BAB 6
Bab 6 — Orang yang Menunggu
Ruang tunggu kantor media itu lebih kecil daripada yang Julian bayangkan.
Ada tiga kursi plastik di dekat dinding, sebuah dispenser yang berdengung pelan, dan meja resepsionis dengan tumpukan majalah lama. Di sudut ruangan, kipas angin berputar lambat, menggeser udara lembap yang terbawa dari hujan di luar.
Julian duduk di kursi paling ujung.
Tasnya berada di pangkuan. Tangannya menggenggam map berisi dua cerpen yang ia cetak semalam. Kertas-kertas itu mulai kusut di bagian sudut karena sejak tadi terus ia rapikan, lalu ia rapikan lagi.
Seorang perempuan keluar dari ruangan di depan. Usianya mungkin tidak jauh di atas Julian. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya cepat.
"Julian Pradana?" tanyanya.
Julian berdiri. "Iya."
"Saya Nadine. Silakan masuk."
Julian mengangguk, lalu mengikuti perempuan itu.
Ruangan wawancaranya sederhana. Ada meja panjang, dua kursi, rak buku yang tidak penuh, dan papan tulis dengan daftar jadwal artikel. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas, secangkir kopi, serta laptop yang terbuka.
Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun duduk di belakang meja. Ia mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan digulung sampai siku.
"Julian?" tanyanya.
"Iya, Kak."
"Saya Armand. Editor di sini." Ia menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Julian duduk.
Armand membuka map berisi cerpen Julian. Ia membacanya beberapa detik sebelum mengangkat wajah.
"Kamu suka nulis fiksi?"
"Iya."
"Kenapa mau magang di media?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun Julian merasa seluruh hidupnya sedang menunggu jawaban.
Dalam kehidupan yang ia ingat, ia tidak pernah datang ke ruangan ini. Ia tidak pernah tahu wajah Armand, tidak pernah melihat kantor kecil ini, dan tidak pernah mendengar pertanyaan tersebut.
Ia hanya menolak.
Sekarang, untuk pertama kalinya, ia benar-benar harus memilih alasan.
"Aku mau belajar nulis dengan lebih disiplin," jawab Julian akhirnya. "Aku suka nulis cerita. Tapi aku sering cuma nunggu mood. Aku pengin tahu gimana caranya menyelesaikan tulisan, gimana caranya menulis buat pembaca, dan... gimana caranya nggak terus-terusan takut kalau hasilnya jelek."
Armand memperhatikannya cukup lama.
"Itu jawaban yang jujur," katanya. "Tapi kamu tahu kerja di media nggak selalu romantis, kan?"
Julian mengangguk.
"Kamu bisa dapat topik yang nggak kamu suka. Kamu bisa diminta revisi berkali-kali. Kamu bisa nulis saat lagi nggak punya ide. Kadang hasil tulisan kamu bahkan cuma dibaca sebentar sebelum orang pindah ke berita lain."
"Aku tahu."
"Dan kamu tetap mau?"
Julian menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah.
"Iya. Karena aku pengin belajar tetap nulis meski nggak semuanya sempurna."
Armand tersenyum kecil.
"Baik," katanya. "Coba tulis seratus lima puluh kata. Topiknya bebas. Waktu kamu tiga puluh menit."
Julian menerima laptop yang disodorkan kepadanya.
Layar kosong terbuka.
Kursor berkedip.
Untuk sesaat, ia kembali teringat pada laptop di kamarnya. Pada dokumen tanpa nama. Pada pesan-pesan yang seolah ditulis oleh dirinya dari masa depan.
Jangan ulangi dengan cara yang sama.
Julian menarik napas.
Lalu ia mulai mengetik.
Ia tidak menulis tentang perjalanan waktu.
Ia menulis tentang hujan.
Tentang seseorang yang berdiri di bawah atap ruko sambil menunggu hujan reda, lalu menyadari bahwa ada orang-orang yang selama ini menunggu dirinya pulang.
Ia menulis cepat, tanpa menghapus terlalu banyak kata.
Saat waktu habis, Armand mengambil laptop tersebut dan membaca hasilnya.
Ruangan itu menjadi sunyi.
Nadine, yang sejak tadi duduk di sisi meja, ikut membaca dari layar lain. Julian berusaha menebak ekspresi mereka, tetapi tidak berhasil.
"Ini bukan artikel," kata Armand akhirnya.
Jantung Julian jatuh.
"Tapi," lanjutnya, "ini tulisan yang punya rasa."
Julian mengangkat wajah.
"Kalau kamu masuk ke media, kamu perlu belajar struktur, ketepatan, dan disiplin. Tapi rasa itu nggak bisa diajarin semudah itu." Armand menutup laptop. "Kami bisa coba terima kamu magang dua hari seminggu. Setelah sekolah. Kalau kamu sanggup bagi waktu."
Julian diam beberapa detik.
Ia teringat pesan misterius di ponselnya. Ia teringat papa yang menunggu di luar. Ia teringat mama yang menyetrika kemejanya. Ia teringat Erlina yang berkata agar ia tidak menolak sebelum benar-benar mengetahui kesempatannya.
"Aku sanggup," katanya.
Armand mengangguk. "Jangan buru-buru jawab. Pikirkan dulu."
Julian tersenyum tipis.
"Aku sudah terlalu sering pikirin semuanya sampai nggak ngapa-ngapain. Kali ini aku mau coba jalan dulu."
Armand memandangnya sejenak, lalu mengulurkan tangan.
"Selamat datang, Julian."
Julian menjabat tangan itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan sedang mengejar masa lalu.
Ia sedang membangun sesuatu yang belum pernah ada.
Saat Julian keluar dari kantor, hujan sudah berhenti.
Langit masih mendung, tetapi cahaya sore mulai muncul di balik awan. Jalanan basah memantulkan warna lampu toko dan kendaraan yang lewat.
Papa masih duduk di atas motor di depan ruko.
Ia tidak memainkan ponsel. Tidak minum kopi. Tidak terlihat kesal karena harus menunggu.
Ia hanya menunggu.
Begitu melihat Julian keluar, papa berdiri.
"Gimana?" tanyanya.
Julian menahan senyum yang sejak tadi ingin muncul.
"Aku diterima."
Wajah papa berubah. Tidak berlebihan. Tidak sampai memeluk atau bersorak. Namun mata papa terlihat sedikit lebih terang.
"Bagus," katanya.
Julian mengangguk.
"Papa nggak marah aku ambil?"
"Kenapa harus marah?"
"Takut sekolahku terganggu."
Papa mengambil helm cadangan dan menyerahkannya kepada Julian. "Papa cuma akan marah kalau kamu ambil sesuatu, lalu kamu tinggalin di tengah jalan."
Julian menerima helm itu.
"Aku nggak akan tinggalin."
Papa menatapnya sebentar. "Jangan janji ke papa. Buktiin ke diri sendiri."
Kalimat itu membuat Julian terdiam.
Di dalam hidup yang lama, Julian sering menuntut kepercayaan dari orang lain tanpa pernah memberi bukti. Ia ingin papa percaya bahwa ia punya masa depan, ingin mama percaya bahwa ia bisa bertanggung jawab, ingin Erlina percaya bahwa ia akan berubah.
Namun ia selalu berhenti ketika semuanya mulai sulit.
Kali ini, ia tidak ingin hanya menjadi anak yang pandai mengucapkan janji.
Di perjalanan pulang, Julian meminta papa berhenti di sebuah toko kecil dekat rumah.
"Kenapa?" tanya papa.
"Aku mau beli sesuatu."
Julian masuk ke toko dan keluar beberapa menit kemudian dengan dua bungkus roti serta satu kotak teh hangat.
"Buat siapa?" tanya papa sambil menyalakan motor.
"Buat mama. Sama buat kita."
Papa tidak menjawab, tetapi senyum kecil muncul di wajahnya.
Mereka pulang dalam diam yang tidak terasa berat.
Sesampainya di rumah, mama sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Begitu melihat Julian membawa kantong plastik, ia langsung berdiri.
"Gimana?" tanyanya.
"Aku diterima," jawab Julian.
Mama menutup mulutnya dengan tangan. "Alhamdulillah."
Julian menyerahkan roti dan teh hangat itu kepadanya.
"Ini buat mama."
"Kamu beli buat mama?"
"Iya."
Mama menerima kantong itu dengan wajah yang seolah tidak percaya. "Tumben sekali anak mama ini."
Julian tertawa kecil.
Lalu, tanpa memikirkan apakah itu akan terasa aneh atau tidak, ia memeluk mama.
Tubuh mama sempat kaku. Namun beberapa detik kemudian, tangannya membalas memeluk punggung Julian.
"Terima kasih sudah percaya sama aku," bisik Julian.
Mama mengusap punggungnya pelan. "Mama dari dulu percaya."
Kalimat itu membuat mata Julian panas.
Ia memejamkan mata sebentar.
Selama ini, ia selalu merasa harus membuktikan sesuatu agar pantas dicintai. Padahal, mungkin yang perlu ia lakukan bukan mencari cinta itu.
Melainkan belajar menerimanya.
Malamnya, Julian duduk di kamar sambil menyusun jadwal baru.
Sekolah. Magang. Waktu menulis. Waktu makan malam bersama papa dan mama.
Ia tidak ingin kembali menjadi Julian yang selalu merasa punya banyak waktu, lalu membiarkan hari-harinya habis tanpa arah.
Saat membuka laptop, sebuah dokumen lama muncul di layar.
Judulnya masih sama.
KEMBALI
Julian mengernyit. Ia tidak ingat membuat dokumen itu.
Di bawah judul tersebut, ada satu kalimat yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
Kesempatan kedua bukan hadiah untuk mengubah semua yang pernah terjadi. Ia adalah kesempatan untuk tidak lagi menjadi orang yang sama.
Julian memandangi kalimat itu cukup lama.
Kalimat tersebut bukan muncul dengan sendirinya di depan matanya. Mungkin ia sudah pernah menulisnya lalu lupa. Mungkin juga ia sedang membaca jejak dari versi dirinya yang lain.
Apa pun jawabannya, Julian tidak langsung mencari penjelasan.
Ia membuka dokumen baru, lalu menulis jadwal untuk besok.
Setelah selesai, Julian mematikan laptop dan keluar kamar.
Listrik di rumah sedang padam. Mama mengeluh karena kipas angin tidak menyala. Papa membongkar lemari untuk mencari lilin. Julian hampir menjatuhkan gelas karena tidak melihat meja.
Di tengah cahaya senter yang kecil, rumah itu terasa ramai.
Rumah itu terasa hidup.
Dan untuk pertama kalinya, Julian tidak ingin berada di tempat lain.