BATAM YANG MENGAUM

BATAM YANG MENGAUM

BLACKOPIUM

Setiap tengah malam, Batam mengaum.

Suara itu bermula dari gedung-gedung pusat data di Nongsa, menjalar melalui jalan sepuluh lajur menuju Batam Centre, menggetarkan dinding underpass Pelita, melewati galangan kapal Batu Ampar, lalu berlari ke selatan sepanjang enam Jembatan Barelang.

Tidak ada yang tahu harus menyebutnya suara apa.

Ia terlalu dalam untuk menjadi sirene, terlalu panjang untuk disebut gemuruh, dan terlalu teratur untuk dianggap berasal dari alam. Gelas-gelas bergetar. Burung laut meninggalkan tiang pelabuhan. Air di dalam waduk membentuk lingkaran-lingkaran kecil meskipun malam sedang tidak berangin.

Orang Singapura menyebutnya The Batam Roar.

Warga Batam cukup menyebutnya auman.

Angga Dwi Tama mendengar suara itu untuk pertama kalinya ketika feri yang membawanya dari Singapura mendekati pelabuhan.

Sudah empat tahun ia meninggalkan kota kelahirannya. Selama itu Batam berubah lebih cepat daripada kota mana pun di dunia. Gedung-gedung tumbuh di atas lahan yang dahulu dipenuhi ruko. Jalan-jalan bertingkat melayang di atas permukiman. Kendaraan bergerak tanpa pengemudi. Kapal dapat diperbaiki oleh robot sebelum awaknya selesai mengurus dokumen pelabuhan.

Pada tahun kepulangannya, lembaga pemeringkat internasional menyatakan Batam tiga kali lebih maju daripada Singapura.

Angga sempat tertawa ketika membacanya.

Kini, dari jendela feri, ia melihat Singapura di belakangnya tampak seperti kota lama yang terlambat bangun.

Ponselnya menyala.

Selamat datang di Waktu Batam. Sesuaikan jam biologis?

Angga menekan nanti.

Jam tangannya menunjukkan pukul 23.59.

Sesaat kemudian, seluruh kota mengaum.

Suara rendah itu menembus lambung feri dan masuk ke dadanya. Lampu Barelang berkedip dari jembatan pertama hingga jembatan keenam, satu demi satu, seperti ruas tulang belakang seekor binatang raksasa.

Ketika suara berakhir, jam tangannya menunjukkan pukul 00.03.

Ponselnya menunjukkan pukul 00.01.

Angga mengira salah satunya rusak.


Agni Dwi Tama menunggunya di pelabuhan.

Angga hampir melewatinya.

Perempuan yang melambaikan tangan itu memiliki wajah adiknya, tetapi garis-garis halus telah muncul di sekitar mata. Rambutnya lebih pendek dan beberapa helainya mulai memutih.

“Kak Angga?”

Angga berhenti.

Saat terakhir mereka bertemu, Agni berusia tiga puluh tahun. Mereka hanya terpaut dua tahun. Kini ia tampak lebih tua daripada Angga.

Agni memeluknya sebelum pertanyaan sempat keluar.

“Papa menunggu di rumah.”

Mereka menaiki kendaraan otomatis menuju Nongsa. Di sepanjang jalan, layar-layar memutar potongan film produksi studio tempat Agni bekerja. Hutan digital tumbuh di atas gedung. Naga Melayu terbang melintasi Barelang. Seorang laksamana berdiri di atas laut dan membelah ombak dengan keris cahaya.

“Film-film Batam sekarang menguasai Asia,” kata Agni. “Satu produksi bisa selesai dalam dua minggu.”

“Dulu paling cepat enam bulan.”

“Di sini enam bulan terasa panjang.”

Angga menoleh.

Agni pura-pura sibuk melihat jendela.

Rumah mereka masih berdiri di dekat pesisir Nongsa, terjepit di antara menara pusat data dan kampung tua yang menolak dipindahkan. Fikri duduk di beranda dengan kain sarung dan kopiah hitam. Di meja tersedia gonggong rebus, sambal, dan teh obeng kesukaan Angga.

Ayahnya bangkit perlahan.

Empat tahun lalu, Fikri masih sanggup menarik perahu seorang diri. Sekarang punggungnya membungkuk. Tangannya bergetar ketika menyentuh wajah Angga.

“Kau tidak berubah,” katanya.

Angga memeluk tubuh yang terasa jauh lebih ringan daripada ingatannya.

“Papa sakit?”

“Umur.”

“Papa baru enam puluh sembilan.”

Fikri dan Agni saling berpandangan.

Tidak ada yang menjawab sampai auman kedua terdengar dari arah pusat data. Padahal menurut jam Angga, tengah malam telah berlalu.


Keesokan harinya, Angga menemui Bila Putri.

Dahulu mereka mempelajari sistem kota bersama-sama. Bila kemudian bekerja untuk Otorita Batam, sedangkan Angga pindah ke Singapura sebelum proyek besar PT Satuan Fordi dimulai.

Bila menyambutnya di sebuah ruangan yang menghadap Waduk Nongsa.

Angga mengenal suaranya. Wajahnya tidak.

Perempuan itu telah berusia hampir lima puluh tahun.

“Empat tahun,” kata Angga. “Aku cuma pergi empat tahun.”

“Empat tahun Singapura.”

Bila menyentuh dinding kaca. Permukaannya berubah menjadi layar, menampilkan dua buah jam.

Jam pertama bergerak biasa.

Jam kedua berputar tiga kali lebih cepat.

“Investasi AI pertama di Nongsa bernilai puluhan triliun,” ujar Bila. “Kemudian pusat data lain berdatangan. Energi bisa kami tambah. Lahan bisa kami reklamasi. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat diproduksi sebanyak kebutuhan mereka.”

“Waktu.”

Bila mengangguk.

PT Satuan Fordi menemukan cara mempercepat aliran waktu dalam wilayah terbatas. Mesin-mesin pusat data dapat melakukan penelitian tiga tahun dalam satu tahun dunia luar. Pabrik menyelesaikan produksi tiga kali lebih cepat. Studio membuat tiga film selama negara lain menyelesaikan satu. Pemerintah menguji kebijakan selama puluhan tahun tanpa menunggu satu generasi.

Batam tidak mengalahkan Singapura karena lebih pintar.

Batam memperoleh waktu tiga kali lebih banyak.

“Bagaimana dengan manusia?”

Bila tersenyum tipis. “Manusia selalu ikut berada di dalam kota yang dibangunnya.”

Angga memikirkan rambut putih Agni dan tangan ayahnya.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

“Kami memberitahumu setiap hari.”

Bila membuka arsip pesan yang dikirim Agni. Isinya percakapan-percakapan biasa: pekerjaan, kesehatan Fikri, harga ikan, film baru, waduk yang mengering.

Namun, tanggal-tanggalnya berjarak tiga hari untuk setiap satu hari pada ponsel Angga.

Sistem komunikasi telah menyatukan pesan-pesan itu agar sesuai dengan waktu penerima. Percakapan bertahun-tahun dipadatkan menjadi satu tahun di luar Batam. Wajah dalam panggilan video diperhalus oleh perangkat studio agar perbedaan usia tidak mengejutkan keluarga di luar zona.

“Kami menyebutnya Sinkronisasi Kasih Sayang,” kata Bila. “Nama yang bagus untuk kebohongan yang dianggap pelayanan.”

Angga menatap Waduk Nongsa. Airnya mundur jauh dari tepian.

“Tiga kali waktu berarti tiga kali makan, tiga kali listrik—”

“Tiga kali air,” sambung Bila. “Itulah sebabnya waduk mengering lebih cepat daripada perhitungan di luar zona.”

“Matikan.”

Bila menggeleng.

“Bukan aku yang menentukan.”


Rama Gonzalez menerima Angga di kantor Otorita pada sore hari.

Di dinding terpampang foto Batam dari masa ke masa: pulau industri, kota kasino, kawasan perdagangan, pusat digital, lalu kota yang menyala seperti gugusan bintang.

Theo Julian, Direktur Utama PT Satuan Fordi, duduk di samping Rama. Wajahnya terlihat muda meskipun usianya hampir enam puluh. Ia tinggal di Singapura dan hanya datang ke Batam beberapa jam setiap minggu.

Tentu saja, pikir Angga. Orang yang menjual waktu tidak tinggal di dalam waktu yang dijualnya.

“Zona percepatan harus dihentikan,” kata Angga.

Theo tidak tersinggung. “Boleh.”

Jawaban itu membuat Angga kehilangan kalimat berikutnya.

“Besok pun bisa,” lanjut Theo. “Tidak ada penghalang teknis.”

“Lalu kenapa tidak dilakukan?”

Rama mendorong sebuah tablet ke hadapan Angga. Di sana tercantum hasil pemungutan suara warga Batam.

Delapan puluh satu persen memilih mempertahankan percepatan waktu.

“Pekerja menerima gaji tiga kali dalam satu tahun luar,” kata Rama. “Anak-anak menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Penelitian obat maju puluhan tahun. Pasien yang di luar zona harus menunggu terapi baru, di sini mendapatkannya bulan depan.”

“Mereka menua tiga kali lebih cepat.”

“Mereka tahu.”

Angga melihat daftar persetujuan. Sidik jari Fikri ada di dalamnya. Agni juga. Bila pun demikian.

“Kenapa kalian memilih ini?”

Rama tidak segera menjawab.

“Karena selama puluhan tahun,” katanya kemudian, “Batam selalu diminta menunggu. Menunggu keputusan pusat. Menunggu investasi. Menunggu jalan selesai. Menunggu diperlakukan lebih dari sekadar halaman belakang Singapura. Ketika akhirnya kami ditawari waktu sendiri, kami mengambilnya.”

Tidak ada dokumen rahasia.

Tidak ada pejabat yang dapat dibongkar.

Tidak ada sistem yang disabotase diam-diam.

Batam mengetahui harga kemajuannya dan tetap memilih membayar.


Malam itu Fikri mengajak Angga ke bekas kasino terapung yang telah diubah menjadi rumah budaya Melayu.

Mereka duduk di geladak. Dari sana, cahaya kota membentang sampai Barelang. Bunyi kompang terdengar dari kenduri kecil di kampung. Beberapa anak berlatih zapin, langkah mereka cepat dan ringan.

“Papa memilih percepatan waktu?”

Fikri mengangguk.

“Papa kehilangan dua belas tahun dalam empat tahun aku pergi.”

“Tidak hilang. Papa memakainya.”

“Untuk apa?”

Fikri menunjuk rumah-rumah di pesisir. “Dulu kampung ini mau digusur. Kami diberi waktu tiga bulan untuk membuktikan bahwa kami masih hidup sebagai masyarakat. Dengan Waktu Batam, tiga bulan dari luar menjadi sembilan bulan bagi kami. Kami mendata makam, menghidupkan kenduri laut, mengajar anak-anak pantun dan zapin. Kampung ini selamat.”

“Tapi Papa menjadi tua.”

“Kalau waktu tidak dipercepat pun, Papa tetap menjadi tua.”

“Tidak secepat ini.”

Fikri tersenyum. “Dulu di kasino, orang memasang uang untuk membeli kemungkinan. Sekarang seluruh Batam memasang umur untuk membeli masa depan.”

“Dan kalau kalah?”

“Namanya juga berjudi.”

Auman mulai terdengar.

Dek kapal bergetar. Lampu kota berkedip. Angga kini memahami bahwa itu bukan suara mesin yang rusak. Itu adalah bunyi jutaan detik ketika dipaksa melewati sebuah kota melalui celah yang terlalu sempit.

Batam tidak sedang mengaum karena menang.

Ia mengaum karena waktu sedang mengunyahnya.


Angga mendapat waktu tujuh hari untuk menentukan apakah akan kembali ke Singapura.

Baginya, itu hanya tujuh hari.

Bagi Agni, tiga minggu.

Ia menemani adiknya menyelesaikan dua film. Mengantar Fikri menjalani empat kali pemeriksaan kesehatan. Berjalan bersama Bila mengelilingi waduk yang kehilangan air beberapa sentimeter setiap hari. Menyaksikan jalan baru selesai sebelum luka pada telapak tangannya sempat mengering.

Pada hari keberangkatannya, Angga berdiri di gerbang waktu dekat pelabuhan.

Di sebelah luar gerbang, jam bergerak normal. Singapura terlihat di seberang selat, tenang dan lambat.

Agni memeluknya.

“Kapan pulang lagi?”

“Tahun depan.”

Agni tersenyum, tetapi matanya basah.

Tahun depan bagi Angga berarti tiga tahun bagi mereka.

Mungkin Fikri masih ada.

Mungkin tidak.

Petugas meminta Angga melangkah melewati gerbang. Ia mengangkat satu kaki, lalu mendengar auman Batam menjalar dari Nongsa menuju Barelang.

Angga mundur.

Ia menghapus tiketnya.

Tidak ada pidato. Tidak ada keputusan besar yang mengubah kota. Zona waktu tetap bekerja. Waduk tetap menyusut. Batam tetap menghasilkan tiga tahun kemajuan untuk setiap satu tahun yang dimiliki dunia.

Angga hanya pulang bersama ayah dan adiknya.

Malam itu mereka makan gonggong di beranda. Fikri bercerita tentang kasino lama. Agni mengeluhkan film ketiganya bulan itu. Dari kejauhan, gedung-gedung AI berdengung, jalan sepuluh lajur terus membawa manusia menuju masa depan, dan Barelang menyala di atas laut seperti tulang punggung makhluk yang tidak pernah tidur.

Tepat tengah malam, Batam kembali mengaum.

Jam dunia bergerak satu menit.

Jam mereka bergerak tiga.

Kali ini Angga tidak menutup telinganya.

Report Page