Bab 1 Monyet
"Eh, monyet! Kaget gue!"
Zivanya hampir loncat dari tempat tidur, tangan refleks nutupin dada yang cuma pake daster tipis warna abu-abu. Kainnya udah agak melorot ke bahu plus dia ga pake daleman, bikin dia makin panik.
Davin berdiri di depan pintu kamar. Kemeja putih lengan panjang digulung sampai siku. Celana bahan hitam. Sepatu kulit mengkilap. Tas kerja di tangan kiri. Nggak kedip. Matanya nggak lihat Zivanya sama sekali—tapi fokus ke arah jendela besar di sisi kanan kamar, yang ngeliat langsung ke halaman belakang.
Di sana, para tukang lagi sibuk bangun kamar besar di taman yang terpisah dari rumah utama. Kayu jati, cat putih, AC split udah terpasang di dinding luar.
"Saya cuma mau lihat progres kamar Hero," kata Davin, datar. Suaranya rendah, tenang, kayak lagi baca laporan keuangan. Matanya ga melirik sedikitpun ke Ziva.
Zivanya masih nahan dada, muka udah merah padam. "Progres apaan sih—ini kamar gue, tau! Lo nggak bisa tiba-tiba nyelonong masuk gitu aja! Ketok dulu, minimal bos!"
Davin akhirnya balik badan. Tatapan datar. "Ini rumah saya. Semua kamar di sini milik saya."
"Nikah-nikahan doang, Dav! Jangan sok punya semua!" Zivanya tarik daster agak nutupin paha, terus ambil bantal dari kasur, peluk erat-erat kayak perisai. "Lo keluar. Gue ganti baju dulu."
Davin nggak gerak. "Kita perlu bicara."
"Bicara apaan? Keluar dulu!"
"Pak Rehan akan tinggal di rumah ini besok. Bersama istrinya, Bu Linda."
Zivanya langsung diem. Bantal di pelukan agak longgar. "Hah? Ngapain mereka tinggal di sini?"
"Sesuai wasiat papi." Davin melangkah masuk, tutup pintu pelan di belakangnya. Zivanya refleks mundur, punggung nempel ke tembok. "Pak Rehan ditugaskan untuk memantau perkembangan rumah tangga kita. Minimal enam bulan pertama."
"M-maksud lo... mereka bakal ngawasin kita?"
"Iya."
"Terus... terus kita harus..." Zivanya nggak bisa nerusin. Muka makin panas.
"Kita tidak bisa lagi tidur di kamar terpisah seperti dua bulan terakhir." Davin berhenti di depan jendela, lihat ke bawah. Para tukang lagi angkat papan kayu. "Mulai besok malam, kita sekamar."
Zivanya melotot. "APA?!"
"Saya sudah bicara dengan Pak Rehan pagi ini. Dia akan datang dan pasti inspeksi kamar kita besok siang."
"Nggak bisa!" Zivanya langsung turun dari kasur, kaki telanjang nempel ke lantai marmer dingin. "Ya udah, kalau gitu gue yang pindah! Gue tidur di kamar tamu!"
"Tidak bisa."
"Kenapa nggak bisa?!"
Davin akhirnya lihat Zivanya. Tatapan datar, tapi ada sesuatu di mata itu—lelah, mungkin, atau kesal. "Pak Rehan hanya melakukan tugasnya. Kalau kita terpisah, ketahuan nikah tidak sungguhan, dia akan lapor ke dewan direksi. Dan kalau dewan direksi tahu, mereka bisa blokir akses saya ke perusahaan. Dan kamu? you know lah"
Zivanya diem. Mulut agak terbuka. "Tapi... tapi ini nggak masuk akal, Dav! Gue nggak bisa sekamar sama lo! Lo... lo..."
"apa" Davin menggunakan kata tanya tapi tanpa tanda tanya dalam nada suaranya.
"Lo dingin! Lo kaku! Lo... lo nggak pernah senyum!"
Davin nggak jawab. Cuma tarik napas pelan. "Kita tidak harus tidur di kasur yang sama. Hanya sekamar."
Zivanya mikir. Alis kerut. "Jadi... kita sekamar, tapi pisah kasur?"
"Iya."
"Dan... dan lo nggak akan... nggak akan..." Zivanya nggak bisa nerusin. Muka makin merah.
Davin paham. "Saya tidak akan menyentuh Anda. Itu bukan bagian dari kontrak."
Zivanya napas panjang. Tangan masih peluk bantal. "Oke. Oke... tapi ada syarat."
"Sebutkan."
"Satu: lo nggak boleh masuk kamar ini tanpa izin gue. Kecuali darurat."
"Deal."
"Dua: lo nggak boleh bawa cewek lain ke rumah ini. Nggak boleh ada yang nginep."
Davin alis naik sedikit. "Anda pikir saya tipe seperti itu?"
"Jujur ye, lo tuh ganteng, kaya, CEO. Semua cewek klepek-klepek sama lo. Gue cuma mau pastiin lo nggak bawa pulang fans lo itu!"
Davin nggak jawab. Tapi sudut bibirnya naik sedikit. Cuma sedetik. "Deal. Syarat ketiga?"
Zivanya mikir lagi. "Tiga: kita beli kasur sendiri. Lo tidur di atas, gue di bawah. Kasur lo kasur lo, kasur gue kasur gue. Nggak ada yang namanya 'sekasur'."
"Kasur king size sudah ada."
"Gue nggak mau tidur di kasur yang lo pernah tidurin! Eww!" Zivanya geleng-geleng. "Gue bakal beli kasur lipat. Gue tidur di lantai."
Davin lihat Zivanya. Tatapan datar lagi. "Anda serius mau tidur di lantai?"
"Iya! Ini kan rumah lo! Lo yang tidur di kasur! Gapapa dah badan gue sakit, daripada mesti sekasur sama orang dingin kayak elo"
Davin nggak jawab. Dia cuma jalan ke arah pintu, buka gagang. "Sore ini, kita belanja. Saya akan beli kasur untuk Anda."
"Nggak usah! Gue bisa beli sendiri!"
Davin udah di depan pintu. Nggak balik badan. "Saya tidak bertanya. Saya memberi tahu. Jam empat sore. Kita ke Mall."
Pintu ditutup.
Zivanya diem sebentar. Lalu, pelan, sambil lempar bantal ke pintu: "...Monyet."
<3 <3 <3
Jam 3.45 sore, Davin udah siap di garasi. BMW X5 hitam mengkilap. Kaca film gelap. Zivanya turun dari tangga, pake kaos oversize biru, celana jeans robek, sneakers putih. Rambut diikat asal.
"Anda pake itu?" Davin tanya, dari dalam mobil.
"Iya, kenapa?" Zivanya buka pintu penumpang, masuk. "Lo mau kita ke mall apa ke Paris Fashion Week?"
"by the way, mana pak Radit? kok bukan dia yang nyetir?"
"Pak Radit lagi bawa tamu perusahaan"
Ziva nggak bertanya lebih lanjut. Mobil meluncur keluar dari Villa Panbil, belok kiri ke Jl. Raja Ali.
"Kita ke mall mana? K-Square, Mega Mall atau One Batam?" Davin menyebut deretan mall yang dekat dari tempat mereka.
"Grand Batam aja" Zivanya sandar di kursi, lihat keluar jendela. Jalanan Batam sore itu ramai. Motor, mobil, truk kontainer. Deretan gedung tinggi Pollux terlihat dari kejauhan, langit sore memperindah pemandangannya.
Lampu merah. Mobil berhenti.
"Anda sudah makan?"
"Udah, tadi siang."
"Mbak masak apa?"
"Ga tau dia masak apa, tapi tadi gue masak mie goreng"
Davin nggak jawab. Lampu hijau. Mobil jalan lagi.
Zivanya lihat Davin dari samping. Profil tajam. Hidung mancung. Rahang keras. Leher bersih. Kemeja putih masih rapi, walaupun udah seharian.
"Lo nggak kangen Manchester?"
"Saya tidak tinggal di Manchester untuk dikangenin."
"Dih. Sok iya." Zivanya nyengir. "Tapi lo kan kuliah S2 di sana. Temen-temen lo, cewek-cewek bule..."
"Zivanya."
"Apa?"
"Fokus. Kita saat ini untuk beli kasur, bukan untuk wawancara saya."
Zivanya nyengir lagi. "Oke, Bos." Ia membuang muka ke jendela sambil bersuara dalam hati.
"monyet!"