BAB 20

BAB 20


Pagi datang tanpa sesuatu yang ajaib.

Tidak ada cahaya yang berubah di balik jendela. Tidak ada suara aneh dari laptop. Tidak ada halaman baru di meja belajar. Tidak ada perasaan seperti dunia sedang berhenti, menunggu Julian memilih jalan yang berbeda.

Hanya suara sendok menyentuh piring dari dapur.

Hanya aroma bawang putih yang ditumis mama.

Hanya papa yang berdeham pelan dari ruang tamu sebelum membuka koran.

Julian membuka mata dan menatap langit-langit kamarnya.

Untuk sesaat, ia menunggu rasa panik itu datang.

Rasa takut bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa suatu pagi nanti ia akan bangun di kehidupan lamanya—di kamar yang sunyi, dengan rumah yang tidak lagi memiliki suara mama dan papa. Bahwa ia akan membuka ponsel dan menemukan nama Erlina hanya sebagai percakapan lama yang tidak pernah ia hapus.

Namun rasa panik itu tidak datang.

Bukan karena Julian sudah tidak takut.

Ia masih takut.

Hanya saja, untuk pertama kalinya, ia tidak menjadikan rasa takut itu sebagai alasan untuk pergi.

“Julian!” suara mama memanggil dari bawah. “Sarapan!”

“Iya, Ma!”

Julian bangun, merapikan tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi. Saat melewati meja belajar, ia berhenti sebentar.

Laptopnya masih tertutup.

Flashdisk hitam berada di dalam laci yang terkunci.

Buku-buku dari putaran sebelumnya tersimpan di bawah tumpukan kertas. Tidak dibuang. Tidak dihancurkan. Julian tidak ingin berpura-pura bahwa semua yang pernah ia lakukan tidak ada.

Ia hanya tidak ingin lagi hidup dengan menjadikannya kompas.


Di meja makan, papa membaca koran sambil sesekali mengaduk teh. Mama berdiri di dekat kompor, memasukkan telur dadar ke piring besar.

“Kamu bangun cepat,” kata papa.

“Aku biasa bangun cepat,” jawab Julian.

Papa mengangkat alis. “Sejak kapan?”

Julian tersenyum kecil. “Sejak aku capek telat terus.”

Mama tertawa dari dapur. “Nah, itu baru Julian.”

Julian duduk.

Ia memperhatikan meja makan di depannya. Piring dengan pinggiran yang sedikit retak. Botol kecap yang tutupnya selalu lengket. Tempat sambal plastik yang warnanya mulai pudar. Hal-hal yang terlalu biasa untuk dipotret, terlalu kecil untuk disebut kenangan.

Namun justru karena kecil, semua itu terasa hidup.

Papa menurunkan korannya.

“Magang hari ini?”

“Iya. Habis sekolah.”

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Iya, Pa.”

“Kamu masih mau lanjut magang itu?”

Julian mengangguk. “Mau.”

Papa terlihat lega, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Julian lalu menambahkan, “Kalau suatu waktu aku ngerasa nggak sanggup, aku bakal bilang. Aku nggak mau maksa diri cuma karena takut gagal.”

Papa tersenyum tipis.

“Bagus.”

Mama membawa telur dadar ke meja. “Makan dulu. Nanti filosofinya lanjut lagi.”

Mereka tertawa.

Julian juga.

Tawa itu tidak menghapus apa pun. Tidak menjamin hidup akan baik-baik saja. Tidak membuat waktu berhenti.

Tetapi tawa itu ada.

Dan kali ini Julian ada di dalamnya.



Di sekolah, Erlina belum datang saat pelajaran pertama dimulai.

Julian sempat melihat kursinya yang kosong.

Dulu, pemandangan itu akan membuatnya gelisah. Ia akan memeriksa ponsel, menunggu pesan, membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi, lalu mencari alasan untuk bertanya kepada teman-temannya.

Hari ini, ia hanya berharap Erlina baik-baik saja.

Bukan karena ia berhak tahu ke mana perempuan itu pergi.

Bukan karena ia sedang menunggu kesempatan untuk masuk kembali ke hidupnya.

Hanya karena ia masih peduli.

Dan peduli tidak selalu harus berubah menjadi tindakan.

Menjelang istirahat kedua, Erlina datang.

Ia masuk kelas dengan membawa map plastik dan buku catatan cokelat tua yang pernah Julian berikan. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tidak seperti seseorang yang sedang menghindari dunia.

Saat melewati meja Julian, Erlina berhenti.

“Pagi,” katanya.

Julian mengangkat wajah.

“Pagi.”

Hanya itu.

Namun ada sesuatu yang lebih tenang di antara mereka.

Erlina menaruh tas di bangkunya, lalu beberapa menit kemudian kembali mendekati meja Julian.

“Aku mau kasih sesuatu,” katanya.

Julian mengangguk.

Erlina menyerahkan beberapa lembar kertas yang dijepit rapi.

“Apa ini?”

“Cerpen buat lomba.” Erlina tampak ragu sebentar. “Aku jadi ikut. Kamu pernah bilang kamu bisa bantu baca kalau aku minta.”

Julian memegang naskah itu, tetapi tidak langsung melihat judulnya.

“Kalau kamu mau aku baca, aku baca,” katanya. “Kalau kamu cuma mau aku simpan, aku juga bisa.”

Erlina memandangnya beberapa detik.

“Aku mau kamu baca.”

Julian mengangguk.

“Dan jujur.”

“Iya.”

“Jujur, bukan sok jadi penyelamat.”

Julian tersenyum kecil. “Aku usahain.”

Erlina hampir tersenyum.

Hampir.

Lalu ia kembali ke bangkunya.

Julian melihat judul cerpen itu.

Orang yang Pulang Terlambat.

Ia tidak langsung membukanya.

Ia menyimpannya dengan hati-hati di dalam buku.


Di kantor magang, Nadine menaruh setumpuk kertas di meja Julian.

“Artikel toko buku kamu sudah naik,” katanya.

Julian mengangkat wajah. “Serius?”

“Serius. Pembacanya lumayan. Bu Ratih bahkan kirim pesan ke kantor, katanya terharu.”

Julian merasa hangat mendengar itu.

“Bagian yang paling dia suka,” lanjut Nadine, “waktu kamu nulis kalau beberapa orang datang ke toko buku bukan untuk membeli, tapi untuk punya tempat diam.”

Julian terdiam.

Ia ingat kalimat Bu Ratih. Ia ingat sore ketika ia melihat Erlina bersama laki-laki itu. Ia ingat dirinya keluar dari toko sebelum sempat mendengar apa pun.

Dulu, Julian mungkin akan menggunakan keberhasilan kecil itu untuk merasa bahwa ia sudah memperbaiki semuanya.

Hari ini, ia hanya berkata, “Syukurlah.”

Nadine mengamati ekspresinya. “Kamu baik-baik aja?”

“Iya.”

“Kali ini beneran?”

Julian tersenyum.

“Kali ini aku lagi belajar jawab jujur.”

Nadine mengangguk. “Bagus. Karena aku mau kasih kamu tugas baru.”

Julian menunggu.

“Bikin tulisan opini pendek. Bukan berita, bukan liputan.” Nadine menyodorkan satu lembar brief. “Tema bebas. Tapi harus tentang sesuatu yang kamu benar-benar pahami.”

Julian menerima kertas itu.

Dulu ia mungkin akan langsung memilih perjalanan waktu. Paradoks. Manusia yang kembali ke masa lalu. Mesin yang dibuat dari ingatan.

Namun sekarang, ia memikirkan sesuatu yang lebih dekat.

Ia memikirkan meja makan di rumah.

Catatan kecil papa.

Mama yang menyuruhnya sarapan.

Erlina yang meminta ruang.

Seseorang yang menunggu tanpa tahu kapan kita akan pulang.

“Aku sudah tahu mau nulis apa,” kata Julian.


Malamnya, setelah makan bersama papa dan mama, Julian masuk ke kamar.

Ia membuka laptop.

Tidak ada rasa dingin yang menjalar di tangannya. Tidak ada ketakutan bahwa layar akan menampilkan dokumen lain. Tidak ada keinginan untuk mencari Bab 20 yang sudah kosong.

Ia membuka dokumen baru.

Judulnya:

HARI INI

Julian mulai menulis.

Ada masa ketika aku mengira hidupku rusak karena aku salah memilih.
Aku mengira kalau aku bisa kembali, aku akan memilih sekolah yang benar, pekerjaan yang benar, rumah yang benar, dan orang yang benar.
Aku mengira hidup yang baik adalah hidup tanpa kalimat “seandainya”.


Julian berhenti sebentar.

Di luar kamar, suara mama dan papa terdengar samar dari ruang tamu. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting. Harga cabai. Tetangga yang meminjam tangga. Acara televisi yang tidak mereka setujui.

Julian tersenyum kecil, lalu melanjutkan.

Tapi aku mulai mengerti bahwa hidup bukan soal menemukan pilihan yang tidak akan pernah membuat kita menyesal.
Hidup adalah belajar bertanggung jawab setelah memilih. Belajar meminta maaf tanpa menjadikan maaf sebagai cara agar seseorang tetap tinggal. Belajar mencintai tanpa menahan. Belajar pulang tanpa harus kembali ke masa lalu.


Kursor berkedip.

Julian menunggu.

Tidak ada kalimat lain yang muncul.

Tidak ada tulisan dari dirinya yang lain.

Tidak ada halaman yang terbuka sendiri.

Ia menunggu beberapa detik lagi.

Lalu ia tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya, keheningan di layar tidak terasa seperti ancaman.

Keheningan itu terasa seperti ruang.

Julian melihat jam di pojok layar.

Pukul 02.17.

Angka yang sama.

Waktu yang sama.

Dulu, pada jam itu, ia menulis permohonan untuk kembali.

Malam ini, ia menulis satu kalimat terakhir.

Hari ini, aku memilih tinggal.


Julian menekan tombol simpan.

Nama file muncul di layar:

HARI INI.docx

Ia mematikan laptop.

Kemudian ia membuka laci, mengeluarkan flashdisk hitam, dan memegangnya beberapa saat.

Di dalamnya ada seluruh hidup yang pernah ia coba perbaiki.

Semua putaran.

Semua kegagalan.

Semua versi dirinya yang takut, marah, memaksa, dan berlari.

Julian tidak membuang flashdisk itu.

Ia meletakkannya kembali di dalam laci.

Lalu ia menutup laci tanpa menguncinya.

Pintu kamarnya terbuka sedikit.

Mama berdiri di sana.

“Kamu belum tidur?”

“Baru selesai nulis.”

“Nulis apa?”

Julian melihat laptop yang sudah gelap.

“Cerita,” jawabnya.

Mama tersenyum. “Bagus. Tapi habis ini tidur.”

“Iya, Ma.”

Mama hendak pergi, lalu berhenti.

“Julian?”

“Hm?”

“Jangan pulang terlalu malam ke diri sendiri, ya.”

Julian menatap mama.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti akhir dari sesuatu yang panjang.

“Iya,” katanya. “Aku nggak akan.”

Mama menutup pintu perlahan.

Julian berbaring di tempat tidur.

Di luar, malam tetap berjalan. Waktu tetap bergerak. Besok mungkin akan membawa masalah baru, kesalahan baru, dan hal-hal yang tidak bisa ia atur.

Namun Julian tidak lagi ingin mengalahkan waktu.

Ia hanya ingin hidup di dalamnya.

Dan sebelum tidur, untuk pertama kalinya, Julian tidak berharap bisa kembali.


Report Page