BAB 17

BAB 17


Julian membaca pesan dari Erlina sampai layar ponselnya meredup.

Erlina: Besok sepulang sekolah, bisa ketemu?


Hanya satu kalimat.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada emotikon. Tidak ada tambahan seperti aku mau cerita sesuatu atau jangan lupa, ya. Namun justru karena singkat, pesan itu terasa lebih berat.

Di layar laptop, naskah yang ditemukan Julian masih terbuka.

Bab 17 — Pergi
Erlina datang untuk mengembalikan sesuatu yang tidak pernah seharusnya Julian berikan: alasan untuk tetap tinggal.


Julian menutup laptop.

Bukan karena ia tidak ingin tahu kelanjutannya.

Justru karena ia ingin tahu terlalu banyak.

Jika ia membaca seluruh Bab 17, mungkin ia akan mengetahui apa yang Erlina katakan besok. Ia bisa menyiapkan jawaban yang tepat. Memilih kata yang paling aman. Menghindari kalimat yang akan membuatnya pergi.

Ia bisa memperbaiki semuanya.

Lalu Julian teringat dokumen putaran ketiga.

Aku hanya membuatnya percaya bahwa pergi dariku berarti ia adalah orang yang jahat.


Ia menarik tangannya dari laptop.

Tidak.

Jika Erlina ingin pergi, Julian tidak boleh menjadikan naskah itu sebagai senjata untuk menahannya.



Malam itu, Julian tidak membalas pesan Erlina sampai beberapa menit.

Bukan untuk membuatnya menunggu.

Ia hanya berusaha memastikan jawabannya tidak lahir dari kepanikan.

Akhirnya, ia mengetik:

Julian: Bisa. Kamu mau ketemu di mana?


Balasan datang hampir seketika.

Erlina: Taman dekat sekolah. Jam empat.


Julian: Oke. Aku datang.


Setelah itu, percakapan berhenti.

Julian meletakkan ponsel di atas meja. Ia menatap laptop yang tertutup, lalu menarik napas panjang.

Di dalam dirinya, ada dua keinginan yang saling bertabrakan.

Yang pertama ingin membuka naskah itu, membaca setiap kata, dan menyelamatkan dirinya sebelum semuanya terlambat.

Yang kedua ingin membiarkan besok terjadi tanpa lebih dulu memaksanya menjadi sesuatu yang bisa ia kendalikan.

Ia tidak tahu mana yang lebih berani.

Namun malam itu, Julian memilih tidur.


Hari berikutnya berjalan sangat lambat.

Di sekolah, Julian berusaha mengikuti pelajaran. Ia mencatat rumus, menjawab pertanyaan guru, dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Namun setiap kali melihat jam, dadanya terasa makin sempit.

Pukul sepuluh.

Pukul dua belas.

Pukul dua.

Erlina duduk beberapa bangku dari tempatnya. Mereka tidak berbicara. Tidak ada tatapan yang sengaja dicari. Tidak ada pesan yang dikirim diam-diam.

Justru itu yang membuat Julian semakin sadar bahwa ada sesuatu yang telah berubah.

Dulu, ia dan Erlina selalu menemukan alasan untuk dekat. Meminjam pulpen, meminta jawaban tugas, mengejek tulisan satu sama lain, atau sekadar berjalan lebih lambat saat pulang.

Sekarang, jarak di antara mereka bukan lagi beberapa bangku.

Jarak itu adalah semua hal yang belum pernah Julian pahami.

Saat bel pulang berbunyi, Julian tidak langsung pergi ke taman.

Ia ke toilet, membasuh wajah, lalu berdiri di depan cermin lebih lama dari seharusnya.

“Jangan bikin dia merasa bersalah,” katanya kepada pantulannya.

Tidak ada jawaban.

“Jangan janji kalau kamu cuma takut kehilangan.”

Ia menarik napas.

“Dengerin.”



Erlina sudah duduk di bangku taman ketika Julian tiba.

Taman itu tidak ramai. Ada beberapa anak kecil bermain di dekat ayunan. Dua orang ibu duduk di bawah pohon sambil mengawasi mereka. Matahari sore memantul pucat di genangan kecil sisa hujan semalam.

Erlina tidak memakai seragam sekolah lagi. Ia mengenakan kaus putih dan jaket tipis berwarna abu-abu. Tasnya terletak di samping bangku.

Julian duduk dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

“Kamu datang,” kata Erlina.

“Aku bilang aku datang.”

Erlina tersenyum kecil, tetapi senyum itu cepat menghilang.

Beberapa saat, mereka hanya mendengar suara rantai ayunan yang berdecit.

“Aku kepikiran soal kita,” kata Erlina akhirnya.

Julian mengangguk.

“Aku juga.”

“Kamu nggak perlu jawab dulu.” Erlina menatap tangannya sendiri. “Aku cuma mau bilang sesuatu tanpa kamu langsung membela diri. Bisa?”

“Bisa.”

Erlina mengangkat wajah, seolah tidak yakin.

“Selama beberapa minggu terakhir, kamu berubah,” katanya. “Kamu lebih baik. Kamu lebih ada. Kamu mulai dengerin, mulai bantu di rumah, mulai serius sama sekolah dan magang.”

Julian menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia tahu ada kata tapi yang akan datang.

“Tapi aku nggak merasa kita jadi lebih dekat,” lanjut Erlina.

Jantung Julian berdetak lebih cepat.

“Kenapa?”

Erlina menghela napas.

“Karena kamu selalu kelihatan takut.” Ia memandang Julian lurus-lurus. “Kalau aku diam, kamu takut aku marah. Kalau aku pergi sama orang lain, kamu takut aku ninggalin kamu. Kalau kamu salah sedikit, kamu langsung minta maaf seperti semuanya akan hancur kalau aku nggak memaafkan.”

Julian menunduk.

“Kamu jadi baik bukan karena kamu tenang,” kata Erlina. “Kamu jadi baik karena kamu panik.”

Kalimat itu tidak terdengar kejam.

Justru karena jujur, kalimat itu membuat Julian sulit bernapas.

“Aku memang takut,” jawabnya.

“Aku tahu.” Erlina menatapnya lama. “Tapi kamu nggak pernah cerita takutnya dari mana. Jadi aku cuma bisa nebak-nebak. Dan setiap kali aku nebak, aku selalu merasa jawabannya adalah aku.”

Julian menggenggam kedua tangannya.

“Itu bukan karena kamu.”

“Terus karena apa?”

Julian membuka mulut.

Laptop. Naskah. Putaran ketiga. Masa depan. Mama dan papa. Hari ketika ia melihat Erlina bersama laki-laki di toko buku, lalu pergi tanpa mendengar penjelasan.

Semua itu berada di ujung lidahnya.

Namun ia tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa mengubah Erlina menjadi penanggung jawab atas ketakutannya.

“Aku nggak bisa jelasin semuanya,” katanya akhirnya.

Erlina mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Ya sudah.”

Julian mengangkat wajah. “Tapi bukan berarti aku nggak mau jujur.”

“Bedanya apa?”

“Aku…” Ia berhenti. “Aku masih mencoba ngerti diri aku sendiri. Aku tahu itu kedengarannya egois.”

“Bukan egois karena kamu belum siap cerita.” Mata Erlina mulai berkaca-kaca. “Yang egois itu kalau kamu tetap minta aku tinggal, sementara kamu menutup pintu rapat-rapat dan nyuruh aku percaya bahwa suatu hari kamu akan buka.”

Julian tidak bergerak.

Di kepalanya, kalimat naskah itu kembali muncul.

Erlina datang untuk mengembalikan sesuatu yang tidak pernah seharusnya Julian berikan: alasan untuk tetap tinggal.


Erlina membuka tasnya.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan cokelat tua.

Buku yang Julian belikan untuknya.

Buku yang pernah ia titipkan lewat teman, lalu dikembalikan tanpa dibuka.

Kini buku itu berada di tangan Erlina.

“Aku sebenarnya buka ini,” kata Erlina pelan.

Julian menatap buku itu.

“Aku baca kartu kamu.” Erlina tersenyum hambar. “Aku suka isinya. Halaman kosong, tanpa harus menjelaskannya ke siapa pun.”

Ia membuka sampul buku.

Di halaman pertama, ada tulisan tangan Erlina.

Aku tidak ingin pergi karena aku membencimu.
Aku ingin pergi karena aku mulai tidak mengenali diriku sendiri ketika bersamamu.


Julian merasa dadanya runtuh.

Erlina menutup buku itu lagi.

“Aku bukan mau putus karena kamu jahat,” lanjutnya. “Aku juga nggak bilang semua yang terjadi cuma salah kamu. Aku tahu kamu lagi berusaha. Aku lihat itu.”

“Lin—”

“Tolong jangan.”

Julian berhenti.

Erlina mengusap sudut matanya cepat-cepat.

“Aku capek jadi alasan kamu berubah,” katanya. “Aku capek merasa kalau aku pergi, kamu akan balik jadi orang yang kamu takutkan. Aku nggak mau dicintai sebagai kesempatan kedua. Aku mau dicintai sebagai aku.”

Julian ingin mengatakan bahwa ia memang mencintai Erlina. Bahwa ia tidak pernah berhenti. Bahwa dalam setiap versi hidup, ia selalu mencari jalan kembali kepadanya.

Namun justru itu masalahnya.

Ia mencari jalan kembali kepada Erlina.

Bukan jalan untuk memahami siapa Erlina sebenarnya.

“Aku ngerti,” katanya pelan.

Erlina menatapnya, mungkin menunggu kalimat lain. Permohonan. Janji. Bantahan.

Namun Julian tidak memberi semuanya.

Ia memandang buku catatan di tangan Erlina.

“Itu tetap buat kamu,” katanya. “Kalau kamu mau simpan, simpan. Kalau mau buang, juga nggak apa-apa.”

Erlina menggigit bibirnya.

“Kamu nggak mau minta aku jangan pergi?”

Julian menutup mata sesaat.

Ia sangat ingin.

Tapi ia membuka mata lagi dan berkata, “Aku mau. Banget.”

Erlina menahan napas.

“Tapi aku nggak mau kamu tinggal karena kasihan sama aku,” lanjut Julian. “Atau karena takut aku hancur. Aku sudah terlalu sering membuat orang lain jadi penanggung jawab atas ketakutan aku.”

Mata Erlina benar-benar berkaca-kaca kini.

Julian menarik napas panjang.

“Kalau kamu butuh pergi, aku akan sakit. Aku mungkin bakal nyesel. Tapi aku nggak akan pakai rasa sakit itu buat bikin kamu merasa bersalah.”

Taman kembali sunyi.

Suara ayunan masih berdecit di belakang mereka.

Erlina memeluk buku catatan itu ke dada.

“Aku nggak tahu nanti gimana,” katanya. “Aku nggak tahu aku masih bisa percaya atau nggak.”

“Aku juga nggak tahu,” jawab Julian. “Tapi kali ini aku nggak akan memaksa kamu kasih jawaban sekarang.”

Erlina mengangguk pelan.

Ia berdiri.

Julian tidak ikut berdiri. Ia membiarkannya mengambil tas dan merapikan jaketnya sendiri.

Sebelum pergi, Erlina menatapnya sekali lagi.

“Aku harap kamu berubah bukan cuma karena takut kehilangan aku.”

Julian mengangguk.

“Aku juga.”

Erlina berjalan menuju jalan kecil di ujung taman.

Julian memperhatikannya sampai ia menghilang di antara orang-orang yang pulang sore itu.

Tidak ada adegan besar.

Tidak ada Erlina yang menoleh lalu berlari kembali.

Tidak ada kalimat yang menyelamatkan mereka.

Hanya seorang perempuan yang memilih pergi, dan seorang laki-laki yang akhirnya membiarkannya.


Malamnya, Julian membuka laptop.

Ia tidak membuka Bab 17 dalam naskah KEMBALI.

Ia membuat dokumen baru.

Judulnya:

PERGI

Di halaman pertama, ia menulis:

Ada perpisahan yang terasa seperti kegagalan karena kita terbiasa mengukur cinta dari siapa yang bertahan.
Padahal kadang, satu-satunya cara mencintai seseorang adalah berhenti menjadikannya alasan untuk tidak menghadapi diri sendiri.


Julian berhenti.

Untuk pertama kalinya, tidak ada tulisan lain yang muncul.

Tidak ada petunjuk.

Tidak ada kalimat dari putaran sebelumnya.

Ia menutup laptop.

Lalu, di atas meja, ia melihat flashdisk hitam yang berisi naskah KEMBALI — FINAL.

Lampu indikator kecil di sisinya menyala sendiri.

Julian menatapnya cukup lama.

Kemudian ia mencabut flashdisk itu dari laptop, memasukkannya ke dalam laci, dan menguncinya.

Malam itu, ia tidak mencoba mencari masa depan.

Ia membiarkan dirinya merasakan kehilangan di masa kini.




Report Page