BAB 16

BAB 16


Dua hari setelah menemukan cetakan tentang putaran keenam, Julian berhenti membuka laptop.

Ia tetap pergi sekolah. Tetap datang ke magang. Tetap membantu mama menyiapkan makan malam ketika sempat. Tetap duduk bersama papa di teras meski mereka tidak selalu punya bahan pembicaraan.

Namun ia tidak menulis.

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.

Justru karena terlalu banyak.

Setiap halaman kosong kini terasa seperti pintu. Setiap kalimat yang muncul tanpa ia ingat menulisnya terasa seperti seseorang mengetuk dari ruangan yang sama, tetapi dari waktu yang berbeda.

Dan Julian belum siap membukanya.

Hari Selasa, Nadine menyadari perubahan itu.

“Kamu kenapa?” tanyanya sambil memeriksa artikel Julian.

Julian mengangkat wajah dari layar komputer. “Kenapa?”

“Biasanya kamu cepat kalau nulis. Sekarang dari tadi cuma ganti satu kalimat.”

Julian melihat dokumennya.

Sejak satu jam lalu, ia memang hanya menulis satu paragraf pembuka tentang kegiatan baca gratis di taman kota. Kalimatnya sudah ia ganti lima kali.

Membaca membuka jendela menuju dunia yang lebih luas.


Terlalu biasa.

Buku mengajarkan manusia untuk hidup lebih dari satu kali.


Terlalu dekat.

Julian menghapus lagi.

“Aku lagi nggak fokus,” katanya.

Nadine menarik kursi di samping mejanya. “Karena sekolah? Atau karena magangnya kebanyakan?”

“Bukan.”

“Masalah rumah?”

Julian terdiam.

Nadine tidak memaksa. Ia hanya mengambil beberapa lembar draf yang dicoret-coret Julian.

“Kamu tahu kenapa tulisan kamu biasanya enak dibaca?” katanya.

Julian menggeleng.

“Karena kamu suka memperhatikan hal kecil. Cara orang bicara. Kebiasaan yang kelihatannya nggak penting. Hal-hal yang orang lain lewatkan.” Nadine menaruh draf itu kembali. “Tapi kalau kamu terlalu sibuk memikirkan akhir, kamu jadi nggak melihat apa yang ada di depan kamu.”

Julian menatapnya.

Kalimat itu tidak terdengar seperti pesan dari naskah misterius. Tidak ada nada menghakimi. Nadine hanya sedang membicarakan tulisannya.

Namun Julian tetap merasa seperti sedang dibuka satu bagian dari dirinya yang selama ini rapat.

“Aku takut nulis,” katanya, nyaris seperti berbisik.

Nadine mengernyit. “Takut kenapa?”

Julian memandang layar kosong.

“Takut kalau yang keluar ternyata bukan yang mau aku tulis.”

Nadine tersenyum samar. “Kadang memang begitu. Tapi yang keluar duluan belum tentu musuh kamu.”


Sore itu, Julian pulang lebih cepat.

Di rumah, mama sedang menyiram tanaman di teras. Papa duduk di kursi kayu sambil membaca koran, kali ini tanpa wajah pucat atau obat di meja. Ia tampak lebih baik, meski Julian masih berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu sering memperhatikan.

“Kok cepat?” tanya mama.

“Tugas di kantor sudah selesai.”

“Bagus. Mama kira kamu bakal pulang malam lagi.”

Julian mengambil ember kecil dari tangan mama. “Aku bantu.”

Mama menatapnya sebentar. “Nggak usah. Kamu istirahat aja.”

“Aku mau bantu.”

Mama menyerahkan ember itu tanpa banyak bicara.

Mereka menyiram tanaman dalam diam. Air mengalir dari gayung, jatuh ke tanah, lalu meninggalkan aroma basah yang lembut. Julian mengenali beberapa tanaman di halaman itu: bunga melati di dekat pagar, cabai yang ditanam mama dalam pot kecil, serta pohon mangga yang daunnya selalu mengotori teras saat angin besar datang.

Di kehidupan lama, Julian tidak pernah benar-benar tahu apa yang tumbuh di halaman rumahnya.

Ia tinggal di sana, tetapi tidak melihat.

“Ma,” katanya sambil menyiram pot cabai. “Mama pernah kepikiran pindah?”

Mama tertawa kecil. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”

“Cuma nanya.”

“Pernah.” Mama memandang rumah itu. “Rumah ini kadang terlalu panas, atapnya bocor kalau hujan, dan tetangga sebelah suka putar dangdut pagi-pagi.”

Julian ikut tersenyum.

“Tapi mama juga sayang rumah ini,” lanjutnya. “Bukan karena rumahnya sempurna. Karena banyak hidup kita di sini.”

Julian menunduk.

“Aku dulu pengin banget pindah,” katanya.

Mama meliriknya. “Dulu?”

“Maksudku, kadang aku kepikiran nanti kalau sudah besar, mungkin aku mau tinggal di tempat lain.”

“Itu wajar.” Mama mengambil kembali ember dari tangan Julian. “Anak-anak memang harus pergi suatu hari. Rumah bukan tempat buat menahan orang terus tinggal.”

Kalimat itu membuat Julian terdiam.

Mama menatapnya lembut.

“Yang penting, kalau kamu pergi, jangan sampai kamu lupa jalan pulang.”


Di kamar, Julian akhirnya membuka laci paling bawah mejanya.

Buku catatan cokelat yang pernah ia berikan kepada Erlina masih ada di sana. Tidak dibuka. Tidak disentuh sejak dikembalikan.

Ia juga menemukan catatan biru tua yang berisi jejak putaran keempat. Kertas cetakan tentang putaran keenam. Beberapa lembar draf cerita pendek masa remajanya. Semuanya kini ia kumpulkan menjadi satu.

Ia ingin menyimpannya kembali.

Namun saat hendak menutup laci, jarinya menyentuh sesuatu di dasar.

Sebuah flashdisk hitam.

Benda itu kecil, biasa, dan tidak memiliki label apa pun.

Julian tidak ingat pernah memilikinya.

Ia memegangnya cukup lama sebelum akhirnya memasukkannya ke laptop.

Layar menyala.

Ada satu folder di dalam flashdisk.

NASKAH AKHIR

Julian menelan ludah.

Folder itu berisi satu dokumen Word.

Nama filenya membuat napasnya tertahan.

KEMBALI — FINAL.docx

Julian tidak langsung membukanya.

Ia berdiri dari kursi, berjalan ke jendela, lalu kembali lagi. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa file itu mungkin hanya naskah lama. Mungkin ia pernah menulisnya dan lupa. Mungkin itu hanya kumpulan catatan yang tersimpan tanpa sengaja.

Namun kata FINAL terasa mustahil.

Ia belum pernah menyelesaikan novel berjudul KEMBALI.

Setidaknya, bukan dalam hidup yang ia ingat.

Julian duduk lagi.

Lalu ia membuka dokumen itu.

Halaman pertama menampilkan judul besar.

KEMBALI
Sebuah Novel tentang Waktu, Penyesalan, dan Kedewasaan


Di bawahnya, tertulis satu nama.

Julian Pradana


Jantung Julian berdetak terlalu keras.

Ia menekan tombol scroll.

Halaman berikutnya adalah prolog.

Dan kalimat pertamanya persis seperti sesuatu yang pernah ia tulis pada malam sebelum terbangun di masa lalu.

Julian selalu percaya bahwa penyesalan adalah bentuk lain dari perjalanan waktu.


Julian membeku.

Ia membaca paragraf pertama. Kedua. Ketiga.

Semua yang ia alami—malam ketika ia menulis permohonan untuk kembali, cahaya pagi di kamar mudanya, suara mama dari dapur, papa yang membaca koran—sudah ada dalam naskah itu.

Bukan sebagai catatan.

Sebagai cerita.

Julian membuka daftar isi.

Bab-babnya memiliki judul pendek.

Kesempatan.

Janji.

Jejak.

Pilihan.

Alasan.

Menunggu.

Waktu.

Rahasia.

Putaran.

Bukti.

Tangannya semakin dingin saat melihat daftar berikutnya.

Pertama.

Kandang.

Ruang.

Rumah.

Ingatan.

Naskah.

Bab keenam belas.

Bab yang sedang ia jalani.

Julian menatap judul itu lama.

Ia belum pernah menyebut bagian ini sebagai Naskah. Ia belum pernah membuat daftar isi. Namun file tersebut seolah sudah mengetahui urutan langkahnya, bahkan sebelum ia menjalaninya.

Dengan napas pendek, Julian menekan tombol pencarian.

Ia mengetik:

BAB 17

Dokumen membawanya ke halaman berikutnya.

Judulnya muncul.

Bab 17 — Pergi


Julian berhenti.

Di bawah judul itu, hanya ada satu paragraf:

Erlina datang untuk mengembalikan sesuatu yang tidak pernah seharusnya Julian berikan: alasan untuk tetap tinggal.


Julian membaca kalimat itu berulang kali.

Ruang kamar terasa mengecil.

Di meja, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari Erlina.

Erlina: Besok sepulang sekolah, bisa ketemu?


Julian menatap layar, lalu kembali menatap naskah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan.

Jika ia menemui Erlina, apakah ia sedang mengikuti cerita yang sudah ditulis?

Atau jika ia menghindarinya, apakah ia hanya mengulang kebiasaannya untuk lari sebelum sesuatu sempat menyakitinya?


Report Page