BAB 5
Sejak membaca pesan itu, Julian tidak bisa berhenti memandangi amplop putih di atas meja belajarnya.
Undangan wawancara itu terletak di antara buku matematika, buku catatan, dan beberapa lembar cerpen yang belum selesai. Seharusnya ia merasa senang. Dalam hidup yang ia ingat, kesempatan seperti ini datang terlambat—ketika ia sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang lebih besar, lebih sempurna, lebih pantas untuk seseorang seperti dirinya.
Tapi malam ini, amplop itu justru terasa seperti pertanyaan.
Bukan tentang pekerjaan.
Tentang dirinya.
Menerima semua kesempatan bukan berarti kamu sedang memperbaiki hidupmu.
Julian membaca ulang kalimat itu dalam pikirannya.
Lalu ia membuka laptop.
Dokumen tanpa nama itu tidak muncul lagi. Tidak ada file baru. Tidak ada huruf yang mengetik sendiri. Hanya layar kosong dan pantulan wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya.
Ia membuka folder cerita pendeknya.
Di antara file-file lama, ada cerita yang belum selesai. Judulnya Rumah yang Tidak Pernah Pergi. Cerita tentang seorang anak laki-laki yang ingin pindah karena merasa rumahnya terlalu sempit, terlalu bising, terlalu penuh aturan. Namun setelah ia pergi, ia menyadari bahwa rumah itu bukan sekadar bangunan.
Rumah adalah suara sendok yang membentur piring saat makan malam.
Rumah adalah sandal papa yang diletakkan tidak rapi di depan pintu.
Rumah adalah mama yang berteriak dari dapur karena handuk basah diletakkan sembarangan.
Julian membaca cerita itu dengan dada yang perlahan mengencang.
Ia tidak ingat pernah menyelesaikannya. Bahkan, ia tidak ingat pernah menulis paragraf pertama.
Ia ingin pergi karena mengira hidup akan lebih luas tanpa rumah itu.
Ia baru mengerti bahwa beberapa tempat tidak menahanmu. Mereka hanya menunggu kamu pulang.
Julian menutup laptop.
Di luar kamar, suara televisi terdengar pelan. Mama dan papa masih terjaga.
Ia berdiri, lalu membuka pintu.
Papa duduk di ruang tamu dengan laptop kantor di pangkuannya. Kacamata bertengger rendah di hidungnya. Di meja ada secangkir kopi yang sepertinya sudah dingin sejak tadi.
Mama duduk di sofa, melipat pakaian sambil sesekali menonton sinetron yang volumenya kecil.
Julian berdiri beberapa detik di ambang pintu.
Dulu, pemandangan seperti ini tidak pernah ia anggap penting. Ia melewatinya hampir setiap malam tanpa berhenti. Kadang ia menganggapnya membosankan. Kadang ia merasa terganggu karena papa menyuruhnya belajar atau mama menyuruhnya segera tidur.
Sekarang, ia takut suatu hari nanti ruang tamu itu akan terlalu sunyi.
"Kenapa berdiri di situ?" tanya mama. "Masuk."
Julian duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa dekat kaki mama.
Mama meliriknya. "Nggak biasanya."
"Aku mau ngobrol."
Papa menoleh dari laptop. "Ada masalah?"
"Nggak. Aku cuma..." Julian menarik napas. "Aku lagi mikirin tawaran magang itu."
Mama menghentikan lipatan pakaiannya. "Kamu ragu?"
"Sedikit."
"Karena apa?" tanya papa.
Julian menatap amplop yang dibawanya turun dari kamar. "Aku takut salah pilih."
Papa diam sejenak. "Takut salah pilih itu wajar."
"Tapi kalau aku ambil, nanti sekolahku gimana? Waktuku buat nulis gimana? Kalau aku nggak ambil, aku takut nyesel. Aku takut nanti nggak ada kesempatan lain."
Papa menutup laptopnya perlahan.
"Julian," katanya, "setiap pilihan pasti ada yang kamu lepas."
Julian mengangkat wajah.
"Kalau kamu tunggu pilihan yang nggak bikin kamu kehilangan apa-apa, kamu nggak akan jalan ke mana-mana." Papa berhenti sejenak. "Tapi jangan juga ambil sesuatu cuma karena takut tertinggal. Kamu harus tahu kenapa kamu mau ambil itu."
Julian menunduk.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia merasa seperti sedang mendengar jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.
"Papa dulu pernah nyesel?" tanyanya.
Papa tersenyum kecil. "Sering."
"Terus papa ngapain?"
"Ya jalan terus." Papa mengangkat bahu. "Penyesalan itu nggak selalu bisa dibenerin. Tapi kadang bisa jadi pengingat supaya kita nggak jadi orang yang sama."
Mama mengusap pelan rambut Julian.
"Kalau kamu mau ikut wawancara, ikut saja," kata mama. "Bukan berarti kamu harus berhenti sekolah atau berhenti nulis. Kamu cari tahu dulu. Jangan menolak sesuatu hanya karena kamu takut capek."
Julian mengangguk pelan.
Ia ingin menyimpan momen itu dalam kepalanya. Suara mama. Wajah papa. Hangat tangan mama di rambutnya.
Namun kali ini, ia tidak ingin sekadar menyimpannya.
Ia ingin hadir di dalamnya.
Keesokan harinya, Julian menemui Erlina di perpustakaan sekolah.
Erlina duduk di meja dekat jendela, dikelilingi buku-buku pelajaran. Rambutnya dijepit ke belakang, dan ada pulpen terselip di antara halaman buku catatannya.
"Kamu nyari aku?" tanyanya tanpa mengangkat wajah.
"Iya."
"Tumben. Biasanya kamu nyari aku kalau lagi butuh jawaban tugas."
Julian menarik kursi di depannya. "Aku memang butuh jawaban."
Erlina akhirnya menatapnya. "Jawaban apa?"
Julian mengeluarkan salinan surat wawancara dari tasnya. "Aku dapat tawaran magang."
"Wah." Wajah Erlina langsung berubah lebih cerah. "Di mana?"
"Media online. Kenalan papa."
"Terus? Kamu mau ambil?"
"Aku belum tahu."
Erlina membaca surat itu. "Wawancaranya Sabtu. Kenapa bingung? Datang aja dulu."
"Itu yang papa bilang."
"Ya berarti papa kamu pintar."
Julian tersenyum tipis.
Erlina melanjutkan membaca, lalu mengembalikan surat itu. "Kamu takut nggak bisa nulis lagi?"
"Mungkin."
"Kamu suka nulis, kan?"
"Iya."
"Terus kenapa kerja di tempat yang isinya nulis malah kamu takutkan?"
Julian tidak langsung menjawab.
Karena di hidup sebelumnya, ia melihat pekerjaan itu sebagai tanda bahwa ia gagal menjadi penulis yang ia inginkan. Ia takut tulisannya habis untuk target artikel, kata kunci, dan permintaan orang lain. Ia takut hidup biasa-biasa saja.
Namun ketakutan itu tidak pernah ia katakan seperti itu.
"Aku takut nanti hidupku jadi bukan milik aku," katanya.
Erlina memperhatikannya beberapa detik.
"Julian, hidup kamu bukan cuma milik kamu."
Ia mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Kamu punya mimpi, iya. Tapi kamu juga punya papa, mama, teman, sekolah, dan orang-orang yang peduli sama kamu." Erlina memegang pulpen di tangannya. "Bukan berarti kamu harus hidup buat nyenengin semua orang. Tapi jangan sampai kamu terlalu sibuk cari hidup yang besar sampai lupa menjalani hidup yang ada di depan kamu."
Julian menatapnya.
Erlina kembali membuka bukunya, seolah kalimat itu tidak sebesar yang Julian rasakan.
"Datang wawancaranya," lanjut Erlina. "Kalau kamu nggak suka, kamu bisa nolak setelah tahu seperti apa tempatnya. Tapi jangan nolak cuma karena kamu sudah membayangkan kegagalannya duluan."
Julian tersenyum kecil. "Kamu pintar."
"Kamu baru sadar?"
"Baru."
"Telat."
"Masih bisa diperbaiki."
Erlina mendengus pelan, tetapi bibirnya membentuk senyum.
Sabtu tiba bersama hujan tipis sejak pagi.
Julian berdiri di depan cermin dengan kemeja putih yang disetrika mama. Rambutnya sudah dirapikan, meski beberapa bagian tetap sulit diatur. Ia memeriksa isi tasnya tiga kali: surat undangan, buku catatan, dua cerpen yang sudah dicetak, dan pulpen.
Mama berdiri di pintu kamar.
"Gugup?"
"Banget."
"Itu bagus."
"Kenapa gugup dibilang bagus?"
"Berarti kamu peduli."
Julian tersenyum.
Di ruang tamu, papa sudah menunggu dengan kunci motor di tangan.
"Papa antar," katanya.
"Aku bisa naik motor sendiri."
"Papa tahu. Tapi hari ini papa mau antar."
Julian terdiam.
Di kehidupan sebelumnya, ia akan menolak. Ia akan merasa malu diantar. Merasa sudah cukup dewasa untuk pergi sendiri. Menganggap perhatian papa sebagai sesuatu yang membatasi.
Hari ini, ia mengambil helm cadangan yang disodorkan papa.
"Ya sudah," jawabnya. "Ayo, Pa."
Perjalanan menuju kantor media itu tidak terlalu jauh. Hujan membuat jalanan lebih padat, dan papa beberapa kali memperlambat motor ketika melewati genangan air.
Mereka tidak banyak bicara.
Namun Julian tidak merasa canggung.
Ia memandangi punggung papa di depannya, mengingat bahwa suatu hari nanti, punggung itu akan semakin membungkuk. Tangan yang kini kuat memegang setang motor akan mulai gemetar saat memegang gelas.
Julian menahan rasa sesak di dadanya.
"Pa," katanya di tengah perjalanan.
"Hm?"
"Makasih udah nganter."
Papa tidak menoleh, tetapi Julian melihat sudut bahunya bergerak kecil.
"Sama-sama."
Kantor media itu berada di lantai dua sebuah ruko. Tidak megah. Papan namanya sedikit pudar. Di bawahnya ada warung kopi kecil dan tempat fotokopi.
Julian berdiri di depan pintu masuk, memegang tasnya erat.
Papa menepuk pundaknya.
"Masuk. Jangan terlalu banyak mikir."
Julian mengangguk.
Saat ia hendak berjalan ke pintu, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Jangan menerima kesempatan ini hanya karena kamu takut mengulang penyesalan.
Julian berhenti.
Hujan masih turun tipis di belakangnya.
Ia menatap pesan itu lama.
Lalu ia menghapusnya.
Bukan karena ia tidak takut.
Bukan karena ia yakin pilihannya benar.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia ingin masuk ke sebuah pintu tanpa membiarkan masa depannya menentukan seluruh langkahnya.
Julian menarik napas, membuka pintu kantor media itu, lalu masuk.