BAB 4

BAB 4



Julian tidak tidur malam itu.

Laptopnya masih menyala di atas meja. Cahaya putih dari layar memantul di dinding kamar yang penuh bekas stiker dan poster lama. Dokumen berjudul Mesin yang Membawa Manusia Pulang tetap terbuka, dengan satu paragraf yang tidak ia ingat pernah tulis.

Mesin waktu tidak selalu dibuat dari besi, kabel, dan angka. Kadang, ia dibuat dari kata-kata yang ditulis seseorang ketika ia terlalu takut menjalani hidupnya sendiri.

Julian sudah membaca kalimat itu entah berapa kali.

Ia memeriksa folder lain.

Ada cerita pendek tentang seorang anak laki-laki yang menemukan jam tangan milik ayahnya dan bisa kembali ke hari sebelum orang tuanya bertengkar. Ada draft cerita tentang perempuan yang menunggu kekasihnya di halte setiap sore, tetapi laki-laki itu selalu datang terlambat karena merasa ia punya waktu tak terbatas.

Lalu ada satu folder tanpa nama.

Julian membuka folder itu.

Di dalamnya hanya ada satu file teks.

JANGAN ULANGI DENGAN CARA YANG SAMA.

Napas Julian tertahan.

Ia mengklik file itu.

Layar laptop berkedip sekali. Dokumen kosong terbuka. Tidak ada tulisan, tidak ada tanggal, tidak ada nama penulis.

Hanya sebuah kalimat di tengah halaman.

Kalau kamu menemukan ini, berarti kamu sudah kembali lagi.

Julian menutup laptop begitu cepat sampai layar bergetar.

Ia berdiri dari kursi, lalu mundur beberapa langkah. Dadanya sesak. Ia ingin memanggil mama. Ingin turun ke kamar papa. Ingin mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Namun apa yang harus ia katakan?

Pa, Ma, sepertinya aku berasal dari masa depan. Dan mungkin aku sudah berkali-kali kembali ke masa lalu lewat tulisan yang bahkan belum pernah kutulis.

Julian mengusap wajahnya.

"Tenang," gumamnya. "Ini pasti cuma mimpi."

Tetapi jam dinding menunjukkan pukul 03.14.

Dan ia masih terjaga.

Pagi datang terlalu cepat.

Julian turun dengan mata sembap. Mama sedang menyiapkan sarapan, sementara papa berdiri di dekat jendela ruang tamu, mengenakan kemeja kerja dan merapikan jam tangannya.

"Begadang lagi?" tanya mama.

Julian menarik kursi. "Nggak bisa tidur."

"Karena kebanyakan lihat layar," kata papa tanpa menoleh. "Sudah dibilangin, jangan main laptop sampai malam."

Biasanya Julian akan menjawab dengan kesal. Mungkin berkata bahwa papa tidak mengerti, lalu masuk kamar tanpa menyentuh sarapan.

Tapi kali ini ia hanya mengangguk.

"Iya, Pa."

Papa menoleh. "Kamu benar-benar nggak apa-apa?"

Julian ingin berkata tidak.

Ia ingin berkata bahwa ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan masa lalu: menyadari bahwa ia mungkin sudah mengulanginya berkali-kali dan tetap gagal.

Tapi ia tidak ingin membuat papa dan mama khawatir.

"Aku cuma kecapekan," jawabnya.

Mama meletakkan segelas teh hangat di depannya. "Minum dulu. Nanti pulang sekolah jangan langsung pergi ke mana-mana."

Julian menatap tangan mama yang masih berada di dekat gelasnya.

"Ma," panggilnya.

"Hm?"

"Terima kasih."

Mama tersenyum kecil. "Untuk apa?"

"Untuk semuanya."

Mama mengernyit, lalu tertawa pelan. "Kamu memang aneh akhir-akhir ini."

Julian ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang menekan di dadanya.

Kalau mama tahu apa yang akan terjadi nanti, apakah ia masih bisa tersenyum seperti ini?

Di sekolah, Julian berusaha menjalani hari seperti biasa.

Ia duduk di kelas, mencatat penjelasan guru, menjawab pertanyaan, dan bahkan ikut berdiskusi ketika teman-temannya membahas tugas kelompok. Namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana.

Ia terus teringat dokumen itu.

JANGAN ULANGI DENGAN CARA YANG SAMA.

Kalimat tersebut bukan sekadar peringatan. Itu terdengar seperti pesan dari seseorang yang mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.

Pesan dari dirinya sendiri.

Saat jam istirahat, Erlina datang ke mejanya sambil membawa dua gelas es teh.

"Satu buat kamu," katanya, meletakkan salah satunya di meja Julian.

"Terima kasih."

Erlina duduk di kursi kosong di depannya. "Kamu kelihatan nggak tidur."

"Aku memang nggak tidur."

"Kenapa?"

Julian memperhatikan wajah Erlina. Ia ingin berkata jujur. Tetapi setiap kali ia hampir mengatakannya, ia teringat ekspresi orang-orang yang mungkin akan mengira dirinya gila.

"Aku nemuin tulisan lama," katanya akhirnya.

"Terus?"

"Aku nggak ingat pernah nulis itu."

Erlina mengangkat alis. "Kamu lupa sama tulisan sendiri? Emang kamu sudah setua itu?"

Julian tersenyum kecil. "Mungkin."

"Isinya apa?"

"Cerita tentang orang yang ingin kembali ke masa lalu."

Erlina menyandarkan punggung. "Kamu lagi suka banget sama cerita begitu, ya?"

"Aku cuma kepikiran..." Julian berhenti sebentar. "Kalau kamu bisa balik ke masa lalu, kamu mau ngubah apa?"

Erlina tidak langsung menjawab. Ia memutar sedotan di gelasnya.

"Mungkin aku mau lebih berani," katanya.

"Berani apa?"

"Berani bilang kalau aku sedih. Berani bilang kalau aku marah. Berani ninggalin orang yang bikin aku ngerasa sendirian." Ia menatap Julian. "Kenapa? Kamu mau balik ke masa lalu buat apa?"

Julian terdiam.

Untuk meminta maaf kepada orang tuanya. Untuk mengambil kesempatan kerja. Untuk tidak meninggalkan rumah. Untuk tidak memutuskanmu karena pikiranku sendiri.

Tetapi semua itu belum terjadi di masa ini.

"Aku nggak tahu," jawabnya. "Mungkin buat memperbaiki semuanya."

Erlina menggeleng pelan.

"Kalau kamu balik cuma buat memperbaiki semuanya, kamu pasti capek."

Julian menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena hidup nggak mungkin rapi terus," jawab Erlina. "Kalau ada yang rusak, ya diperbaiki. Tapi bukan berarti kita harus balik ke awal."

Bel berbunyi sebelum Julian sempat menjawab.

Erlina berdiri, mengambil tasnya, lalu berjalan pergi. Namun beberapa langkah kemudian, ia menoleh.

"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, Julian."

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada seharusnya.

Sore hari, ketika Julian baru sampai rumah, sebuah amplop putih sudah menunggunya di atas meja makan.

Namanya tertulis di bagian depan.

Untuk Julian Pradana.

Tangan Julian langsung dingin.

Ia mengenal amplop itu.

Dalam kehidupan yang ia ingat, amplop tersebut datang beberapa minggu setelah kelulusannya. Seorang kenalan papa menawarkan kesempatan magang di sebuah media kecil. Bukan pekerjaan impian, bukan gaji besar, bahkan bukan sesuatu yang saat itu ia anggap membanggakan.

Julian menolaknya.

Ia berkata ingin fokus menulis novel.

Ia berkata tidak mau menghabiskan waktu untuk menulis artikel orang lain.

Ia berkata ia bisa mencari kesempatan yang lebih baik.

Lalu bertahun-tahun berlalu, dan ia masih menunggu kesempatan yang lebih baik itu datang.

"Dari teman papa," kata papa yang baru keluar dari kamar. "Coba dibaca."

Julian mengangkat wajah. "Papa tahu isinya?"

"Kurang lebih. Anak teman papa kerja di media. Mereka lagi cari anak magang buat bantu tim penulis. Katanya kamu suka nulis."

Julian menggenggam amplop itu. "Kenapa papa nggak cerita dari kemarin?"

"Baru dikasih tadi siang." Papa duduk di kursi seberangnya. "Nggak harus diterima. Papa cuma pikir kamu perlu lihat pilihannya."

Pilihan.

Kata itu membuat Julian sesak.

Ia membuka amplop perlahan.

Di dalamnya ada surat undangan wawancara dan kartu nama sebuah media online kecil. Tanggal wawancaranya masih dua minggu lagi.

Persis seperti yang ia ingat.

Hampir persis.

Julian membaca surat itu sampai tiga kali.

Di kehidupan sebelumnya, ia menolak bahkan sebelum datang wawancara. Ia merasa tawaran itu tidak cukup besar untuk dirinya. Ia merasa bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik jika menunggu sedikit lebih lama.

Namun sekarang, ia tahu apa yang terjadi ketika terlalu lama menunggu.

"Aku mau datang," katanya.

Papa mengangkat alis. "Serius?"

"Iya."

"Sekolah gimana?"

"Wawancaranya Sabtu. Aku bisa atur."

Papa tampak ingin tersenyum, tetapi menahannya. "Ya sudah. Kalau kamu memang mau, siapin yang benar."

Julian mengangguk.

Mama keluar dari dapur sambil membawa piring buah. "Apa itu?"

"Tawaran magang," jawab papa.

Mama memandang Julian. "Kamu mau?"

"Aku mau coba."

Mama tersenyum bangga. "Bagus. Mama bantu setrika kemejanya nanti."

Julian menatap kedua orang tuanya.

Di masa lalu, ia tidak pernah melihat momen ini sebagai sesuatu yang penting. Ia hanya menganggapnya sebagai gangguan. Sebuah tekanan untuk menjadi anak yang "normal", sementara ia merasa ingin menjadi penulis dengan jalannya sendiri.

Sekarang ia mengerti.

Papa dan mama tidak pernah benar-benar memintanya menyerah pada mimpinya.

Mereka hanya ingin Julian tidak berhenti berjalan.

Malamnya, Julian membuka laptop.

Ia ingin mencari informasi tentang media yang mengirim undangan itu. Namun sebelum browser terbuka, layar laptop tiba-tiba menampilkan dokumen yang semalam ia tutup.

JANGAN ULANGI DENGAN CARA YANG SAMA.

Julian membeku.

Kali ini, ada kalimat baru di bawahnya.

Menerima semua kesempatan bukan berarti kamu sedang memperbaiki hidupmu.

Julian membaca kalimat itu perlahan.

Di bawahnya, huruf-huruf baru muncul seolah sedang diketik oleh tangan tak terlihat.

Pertanyaannya bukan apakah kamu akan menerima tawaran itu.

Pertanyaannya: apakah kamu akhirnya belajar memilih untuk alasan yang benar?

Lampu kamar berkedip.

Julian menatap layar tanpa bernapas.

Lalu dokumen itu tertutup sendiri.

Di layar hanya tersisa pantulan wajahnya—lebih muda, lebih penuh harapan, tetapi sama-sama bingung.

Untuk pertama kalinya, Julian mengerti bahwa masa lalu mungkin tidak sedang memberinya kesempatan kedua.

Mungkin masa lalu sedang mengujinya.



Report Page