Bab 10 Vania

Bab 10 Vania


Minggu berikutnya, Ziva berdiri di depan cermin sambil memasang anting kecil di telinga kirinya. Sejak sepuluh menit lalu, ia sudah menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali.

“Gue masih nggak ngerti kenapa harus ikut.”

Davin yang sedang duduk di tepi kasur besar hanya mengangkat ponselnya, lalu menunjukkan satu pesan dari Vania.

Vania: Kak, jemputnya bawa Kak Ziva juga, ya. Aku mau ketemu langsung!

Ziva membaca pesan itu tanpa menyentuh ponsel Davin. “Segitu penginnya dia ketemu gue?”

“Sepertinya.”

“Lo cerita apa sih sampai dia penasaran?”

“Tanyakan langsung kepadanya.”

“Kalau ternyata dia nyesel, salah lo. Pasti promosinya berlebihan.”

Davin memasukkan ponselnya ke saku celana tanpa menjawab.

Ziva mengambil tas kecil dari meja rias, kemudian memeriksa penampilannya sekali lagi. Ia mengenakan blus putih dengan celana jin biru muda. Rambutnya dibiarkan terurai, tetapi bagian depannya dijepit agar tidak menutupi wajah.

“Lo rapi banget,” katanya sambil melihat pantulan Davin dari cermin.

Davin mengenakan kaus polo hitam dan celana panjang abu-abu. Pakaiannya jauh lebih santai daripada setelan kantor yang biasa dipakainya, tetapi tetap terlihat seperti orang yang bisa membeli seluruh isi toko tanpa perlu melihat label harga.

“Saya berpakaian seperti biasa.”

“Biasanya lo pakai jas.”

“Hari ini hari Minggu.”

“Oh, CEO juga tahu hari libur.”

Davin berdiri dan mengambil kunci mobil dari atas meja. “Pak Radit sudah menunggu.”

“Kenapa nggak lo aja yang nyetir?”

“Karena saya ingin duduk tenang selama perjalanan.”

Ziva mengikuti Davin keluar kamar. “Jujur aja, lo takut gue wawancara sepanjang jalan.”

“Itu salah satu pertimbangannya.”




Perjalanan menuju Bandara Hang Nadim berlangsung lebih tenang daripada perkiraan Ziva. Davin duduk di sampingnya sambil membaca beberapa surel dari tablet, sedangkan Pak Radit mengemudikan mobil tanpa banyak bicara. Ziva awalnya berniat melihat jalan, tetapi rasa penasaran yang dibawanya sejak percakapan video seminggu lalu terus mengganggu.

“Dav.”

“Hm?”

“Lo cerita apa tentang gue ke Vania?”

Davin tidak mengalihkan pandangan dari layar. “Tidak banyak.”

“Tidak banyak itu berapa?”

“Saya tidak menghitungnya.”

“Lo selalu ngitung semuanya.”

“Tidak semuanya perlu dihitung.”

Ziva menyandarkan punggung ke kursi. “Mencurigakan.”

Davin tetap membaca. “Tidak ada yang perlu dicurigai.”

“Kalau gitu kasih tahu.”

“Tanyakan langsung kepada Vania.”

“Kenapa harus nunggu dia turun dari pesawat kalau sumber gosipnya duduk di sebelah gue?”

Davin akhirnya mematikan layar tablet. “Saya tidak bergosip.”

“Iya, iya. Lo cuma menyampaikan informasi strategis tentang istri sendiri kepada pihak terkait.”

Pak Radit menundukkan wajah sedikit, tetapi gerakan bahunya terlihat dari kursi depan. Ziva langsung menunjuknya.

“Pak Radit ketawa, tuh.”

“Saya tidak tertawa, Bu,” jawab Pak Radit.

“Nah, kan. Kalau nggak ketawa, harusnya jawabannya cukup ‘tidak’. Begitu ada ‘Bu’-nya, berarti lagi nutupin sesuatu.”

Davin kembali menyalakan tabletnya. “Logika Anda semakin aneh.”

“Logika gue sehat. Lingkungan lo aja yang penuh rahasia.”




Bandara Hang Nadim cukup ramai siang itu. Ziva berdiri di samping Davin dekat pintu kedatangan sambil memperhatikan penumpang yang keluar satu per satu. Ia masih mengingat wajah Vania dari panggilan video minggu lalu, jadi matanya ikut sibuk mencari perempuan berambut panjang yang akan pulang dari Belanda itu.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan muda dengan jaket denim dan celana hitam muncul sambil mendorong koper besar berwarna hijau tua. Rambutnya dikuncir tinggi. Begitu melihat Davin, ia langsung melambaikan tangan dengan semangat.

“Kak Davin!”

Senyum yang pernah dilihat Ziva melalui layar kembali muncul di wajah Davin. Vania meninggalkan troli kopernya sebentar, lalu memeluk Davin tanpa ragu. Davin membalas pelukan itu singkat sebelum mundur dan mengambil alih pegangan troli.

“Perjalanannya lancar?” tanya Davin.

“Lancar. Cuma pegal banget.”

Vania kemudian menoleh kepada Ziva. Wajahnya langsung cerah lagi.

“Kak Ziva!”

Ziva belum sempat menjawab ketika Vania sudah memeluknya. Pelukan itu jauh lebih lama daripada pelukannya kepada Davin.

“Akhirnya ketemu langsung,” kata Vania setelah melepaskannya. “Kakak cantik banget.”

Ziva tersenyum. “Kamu juga. Tapi jangan terlalu percaya sama foto. Kamera sekarang suka punya niat baik.”

Vania tertawa. “Kak Davin benar. Kakak memang lucu.”

Ziva langsung menoleh kepada Davin. “Nah. Ketahuan.”

Davin mendorong troli menuju pintu keluar. “Saya tidak pernah mengatakan itu.”

“Terus kenapa Vania bilang lo yang cerita?”

“Aku bilang Kak Davin benar,” sela Vania sambil menggandeng lengan Ziva. “Bukan berarti dia pernah bilang Kakak lucu.”

Ziva memandang Vania. “Kalian satu keluarga memang suka main kata-kata, ya?”

“Aku bukan keluarga Kak Davin.”

“Sudah seperti keluarga,” ujar Davin tanpa menoleh.

Vania tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Ziva ikut tersenyum tipis, meskipun matanya masih tertuju pada punggung Davin yang berjalan di depan mereka.




Begitu mobil meninggalkan kawasan bandara, Vania langsung memenuhi kabin dengan cerita. Ia membahas koper yang hampir kelebihan berat, barang milik temannya yang ikut dititipkan, dan satu kotak makanan yang berkali-kali diperiksa petugas. Ziva tidak perlu banyak bertanya. Vania bisa melanjutkan satu topik ke topik lain tanpa kehilangan napas.

“Sekarang aku paham kenapa Kak Davin betah diam,” kata Ziva. “Jatah ngomongnya dipakai kamu semua.”

Vania tertawa. “Kak Davin memang dari dulu begitu. Waktu datang ke Delft juga dia lebih banyak dengar aku cerita.”

“Bu Linda pernah cerita,” kata Ziva. “Katanya waktu itu kamu baru semester awal.”

“Iya. Aku masih sering nyasar, terus Kak Davin kebetulan sedang menuju Rotterdam. Dia mampir menemuiku.”

“Anda tidak perlu menceritakan semuanya,” ujar Davin dari samping Ziva.

“Kenapa?” Vania menyandarkan tubuh ke depan dari kursi paling belakang. “Itu kan baik.”

“Tidak penting.”

Ziva mengangkat alis. “Buat gue penting. Ternyata lo bisa juga nyempetin nengok orang.”

Davin mengembuskan napas pendek, lalu melihat keluar jendela. Vania menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.

“Terus,” kata Ziva, “apa yang dia ceritain tentang gue?”

Vania berpikir sebentar. “Dia bilang Kakak berisik.”

“Cuma itu?”

“Keras kepala.”

“Fitnah.”

“Suka membantah.”

“Itu juga fitnah.”

“Dan Hero mau nurut sama Kakak kalau ada makanan.”

Ziva melipat tangan di depan dada. “Ini bukan cerita. Ini laporan pengaduan.”

“Untuk Kak Davin, itu sudah banyak,” kata Vania. “Biasanya aku tanya orang, jawabannya cuma nama dan pekerjaan. Tentang Kak Ziva, dia sampai tiga kalimat.”

“Empat,” koreksi Ziva. “Tadi ada Hero.”

Vania mengangguk serius. “Nah, empat. Berarti Kakak istimewa.”

“Kesimpulan Anda tidak masuk akal,” ujar Davin.

Ziva menoleh sambil tersenyum puas. “Tenang aja, Dav. Gue juga nggak langsung terharu cuma gara-gara dijelek-jelekin empat kalimat.”

“Saya tidak sedang menenangkan Anda.”

“Makin dijelasin makin kelihatan panik.”

Davin kembali diam. Ziva membuang pandangan ke jendela agar tidak terlihat terlalu senang karena berhasil membuat laki-laki itu kehabisan jawaban.




Pak Rehan dan Bu Linda sudah menunggu ketika mereka tiba di Villa Panbil. Bu Linda memeluk putrinya cukup lama, sedangkan Pak Rehan membantu Pak Radit menurunkan koper. Mbak Sari berdiri di dekat pintu sambil tersenyum melihat rumah yang mendadak lebih ramai.

Hero keluar dari arah taman dan langsung mendekati Vania. Husky itu mengendus celana serta koper hijaunya dengan penuh perhatian.

“Ini Hero?” tanya Vania sambil berjongkok. “Akhirnya ketemu juga.”

Hero mengibaskan ekor ketika Vania mengusap kepalanya. Ziva berdiri di samping mereka sambil mengawasi.

“Jangan terlalu baik sama dia,” katanya. “Dia gampang pindah kubu.”

“Kak Ziva pernah dikhianati Hero?”

“Baru dikasih kamar pakai AC, dia langsung lupa siapa yang nemenin ngobrol waktu bangunannya belum selesai.”

Davin yang sedang menarik koper melewati mereka tanpa berhenti. “Anda yang mengajaknya berbicara. Hero tidak pernah menjawab.”

“Dia jawab pakai tatapan.”

“Itu hanya wajahnya.”

Vania tertawa sampai Hero ikut mengangkat kepala. “Aku baru sampai lima menit, tapi sekarang ngerti kenapa rumah ini jadi ramai.”

Bu Linda menggandeng tangan putrinya dan mengajaknya masuk. Kamar untuk Vania sudah disiapkan tidak jauh dari kamar orang tuanya. Sebelum mengikuti Bu Linda, Vania meminta nomor ponsel Ziva dengan alasan mereka harus mengobrol tanpa kehadiran dua laki-laki yang terlalu serius.

Ziva memberikannya tanpa berpikir panjang.

Kesalahan itu baru disadarinya malam hari.




Ziva baru selesai membersihkan wajah ketika ponselnya bergetar di atas meja rias. Davin sudah berada di kasurnya dengan laptop terbuka, tetapi kali ini Ziva tidak mengeluhkan suara ketikannya.

Satu pesan dari Vania muncul di layar.

Vania: Kak, besok ikut aku keluar, ya. Jangan ajak Kak Davin.

Ziva mengetik balasan sambil melirik Davin melalui cermin.

Ziva: Mau ke mana?

Balasan Vania datang hampir seketika.

Vania: Rahasia. Kita bongkar cerita Kak Davin selama di Inggris.

Ziva membalik tubuhnya. “Dav.”

Davin tetap menatap layar laptop. “Apa?”

“Besok Vania ngajak gue keluar.”

“Saya tahu.”

“Kok lo tahu?”

“Dia mengatakan akan mengajak Anda sebelum masuk kamar.”

“Dia bilang jangan ajak lo.”

Jemari Davin berhenti di atas papan ketik. “Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Saya bisa bekerja dengan tenang.”

Ziva menyipitkan mata. “Lo nggak takut dia bongkar rahasia lo waktu di Inggris?”

Davin menatapnya selama beberapa detik, kemudian kembali melihat laptop.

“Vania kuliah di Belanda.”

Ziva membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Davin kembali mengetik.

“Monyet.”

Report Page