BAB 2
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi yang terlalu panjang.
Julian bangun pagi, pergi ke sekolah, belajar, pulang, makan malam bersama papa dan mama, lalu tidur di kamar yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Setiap pagi ia membuka mata dan berharap ini bukan ilusi. Setiap malam ia menutup mata dan takut besok semuanya akan hilang.
Tapi hari demi hari, semuanya tetap nyata.
Ia mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Ia mulai terbiasa dengan suara mama di dapur, dengan koran papa di pagi hari, dengan jalanan yang ia lewati setiap hari, dengan wajah-wajah di sekolah yang dulu ia anggap biasa saja.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia biasakan.
Erlina.
Setiap kali ia melihat Erlina, dadanya sesak. Bukan karena cinta yang tiba-tiba muncul lagi. Tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia tahu bagaimana semuanya berakhir. Ia tahu bagaimana ia menghancurkan semuanya.
Dan ia tahu bahwa kali ini, ia tidak boleh mengulanginya.
Sore itu, Julian dan Erlina duduk di taman kecil dekat sekolah. Matahari menyisakan cahaya pucat di antara pohon-pohon. Di dekat pagar, beberapa anak kecil berebut bola plastik sambil tertawa keras.
Erlina menggambar sesuatu di tanah dengan ujung sepatunya.
"Kamu berubah," katanya.
Julian menoleh. "Jeleg?"
"Belum tahu." Erlina tersenyum tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Kamu sekarang rajin belajar. Lebih sering balas pesan. Bahkan tadi kamu nggak kabur pas disuruh presentasi."
"Perkembangan yang luar biasa."
"Jangan bercanda." Erlina menatapnya. "Aku takut kamu cuma lagi semangat karena ada sesuatu yang kamu kejar."
Julian terdiam.
"Aku pernah lihat kamu begini," lanjut Erlina. "Kamu bisa serius beberapa hari. Kamu bisa bilang mau berubah. Terus begitu capek atau ada masalah, kamu hilang lagi."
"Kali ini beda."
"Kamu selalu bilang begitu."
Julian memandangi kedua tangannya. Dalam kehidupan yang ia ingat, ia pernah menjawab dengan kesal. Menganggap Erlina tidak mendukungnya. Menganggap ia tidak pernah cukup baik di mata perempuan itu.
Namun kali ini, ia mendengar hal lain.
Bukan tuduhan.
Erlina sedang meminta kepastian.
"Aku nggak bisa buktiin semuanya sekarang," kata Julian. "Dan aku nggak mau bilang aku bakal sempurna."
Erlina terdiam.
"Tapi kalau aku mulai ngilang atau mulai lari dari masalah, kamu boleh ingetin aku," lanjut Julian. "Bukan karena kamu harus jagain aku. Tapi karena aku mau belajar berhenti pura-pura nggak ada masalah."
Erlina memandangnya lama.
"Kalau aku ingetin, kamu jangan marah."
"Aku usahain."
"Kamu usahain?"
Julian mengangguk. "Aku belum berani janji, Lin. Tapi aku mau benar-benar mulai."
Erlina akhirnya tersenyum kecil.
"Ya sudah," katanya. "Aku catat."
Mereka duduk diam. Suara anak-anak bermain di taman terdengar di sekitar mereka. Tapi bagi Julian, dunia seolah berhenti.
Ia tahu ini baru awal.
Ia tahu masih banyak hal yang harus ia perbaiki.
Tapi untuk pertama kalinya, Julian merasa bahwa ia sedang berjalan ke arah yang benar.
Dan ia tidak akan berhenti kali ini.
Beberapa minggu kemudian, Julian mendapat kabar bahwa ada perusahaan yang membuka lowongan kerja untuk posisi penulis konten. Ia ingat pekerjaan ini. Ia ingat ia pernah mendapat tawaran ini di masa lalu. Dan ia ingat ia menolaknya.
Alasannya saat itu sepele. Gajinya tidak sesuai harapan. Ia ingin fokus menulis novel. Ia yakin akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik.
Tapi kesempatan berikutnya tidak pernah datang dalam bentuk yang sama.
Kali ini, Julian tidak akan menolak.
Ia mengisi formulir pendaftaran. Ia mengirim portofolio tulisannya. Ia menunggu.
Dan beberapa hari kemudian, ia mendapat panggilan untuk wawancara.
Hari wawancara, Julian duduk di ruang tunggu. Ia menatap sekeliling. Orang-orang di sekitarnya terlihat lebih siap darinya. Mereka membawa laptop, tablet, dan dokumen-dokumen rapi.
Julian hanya membawa tas kecil dengan beberapa lembar kertas.
"Julian?" panggil seorang wanita.
Julian berdiri. "Iya."
"Silakan masuk."
Julian masuk ke ruang wawancara. Di dalamnya, seorang pria paruh baya duduk di balik meja. Ia tersenyum.
"Selamat siang, Julian. Silakan duduk."
Julian duduk.
"Saya sudah lihat portofolio kamu," kata pria itu. "Tulisan kamu bagus. Tapi saya ingin tahu, kenapa kamu ingin bekerja di sini?"
Julian menelan ludah. Ia ingat jawabannya di masa lalu. Ia ingin fokus menulis novel. Ia ingin kebebasan. Ia tidak ingin terikat.
Tapi kali ini, ia tidak akan berkata begitu.
"Aku ingin belajar," kata Julian pelan. "Aku ingin jadi penulis yang lebih baik. Aku ingin belajar dari orang-orang di sini. Aku ingin... aku ingin punya alasan untuk bangun setiap pagi."
Pria itu menatapnya lama. "Kamu terdengar seperti orang yang sudah kehilangan banyak hal."
Julian tersenyum tipis. "Aku memang sudah kehilangan banyak hal."
"Oke," kata pria itu. "Kami akan kabari kamu minggu depan."
Julian berdiri. "Terima kasih."
Ia keluar dari ruang wawancara. Ia berjalan keluar dari gedung. Ia menatap langit.
Ia tidak tahu apakah ia akan diterima.
Tapi ia tahu, kali ini, ia sudah mencoba.
Dan itu sudah cukup untuk hari ini.
Malam itu, Julian duduk di kamarnya. Ia menatap langit-langit. Ia memikirkan semuanya.
Sekolah. Erlina. Pekerjaan. Papa dan mama.
Semuanya masih ada.
Semuanya masih bisa diperbaiki.
Ia mengambil ponselnya. Ia membuka galeri. Ia melihat foto-foto lama. Foto bersama papa dan mama. Foto bersama Erlina. Foto di sekolah.
Ia menatap foto-foto itu lama.
Lalu ia mengetik pesan:
Terima kasih sudah kasih aku kesempatan kedua. Aku nggak akan buang kali ini.
Ia tidak mengirim pesan itu ke siapa pun. Ia hanya menyimpannya di catatan.
Lalu ia menutup ponselnya.
Ia berbaring. Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian tidur tanpa mimpi.