BAB 19
Malam itu, hujan turun sejak magrib.
Bukan hujan deras yang membuat orang berlari mencari tempat berteduh, melainkan hujan kecil yang jatuh tanpa terburu-buru. Airnya mengetuk genteng, membasahi halaman, dan membuat lampu-lampu rumah di seberang jalan tampak buram dari balik jendela.
Julian duduk di meja belajarnya.
Di depannya, tersusun semua jejak yang selama ini ia temukan.
Buku catatan biru tua dari putaran keempat.
Kertas cetakan tentang putaran keenam.
Lembar dari buku bekas bertuliskan Putaran Ketujuh.
Flashdisk hitam.
Dan laptop yang sudah beberapa hari tidak ia buka.
Ia tidak tahu kenapa malam itu terasa berbeda.
Mungkin karena setelah bertemu Erlina di seberang jalan siang tadi, Julian tidak lagi merasa perlu mengejarnya. Mungkin karena papa sudah mulai terlihat lebih sehat dan Julian belajar membiarkan hal baik menjadi hal baik tanpa segera takut kehilangannya. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia tidak membuka tulisan-tulisan itu untuk mencari cara mengubah sesuatu.
Ia hanya ingin mengerti.
Julian memasukkan flashdisk ke laptop.
Lampu indikatornya menyala.
Folder NASKAH AKHIR muncul seperti sebelumnya.
Di dalamnya, hanya ada satu file.
KEMBALI — FINAL.docx
Julian membuka dokumen tersebut.
Kali ini, ia tidak langsung mencari Bab 20. Ia kembali ke awal, membaca prolog yang sudah ia kenal.
Julian selalu percaya bahwa penyesalan adalah bentuk lain dari perjalanan waktu.
Ia membaca perlahan.
Tentang seorang penulis yang duduk sendiri pada pukul dua lewat tujuh belas menit. Tentang dokumen berjudul KEMBALI. Tentang daftar kesalahan yang ia tulis seperti pengakuan dosa. Tentang pagi ketika ia membuka mata di kamar masa mudanya dan mendengar suara mama dari dapur.
Semuanya terasa nyata.
Terlalu nyata.
Julian menggeser halaman.
Bab 1. Bab 2. Bab 3.
Peristiwa-peristiwa yang ia jalani ada di sana, tetapi tidak semuanya sama.
Di Bab 1, ia melihat dirinya pulang sekolah lalu mengunci diri di kamar karena terlalu takut memulai percakapan dengan Erlina.
Di Bab 2, ia melihat dirinya menerima tawaran magang tanpa bertanya apakah ia sanggup membagi waktu.
Di Bab 4, ia memaksa papa memeriksakan diri ke rumah sakit setelah satu kali pusing, lalu bertengkar dengan mama karena merasa tidak didukung.
Di Bab 7, ia mengejar Erlina sampai ke toko buku dan meminta perempuan itu menjelaskan siapa laki-laki yang bersamanya.
Di Bab 10, ia membaca seluruh pesan Erlina tanpa izin ketika perempuan itu meninggalkan ponselnya di meja kantin.
Julian berhenti membaca.
Naskah itu tidak persis menceritakan hidup yang sedang ia jalani.
Ia menceritakan kehidupan-kehidupan yang hampir ia jalani.
Atau kehidupan-kehidupan yang pernah ia jalani.
Beberapa detail saling bertabrakan. Ada bagian ketika Erlina putus dengannya sebelum magang dimulai. Ada bagian ketika papa sakit lebih cepat. Ada bagian ketika mama menjual rumah itu tanpa memberi tahu Julian. Ada bagian ketika Julian menjadi penulis lebih muda, tetapi tidak pernah berbicara lagi dengan keluarganya.
Namun semua versi itu memiliki satu pola sama.
Julian selalu mencoba memperbaiki satu luka dengan cara menguasai segala hal di sekitarnya.
Ia terus membaca sampai halaman bertuliskan:
CATATAN PENULIS
Jari Julian berhenti di atas mouse.
Ia mengklik judul itu.
Halaman baru terbuka.
Tidak ada gaya bahasa puitis. Tidak ada tokoh. Tidak ada penggambaran rumah, hujan, atau suara mama dari dapur.
Hanya kalimat-kalimat pendek.
Aku tidak tahu berapa kali aku sudah kembali.
Aku pernah mencoba mengingat semuanya. Hasilnya, aku tidak bisa membedakan mana masa lalu, mana keinginan, dan mana ketakutan.
Jadi aku menulis.
Aku menulis setiap putaran bukan agar Julian yang berikutnya tahu jawaban.
Aku menulis agar ia tahu bahwa ia pernah salah dengan cara yang berbeda-beda.
Jika ia mengingat semuanya, ia mungkin hanya akan memilih berdasarkan ketakutan yang lebih banyak.
Maka biarkan ia membawa satu kehidupan yang paling ia sesali.
Biarkan ia percaya bahwa itu adalah kehidupan pertama.
Biarkan ia merasa sedang diberi mukjizat.
Sebab selama ia masih merasa ini pertama kalinya, ia akan memperlihatkan dirinya yang paling jujur.
Julian merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan.
Biarkan ia percaya bahwa itu adalah kehidupan pertama.
Selama ini, ia mengira dirinya dibohongi oleh waktu.
Ternyata ia dibohongi oleh dirinya sendiri.
Atau lebih tepatnya: dirinya yang sudah lebih dulu memahami bahwa Julian hanya bisa berubah jika tidak membawa seluruh beban dari semua kehidupan yang pernah gagal.
Ia membaca lebih jauh.
Pada putaran pertama, aku ingin memperbaiki daftar.
Pada putaran ketiga, aku ingin membuat Erlina tetap tinggal.
Pada putaran keempat, aku ingin membuat rumah ini tidak pernah berubah.
Pada putaran keenam, aku ingin membuat papa hidup lebih lama.
Pada putaran ketujuh, aku ingin menjadi orang baik dengan menghapus semua diriku yang buruk.
Di setiap putaran, aku mengira jika aku cukup teliti, cukup hadir, cukup berkorban, aku bisa mengalahkan waktu.
Tapi waktu tidak pernah meminta dikalahkan.
Waktu hanya meminta dijalani.
Julian menutup mata.
Di luar, hujan masih turun.
Ia teringat papa di warung kopi dekat pasar.
Berubah itu bukan ujian sekali lulus. Kadang kita jatuh ke kebiasaan lama. Yang penting kamu sadar, lalu pulang.
Ia teringat mama di dapur.
Jangan habiskan hari ini dengan takut.
Ia teringat Erlina di taman.
Aku mau dicintai sebagai aku.
Kalimat-kalimat itu tidak menyelesaikan apa pun.
Mama dan papa tetap akan menua. Erlina mungkin tetap tidak akan kembali. Julian mungkin tetap akan gagal dalam beberapa hal. Ia bisa saja kembali malas. Bisa saja panik. Bisa saja menyakiti orang lagi tanpa sadar.
Namun mungkin perubahan bukan tentang memastikan semua hal buruk tidak akan terjadi.
Mungkin perubahan adalah berhenti memakai kesalahan lama sebagai alasan untuk terus membuat kesalahan baru.
Julian membuka mata.
Di layar, satu bagian terakhir dari catatan itu belum selesai dibaca.
Jika kamu sudah sampai di sini, berarti kamu mulai memahami.
Kamu mungkin ingin tahu apakah masih ada satu kesempatan lagi.
Ada. Selalu ada.
Buka Bab 20.
Julian menggeser halaman.
Judulnya muncul.
Bab 20 — Tinggal
Di bawah judul, halaman itu kosong.
Tidak ada ramalan.
Tidak ada akhir yang sudah ditulis.
Tidak ada instruksi yang mengatakan apa yang harus Julian lakukan.
Hanya satu baris kecil di tengah halaman.
Kali ini, tulis sendiri.
Julian menatap halaman kosong itu cukup lama.
Lalu ia membuka dokumen baru.
Bukan KEMBALI.
Bukan PERGI.
Bukan HAL YANG TIDAK KAMU CERITAKAN.
Ia memberi judul:
HARI INI
Kursor berkedip.
Di luar kamar, suara mama terdengar.
“Julian, kamu belum tidur?”
Julian melihat jam.
Pukul 02.17.
Persis seperti malam ketika semuanya dimulai.
Ia bisa menulis kalimat yang sama.
Seandainya aku bisa kembali.
Ia tahu mungkin satu kalimat saja cukup untuk membuka pintu itu lagi.
Untuk kembali ke titik yang lebih awal.
Untuk mencoba versi lain.
Versi yang mungkin bisa membuat Erlina tinggal.
Versi yang mungkin bisa membuat papa lebih sehat.
Versi yang mungkin bisa menyelamatkan mama dari sesuatu yang belum terjadi.
Julian meletakkan tangannya di atas keyboard.
Namun ia tidak menulis apa pun.
Ia berdiri.
“Belum, Ma,” jawabnya dari dalam kamar. “Aku keluar.”
Ia menutup laptop tanpa menyimpan dokumen kosong itu.
Lalu ia pergi ke ruang tamu.
Mama tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Selimut tipis menutupi kakinya. Di meja, ada gelas air dan beberapa pakaian yang belum selesai dilipat.
Julian mematikan televisi, mengambil selimut yang lebih tebal, lalu menyampirkannya ke tubuh mama.
Mama bergerak sedikit dan membuka mata.
“Kamu belum tidur?” tanyanya setengah sadar.
“Tadi lagi nulis.”
“Nulis apa?”
Julian memandang wajah mama.
“Belum tahu,” jawabnya.
Mama tersenyum kecil, lalu memejamkan mata lagi.
“Ya sudah. Besok saja dilanjutin.”
Julian duduk di lantai, bersandar pada sofa.
Di luar, hujan mulai reda.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak meminta waktu untuk membawanya kembali.