Bab 4 Selamat Malam
Ziva menatap bayangannya sendiri di cermin meja rias.
Kapas di tangannya sudah hampir kering, tapi ia masih mengusap pipi yang sebenarnya sudah bersih dari tadi. Micellar water beraroma mawar itu menyisakan dingin tipis di kulit wajahnya.
Di belakangnya, suara ketikan laptop Davin terdengar pelan.
Tik. Tik. Tik.
Rapi.
Konsisten.
Menyebalkan.
Ziva melirik lewat pantulan cermin.
Davin masih duduk di atas kasur king size, bersandar pada headboard dengan laptop di pangkuan. Kaos hitam polos yang tadi dipakainya setelah mandi membuat tubuhnya terlihat lebih santai, tapi ekspresi wajahnya tetap sama dinginnya. Matanya fokus ke layar. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Seolah kalimat Ziva tentang Pak Arif tadi nggak pernah terjadi.
Seolah Ziva nggak baru saja bikin suasana kamar itu jadi kayak ruang pendingin ikan.
"Lo masih marah?" tanya Ziva akhirnya.
Davin tidak mengangkat kepala.
"Saya sedang bekerja."
"Gue tau, itu bukan jawaban."
"Berarti Anda sudah tahu jawabannya."
Ziva mendecak pelan.
"Gue udah minta maaf."
"Saya dengar."
"Terus?"
"Tidak ada terusnya."
Ziva menatap wajah Davin lewat cermin. Kalau orang lain yang ngomong begitu, mungkin Ziva sudah lempar kapas bekas ke mukanya.
Tapi malam ini ia nggak punya energi buat ribut.
Ia meletakkan botol micellar water di atas meja rias, lalu berdiri. Baru satu langkah menuju kasur ungu mudanya, ponsel di atas meja bergetar.
Nama Nayla muncul di layar.
Ziva langsung berhenti.
Nayla adalah adiknya yang paling kecil. Umurnya baru tujuh belas tahun, tapi cara bicaranya kadang lebih dewasa daripada Ziva sendiri. Terutama sejak Mama sakit dan rumah mereka berubah jadi tempat penuh jadwal rumah sakit, telepon dokter, serta daftar obat.
Ziva melirik Davin.
Cowok itu masih menatap layar laptop.
Ia mengambil ponselnya, lalu berjalan ke arah balkon kecil yang menyambung dengan kamar. Pintu geser kaca dibuka pelan. Udara malam langsung menyentuh wajahnya.
Dari kejauhan, Batam masih hidup.
Lampu rumah-rumah terlihat seperti titik-titik kecil. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar samar, bercampur dengan dengung serangga malam dari pepohonan sekitar Villa Panbil. Dari halaman belakang, Hero bergerak di dalam kandang lamanya dan sesekali menggesekkan kukunya ke lantai kayu.
Ziva menekan tombol terima.
"Kenapa, Nay?"
"Kak..."
Suara adiknya terdengar kecil.
Bukan menangis.
Tapi hampir.
Jantung Ziva langsung turun.
"Ada apa? Mama kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Mama tadi habis kontrol. Dokternya bilang minggu depan Mama harus cuci darah lagi."
Ziva memejamkan mata.
"Oke. Terus?"
"Rumah sakit minta tanda tangan Kakak."
"Kenapa harus tanda tangan gue?"
"Katanya karena Kakak yang namanya masuk sebagai penanggung jawab utama."
Ziva mengusap dahinya.
"Iya. Kakak datang."
"Tapi harus sebelum hari Selasa, Kak. Kata perawat, kalau Kakak nggak datang, jadwalnya bisa mundur."
"Besok Kakak urus."
"Besok?"
"Iya. Kakak akan ke rumah sakit."
Nayla terdiam sebentar.
"Kak..."
"Hm?"
"Jangan lupa, ya."
Kalimat itu sederhana.
Tapi Ziva tahu persis maksud di baliknya.
Nayla nggak sedang mengingatkan karena kakaknya pelupa. Nayla sedang takut Ziva terlalu sibuk di rumah Wijaya, terlalu sibuk dengan pernikahan anehnya, sampai lupa kalau hidup mereka yang sebenarnya tetap ada di luar sana.
Ziva menelan ludah.
"Kakak nggak bakal lupa."
"Terus... Kak?" suara Nayla makin kecil. "Mama nanya kapan Kakak pulang."
Ziva menatap gelap di depan matanya.
Ia ingin bilang besok.
Ingin bilang sekarang.
Ingin bilang ia juga rindu duduk di samping Mama, bantuin Nayla belajar, atau sekadar dengerin adiknya yang satu lagi berantem sama tetangga.
Tapi ia nggak bisa.
"Bilang Mama, Kakak pulang sebentar lagi."
"Kapan?"
Ziva diam.
"Secepatnya."
"Janji?"
Ziva menutup mata.
"Janji."
Telepon ditutup beberapa menit kemudian.
Ziva tetap berdiri di balkon.
Jari-jarinya mencengkeram ponsel erat-erat.
Minggu depan Mama harus cuci darah karena komplikasi ginjal akibat leukimia.
Bukan soal uang lagi. Bukan karena biaya rumah sakit belum dibayar. Semua itu sudah ditanggung oleh isi wasiat Pak Arif, sesuai janji yang pernah dibacakan Pak Rehan.
Tapi tanda tangan tidak bisa digantikan transfer bank.
Dan Mama tidak bisa dibiarkan menghadapi semuanya tanpa Ziva ada di sana.
"Keluarga Anda?"
Ziva tersentak.
Davin berdiri di ambang pintu balkon. Laptopnya sudah tertutup dan diletakkan di meja. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di sana dengan satu tangan di saku celana training.
"Lo dengerin?"
"Pintu balkon terbuka."
"Jawaban lo selalu nyebelin."
"Saya tidak mendengar semuanya."
"Tapi lo tahu."
Davin mengangguk tipis.
"Besok Anda perlu ke rumah sakit?"
Ziva menatapnya.
"Iya."
"Saya antar."
Ziva mengernyit.
"Nggak usah."
"Saya antar."
"Gue bisa naik taksi online."
"Tidak perlu."
"Davin." Ziva mengembuskan napas. "Ini rumah sakit, bukan rapat bisnis lo. Gue nggak perlu dikawal."
Davin tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Besok Pak Rehan dan Bu Linda datang pukul sembilan."
"Nah, makanya gue nggak mau ngerepotin lo. Lo urusin mereka aja."
"Setelah itu."
"Setelah itu apa?"
"Saya antar Anda."
Ziva mau menolak lagi.
Tapi Davin sudah berbalik, masuk ke kamar, dan mengambil laptopnya.
"Jam berapa rumah sakitnya?"
Ziva masih berdiri di balkon.
"Belum tahu."
"Cari tahu."
"Nyuruh mulu."
"Zivanya."
"Apa?"
"Jangan sampai jadwalnya mundur."
Nada Davin tetap datar.
Tapi kali ini, Ziva tidak menemukan apa pun untuk dibalas.
Davin membuka laptop lagi. Tik. Tik. Tik.
Kamar kembali sunyi.
Ziva menutup pintu balkon pelan.
Ia berjalan ke kasur ungu mudanya, lalu menarik selimut sampai ke dada. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit.
Di sisi lain kamar, cahaya dari layar laptop Davin masih menyala.
"Dav," panggil Ziva pelan.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu, "Apa?"
"Kalau besok... Pak Rehan sama Bu Linda nanya-nanya, lo jawab aja. Gue nggak jago bohong."
Davin menoleh.
"Bukan bohong."
"Terus?"
"Kita menikah."
"Di atas kertas."
"Itu tetap menikah."
Ziva mendecak.
"Lo tuh ya—"
"Tidur."
"Lo nggak tidur?"
"Nanti."
"Jangan berisik ngetik."
Davin menatap layar lagi.
"Saya pakai earphone."
"Dih, ga nyambung nyet, ketikan lu berisik"
Davin tidak menjawab.
Ziva menutup mata.
"Selamat malam, Dav."
Davin tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
"Selamat malam, Zivanya."
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah dua bulan lalu, Ziva tidur di kamar yang sama dengan Davin Wijaya—dengan lampu tidur ungu di dekat kasurnya, suara ketikan yang pelan di seberang ruangan, dan satu masalah besar yang menunggunya besok pagi.
Baru beberapa detik ia menutup mata, Zivanya kembali membuka matanya.
"Buka BH ga ya.. sesek banget, njir..."