Bab 3 Jadi Beneran?
BMW X5 hitam itu masuk pelan ke halaman rumah kedua milik keluarga Wijaya di Villa Panbil ketika langit Batam sudah berubah gelap.
Lampu-lampu taman menyala satu per satu di sepanjang jalur batu menuju pintu utama. Rumah dua lantai itu kelihatan terlalu besar untuk dihuni dua orang yang hampir tidak pernah ngobrol baik-baik. Dinding kacanya memantulkan cahaya kuning dari dalam, sementara di halaman belakang, bangunan kayu baru untuk Hero masih terlihat setengah jadi.
Suara mesin mobil berhenti.
Davin keluar dari sisi pengemudi tanpa banyak bicara. Ia langsung menuju pintu tanpa menunggu Zivanya keluar mobil.
Zivanya turun sambil membawa paper bag kecil berisi beberapa barang yang ia beli sendiri di Grand Batam. Bukan barang mahal. Cuma sandal kamar baru, kaus kaki, dan dua ikat rambut. Ia sedikit berlari mengejar ketertinggalannya.
Begitu pintu utama terbuka, Ziva langsung melihat beberapa kardus besar yang terlihat kosong di ujung lorong dekat tangga. Satu kardus bertuliskan BED FRAME dan memperlihatkan plastik pembungkus kasur berwarna ungu muda.
Langkah Ziva melambat.
"Uda nyampe nih?"
"Pasti sudah dirakit juga" kata Davin sambil melepas jam tangan.
Ziva menoleh. "Cepat juga."
"Memang begitu"
Ziva mendecak. "Hidup lo tuh kayak hotel, ya. Tinggal pergi, pulang-pulang semua udah beres."
Davin tidak menjawab. Ia berjalan ke arah tangga.
"Naik. Kita perlu pastikan kamarnya siap sebelum besok."
Davin dan Ziva baru saja hendak naik ketika mbak Sari muncul dari arah dapur sambil membawa lap kecil di tangannya. Perempuan itu sudah bekerja di rumah sejak Ziva pindah dua bulan lalu. Ia tidak banyak bertanya soal pernikahan aneh Ziva dan Davin, tapi Ziva tahu perempuan itu pasti punya seribu pertanyaan di kepala.
"Pak Davin, Bu Ziva, sudah pulang?" sapa Mbak Sari.
"Udah, Mbak," jawab Ziva lebih dulu. "Tadi kita makan di Sushi Tei."
Mbak Sari tersenyum.
"Saya baru mau bikin makan malam."
"Oh ga usah mbak,"
"Besok aja baru masak ya mbak, buat sarapan," ujar Davin singkat.
"baik pak"
Davin membatalkan langkahnya naik ke lantai 2, kini ia menuju ruang tengah. Ziva lagi-lagi mengikutinya.
"Mbak," katanya lagi pada Mbak Sari, "kasur sudah dirakit dan barang-barang lainnya juga sudah di cek-kan?" Davin memastikan tebakannya tadi tentang kasur yang sudah dirakit.
"Sudah, Pak. Kasurnya sudah di sebelah jendela. Bed frame-nya juga sudah dipasang. Sprei yang tiga set ditaruh di lemari."
"Baik."
Ziva menelan ludah.
Jadi beneran?
Malam ini dia akan tidur satu kamar sama Davin Wijaya.
Cowok paling dingin yang pernah ia kenal.
Atau, lebih tepatnya, cowok pertama yang membuatnya ingin ngomel setiap lima menit sekali.
"Hero sudah makan?" tanya Davin.
"Sudah, Pak. Tadi habis magrib. Tapi dari tadi dia mondar-mandir terus dekat pintu belakang. Kayaknya mau lihat rumah barunya."
Davin mengangguk kecil.
"Saya lihat dulu."
Tanpa menunggu respons siapa pun, ia berjalan menuju halaman belakang.
Ziva menghela napas lega.
"Mbak Sariiiii..."
Mbak Sari menahan senyum.
"Pak Davin itu sebenarnya perhatian, Bu."
"Perhatian dari mana?"
"Kasur Bu Ziva tadi siang itu mahal, lho."
"Ya dia beli karena takut Pak Rehan curiga."
"Bisa jadi." Mbak Sari mengangguk sambil tersenyum kecil. "Tapi biasanya Pak Davin nggak pernah peduli orang tidur pakai kasur apa."
Ziva langsung mendengus.
"Biasa aja kali, Mbak. Jangan keburu ngejodoh-jodohin. Kita ini nikah gara-gara wasiat."
"Iya, Bu."
"Dan gue sama dia nggak mungkin cocok."
"Iya, Bu."
"Dia dingin banget. Kayak kulkas dua pintu."
"Iya, Bu." mbak Sari melirik kulkas di dapur yang mencapai tiga pintu.
"Jawaban Mbak dari tadi iya bu-iya bu mulu."
Mbak Sari akhirnya tertawa pelan.
"Ya saya takut salah ngomong, Bu."
Ziva baru mau membalas ketika suara cakaran kuku dari lantai marmer terdengar dari arah belakang rumah.
Hero masuk dengan langkah cepat.
Husky besar itu langsung menghampiri Ziva, lalu berdiri dengan dua kaki depan hampir menyentuh pinggangnya.
"Hero! Jangan!" Ziva mundur setengah langkah sambil tertawa panik. "Baju gue nanti penuh bulu lo!"
Hero justru mengibas-ngibaskan ekornya lebih kencang.
"Dia senang lihat Anda pulang."
Suara Davin muncul dari belakang.
Ziva menoleh. Davin sudah berdiri di ambang pintu belakang, kemeja putihnya masih rapi, hanya bagian lengan yang kini digulung lebih tinggi. Ada sedikit tanah di ujung sepatunya.
"Dia senang lihat gue atau senang lihat gue bawa bau sushi?" Ziva mengelus kepala Hero sambil menghindari jilatan lidahnya.
"Dua-duanya mungkin."
Ziva berhenti mengelus Hero.
Davin baru saja membuat lelucon?
Atau itu bukan lelucon?
Ekspresinya tetap datar. Susah dibaca.
"Rumah Hero gimana?" tanya Ziva, berusaha tidak terlihat terlalu memperhatikan.
"AC-nya baru selesai dipasang. Besok siang sudah bisa dipakai."
"Enak ya Hero punya AC dan kamar sendiri", celetuk Ziva yang sebenarnya ditujukan pada Hero, tapi sedetik kemudian ia sadar.
"Gue ga bermaksud yang laen, cuman ngomong sama Hero"
"Iya"
Ziva kembali bermain dengan Hero, tapi pandangannya sedikit kosong kali ini.
"Pak, Bu, saya pulang dulu, ya," pamit mbak Sari beberapa menit kemudian. "Besok pagi saya datang lebih awal. Katanya Pak Rehan dan Bu Linda datang."
Ziva langsung menoleh ke Davin.
"Jam berapa mereka datang?"
"Sembilan."
"Pagi-pagi banget?"
"Iya."
"Terus kita kudu pura-pura dari jam sembilan?"
Davin menatapnya.
"Kita tidak perlu pura-pura kalau tidak ada yang aneh."
"Ini yang aneh, Dav. Kita sekamar."
"Itu normal untuk suami istri."
"Ya kalau suami istrinya beneran!"
Davin tidak membalas. Ia hanya menoleh ke arah tangga.
"Naik. Kita perlu lihat kamar."
Ziva menatapnya tidak percaya.
"Kenapa kalimat lo selalu kedengeran kayak ancaman, sih?"
Davin sudah berjalan menuju tangga.
"Saya tidak mengancam Anda."
"Ya, tapi auranya gitu!"
Lantai dua lebih sunyi daripada bawah. Lorong panjang dengan lampu dinding berwarna kuning redup membuat rumah itu terasa makin besar. Kamar utama ada di ujung, menghadap halaman belakang. Di sebelahnya ada ruang kerja Davin yang selama dua bulan terakhir hampir tidak pernah Ziva masuki.
Davin membuka pintu kamar.
Ziva berdiri di ambang pintu cukup lama.
Kamar itu memang luas. Jauh lebih besar daripada kamar Ziva sebelumnya di rumah kontrakan keluarga mereka. Ada jendela besar menghadap halaman belakang, lemari built-in, sofa kecil di dekat rak buku, meja kerja, dan kasur king size milik Davin di sisi tengah.
Di dekat jendela, sekarang ada bed frame baru dengan kasur single warna ungu muda.
Sprei putih polos sudah terpasang rapi.
Ziva berjalan mendekat.
Tangannya menyentuh sisi kasur itu pelan.
"Lucu juga," gumamnya.
"Kasurnya nyaman?"
Ziva menoleh. Davin berdiri di dekat pintu, kedua tangan di saku celana.
"Belum dicoba."
"Coba."
"Sekarang?"
"Iya."
Ziva mengangkat alis.
"Lo ngawasin?"
"Tidak. Saya mau bersih-bersih."
"Oh."
Davin mengambil beberapa pakaian dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi tanpa menambahkan apa pun.
Ziva berdiri sendiri di tengah kamar yang akan jadi ruangnya selama entah berapa lama.
Ia menatap kasur king size milik Davin.
Lalu menatap kasur single ungu mudanya.
Kemudian menatap sofa tantra yang diletakkan dekat dinding, tertutup plastik bening karena belum dibuka sepenuhnya.
Ziva mendekat perlahan.
"Gila," gumamnya sendiri. "Beneran dibeli."
Ia menepuk sisi sofa itu pelan.
Empuk.
Terlalu empuk, malah.
"Ini apaan sih, kasur bentuk aneh."
"Bukan kasur."
Ziva menjerit kecil dan langsung mundur.
Davin sudah keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, ia mengenakan celana training abu-abu tanpa mengenakan atasan, dada bidang dan sixpack nya terpampang nyata. Tidak ada jas. Tidak ada sepatu kulit. Tidak ada jam tangan.
Tapi justru itu yang bikin Ziva makin salah tingkah.
"Ya ampun, lo tuh kalau keluar kamar mandi jangan diam-diam!"
"Saya keluar dari kamar mandi saya sendiri."
"Ya ketok kek!"
"Untuk apa?"
"Biar gue nggak kaget!"
Davin mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Ini kamar kita sekarang."
Ziva mendadak diam.
Kata itu lagi.
Kamar kita.
Davin melihat ke arah sofa tantra.
"Itu sofa."
"Gue tahu."
"Bagus."
"Gue cuma heran lo beneran beli."
"Sudah dibeli. Tidak perlu diherankan."
"Lo belinya pake muka datar gitu?"
Davin berhenti mengeringkan rambut.
"Saya bayar di kasir, bukan pakai muka."
Ziva melotot.
"Becanda lo jelek banget."
"Saya tidak bercanda."
Tentu saja.
Mana mungkin Davin Wijaya bercanda.
Setelah mengenakan kaos hitam polos, Davin berjalan menuju kasur-nya, lalu membuka laptop yang sudah terletak di atas meja kecil dekat sisi tempat tidurnya.
Ziva memandangnya.
"Lo mau kerja?"
"Iya."
"Sekarang?"
"Iya."
"Udah malam."
"Saya tahu."
"Lo nggak capek?"
Davin menoleh sekilas.
"Capek bukan alasan pekerjaan berhenti."
Ziva mendecak.
"Gila. Pantes Pak Arif sering sedih lo jarang pulang."
Tangan Davin yang sedang membuka layar laptop berhenti.
Cuma sebentar.
Tapi Ziva melihatnya.
Suasana kamar tiba-tiba berubah dingin.
"Jangan bawa Papi ke dalam percakapan ini," ujar Davin pelan.
Nada suaranya masih rendah.
Masih tenang.
Tapi kali ini ada sesuatu yang keras di dalamnya.
Ziva langsung sadar ia salah.
"Gue cuma—"
"Jangan."
Davin kembali menatap layar laptopnya.
Ziva berdiri diam beberapa detik. Untuk pertama kalinya malam itu, ia nggak punya balasan cepat.
Di luar jendela, Hero menggonggong satu kali dari halaman belakang.
Lalu sunyi lagi.
Ziva akhirnya berjalan ke kasur single-nya, duduk pelan, lalu mencoba berbaring.
Kasurnya empuk.
Lebih empuk dari semua kasur yang pernah ia pakai.
Tapi dadanya terasa nggak enak.
Ia menatap langit-langit kamar.
"Dav."
Tidak ada jawaban.
"Dav."
"Apa?"
Ziva menarik napas.
"Gue minta maaf soal Pak Arif."
Jari Davin berhenti di atas keyboard.
Ziva menunggu.
Lama.
Sampai akhirnya Davin menjawab tanpa menoleh.
"Tidur saja, Zivanya."
Bukan "Anda".
Bukan "kamu".
Hanya namanya.
Dan anehnya, itu terasa jauh lebih berat daripada teguran apa pun.
Ziva sempat terdiam lama, sampai akhirnya dia menuju meja rias untuk membersihkan dirinya.
Wajahnya terasa panas ketika ia melewati Davin. Sekilas, Davin terasa seperti oase di kamar Zivanya. Malam ini bukan hanya malam pertama ia sekamar dengan Davin, tapi juga malam pertama ia sekamar dengan lawan jenis.
"ah monyetlah.." celetuk Zivanya sambil menuangkan Micellar Water ke kapas.