BAB 3

BAB 3



Julian pulang lebih cepat hari itu.

Langit sore menggantung rendah, kelabu seperti halaman buku yang belum selesai ditulis. Ia memarkir motornya di depan rumah, lalu duduk beberapa detik tanpa melepas helm.

Sudah tiga minggu sejak ia membuka mata di kamar masa mudanya.

Tiga minggu sejak ia mendengar suara mama dari dapur.

Tiga minggu sejak ia melihat papa membaca koran di ruang tamu.

Dan tiga minggu sejak ia memutuskan bahwa kali ini, ia akan melakukan semuanya dengan benar.

Ia belajar lebih serius. Nilai ulangannya membaik. Ia mulai membantu mama menyiapkan meja makan. Ia tidak lagi menghindari percakapan papa hanya karena merasa nasihatnya membosankan. Ia juga berusaha hadir untuk Erlina—bukan sekadar menjawab pesannya saat sedang bosan, bukan sekadar datang ketika ia butuh ditemani.

Tapi semakin ia mencoba mengubah hidupnya, semakin banyak hal yang terasa ganjil.

Julian membuka pagar rumah pelan-pelan.

"Julian?"

Ia menoleh.

Papa duduk di teras, masih mengenakan kaus rumah dan celana panjang gelap. Di pangkuannya ada koran yang terlipat, tetapi tidak sedang dibaca. Wajahnya tampak lelah.

"Baru pulang, Pa," jawab Julian.

"Dari mana?"

"Dari perpustakaan. Ada tugas."

Papa mengangguk singkat. "Makan dulu. Mama masak sayur asem."

Julian hendak masuk, tetapi kemudian berhenti. Dalam kehidupan yang ia ingat, ia biasanya hanya menjawab, iya, lalu langsung naik ke kamar. Menunda makan sampai dingin. Menunda bicara sampai tidak ada yang tersisa untuk dibicarakan.

Hari ini, ia duduk di kursi kosong di sebelah papa.

"Papa nggak masuk?" tanyanya.

Papa menoleh sedikit. Sepertinya ia tidak menyangka Julian akan duduk.

"Belum pengin."

"Capek?"

"Biasa."

Julian mengenal jawaban itu. Papa selalu bilang biasa untuk hal-hal yang sebenarnya tidak biasa. Sakit kepala biasa. Badan pegal biasa. Urusan kantor biasa. Tagihan yang menumpuk biasa.

Dulu Julian tidak pernah bertanya lebih jauh.

"Kerjaan lagi banyak?" tanyanya.

Papa meliriknya. "Kok tumben nanya?"

Julian tersenyum kecil. "Nggak boleh?"

"Boleh." Papa kembali melihat jalanan di depan rumah. "Lagi banyak aja. Ada beberapa orang yang dikurangin. Papa jadi harus pegang kerjaan lebih banyak."

Julian mengangguk pelan.

Ia mengingat sesuatu.

Di kehidupan yang dulu, beberapa bulan setelah masa ini, papa mulai pulang lebih larut. Julian menganggapnya hal biasa. Ia terlalu sibuk dengan sekolah, teman-teman, dan kepalanya sendiri. Ia baru tahu jauh setelah semuanya terlambat bahwa papa sedang menyimpan banyak tekanan sendirian.

"Pa," kata Julian pelan. "Kalau ada masalah, cerita aja."

Papa terkekeh kecil. "Cerita ke kamu?"

"Iya."

"Kamu sendiri kalau ditanya juga jawabnya 'nggak apa-apa'."

Kalimat itu membuat Julian terdiam.

Papa benar.

Selama ini Julian ingin orang lain memahami dirinya, tetapi ia sendiri tidak pernah belajar memahami orang lain. Ia ingin didengarkan, tetapi jarang benar-benar mendengar.

"Aku lagi belajar," katanya akhirnya.

Papa menatapnya, kali ini lebih lama. "Belajar apa?"

"Belajar buat nggak selalu ngerasa aku yang paling capek."

Papa tidak langsung menjawab. Angin sore bergerak pelan, membawa suara anak-anak kecil bermain bola di ujung gang.

Kemudian papa menepuk bahu Julian sekali.

"Bagus," katanya. "Belajarnya jangan setengah-setengah."

Julian mengangguk.

Untuk beberapa detik, ia ingin memeluk papa. Ingin mengatakan bahwa ia tahu waktu mereka tidak sepanjang yang ia kira. Ingin memohon agar papa menjaga kesehatan. Ingin bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan agar semua yang buruk tidak terjadi.

Tetapi ia menahan diri.

Ia tidak tahu sejauh mana masa lalu bisa diubah.

Dan ia mulai takut pada jawabannya.

Di meja makan, mama sudah menyiapkan tiga piring.

"Cuci tangan dulu," kata mama. "Jangan langsung duduk."

"Iya, Ma."

Julian menurut tanpa mengeluh. Mama memperhatikannya dari dapur dengan ekspresi heran.

"Kamu sakit?" tanyanya.

"Nggak."

"Lagi ada maunya?"

Julian tertawa kecil. "Kenapa sih kalau aku baik dikira ada maunya?"

"Karena kamu biasanya baik kalau mau pinjam motor papa atau minta uang tambahan."

"Ma," protes Julian, meski ia tahu itu benar.

Mama tersenyum, lalu membawa sepiring tempe goreng ke meja. "Ya sudah. Kalau begini terus, mama senang."

Kalimat sederhana itu membuat Julian menunduk.

Dulu, ia tidak pernah paham bahwa mama tidak menuntut hal besar. Mama hanya ingin ia duduk di meja makan. Menjawab pertanyaan. Tidak mengurung diri di kamar. Pulang ketika bilang akan pulang.

Hal-hal kecil yang dulu terasa sepele kini terasa seperti sesuatu yang tidak boleh ia sia-siakan.

"Masakannya enak," kata Julian setelah menyuap sayur asem.

Mama berhenti mengambil nasi. "Serius?"

"Iya."

"Biasanya kamu cuma bilang, 'Mana sambalnya?'"

Papa tertawa kecil. Julian ikut tersenyum.

Untuk sesaat, semuanya terasa hangat.

Terlalu hangat.

Karena Julian tahu kenangan yang paling indah kadang juga menjadi hal yang paling menyakitkan ketika hanya tinggal kenangan.

Malamnya, Erlina mengirim pesan.

Erlina: Kamu jadi ke toko buku besok?

Julian menatap layar ponselnya cukup lama.

Ia ingat hari itu.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia membatalkan janji mereka karena memilih bermain dengan teman-temannya. Erlina tidak marah besar. Ia hanya membalas, oh, yaudah. Namun setelah itu, ada jarak kecil yang tumbuh di antara mereka.

Julian dulu tidak menganggapnya penting.

Ia selalu mengira Erlina akan ada.

Julian: Jadi. Aku jemput kamu jam dua, ya.

Balasan Erlina datang tidak sampai satu menit kemudian.

Erlina: Tumben nggak pakai alasan.

Julian tersenyum tipis.

Julian: Aku lagi berusaha jadi orang yang kalau janji, datang.

Beberapa detik berlalu.

Erlina: Jangan cuma berusaha sehari, Julian.

Jari Julian berhenti di atas layar.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju seluruh kesalahan yang belum terjadi.

Julian: Nggak. Aku serius.

Erlina: Kita lihat nanti.

Julian meletakkan ponsel di atas meja.

Ia membuka laptop lama yang terletak di samping buku pelajaran. Layar perangkat itu sedikit lambat menyala. Folder-folder kosong, tugas sekolah, beberapa cerita pendek yang belum selesai, dan dokumen-dokumen berisi ide novel yang ditulis dengan bahasa terlalu rumit untuk anak seusianya.

Ia membuka salah satu file.

Judulnya: Mesin yang Membawa Manusia Pulang.

Julian menahan napas.

File itu dibuat bertahun-tahun lalu.

Padahal ia tidak pernah ingat menulisnya.

Di dalamnya hanya ada satu paragraf:

Mesin waktu tidak selalu dibuat dari besi, kabel, dan angka. Kadang, ia dibuat dari kata-kata yang ditulis seseorang ketika ia terlalu takut menjalani hidupnya sendiri.

Julian membaca kalimat itu berulang kali.

Itu bukan tulisan anak sekolah.

Bukan gaya menulisnya saat ini.

Itu terlalu mirip dengan cara Julian menulis setelah menjadi penulis dewasa.

Tangan Julian mulai dingin.

Ia membuka informasi dokumen. Tanggal pembuatannya tertera jelas.

12 tahun yang lalu.

Julian memejamkan mata.

Kalau ia benar-benar baru pertama kali kembali ke masa lalu, siapa yang menulis file itu?

Dan jika memang ada Julian lain yang pernah berada di titik ini sebelum dirinya, berapa kali sebenarnya ia sudah mencoba memperbaiki hidupnya?

Di layar laptop, kursor berkedip setelah paragraf terakhir.

Seolah menunggu Julian menulis kelanjutannya.



Report Page