BANYAK ANAK

BANYAK ANAK

AN MU'ASASAH

Diantara maksud yang hendak dicapai dalam Islam adalah melahirkan anak-anak untuk mencapai beberapa sasaran. Mungkin sasaran yang paling penting adalah memperbanyak jumlah umat Islam sehingga mengokohkannya. Dalam syariat banyak nash-nash yang mendukung dan mendorong akan hal tersebut.

Menginginkan anak merupakan sunah para nabi dan rasul. Inilah Nabiyullah Zakaria عليه السلام pada lebih dari satu kesempatan disebutkan dalam al-Quranul-Karim berdoa kepada Rabbnya bukan supaya diberi kerajaan atau kekuasaan, tidak pula emas atau perak, tetapi ingin dikaruniai keturunan yang baik. Beliau bangkit untuk shalat dan berdoa kepada Rabbnya dengan lirih, katanya,

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّى وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبًا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ۞ وَإِنِّى خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبۡ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا ۞ يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabb ku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai. ” (QS. Maryam: 4-6).

Katanya lagi,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

“Yaa Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. ” QS. Ali Imran: 38).

Juga katanya,

رَبِّ لَا تَذَرۡنِى فَرۡدًا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ

“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris Yang Paling Baik. ” (QS. al-Anbiya: 89).

Inilah istri Imran, berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak dan dikaruniakanlah Maryam kepadanya sebagai tanda kebesaran-Nya bagi seluruh alam. Kemudian Maryam dikaruniai anak bernama Isa dan dijadikannya nabi dan rasul ulul azmi عليهم الصلاة السلام

Sesungguhnya kedudukan Din ini akan tinggi dan kekufuran akan jera itu berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah kaum muslimin. Orang-orang kafir memahami dengan baik timbangan yang hilang dari benak orang-orang lalai ini. Kita dapati prioritas sasaran mereka pada setiap perang yang dilancarkannya atas Islam dan pemeluknya adalah para wanita dan anak-anak, untuk menghancurkan tanaman dan lahannya. tidaklah wanita diumpamakan sebagai lahan kecuali bahwa dialah tanah subur tempat tumbuhnya keturunan. Itulah strategi musuh pendengki yang cita-citanya adalah mencabut "la ilaha ilallah" dari muka bumi. Sesuatu yang mustahil, karena umat Muhammad ﷺ adalah umat yang subur dan tidak mandul hingga Allah menganugerahkan bumi dan seisinya kepada umat ini.

Akan tetapi sebagian wanita tidak menyadari siasat musuh tersebut. Ia tidak menganggap bahwa setiap kelahiran bayi Muslim berarti menanam duri di kerongkongan orang kafir dan menancapkan belati di dada kesyirikan. Ia tidak menyadari bahwa dengan bertambahnya jumlah umat Islam maka orang orang kafir akan tercekat, panji orang orang kafir akan tersungkur, dan suara orang orang baik akan menjadi tinggi. Program keluarga berencana tidak lain hanyalah wabah yang menjangkiti umat kita yang subur sesuai dengan keinginan musuh musuhnya sehingga jumlah kaum muslimin menyusut dan kekuatannya melemah.

Nabi ﷺ telah berwasiat untuk memperbanyak jumlah kaum muslimin sebagaimana diriwayatkan oleh Maiqil bin Yasar راضي الله عنه “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, ‘Aku melamar seorang wanita yang terpandang lagi cantik namun mandul, bolehkah aku menikahinya? Beliau ﷺ menjawab, "Tidak.", Kemudian dia datang untuk kedua kalinya namun tetap dilarang. Ketiga kalinya ia kembali datang, maka beliau ﷺ bersabda, "Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga dengan jumlah kalian yang banyak” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ pernah mendoakan Anas bin Malik راضي الله عنه agar mendapat keberkahan dan anak yang banyak, beliau berdoa, “Ya Allah, banyakkanlah barta dan anaknya, dan berkahilah apa yang Engkau anugerahkan padanya. ” (Muttafaq Sahih)

Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Anas yang berkata, “Anak perempuan ku bercerita bahwa ada sekitar 120 lebih keturunan ku yang telah dikubur, dan aku kaum Anshar yang paling banyak hartanya.”

Al Ahnaf bin Qais pernah menemui Muiawiyah راضي الله عنه, saat itu Yazid berada di situ melihat padanya dengan heran. Lantas Mu’awiyah bertanya, “Wahai Abu Bahr, apa pendapatmu tentang anak? al Ahnaf menjawab, “Wahai Amirul mukminin, mereka adalah penyangga punggung, buah hati, dan penyejuk mata kita. Dengan mereka kita menyerang musuh. Merekalah generasi penerus sepeninggal kita. Maka jadilah anda laksana bumi yang terhampar bagi mereka dan langit yang menaungi mereka. Jika mereka meminta sesuatu kepadamu maka berilah. Jika minta kerelaanmu maka relakanlah. Jangan larang mereka untuk membantumu agar mereka tidak jenuh berada didekatmu, lalu membenci hidupmu dan berharap agar kamu cepat mati.” Muiawiyah berkata, "Semoga Allah membalasmu dengan pahala wahai Abu Bahr, mereka persis seperti yang engkau katakan."

Tidak lupa disini kami juga mengingatkan para saudari muslimah dari program busuk lain yang dicanangkan oleh musuh musuh Islam, yaitu menunda nikah hingga usia senja. Ini adalah makar orang orang kafir yang terus berupaya memalingkan para muslimah dari hakekat tugas mereka dalam hidup ini. sesungguhnya mereka diciptakan untuk mentauhidkan dan mengesakan Allah azza wa Jalla dalam beribadah bukan kepada selain Nya, kemudian berkhidmat untuk Din sesuai dengan yang telah dimudahkan Allah untuk mereka yaitu menikah, melahirkan, dan mendidik.

Kalau saja para muslimah mengetahui keutamaan pernikahan dini dengan niat untuk memperbanyak jumlah dan melahirkan anak shalih yang akan berbakti kepadanya dan mendoakannya dan bapaknya sekalipun keduanya telah meninggal. Sebagaima na termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila manusia mati, niscaya amalnya akan terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. ” (HR. Muslim).

Beliau ﷺ juga bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, Sungguh Allab Tabaroka wa Ta'ala benar benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Ia bertanya, "Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapatkan semua ini? Maka Allah beijirman, 'Karena anakmu meminta ampun untuk mu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Di dalam Shahihnya Imam Bukhari membuat bab “Barang siapa menginginkan anak untuk jihad”. Di dalamnya diriwayatkan dari Abu Hurairah راضي الله عنه. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sulaiman bin Dawud alaihi salam berkata, Malam ini, aku benar benar akan menggilir 100 atau 99 wanita, semuanya akan melahirkan seorang ksatria yang akan beijihad di jalan Allah. ’Sahabatnya berkata kepadanya, Insya'a Allah. ' tetapi Sulaiman عليه السلام, tidak mengucapkan insya Allah sehingga semua wanita tersebut tidak ada yang hamil kecuali hanya seorang yang melahirkan anak yang cacat. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan Nya, seandainya Sulaiman mengucapkan insya Allah niscaya semuanya akan menjadi ksatria yang berjihad dijalan Allah. ”

Seandainya seorang Muslimah mengetahui jika hal ini Berperang menolong Din dan membuat orang kafir marah niscaya dia akan menyambut peran yang diabaikannya itu, sehingga semoga dia termasuk orang orang yang,

…tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah arang orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia nyiakan pahala orang orang yang berbuat baik. ” (QS. at Taubah: 120).

Hendaknya seorang muslimah merenungkan perkataan Umar راضي الله عنه, “Demi Allah, aku benar benar memaksa diriku untuk melakukan jima’, dengan harapan agar Allah mengeluarkan dariku benih keturunan yang akan bertasbih kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam al Kubra).

Bahkan menikahkan anak perempuan ketika “usia dini” di anggap sebagai kejahatan yang pantas dihukum menurut undang-undang thaghut di beberapa negara yang mengklaim “Islam”. Adapun dalam syariat Islam, yang halal adal apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan yang haram adalah apa yang telah diharamkan oleh Nya. Aisyah راضي الله عنها berkata, “Aku dinikahi Nabi ﷺ diusia 6 tahun. Lalu kami berhijrah ke Madinah dan singgah di Bani Harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku, Ummu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman temanku. Ibuku berteriak memanggilku lalu aku datangi sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibu ku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu sebuah rumah. Aku masih dalam keadaan terengah engah hingga aku menenangkan diri sendiri. Kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu ia memasukkan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada para wanita Anshar. Mereka berkata, 'Mudah mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan mudah mudahan mendapat nasib yang terbaik.' Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku. Tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah ﷺ Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau. Saat itu usiaku sembilan tahun.” (HR. Muslim)

Bila saudari muslimah telah memahami hal tersebut, maka niscaya dia tak menghiraukan anggapan anggapan itu, dan akan fokus untuk memperbanyak anak anak singa serta melatih mereka. Dia jadikan rumahnya laksana sarang singa. Dia susui mereka dengan air susu murni millah Ibrahim. Dia minumkan air murni tauhid. Dia latih mereka dengan wala dan membuat adonan roti baru untuk mereka. Kemudian dia buka pintu kandang, sedangkan hati mereka telah menyerap prinsip, “Keras terhadap orang orang kafir dan berkasih sayang terhadap sesama mereka. ” (QS. al Fath: 29), “Lemah lembut kepada orang orang beriman dan keras kepada orang orang kafi; mereka beijihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. ” (QS. al Maidah: 54). Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Report Page