BAB 9
Julian tidak kembali ke kantor setelah keluar dari Toko Buku Aksara Lama.
Ia berdiri cukup lama di bawah kanopi, menunggu hujan yang tidak pernah benar-benar deras. Air jatuh tipis dari ujung atap, membentuk garis-garis kecil di depan matanya. Orang-orang lewat sambil menutup kepala dengan tas, koran, atau tangan. Kendaraan melintas, meninggalkan suara ban yang membelah genangan.
Semua tampak biasa.
Hanya Julian yang tidak.
Ia membuka buku catatannya lagi.
Kalimat itu masih ada.
Menjauh bukan selalu tanda bahwa seseorang telah belajar percaya. Kadang, itu hanya cara lain untuk lari sebelum kebenaran sempat menyakitinya.
Tulisan itu bukan miliknya.
Setidaknya, bukan tulisan yang ia ingat pernah dibuat.
Bentuk hurufnya memang menyerupai tulisan tangan Julian—huruf j yang terlalu panjang, garis t yang selalu dicoret terlambat, dan beberapa kata yang ditekan lebih kuat ketika ditulis. Namun tinta pada halaman itu masih tampak baru.
Julian menutup buku tersebut.
Ia memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan tanpa arah menyusuri trotoar.
Di masa lalu, setelah melihat Erlina bersama laki-laki itu, ia tidak pergi dengan tenang. Ia mengejar pikirannya sendiri. Mengumpulkan potongan-potongan kecil yang bisa dijadikan alasan untuk marah. Erlina tidak membalas pesan selama dua jam. Erlina pernah menyebut ada urusan, tetapi tidak pernah menjelaskan. Erlina terlihat gugup ketika ia bertanya.
Bagi Julian yang dulu, semuanya sudah cukup menjadi bukti.
Ia tidak membutuhkan kebenaran.
Ia hanya membutuhkan sesuatu yang bisa membuat rasa sakitnya terasa sah.
Sekarang, bertahun-tahun lebih tua dalam tubuh yang lebih muda, Julian seharusnya tahu lebih baik.
Tetapi mengetahui tidak sama dengan mampu.
Ia pulang ketika langit sudah hampir gelap.
Mama sedang menggoreng tempe di dapur. Aroma bawang putih dan minyak panas memenuhi rumah. Dari ruang tamu, suara televisi terdengar lebih keras dari biasanya. Papa belum pulang.
"Kamu pulang telat," kata mama tanpa menoleh.
"Magangnya ada tugas liputan."
"Sudah makan?"
Julian menggeleng.
Mama mematikan kompor kecil di sebelah wajan. "Cuci tangan. Mama ambilkan nasi."
"Aku bisa ambil sendiri, Ma."
Mama menoleh. "Kamu capek."
Julian ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Kalimat yang paling sering ia gunakan untuk menutup percakapan. Kalimat yang membuat orang-orang berhenti bertanya karena mengira ia memang tidak butuh siapa pun.
Namun ia teringat Bu Ratih.
Mungkin karena di sini nggak ada yang nanya kenapa mereka sedih.
"Aku capek," katanya pelan.
Mama berhenti.
Bukan karena jawaban itu luar biasa. Hanya karena Julian jarang mengakuinya.
"Makan dulu," kata mama kemudian, lebih lembut. "Nanti kalau mau cerita, mama dengerin."
Julian mengangguk.
Ia duduk di meja makan sendirian. Mama meletakkan nasi, tempe, dan sayur bening di depannya. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada nasihat yang memaksa.
Hanya mama yang sesekali mondar-mandir di dapur, memberi Julian ruang untuk memulai.
Namun Julian tidak bercerita.
Bukan karena ia tidak percaya pada mama.
Ia hanya belum bisa mengucapkan nama Erlina tanpa merasa seperti sedang membuka luka yang belum terjadi.
Malam itu, Julian menunggu Erlina menghubunginya.
Ia membuka ponsel.
Tidak ada pesan.
Ia membuka lagi sepuluh menit kemudian.
Tetap tidak ada.
Di meja belajarnya, laptop tertutup. Buku catatan dari toko buku terletak di samping tumpukan buku pelajaran. Julian tidak ingin membukanya lagi, tetapi rasa takut membuatnya terus melihat ke arahnya.
Pukul sembilan lewat lima belas.
Julian akhirnya mengetik pesan.
Julian: Kamu sudah sampai rumah?
Ia menghapusnya.
Terlalu mengawasi.
Ia menulis lagi.
Julian: Hari ini aku sempat ke Aksara Lama buat tugas magang.
Ia berhenti.
Terlalu jelas.
Erlina akan tahu bahwa Julian melihatnya. Lalu ia akan bertanya kenapa Julian tidak menyapa. Dan Julian tidak punya jawaban yang tidak terdengar seperti ketakutan.
Ia menghapus semuanya.
Lima menit kemudian, pesan dari Erlina masuk.
Erlina: Kamu sudah makan?
Julian menatap layar.
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama laki-laki itu. Tidak ada cerita mengenai toko buku.
Anehnya, bagian dirinya yang paling buruk langsung bangun.
Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa dia tidak cerita?
Julian meletakkan ponsel.
Ia menekan kedua telapak tangan ke wajahnya.
"Berhenti," gumamnya.
Ia tidak punya hak atas semua cerita Erlina.
Tidak semua hal yang tidak diceritakan adalah pengkhianatan.
Namun sebelum ia bisa membalas, ponselnya kembali bergetar.
Erlina: Tadi aku lihat kamu di toko buku.
Dada Julian menegang.
Pesan berikutnya masuk.
Erlina: Kenapa kamu pergi tanpa nyapa?
Julian menatap kalimat itu lama.
Ia mengetik.
Julian: Aku lagi kerja.
Dihapus.
Julian: Aku kira kamu lagi sibuk.
Dihapus.
Julian: Aku nggak tahu harus ngomong apa.
Ia berhenti.
Itu benar.
Namun belum sepenuhnya jujur.
Julian: Maaf. Aku lihat kamu, tapi aku nggak tahu harus ngomong apa.
Pesan terkirim.
Balasan Erlina datang cukup lama kemudian.
Erlina: Karena kamu ngerasa aku harus jelasin siapa orang yang sama aku?
Julian menutup mata.
Ia membalas pelan-pelan.
Julian: Nggak. Aku cuma kaget.
Erlina: Kaget kenapa?
Jari Julian menggantung di atas layar.
Tidak ada jawaban yang aman.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa laki-laki itu pernah menjadi alasan ia memutuskan Erlina di kehidupan lain. Ia tidak bisa mengaku bahwa ia sudah melihat akhir dari hubungan mereka, lalu kembali untuk mencegahnya.
Ia tidak bisa berkata bahwa sejak kembali, ia tidak pernah benar-benar melihat Erlina tanpa bayang-bayang kehilangan yang belum terjadi.
Akhirnya, ia hanya menulis:
Julian: Karena aku takut bikin kesimpulan lagi.
Pesan itu sudah terkirim sebelum ia sempat menyesalinya.
Tiga titik tanda Erlina sedang mengetik muncul, lalu menghilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
Setelah beberapa menit, sebuah balasan masuk.
Erlina: Kamu nggak pernah cerita kesimpulan apa yang kamu takutkan, Julian. Tapi kamu sudah bikin aku merasa seperti tersangka.
Julian membaca pesan itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur.
Ia ingin langsung menelepon. Ingin menjelaskan. Ingin memperbaiki semuanya malam ini juga.
Tetapi ia teringat kata-kata yang ia tulis sendiri di buku catatan: menjauh bisa menjadi bentuk lari.
Ia tidak ingin lari.
Namun ia juga tidak ingin memaksa Erlina menerima penjelasan yang belum siap ia berikan.
Julian: Kamu benar. Maaf. Aku nggak akan maksa kamu jelasin apa pun.
Tidak ada balasan setelah itu.
Julian membuka laptop menjelang tengah malam.
Bukan untuk mencari petunjuk.
Bukan untuk memeriksa dokumen KEMBALI.
Ia hanya ingin menulis sesuatu yang tidak perlu diketahui siapa pun.
Ia membuat dokumen baru dan menulis judul:
HAL YANG TIDAK KAMU CERITAKAN
Lalu ia menulis:
Ada hal-hal yang tidak seseorang ceritakan bukan karena ia ingin menyembunyikannya.
Kadang, ia hanya belum tahu bagaimana menjelaskan hidupnya kepada orang yang terlalu siap mencurigainya.
Julian berhenti.
Ia membaca kalimat itu sekali.
Dua kali.
Lalu halaman di bawahnya bergerak sedikit, seperti baru saja bergeser sendiri.
Di bawah paragraf yang ia tulis, muncul sebuah kalimat lain.
Tetapi orang yang takut ditinggalkan sering kali mengira diam adalah ancaman.
Julian membeku.
Kalimat itu tidak diketik di depan matanya. Tidak ada kursor yang bergerak. Tidak ada suara tombol ditekan. Hanya satu kalimat yang tiba-tiba sudah berada di sana.
Ia ingin menutup laptop, tetapi tangannya tidak bergerak.
Paragraf baru perlahan tampak di bawahnya.
Pada putaran ketiga, ia mengikuti perempuan itu sampai ke rumah sakit.
Pada putaran kelima, ia menginterogasinya di depan toko buku.
Pada putaran kedelapan, ia memilih pergi sebelum sempat melihat apa pun.
Pada semua putaran itu, ia tetap kehilangan perempuan yang sama.
Julian berhenti bernapas.
Putaran ketiga.
Putaran kelima.
Putaran kedelapan.
Ia membaca ulang dengan tangan gemetar.
Tidak ada nama Erlina.
Tidak ada nama Julian.
Tetapi ia tahu cerita itu bukan cerita siapa pun selain dirinya.
Halaman berikutnya masih kosong.
Kursor berkedip di bawah kalimat terakhir.
Julian menatapnya dengan mata panas.
Ia selama ini mengira kembali ke masa lalu adalah mukjizat yang diberikan sekali.
Ternyata mungkin bukan.
Ternyata ia sudah berkali-kali diberi kesempatan.
Dan di setiap kesempatan, ia tetap menemukan cara untuk kehilangan.