BAB 18

BAB 18


Sejak Erlina pergi dari taman, Julian tidak mencoba menghubunginya lagi.

Ia tidak mengirim pesan selamat pagi. Tidak menanyakan apakah ia sudah makan. Tidak mencari alasan untuk duduk di dekatnya saat istirahat. Bahkan ketika Erlina melewati mejanya di kelas, Julian hanya mengangkat kepala sebentar, lalu kembali pada buku yang sedang dibacanya.

Bukan karena ia sudah tidak peduli.

Justru karena untuk pertama kalinya, ia sedang mencoba peduli tanpa meminta apa pun sebagai balasan.

Awalnya itu terasa seperti kekalahan.

Setiap kali ponselnya tidak bergetar, ada bagian dari dirinya yang ingin mengirim satu pesan. Bukan pesan panjang. Bukan permintaan agar Erlina kembali. Hanya sesuatu yang aman.

Sudah makan?

Hati-hati pulang.

Aku harap kamu baik-baik saja.

Namun Julian tahu, kalimat-kalimat aman pun bisa menjadi cara untuk tetap mengetuk pintu yang sudah diminta Erlina tutup sementara.

Maka ia menulisnya di buku catatan.

Tidak dikirim ke mana-mana.

Hari ketiga tanpa menghubungimu.
Aku masih ingin tahu kamu baik-baik saja.
Tapi keinginan untuk tahu tidak selalu memberi aku hak untuk bertanya.


Ia menutup buku itu, lalu memasukkannya ke tas.


Hari Sabtu, papa mengajak Julian pergi ke pasar.

Ajakan itu sederhana. Tidak ada alasan khusus. Mama hanya meminta beberapa bahan masakan, dan papa mengeluh bahwa kalau ia pergi sendiri, ia pasti salah membeli cabai.

“Kenapa nggak sama mama aja?” tanya Julian sambil mengenakan sandal.

“Mama lagi bersih-bersih. Lagian Papa butuh orang yang ngerti bedain cabai rawit sama cabai merah.”

“Aku juga nggak ngerti.”

“Ya berarti kita belajar.”

Julian tersenyum kecil.

Mereka pergi menggunakan motor. Pagi belum terlalu panas. Jalanan masih ramai oleh orang-orang yang baru belanja, pedagang yang mendorong gerobak, dan ibu-ibu yang menawar sayur dengan suara keras.

Di pasar, papa berjalan lebih pelan daripada biasanya.

Julian memperhatikan itu, lalu segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin kembali menghitung setiap gerak tubuh papa. Tidak ingin melihat setiap tanda kecil sebagai awal dari kehilangan.

“Cabai yang ini?” tanya papa sambil menunjuk satu tumpukan.

“Kayaknya itu cabai keriting.”

“Bedanya apa?”

“Entahlah.”

Papa tertawa. “Sama-sama nggak berguna, ya.”

Mereka akhirnya meminta bantuan pedagang.

Setelah membeli sayur, ikan, dan beberapa bumbu dapur, papa membawa dua kantong belanja. Julian mengambil salah satunya.

“Biar aku aja,” kata Julian.

“Ini ringan.”

“Aku tahu.”

Papa menatapnya sejenak, lalu menyerahkan kantong itu.

Mereka berjalan melewati deretan kios. Di sebuah warung kopi kecil dekat pintu keluar pasar, papa berhenti.

“Duduk dulu.”

“Kita belum pulang.”

“Ya memang. Tapi nggak ada yang ngejar.”

Julian duduk.

Mereka memesan dua teh hangat. Papa tidak memesan kopi.

Julian menyadari itu, lalu menahan dirinya agar tidak berkomentar.

Papa menyandarkan punggung ke kursi plastik.

“Kamu sekarang sibuk,” katanya.

“Lumayan.”

“Sekolah, magang, nulis.”

Julian mengangguk.

“Capek?”

“Kadang.”

“Masih kuat?”

Julian hendak menjawab kuat seperti biasanya, tetapi ia teringat mama.

Kamu boleh punya banyak tujuan. Tapi kamu tetap harus istirahat.

“Kadang nggak,” jawab Julian jujur.

Papa tersenyum tipis. “Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Bagus karena kamu bisa bilang nggak kuat.” Papa mengaduk teh pelan. “Dulu Papa pikir laki-laki harus selalu punya jawaban. Harus selalu kelihatan sanggup. Ternyata capek yang dipendam malah bikin kita jadi marah sama orang rumah.”

Julian memperhatikan wajah papa.

“Aku pernah begitu?” tanyanya.

Papa mengangkat alis. “Kamu tanya atau kamu sudah tahu?”

Julian terdiam.

Papa tersenyum kecil. “Kamu bukan anak jahat, Jul. Tapi kadang kamu terlalu sibuk berantem sama isi kepala kamu sendiri sampai lupa orang lain nggak tahu perang apa yang lagi kamu jalani.”

Kalimat itu membuat Julian diam cukup lama.

“Aku lagi belajar,” katanya.

“Papa lihat.”

“Kalau nanti aku balik jadi kayak dulu?”

Papa menghela napas pelan.

“Ya belajar lagi.”

Julian menatapnya.

“Berubah itu bukan ujian sekali lulus,” lanjut papa. “Bukan juga janji yang kalau dilanggar sekali berarti semuanya selesai. Kadang kita jatuh ke kebiasaan lama. Yang penting kamu sadar, lalu pulang.”

Pulang.

Kata itu tinggal di dada Julian.

Bukan kembali.

Pulang.

Ada perbedaan kecil yang selama ini tidak ia pahami. Kembali berarti menuju tempat yang pernah ditinggalkan. Pulang berarti memilih tempat untuk tetap dikenali, meski kita datang dengan banyak luka.


Siang itu, Julian pergi ke toko buku.

Bukan Toko Buku Aksara Lama.

Ia memilih toko kecil lain di dekat terminal, tempat yang tidak menyimpan ingatan tentang Erlina dan laki-laki yang bersamanya. Ia membawa buku catatan, membeli satu buku bekas tentang teori waktu, lalu duduk di sudut dekat rak sastra Indonesia.

Ia tidak berniat membuka laptop.

Tidak berniat mencari dokumen baru.

Namun di antara halaman buku bekas yang dibelinya, ada selembar kertas terlipat.

Julian mengira itu pembatas buku dari pemilik sebelumnya.

Ia membukanya.

Tulisan tangan di sana adalah tulisannya sendiri.

Lebih muda, lebih tergesa, tetapi tetap miliknya.

Aku selalu mengira aku kembali karena ingin mendapatkan hidup yang lebih baik.
Padahal aku kembali karena aku tidak bisa menerima bahwa hidup yang sudah kujalaninya adalah milikku.
Aku ingin menghapus Julian yang malas, Julian yang takut, Julian yang marah, Julian yang meninggalkan orang-orang yang mencintainya.
Tapi kalau aku menghapus semua itu, siapa yang tersisa untuk belajar?


Julian memegang kertas itu dengan kedua tangan.

Di bagian bawah, ada tanggal.

Tanggalnya tidak lengkap. Hanya tertulis:

Putaran Ketujuh.

Tidak ada cerita tentang apa yang terjadi di putaran itu. Tidak ada daftar kesalahan. Tidak ada petunjuk tentang Erlina, papa, atau mama.

Hanya pengakuan.

Dan untuk pertama kalinya, Julian tidak merasa tulisan itu sedang memerintahkannya.

Tulisan itu terdengar seperti seseorang yang sangat lelah membenci dirinya sendiri.


Saat pulang, Julian melihat Erlina di seberang jalan.

Ia berdiri di depan kios kecil, berbicara dengan seorang perempuan yang tidak Julian kenal. Di tangannya ada map plastik berisi beberapa lembar kertas.

Julian mengenali formulir lomba menulis itu.

Erlina jadi mendaftar.

Ia tidak tahu apakah harus merasa senang, sedih, atau keduanya.

Erlina menoleh.

Mata mereka bertemu.

Jalanan di antara mereka ramai. Ada motor, angkot, dan suara klakson yang bersahut-sahutan. Julian bisa saja menyeberang. Bisa saja mengangkat tangan. Bisa saja menghampiri dan memberi selamat.

Namun ia teringat apa yang pernah ia katakan pada dirinya sendiri.

Ia tidak akan menjadikan perhatian sebagai alasan untuk kembali memasuki ruang yang belum dibuka untuknya.

Julian hanya mengangguk kecil.

Erlina memandangnya beberapa detik.

Lalu, perlahan, ia membalas anggukan itu.

Tidak ada senyum.

Namun tidak ada kebencian juga.

Julian melanjutkan langkahnya.

Di dalam dadanya, ada rasa sedih yang tidak bisa ia hilangkan. Tetapi untuk pertama kalinya, sedih itu tidak membuatnya ingin mengubah masa lalu.

Ia hanya membiarkannya ada.


Malamnya, Julian menaruh kertas bertuliskan Putaran Ketujuh di samping flashdisk hitam.

Ia tidak memasukkan flashdisk itu ke laptop.

Ia tidak mencari bab berikutnya dalam naskah KEMBALI — FINAL.

Sebagai gantinya, ia membuka buku catatan biasa dan menulis:

Hari ini, aku tidak mengejar Erlina.
Hari ini, aku tidak mengira papa berjalan pelan karena dunia sedang mengambilnya dariku.
Hari ini, aku membeli buku yang tidak menjanjikan jawaban.
Hari ini, aku masih takut.
Tapi aku tidak memakai ketakutan itu untuk menentukan hidup orang lain.


Ia berhenti.

Kalimat terakhir belum selesai.

Julian menatap halaman kosong di bawahnya, lalu menambahkan:

Mungkin ini yang dimaksud tinggal.


Ia menutup buku catatan.

Dari luar kamar, terdengar mama memanggil.

“Julian, bantu mama ambilin jemuran!”

“Iya, Ma!”

Julian berdiri dan keluar kamar tanpa mematikan lampu meja.

Di meja, buku catatan itu tetap terbuka.

Tidak ada kalimat baru yang muncul.

Tidak ada tulisan dari putaran lain.

Hanya tinta Julian yang belum benar-benar kering.


Report Page