar, membuat langit-langit putih di atas kasur ungu mudanya terlihat terlalu terang.
Butuh beberapa detik sampai ia sadar.
Ini bukan kamarnya.
Dan kasur ini bukan kasur lamanya.
Lalu Ziva melihat Davin berdiri di depan lemari dengan kemeja putih bersih, celana bahan hitam, dan rambut yang sudah ditata rapi seperti biasa. Entah jam berapa cowok itu bangun, mandi, dan berubah dari manusia tanpa baju semalam jadi CEO paling nyebelin se-Batam.
Ziva langsung menarik selimut sampai menutup hidung.
"Jam berapa?"
Davin tidak menoleh.
"Setengah delapan."
"Pagi banget."
"Sudah tidak pagi."
"Buat manusia normal, itu pagi."
Davin mengambil jam tangan dari dalam laci.
"Pak Rehan dan Bu Linda datang pukul sembilan."
Ziva mengerang pelan ke dalam bantal.
"Ya ampun. Mereka tuh mau tinggal di rumah kita atau mau inspeksi penjara?"
"Rumah ini bukan penjara."
"Buat gue, iya."
Davin akhirnya menoleh.
"Kalau Anda sudah selesai mengeluh, bersiaplah."
Ziva mengangkat kepala sedikit dari bantal.
"Lo tuh kalau bangunin orang nggak bisa lebih manusiawi dikit?"
"Saya sudah membiarkan Anda tidur."
"Ya itu namanya normal, bukan kebaikan."
Davin memasang jam tangannya.
"Sepuluh menit lagi Mbak Sari masuk membawa sarapan."
Ziva langsung duduk.
"HAH? Mbak Sari masuk kamar?"
"Untuk mengantar sarapan."
"Kenapa sarapan dibawa ke kamar?"
"Karena kita harus terlihat seperti pasangan yang tinggal satu kamar."
Ziva memelototinya.
"Lo ngomongnya kok kayak kita lagi latihan drama, sih?"
"Kita sedang menyesuaikan keadaan."
"Bahasa lo muter-muter banget."
Davin tidak menjawab. Ia berjalan ke meja kerja dan memasukkan laptop ke dalam tas.
"Davin."
"Apa?"
"Kalau Pak Rehan sama Bu Linda masuk ke kamar ini, mereka bakal nanya apa aja?"
"Saya tidak tahu."
"Lo udah kenal mereka lama, masa nggak tahu?"
"Pak Rehan notaris Papi. Bukan teman saya."
"Ya, tapi lo kan anaknya Pak Arif."
Davin berhenti sebentar.
Tatapannya berubah datar lagi.
"Jangan bawa Papi kalau tidak perlu."
Ziva langsung menutup mulut.
"Iya, iya. Maaf."
Davin menarik napas pendek.
"Pak Rehan hanya akan memastikan kita tinggal seperti pasangan suami istri. Jangan bersikap berlebihan."
"Berlebihan gimana?"
"Jangan bertengkar di depan mereka."
Ziva mengangkat alis.
"Lo yang jangan bikin gue pengin bertengkar."
Davin berjalan menuju pintu.
"Sepuluh menit."
"Lo mau ke mana?"
"Bawah."
"Terus gue?"
"Anda bersiap."
Pintu kamar tertutup.
Ziva menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas kasur.
"Baru jam setengah delapan, Zivanya. Baru jam setengah delapan dan lo udah pengin gugat cerai."
Ziva baru selesai memakai pelembap ketika terdengar ketukan pelan di pintu.
"Bu Ziva, saya masuk, ya."
"Itu Mbak Sari," gumam Ziva pada dirinya sendiri. "Bukan Pak Rehan, santai."
"Masuk, Mbak!"
Pintu terbuka.
Mbak Sari masuk membawa nampan besar berisi dua porsi sarapan. Ada roti panggang, telur setengah matang, potongan buah, dan dua gelas teh hangat. Aroma mentega langsung memenuhi kamar.
Ziva yang masih duduk di depan meja rias langsung menoleh ke arah kasur king size.
Davin sudah duduk di atasnya, membaca tablet. Ia bahkan belum menoleh sejak Mbak Sari masuk.
"Taruh aja di sini, Mbak," kata Davin sambil menunjuk meja kecil di dekat jendela.
"Baik, Pak."
Mbak Sari meletakkan nampan itu dengan hati-hati, lalu melirik kasur single ungu Ziva. Tatapannya hanya sepersekian detik, tapi Ziva tetap menangkapnya.
"Kasurnya nyaman, Bu?" tanya Mbak Sari.
Ziva menoleh cepat.
"Nyaman, Mbak."
"Syukurlah. Pak Davin sampai minta dikirim semalam supaya sudah siap sebelum Pak Rehan dan Bu Linda datang."
Davin mengangkat pandangan dari tablet.
"Mbak Sari."
"Iya, Pak?"
"Terima kasih. Silakan lanjutkan pekerjaan Anda."
Mbak Sari menahan senyum.
"Baik, Pak."
Begitu pintu tertutup, Ziva langsung menoleh ke Davin.
"Lo tuh sebenarnya takut orang tahu gue tidur di lantai atau takut Pak Rehan nganggap lo suami gagal?"
Davin mengambil satu potong roti.
"Saya tidak tertarik membahas asumsi Anda."
"Bukan asumsi, Bos. Gue ngerti."
"Anda tidak mengerti."
"Terus yang bener apa?"
Davin menggigit rotinya dengan tenang.
"Kita perlu menjalankan syarat wasiat."
"Jawaban paling Davin sedunia."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Saya tahu."
Ziva bangkit dari kursinya dan duduk di sofa kecil dekat jendela. Ia menarik nampan mendekat, lalu mengambil roti panggang.
"Jadi nanti kalau Pak Rehan nanya kita ngapain aja selama dua bulan ini, kita jawab apa?"
Davin meminum tehnya.
"Jawab yang benar."
Ziva hampir tersedak.
"Yang benar? Lo yakin?"
"Iya."
"Yang benar itu kita jarang makan bareng, tidur beda kamar, dan kalau ketemu paling ngobrol soal Hero atau Mbak Sari masak apa."
"Itu tidak perlu diceritakan."
"Nah, berarti bohong."
"Tidak. Menyimpan hal yang tidak perlu diceritakan berbeda dengan berbohong."
Ziva menatapnya beberapa detik.
"Lo pernah jadi pengacara sebelum jadi CEO, ya?"
"Tidak."
"Cocok, sih. Jago muter-muter kata."
Davin tidak menanggapi.
Ziva menoleh ke arah kasur king size milik Davin, lalu kembali melihat kasur ungunya. Dua tempat tidur itu hanya berjarak beberapa langkah, tapi tetap terasa seperti dua dunia yang beda.
"Lo sendiri nyaman nggak, kita tinggal sekamar?"
Davin meletakkan cangkirnya.
"Tentu tidak."
Ziva sempat membeku.
Lalu ia tersenyum miring.
"Nah, bagus. Berarti gue nggak sendirian."
"Saya tidak bilang bagus."
"Ya tapi lo jujur."
Davin tidak menjawab.
Ziva mengambil potongan buah dari nampan.
"Kenapa lo nggak bilang aja ke Pak Rehan kalau kita nggak cocok?"
"Karena itu tidak mengubah apa pun."
"Bisa jadi mereka kasih kelonggaran."
"Tidak."
"Lo yakin banget."
"Wasiat Papi tidak dibuat untuk dinegosiasikan."
Kalimat itu keluar datar, tetapi Ziva menangkap sesuatu di baliknya. Bukan marah. Lebih seperti lelah yang sudah terlalu lama ditahan.
Ia tidak melanjutkan pertanyaan.
Untuk beberapa detik, kamar itu hanya dipenuhi suara sendok menyentuh piring dan ketikan pesan singkat dari ponsel Davin.
Lalu Davin berdiri.
"Pak Rehan dan Bu Linda tinggal empat bulan."
Ziva menoleh.
"Hah?"
"Kalian—kita—sudah menjalani dua bulan pertama." Davin membetulkan kalimatnya tanpa perubahan ekspresi. "Masa verifikasi enam bulan pertama tinggal empat bulan."
Ziva mengangkat alis.
"Lo tadi hampir bilang 'kalian'."
"Saya salah bicara."
"Wah. Ternyata Davin Wijaya bisa salah juga."
"Saya manusia."
"Belum tentu."
Davin mengambil jas hitamnya dari gantungan.
"Jam sembilan kurang lima, kita turun."
"Bentar." Ziva menghentikannya. "Empat bulan, ya?"
"Iya."
"Abis itu Pak Rehan sama Bu Linda pulang?"
"Iya."
"Dan kita bebas pisah kamar lagi?"
Davin berhenti.
"Secara teknis, iya."
Secara teknis.
Entah kenapa, dua kata itu terdengar lebih dingin dari seharusnya.
"Bagus," kata Ziva cepat. "Bagus banget."
Davin hanya mengangguk kecil.
"Bersiap."
Pukul sembilan kurang lima, Ziva dan Davin turun ke ruang tamu.
Ziva memakai dress rumahan warna biru muda. Rambutnya diikat rapi, wajahnya masih terlihat segar karena baru memakai lip tint tipis. Davin sudah memakai jas hitam di atas kemeja putihnya, seperti mau menghadiri rapat dewan direksi, bukan menyambut notaris dan istrinya yang akan tinggal satu rumah.
"Lo mau nerima tamu atau mau akuisisi perusahaan orang?" bisik Ziva.
Davin tidak menoleh.
"Saya berpakaian normal."
"Normal lo terlalu mahal."
Dari pintu kaca ruang tamu, terlihat sebuah sedan abu-abu memasuki carport. Pak Rehan turun lebih dulu dari kursi pengemudi, lalu berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi istrinya.
Bu Linda keluar dengan kebaya modern warna sage dan tas besar di pundaknya. Senyumnya hangat, kontras dengan suasana tegang yang sudah terlanjur memenuhi dada Ziva.
Mbak Sari membukakan pintu.
"Selamat pagi, Pak Rehan. Bu Linda."
"Pagi, Mbak Sari," jawab Bu Linda ramah.
Davin maju lebih dulu.
"Selamat pagi, Pak."
Pak Rehan menjabat tangan Davin dengan mantap.
"Pagi, Davin. Apa kabar?"
"Baik."
Pak Rehan lalu melihat Ziva.
"Selamat pagi, Bu Ziva."
Ziva tersenyum.
"Pagi, Pak."
Bu Linda langsung mendekat dan menggenggam kedua tangan Ziva.
"Akhirnya ketemu lagi, Bu Ziva. Kamu makin cantik."
Ziva hampir menoleh ke Davin, ingin memastikan perempuan itu tidak salah bicara.
"Terima kasih, Bu."
"Davin ini merepotkan kamu, ya?" tanya Bu Linda dengan senyum yang terlalu tahu.
Ziva membuka mulut.
Davin meliriknya.
Cuma satu lirikan.
Tapi cukup membuat Ziva sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk jujur sepenuhnya.
"Nggak kok, Bu," jawab Ziva cepat. "Dia... baik."
Kata terakhir itu nyaris membuat lidahnya keseleo.
Bu Linda tersenyum puas.
"Syukurlah. Saya selalu bilang ke Pak Rehan, laki-laki yang dibesarkan terlalu serius itu butuh istri yang cerewet."
Davin terlihat tidak bereaksi.
Tapi rahangnya mengeras sedikit.
Pak Rehan tertawa.
"Sudah, jangan langsung menggodanya, Linda."
"Menggoda apa? Saya cuma bicara fakta." Bu Linda menatap Ziva lagi. "Saya senang melihat kalian tinggal di sini. Rumah ini jadi terasa hidup lagi."
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak lebih sunyi.
Davin berdiri tegak di samping Ziva.
Ziva tahu rumah ini punya terlalu banyak kenangan tentang Pak Arif.
Ia menatap Bu Linda, lalu tersenyum pelan.
"Kami juga lagi coba bikin nyaman, Bu."
Davin menoleh ke arahnya.
Sangat cepat.
Tapi Ziva merasakannya.
Pak Rehan mengangguk.
Keempatnya duduk di sofa ruang tamu. Hero hanya mengangkat kepalanya sedikit, setelah penasarannya terjawab, ia kembali merebahkan kepala.
"Baik, saya langsung saja pak Davin. Saya dan ibu akan menempati kamar tamu di lantai bawah."
Davin dan Ziva mengikuti gerakan tangan pak Rehan yang mengeluarkan beberapa map dari dalam tasnya.
"Biar resmi, sekalian saya infokan lagi disini. Saya mohon maaf karena baru datang hari ini. Sesuai amanat dalam wasiat Pak Arif, seharusnya saya dan Bu Linda sudah tinggal di rumah ini sejak awal kalian menikah."
Ziva sedikit menelan ludah. Ia membayangkan jika sejak dua bulan lalu ia sudah harus sekamar dengan Davin.
"Nah, jadi dua bulan terakhir saya harus berada di Belanda karena Vania, anak saya, wisuda. Jadi saya mohon maaf, pak Davin, ibu Ziva"
"Iya pak, kami mengerti. Vania juga kan sudah seperti adik saya" jawab Davin diawali dengan senyuman. Ekor mata Ziva menangkap senyuman yang jarang dilihatnya itu.
"Dulu juga waktu kamu mampir ke Delft, si Vania seneng banget. Berkali kali dia cerita ke saya" kali ini bu Linda yang tersenyum lebar.
"Iya, baru semester awal-awal, kebetulan saat itu saya sedang berada di Eurostar mau ke Rotterdam Centraal, jadi waktu mendengar kabar anak pak Rehan melanjutkan di Delft, saya berpikir untuk menemuinya" jelas Davin.
Ziva spontan mengalihkan pandangannya ke Hero, tapi isi pikirannya sedang kemana-mana. Antara ia tidak mengerti yang sedang dibicarakan atau sosok Davin yang menemui wanita lain yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Baik, jadi mulai hari ini, saya dan ibu akan menyelesaikan empat bulan sisa masa pengawasan di rumah ini. Saya dan ibu mohon maaf karena mengganggu ya, tapi ini amanat bapak. Nah, mohon ditandatangani di sini pak Davin, bu Ziva"
Davin mengambil pena yang disodorkan pak Rehan, membaca sekilas lalu menandatanganinya, kemudian menggesernya ke arah Ziva.
"Padahal pasangan adem ayem gini, duh, saya aja seneng banget lihatnya" lagi-lagi bu Linda menimpali sambil melihat ke arah Davin dan Ziva bergantian.
Ziva berusaha tersenyum senatural mungkin.
Empat bulan lagi sekamar dengan Davin. Empat bulan lagi harus bersikap seperti rumah tangga mereka normal di hadapan dua orang asing.
Setelah itu, Pak Rehan dan Bu Linda akan pulang.
Tapi pernikahan Ziva dan Davin tetap harus bertahan sampai satu tahun penuh.
Setahun sama manusia kulkas dua pintu. Pak Arif, ini hukuman buat siapa sebenarnya?
Di belakang, Mbak Sari sedang menutup pintu ketiga dari kulkas ketika di meja ruang tamu Pak Rehan membuka satu map lainnya.
"Sebelum kami beres-beres, ada satu surat lagi yang perlu ditandatangani. Ini terkait pengobatan Mama Anda, Bu Ziva."