BAB 8

BAB 8



Sejak malam ketika ia mencoret jadwal menulis dan menggantinya dengan satu kata sederhana—tidur—Julian mulai mencoba menerima bahwa ia tidak bisa berada di semua tempat sekaligus.

Setidaknya, begitu yang ingin ia percayai.

Kenyataannya, keesokan hari ia tetap bangun sebelum alarm. Ia tetap memeriksa jadwal sekolah, daftar tugas, jam magang, dan pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Ia tetap merasa ada sesuatu yang akan rusak bila ia terlambat lima menit, lupa menjawab satu pesan, atau melewatkan satu kesempatan kecil.

Bedanya, kali ini ia berusaha tidak menunjukkannya.

Ia belajar tersenyum ketika mama menanyakan sarapan. Ia belajar berkata, "Nanti saja," ketika teman sekelas mengajaknya membahas tugas di jam istirahat. Ia bahkan membiarkan satu pesan dari Nadine menunggu sampai pulang sekolah.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia biarkan menunggu.

Pesan dari Erlina.

Erlina: Kamu pulang sekolah langsung ke magang?

Julian membaca pesan itu dua kali sebelum membalas.

Julian: Iya. Kenapa?

Balasan Erlina tidak langsung datang.

Julian mencoba kembali memperhatikan guru di depan kelas. Namun lima menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Erlina: Nggak apa-apa. Aku cuma mau pergi sebentar habis sekolah.

Julian menatap layar terlalu lama.

Pergi sebentar.

Kalimat itu terdengar biasa. Seharusnya biasa.

Tetapi di kehidupan yang ia ingat, ada sebuah sore yang selalu kembali dalam bentuk paling buruk. Sore ketika Erlina mengatakan bahwa ia ada urusan. Sore ketika Julian melihatnya berjalan bersama seorang laki-laki di dekat toko buku. Sore ketika ia tidak bertanya, tidak mendengar, dan tidak memberi Erlina kesempatan untuk menjelaskan.

Ia langsung menyimpulkan.

Lalu semuanya berakhir.

Julian meletakkan ponselnya di atas meja.

"Pak Julian," panggil guru dari depan kelas.

Julian tersentak.

"Kalau pikiran kamu sudah selesai jalan-jalan, coba jawab. Apa rumus yang baru saya tulis?"

Beberapa teman tertawa kecil.

Julian berdiri. Ia menatap papan tulis. Rumus itu seharusnya mudah. Ia tahu jawabannya. Ia bahkan mengingatnya dari kehidupan yang lama.

Namun selama beberapa detik, kepalanya kosong.

"Maaf, Pak," katanya.

Guru menghela napas. "Duduk. Pintar itu bukan cuma soal bisa menjawab, Julian. Tapi juga soal tahu kapan harus hadir."

Kalimat itu tidak terdengar istimewa bagi siapa pun di kelas.

Bagi Julian, kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar.

Bukan dari guru itu.

Dari sebuah tulisan.

Ia merasakan dingin menjalar di tengkuknya.

Saat bel pulang berbunyi, Erlina sudah berdiri di dekat pintu kelas. Ia memegang tas di satu tangan dan ponsel di tangan lain. Wajahnya tampak terburu-buru.

"Kamu jadi langsung ke magang?" tanyanya.

Julian memasukkan buku ke tas dengan gerakan lebih cepat dari biasanya. "Iya. Kamu mau ke mana?"

Erlina memandangnya sebentar.

"Ketemu seseorang."

"Siapa?"

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Erlina mengangkat alis. "Teman."

"Teman siapa?"

"Julian." Nada suaranya masih tenang, tetapi matanya berubah. "Kenapa?"

Julian menarik napas.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Untuk bertanya, bukan menuduh. Untuk percaya, bukan mengarang jawaban sendiri.

Tapi cara Erlina menggenggam ponselnya, cara ia menghindari tatapan Julian, cara ia mengatakan teman tanpa nama—semuanya terasa seperti potongan masa depan yang mendadak hidup di hadapannya.

"Aku cuma nanya," jawab Julian.

"Dan aku sudah jawab."

"Kalau memang cuma teman, kenapa nggak bilang namanya?"

Erlina terdiam.

Di lorong kelas, teman-teman mereka mulai berjalan pulang. Suara langkah kaki dan obrolan yang bersahut-sahutan membuat percakapan mereka terasa makin sempit.

"Karena itu urusan aku," kata Erlina akhirnya.

Julian menahan rahangnya.

Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya khawatir. Bahwa ia tidak bermaksud mengatur. Bahwa ia sudah tahu apa yang mungkin terjadi jika ia membiarkan hari ini berjalan seperti dulu.

Tetapi tidak satu pun alasan itu terdengar benar.

"Aku bisa antar," katanya.

Erlina tertawa pendek tanpa humor. "Kamu nggak perlu."

"Aku nggak keberatan."

"Aku keberatan."

Julian menatapnya.

"Aku cuma mau pergi sebentar sendiri," lanjut Erlina. "Aku nggak perlu izin buat ketemu orang, kan?"

"Bukan gitu maksudku."

"Terus apa?"

Julian tidak bisa menjawab.

Karena jawaban jujurnya terdengar terlalu gila: Karena aku pernah kehilangan kamu gara-gara sore seperti ini. Karena aku melihat sesuatu yang belum terjadi, tapi aku takut itu akan terjadi lagi. Karena aku tidak tahu apakah aku sedang memperbaiki hidupku atau sedang mengulang kesalahan yang sama dengan cara lebih halus.

Erlina menarik napas pelan.

"Kamu tahu apa yang bikin aku bingung?" katanya.

Julian diam.

"Kamu berubah. Itu kelihatan." Erlina menunduk sesaat, lalu kembali menatapnya. "Kamu sekarang lebih perhatian. Lebih sering dengerin. Lebih sering bilang maaf."

Julian merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

"Tapi kadang," lanjut Erlina, "aku ngerasa kamu bukan percaya sama aku. Kamu cuma pengin tahu semuanya supaya nggak ada yang di luar kendali kamu."

Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang sejak tadi ingin ia sembunyikan.

"Aku percaya sama kamu," kata Julian.

Erlina mengangguk kecil. "Kalau begitu, jangan paksa aku membuktikannya."

Ia melangkah melewati Julian.

"Lin," panggil Julian.

Erlina berhenti, tetapi tidak menoleh.

Julian membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia ingin meminta maaf.

Namun ia sadar permintaan maaf yang diucapkan hanya untuk menenangkan ketakutannya sendiri bukanlah permintaan maaf. Itu hanya cara lain untuk membuat Erlina tetap tinggal.

"Aku harap kamu hati-hati," katanya akhirnya.

Erlina menoleh sedikit. Ekspresinya melunak, tetapi tidak sepenuhnya.

"Aku selalu hati-hati, Julian," jawabnya. "Yang aku takutkan justru kamu."

Lalu ia pergi.

Julian tiba di kantor magang dua puluh menit lebih awal.

Nadine sudah ada di meja kerjanya, sedang membaca beberapa draf artikel. Begitu melihat Julian, ia melirik jam di dinding.

"Cepat juga hari ini."

"Aku nggak ada kegiatan," jawab Julian.

Nadine mengangguk, lalu menyerahkan daftar topik. "Pilih satu. Hari ini nggak banyak pekerjaan berat, tapi aku mau lihat kamu bisa cari sudut tulisan sendiri atau nggak."

Julian menerima kertas itu.

Ada beberapa topik sederhana: kegiatan sekolah, festival makanan, wawancara komunitas baca, dan ulasan toko buku independen yang baru dibuka di daerah tersebut.

Matanya berhenti pada pilihan terakhir.

Toko Buku Aksara Lama — Jalan Melati.

Jalan Melati.

Julian membaca alamatnya sekali lagi.

Darahnya terasa turun dari wajah.

Dalam ingatan yang selama ini ia coba ubah, toko buku itu adalah tempat ia melihat Erlina bersama laki-laki lain. Bukan di depan sekolah. Bukan di kafe. Tepat di seberang toko buku kecil dengan papan nama pudar dan rak-rak yang terlalu sempit.

Tempat yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tempat yang kemudian membelah hidupnya menjadi dua.

"Kamu mau ambil yang mana?" tanya Nadine.

Julian masih menatap daftar itu.

"Aksara Lama," jawabnya pelan.

Nadine tersenyum. "Bagus. Kamu bisa ke sana sore ini. Ambil foto suasana, ngobrol singkat sama pemiliknya, terus bikin tulisan ringan. Nggak usah terlalu formal."

Julian mengangguk.

Ia seharusnya merasa lega. Ini hanya tugas. Kebetulan yang tidak perlu dibesar-besarkan.

Tapi jauh di dalam dirinya, ada suara yang berbisik bahwa waktu sedang membawanya ke tempat yang sama.

Ke hari yang sama.

Ke kesalahan yang sama.

Toko Buku Aksara Lama lebih kecil daripada yang Julian ingat.

Atau mungkin kenangannya saja yang membuat tempat itu terasa lebih besar.

Papan nama kayu di depan toko sudah sedikit lapuk. Di balik jendela, buku-buku ditumpuk sampai hampir menutupi pandangan ke dalam. Ada pot tanaman kecil di dekat pintu dan lonceng mungil yang berbunyi saat Julian masuk.

Aroma kertas tua langsung menyambutnya.

Julian berdiri beberapa saat di antara rak-rak buku, membiarkan pikirannya ditarik ke masa lalu.

Ia pernah berdiri di sini.

Ia pernah melihat Erlina dari kejauhan.

Ia pernah melihat seorang laki-laki membukakan pintu untuknya.

Ia pernah memilih pergi sebelum mendengar apa pun.

"Mas cari buku tertentu?"

Suara seorang perempuan membuyarkan ingatannya.

Pemilik toko, seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul sederhana, berdiri di balik meja kasir.

"Oh, nggak, Bu," jawab Julian. "Saya dari media. Mau bikin tulisan tentang toko ini, kalau boleh."

"Media?" Perempuan itu tampak terkejut, lalu tersenyum. "Boleh. Jarang ada yang tertarik sama toko kecil begini."

Julian memperkenalkan diri, menjelaskan tugasnya, lalu mulai mencatat. Pemilik toko itu bernama Bu Ratih. Ia sudah menjalankan toko tersebut bersama suaminya hampir lima belas tahun. Anak-anaknya ingin ia pindah ke toko online, tetapi Bu Ratih masih percaya ada orang-orang yang ingin memilih buku dengan tangan mereka sendiri.

"Kadang orang datang bukan karena mau beli," katanya sambil merapikan tumpukan novel. "Mereka cuma mau diam di antara buku-buku. Mungkin karena di sini nggak ada yang nanya kenapa mereka sedih."

Julian menulis kalimat itu di buku catatan.

Lonceng pintu berbunyi.

Tubuh Julian langsung menegang.

Ia menoleh.

Erlina masuk.

Ia tidak sendiri.

Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang lebih tua beberapa tahun. Kemejanya rapi, membawa tas selempang hitam, dan berbicara sesuatu pada Erlina hingga perempuan itu tersenyum kecil.

Semua suara di dalam toko mendadak seperti menjauh.

Julian tidak mendengar apa yang Bu Ratih katakan setelah itu. Ia tidak mendengar halaman buku yang dibalik, tidak mendengar kendaraan di luar, tidak mendengar lonceng pintu yang masih bergoyang pelan.

Ia hanya melihat Erlina.

Dan laki-laki itu.

Lalu, seperti refleks yang sudah ia kenal terlalu baik, pikirannya mulai menulis cerita sendiri.

Mereka memang janjian.

Dia sengaja tidak bilang siapa yang ditemui.

Dia tersenyum seperti itu karena—

Julian mengepalkan tangan.

Tidak.

Ia memejamkan mata sesaat.

Ia mengingat wajah Erlina di lorong sekolah.

Kalau begitu, jangan paksa aku membuktikannya.

Ia membuka mata lagi.

Erlina belum melihatnya.

Laki-laki itu sedang mengambil sebuah buku dari rak bagian belakang. Erlina berdiri di dekat meja kasir, mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah amplop cokelat kecil.

Dada Julian kembali menegang.

Ia ingin mendekat.

Ia ingin bertanya.

Ia ingin tahu.

Namun untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: kalau aku mendekat sekarang, apakah aku ingin mencari kebenaran? Atau hanya mencari sesuatu untuk membenarkan ketakutanku?

Julian mundur satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Ia keluar dari lorong rak buku, berjalan ke arah pintu, dan membiarkan lonceng kecil berbunyi saat ia pergi.

Di luar, sore mulai turun perlahan.

Julian berdiri di bawah kanopi toko, memandangi hujan tipis yang baru jatuh di aspal.

Tangannya masuk ke saku jaket, menyentuh buku catatan yang masih terbuka.

Di halaman kosong setelah wawancaranya dengan Bu Ratih, ada satu kalimat yang tidak ia ingat menulis.

Menjauh bukan selalu tanda bahwa seseorang telah belajar percaya. Kadang, itu hanya cara lain untuk lari sebelum kebenaran sempat menyakitinya.

Julian menatap tulisan itu sampai tetes hujan mulai membasahi ujung kertas.

Lalu ia menutup buku catatan tersebut.



Report Page