BAB 7
Senin pagi datang terlalu cepat.
Julian membuka mata sebelum alarm ponselnya berbunyi. Langit di luar jendela masih berwarna abu-abu muda, dan suara motor dari jalan depan rumah belum terlalu ramai. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Di meja belajarnya, laptop masih tertutup.
Di dalamnya ada dokumen berjudul KEMBALI.
Kesempatan kedua bukan hadiah untuk mengubah semua yang pernah terjadi. Ia adalah kesempatan untuk tidak lagi menjadi orang yang sama.
Sejak menemukan kalimat itu, Julian berusaha menjalani hari-harinya dengan lebih hati-hati. Ia belajar sebelum ulangan. Ia menepati janji kepada Erlina. Ia membantu mama di rumah. Ia menerima magang di media kecil itu.
Semua tampak berjalan baik.
Terlalu baik.
Dan Julian mulai takut bahwa satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan semuanya.
"Julian!" suara mama terdengar dari bawah. "Bangun! Kamu katanya mau berangkat lebih pagi."
Julian langsung bangkit.
"Iya, Ma!"
Ia mandi lebih cepat, mengenakan seragam, lalu memasukkan buku ke dalam tas. Sebelum turun, ia melirik jadwal yang semalam ia tulis di buku catatan.
06.30 — Berangkat sekolah
14.30 — Magang
18.00 — Pulang
19.00 — Makan bersama
20.00 — Belajar
22.00 — Menulis
Jadwal itu tampak rapi.
Terlalu rapi.
Namun Julian menyukainya. Dengan jadwal, ia bisa memastikan tidak ada hal penting yang terlewat. Tidak ada janji yang ia lupakan. Tidak ada waktu yang ia buang hanya karena malas atau menunggu suasana hati.
Ia tidak ingin menjadi Julian yang dulu lagi.
Di meja makan, papa sudah berangkat lebih dulu. Hanya ada catatan kecil di dekat tempat nasinya.
Papa berangkat pagi. Jangan lupa makan.
Jangan ngebut di jalan.
— Papa
Julian membaca tulisan itu pelan.
Kecil. Sederhana. Bahkan sedikit miring karena tulisan papa memang tidak pernah rapi.
Entah kenapa, Julian menyimpan catatan itu ke dalam dompet.
Mama keluar dari dapur membawa bekal.
"Kamu bawa makan siang. Jangan bilang nanti aja terus lupa dimakan."
"Iya, Ma."
"Magang sampai jam berapa?"
"Paling jam enam."
"Kalau hujan, kabarin. Mama nggak mau kamu pulang malam-malam sendirian."
Julian mengangguk. "Aku kabarin."
Mama memandangnya sesaat. "Kamu jangan terlalu dipaksain juga, ya."
"Aku kuat."
"Bukan itu maksud mama." Mama merapikan kerah seragamnya. "Kamu boleh punya banyak tujuan. Tapi kamu tetap harus istirahat."
Julian tersenyum kecil. "Iya."
Namun di dalam hati, ia tidak setuju.
Istirahat adalah sesuatu yang bisa ia lakukan nanti.
Sekarang ia harus mengejar waktu.
Pelajaran pertama adalah matematika.
Guru menjelaskan materi baru di papan tulis, dan Julian berusaha mencatat semuanya. Ia menjawab ketika ditunjuk. Ia tidak lagi membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana seperti dulu.
Tetapi sebelum jam pertama berakhir, ponselnya yang disimpan di dalam tas bergetar.
Satu kali.
Dua kali.
Julian mencoba mengabaikannya.
Saat bel istirahat berbunyi, ia segera membuka layar ponselnya.
Ada tiga pesan dari Nadine.
Nadine: Julian, hari ini bisa datang lebih awal?
Nadine: Ada artikel yang harus selesai sebelum sore.
Nadine: Kalau bisa langsung ke kantor setelah sekolah, ya.
Julian menatap jam.
Ia masih punya tugas kelompok yang harus dikerjakan setelah pelajaran selesai. Ia sudah berjanji kepada Erlina untuk membantu mencari bahan presentasi di perpustakaan. Ia juga perlu pulang sebelum makan malam karena mama sudah memasak.
Di buku catatannya, semua sudah tersusun.
Tetapi hidup tidak peduli pada jadwal yang rapi.
"Kenapa?" tanya Erlina yang baru datang membawa dua buku.
"Dari tempat magang."
"Kamu disuruh datang lebih awal?"
Julian mengangguk.
"Ya datang saja. Itu kerjaan kamu."
"Tapi kita ada tugas kelompok."
"Aku bisa kerjain dulu sama yang lain."
"Terus perpustakaan?"
"Kita bisa besok."
Julian memandang Erlina. "Tapi aku sudah janji."
Erlina mengangkat bahu. "Janji itu penting, tapi keadaan juga ada. Kamu nggak harus hadir di semua tempat sekaligus, Julian."
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Namun Julian justru merasa semakin gelisah.
Ia tidak ingin mengecewakan Nadine. Ia tidak ingin mengecewakan Erlina. Ia tidak ingin pulang terlambat dan membuat mama khawatir. Ia tidak ingin menjadi anak yang tidak bertanggung jawab di sekolah. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kerja yang dulu pernah ia tolak.
"Aku tetap bantu tugasnya," kata Julian.
"Jul, nggak apa-apa."
"Aku bisa. Kita kerjain sekarang."
Erlina memandangnya heran. "Sekarang? Waktunya cuma sebentar."
"Kita mulai aja."
"Terus kamu magang?"
"Aku berangkat setelah ini."
"Kamu nggak akan sempat makan, nggak akan sempat istirahat, dan kemungkinan kamu datang terlambat."
Julian mengencangkan rahangnya.
"Aku bilang aku bisa."
Suasana di antara mereka langsung berubah.
Erlina menutup buku yang dibawanya.
"Aku nggak bilang kamu nggak bisa."
"Terus?"
"Aku cuma bilang kamu nggak harus memaksakan diri."
Julian menatapnya, lalu menunduk. Ada dorongan untuk meminta maaf, tetapi pikirannya sudah terlalu penuh oleh waktu, tugas, jadwal, dan semua kemungkinan buruk yang sedang ia coba hindari.
"Aku ke kelas dulu," katanya.
Erlina tidak menahannya.
"Ya sudah," jawabnya pelan.
Julian menyelesaikan tugas kelompok dalam keadaan terburu-buru.
Ia meminta teman-temannya membagi bagian presentasi, lalu mengerjakan bagiannya tanpa banyak bicara. Ketika sekolah selesai, ia langsung mengendarai motor ke kantor media.
Hujan mulai turun di tengah perjalanan.
Jalanan macet. Seragamnya basah di bagian lengan. Ketika tiba di kantor, Nadine sudah berdiri di dekat meja resepsionis dengan wajah lelah.
"Maaf, Kak. Macet," kata Julian sambil melepas helm.
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu datang." Nadine menyerahkan beberapa lembar print-out. "Ada artikel tentang acara komunitas. Narasumbernya sudah kirim data, tapi tulisannya masih berantakan. Bisa kamu rapikan jadi artikel sebelum jam lima?"
Julian melihat jam.
Pukul 15.47.
"Bisa," jawabnya.
Ia duduk di depan komputer.
Tiga puluh menit pertama, semuanya berjalan lancar. Julian menyusun lead, memilih kutipan, memperbaiki struktur, lalu memasukkan subjudul. Ia bahkan mulai menikmati ritmenya.
Sampai notifikasi dari grup kelas muncul di ponselnya.
Dimas: Julian, slide bagian kamu belum masuk.
Dimas: Kita presentasi besok, jangan lupa.
Dimas: Lin sudah bantuin bikin poin-poinnya.
Julian menatap nama Erlina yang disebut singkat sebagai Lin.
Ada pesan lain masuk.
Erlina: Aku sudah kirim bahan buat bagian kamu ke email.
Erlina: Kamu tinggal susun. Jangan lupa makan.
Julian tidak membalas.
Bukan karena ia tidak mau.
Ia hanya merasa kalau ia berhenti satu menit saja, semuanya akan berantakan.
Artikel belum selesai. Tugas belum beres. Ia belum memberi kabar ke mama. Ia belum makan. Ia juga belum menulis, padahal malam ini seharusnya ia melanjutkan catatan tentang dokumen KEMBALI.
Jam di pojok layar bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Pukul 17.26.
Pukul 18.03.
Pukul 18.41.
Saat artikel akhirnya selesai dan Nadine menyatakan tulisan itu bisa dipublikasikan, Julian baru menyadari bahwa ponselnya sudah penuh notifikasi.
Tiga panggilan tak terjawab dari mama.
Satu pesan dari Erlina.
Erlina: Kamu pulang jam berapa?
Julian buru-buru menelepon mama.
"Ma, maaf. Aku baru selesai. Ini mau pulang."
Suara mama terdengar lega, tetapi juga lelah.
"Ya sudah. Hati-hati. Mama sama papa makan duluan, ya."
Julian diam.
Dalam hidup yang lama, ia sering pulang ketika makanan di meja sudah dingin. Ia ingat dirinya hanya memanaskan nasi, makan sendirian, lalu masuk kamar.
Ia berjanji tidak akan mengulang itu.
"Jangan makan dulu, Ma," katanya cepat. "Aku pulang sekarang."
"Julian, nggak usah dipaksa. Kamu pasti capek."
"Nggak apa-apa. Tunggu sebentar aja."
Mama tidak langsung menjawab.
"Ya sudah," katanya akhirnya. "Hati-hati di jalan."
Hujan sudah berhenti ketika Julian keluar dari kantor, tetapi jalanan masih licin.
Ia mengendarai motor lebih cepat dari seharusnya.
Di lampu merah, ia membuka ponsel sebentar dan membalas Erlina.
Julian: Maaf, tadi sibuk banget. Aku belum sempat balas.
Julian: Makasih sudah bantu tugasnya.
Balasan Erlina datang beberapa menit kemudian.
Erlina: Nggak apa-apa.
Erlina: Tapi kamu jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Julian membaca pesan itu saat motornya berhenti di depan rumah.
Ia tidak langsung turun.
Kalimat Erlina terus berputar di kepalanya.
Jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Bukankah itu yang sedang ia lakukan?
Ia mencoba menjadi anak yang baik, murid yang baik, calon pekerja yang baik, pacar yang baik, penulis yang baik—semuanya dalam waktu yang sama. Ia ingin memperbaiki seluruh hidupnya sekaligus, seakan satu hari yang sempurna bisa membayar semua hari yang pernah ia sia-siakan.
Ia membuka pintu rumah.
Mama dan papa masih duduk di meja makan.
Makanan di depan mereka sudah mulai dingin.
"Kamu pulang," kata mama.
"Iya," jawab Julian pelan.
Papa menatap jam dinding, lalu menatap Julian. "Lain kali kalau memang nggak sempat, bilang. Jangan ngebut cuma karena takut kami nunggu."
Julian meletakkan tasnya.
"Aku cuma nggak mau kehilangan waktu lagi."
Papa mengernyit. "Maksud kamu?"
Julian ingin menjawab, tetapi tidak ada kalimat yang terasa cukup aman.
Ia hanya menarik kursi dan duduk.
Mama mengambilkan nasi untuknya. Papa mendorong mangkuk sayur lebih dekat ke arah Julian. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang menyalahkannya.
Justru itu yang membuat tenggorokannya terasa berat.
Malam itu, Julian membuka laptop setelah semua orang tidur.
Ia terlalu lelah untuk menulis.
Namun ketika folder dokumen terbuka, file KEMBALI sudah ada di layar.
Julian tidak ingat membukanya.
Di bawah kalimat yang pernah ia temukan sebelumnya, ada paragraf baru.
Ada orang-orang yang kehilangan hidupnya karena terlalu sering menunda.
Ada juga orang-orang yang kehilangan hidupnya karena berusaha hadir di setiap tempat, sampai tidak pernah benar-benar hadir di mana pun.
Julian membaca paragraf itu pelan.
Di bawahnya, ada satu kalimat terakhir.
Waktu tidak pernah meminta kamu menjadi sempurna. Waktu hanya meminta kamu memilih apa yang benar-benar ingin kamu jalani.
Untuk beberapa menit, Julian hanya duduk diam.
Lalu ia membuka buku catatan jadwalnya.
Ia mencoret satu baris.
22.00 — Menulis
Di bawahnya, ia menulis ulang:
22.00 — Tidur.