BAB 15
Bab 15 — Yang Diingat Tubuh
Papa tidak masuk kerja selama tiga hari.
Dokter klinik mengatakan tekanan darahnya naik karena kelelahan dan kurang istirahat. Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan, kata dokter. Papa hanya perlu tidur cukup, mengurangi kopi, dan tidak memaksakan diri di kantor.
Kalimat tidak terlalu mengkhawatirkan seharusnya membuat Julian lega.
Namun justru sejak itulah ia mulai memperhatikan semuanya.
Berapa kali papa batuk.
Berapa banyak kopi yang diminumnya.
Jam berapa papa tidur.
Wajah mama saat melihat papa memijat pelipis.
Nada suara papa ketika berkata, "Aku nggak apa-apa."
Julian mencatat semuanya di buku tulis.
Bukan di laptop. Ia tidak berani membuka laptop setelah menemukan catatan tentang putaran keempat. Ia takut ada versi lain dirinya yang menunggu di dalam dokumen-dokumen itu, siap menceritakan kegagalan berikutnya.
Tetapi dengan menulis di buku, ia merasa bisa membuat semuanya lebih nyata.
Lebih bisa dikendalikan.
Senin: Papa minum obat pukul 08.00.
Selasa: Papa tidur siang satu jam.
Rabu: Papa tidak batuk malam hari.
Tulisan itu memenuhi satu halaman.
Lalu dua halaman.
Lalu tiga.
Mama menemukan buku itu pada sore hari.
"Kamu nulis apa?" tanyanya.
Julian cepat-cepat menutup buku. "Nggak apa-apa."
Mama menatap sampulnya. "Tentang papa?"
Julian tidak menjawab.
Mama duduk di sampingnya.
"Julian," katanya pelan, "kamu khawatir boleh. Tapi jangan sampai kamu hidup seperti sedang menunggu sesuatu yang buruk."
Julian memandang lantai.
"Aku cuma mau memastikan papa baik-baik aja."
"Mama juga mau." Tangan mama menutup punggung tangan Julian. "Tapi kita nggak bisa menjaga orang dengan cara menghitung setiap napasnya."
Kalimat itu membuat Julian ingin membantah.
Karena kalau ia tidak menghitung, bagaimana ia tahu kapan semuanya berubah?
Bagaimana ia tahu kapan terlambat?
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Hari Kamis, papa memutuskan kembali bekerja.
"Aku sudah enakan," katanya saat sarapan.
Mama menatapnya dengan wajah tidak setuju. "Dokter bilang istirahat."
"Dokter bilang jangan terlalu capek, bukan berhenti kerja."
Julian yang sedang mengaduk teh langsung mengangkat wajah.
"Papa jangan masuk dulu," katanya.
Papa menoleh. "Julian."
"Sehari lagi aja. Atau dua hari. Biar benar-benar pulih."
Papa meletakkan sendoknya. "Kamu sekolah hari ini?"
"Iya, tapi—"
"Kalau begitu fokus sekolah."
"Aku cuma peduli."
"Papa tahu." Suara papa masih tenang. "Tapi kamu nggak bisa mengatur semua orang hanya karena kamu takut sesuatu terjadi."
Mama terdiam.
Julian merasakan panas naik ke wajahnya.
Ia ingin mengatakan bahwa papa tidak mengerti. Ia ingin berkata bahwa ada hal-hal yang papa tidak tahu. Bahwa waktu bisa habis tanpa peringatan. Bahwa satu keputusan sepele bisa menjadi penyesalan seumur hidup.
Tapi ia ingat catatan putaran keempat.
Aku tinggal secara fisik.
Tapi ketakutanku membuat semua orang di rumah ini merasa tidak bisa bernapas.
Julian menghela napas.
"Maaf, Pa."
Papa tidak langsung menjawab.
Lalu ia mengambil tas kerja yang tergantung di kursi. "Papa pulang lebih cepat hari ini."
Bukan janji.
Hanya pemberitahuan.
Julian mengangguk. "Hati-hati."
Papa menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
"Kamu juga."
Sepulang sekolah, Julian tidak langsung ke tempat magang.
Ia duduk sendiri di perpustakaan. Di hadapannya ada buku matematika terbuka, tetapi ia tidak membaca satu pun halaman. Ponselnya tergeletak di atas meja, layar menghadap ke atas.
Ia menunggu pesan dari papa.
Ia menunggu pesan dari mama.
Ia menunggu sesuatu yang membuktikan bahwa semuanya masih baik-baik saja.
"Buku kamu dari tadi halaman yang sama."
Julian mengangkat wajah.
Erlina berdiri di seberang meja, membawa dua buku dan sebuah map plastik. Mereka belum benar-benar bicara sejak pertemuan terakhir di perpustakaan. Ada beberapa pesan singkat—tentang tugas, tentang papa Julian, tentang hal-hal yang aman dibicarakan—tetapi tidak ada yang menyentuh masalah mereka.
"Kamu boleh duduk," kata Julian.
Erlina menarik kursi perlahan.
"Kamu nggak magang?"
"Nanti."
"Kamu kelihatan capek."
"Papa sudah masuk kerja lagi."
Erlina mengangguk. "Sudah baikan?"
"Katanya begitu."
"Tapi kamu masih takut."
Julian menatapnya.
Erlina tidak terdengar menghakimi. Ia hanya menyebut sesuatu yang sudah jelas.
"Aku takut nggak cukup perhatian," kata Julian.
"Perhatian dan takut itu beda."
"Aku tahu."
"Kadang kamu tahu, tapi kamu tetap pilih yang bikin kamu takut."
Kalimat itu membuat Julian tersenyum hambar.
Erlina membuka map plastiknya. Di dalamnya ada beberapa lembar formulir.
"Aku mau daftar lomba menulis," katanya.
Julian memandang formulir itu. "Lomba cerpen?"
"Iya. Tema bebas."
"Keren."
"Aku belum yakin mau ikut."
"Kenapa?"
Erlina mengangkat bahu. "Takut jelek. Takut nggak selesai. Takut ternyata aku cuma suka ngomongin cerita, tapi nggak bisa nulis cerita."
Julian ingin langsung menyemangati. Mengambil formulir itu, membacanya, membuat jadwal, menawarkan diri mengedit cerpennya. Ia ingin membantu Erlina agar tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti dirinya dulu.
Namun ia berhenti.
"Kamu pengin ikut?" tanyanya.
Erlina terdiam sesaat. "Pengin."
"Kalau gitu, coba."
"Cuma gitu?"
Julian tersenyum kecil. "Aku bisa bantu kalau kamu minta. Tapi aku nggak mau bikin kamu ngerasa harus ikut cuma karena aku bilang kamu harus ikut."
Erlina memandangnya cukup lama.
"Aku kira kamu bakal langsung bilang, 'Aku bantuin, aku bikinin outline, kamu harus daftar sekarang sebelum tutup.'"
"Aku juga kira begitu."
"Terus?"
"Aku lagi belajar nanya dulu."
Senyum Erlina muncul tipis. Tidak besar, tetapi sungguh-sungguh.
"Mungkin aku memang butuh dibantu baca nanti," katanya.
Julian mengangguk. "Kalau kamu mau."
Tidak ada janji besar. Tidak ada pengakuan. Tidak ada yang kembali seperti semula.
Namun untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, jarak di antara mereka tidak terasa seperti hukuman.
Sore menjelang ketika ponsel Julian bergetar.
Nama mama muncul di layar.
Jantung Julian langsung jatuh.
Ia mengangkat telepon terlalu cepat.
"Ma?"
"Julian, kamu di mana?"
"Di perpustakaan. Kenapa? Papa kenapa?"
Mama diam satu detik, dan satu detik itu terasa cukup untuk membuat tubuh Julian dingin.
"Papa belum pulang."
Julian berdiri.
"Belum pulang? Tapi Papa bilang mau pulang cepat."
"Mungkin masih di jalan. Mama cuma mau tanya, kamu ada kabar dari papa?"
"Nggak ada."
"Kamu jangan panik dulu."
Kalimat itu justru membuat napas Julian semakin pendek.
"Aku cari, Ma."
"Julian, jangan—"
Namun Julian sudah menutup telepon.
Ia memasukkan buku ke tas tanpa rapi. Erlina berdiri dari kursinya.
"Kenapa?"
"Papa belum pulang."
"Julian, mungkin ada kerjaan."
"Dia bilang pulang cepat."
"Terus?"
Julian tidak menjawab. Ia langsung berjalan keluar perpustakaan.
Erlina mengejarnya.
"Julian!"
Ia berhenti di lorong.
"Aku cuma mau cari papa," katanya.
"Kamu mau cari ke mana?"
"Kantornya."
"Tanpa tahu apa-apa?"
"Dia nggak angkat telepon."
"Kamu sudah telepon?"
Julian melihat layar ponselnya.
Belum.
Ia bahkan belum menelepon.
Kepanikan membuatnya melompat jauh lebih cepat daripada kenyataan.
Erlina menarik napas.
"Coba telepon dulu."
Julian mengangguk kaku.
Ia menekan nama papa.
Nada sambung terdengar satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak diangkat.
Tubuh Julian kembali menegang.
"Sekali lagi," kata Erlina.
Julian menelepon lagi.
Kali ini, setelah nada sambung keempat, suara papa terdengar.
"Halo?"
Julian memejamkan mata.
"Pa?"
"Iya. Kenapa?"
"Papa di mana?"
"Masih di kantor. Ada rapat mendadak. Papa sudah kabarin mama, tapi mungkin belum sampai pesannya."
Julian terdiam.
"Aku... aku kira papa kenapa-kenapa."
Di seberang sana, papa tidak langsung menjawab.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Julian menutup mata lebih rapat.
"Maaf, Pa."
"Papa pulang setelah ini. Jangan ngebut ke mana-mana."
"Iya."
Telepon berakhir.
Julian menurunkan ponselnya. Tangannya masih gemetar.
Erlina berdiri di depannya, tidak menyentuhnya, tidak memeluknya, tidak mencoba memperbaiki keadaan dengan kata-kata manis.
"Kamu lihat?" katanya pelan. "Kadang ketakutan kamu bikin kamu lari sebelum ada yang benar-benar terjadi."
Julian mengangguk.
"Aku tahu."
"Kalau kamu tahu, jangan cuma bilang tahu."
Julian menatap layar ponselnya. Ada satu pesan dari mama yang baru masuk.
Mama: Papa baru kabarin. Ada rapat mendadak. Kamu nggak usah khawatir ya.
Pesan itu dikirim dua menit sebelum ia menelepon papa.
Ia terlambat membacanya karena sudah sibuk membayangkan hal terburuk.
Malam itu, Julian pulang lebih awal dari magang.
Ia duduk di ruang tamu bersama mama sambil menunggu papa. Televisi menyala, tetapi tidak satu pun dari mereka benar-benar menonton.
Saat papa akhirnya masuk, wajahnya tampak lelah tetapi baik-baik saja.
Julian berdiri.
"Pa."
Papa meletakkan tas kerja. "Kenapa?"
Julian ingin meminta maaf lagi. Namun kali ini ia tidak ingin sekadar melempar kata yang sama lalu berharap semuanya menjadi ringan.
"Aku tadi panik," katanya. "Aku takut papa kenapa-kenapa. Aku sampai mau nyusul ke kantor sebelum telepon."
Papa mengangguk. "Mama cerita."
"Aku tahu itu berlebihan."
Papa duduk di sofa. "Kamu takut kehilangan?"
Julian terdiam.
Papa menatapnya, menunggu tanpa memaksa.
"Iya," jawab Julian akhirnya.
"Semua orang takut kehilangan, Jul." Papa mengusap wajahnya yang lelah. "Tapi jangan sampai takut kehilangan membuat kamu lupa menikmati orang yang masih ada."
Julian mengangguk.
Papa menepuk sisi sofa di sebelahnya.
"Duduk."
Julian duduk.
Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada solusi sempurna.
Papa hanya mengambil remote, menaikkan sedikit volume televisi, lalu menyandarkan punggung.
Julian duduk di sebelahnya sampai acara itu selesai.
Malam semakin larut ketika Julian masuk kamar.
Ia tidak langsung membuka laptop. Ia mencuci muka, mengganti pakaian, lalu duduk di meja dengan buku tulis di depannya.
Namun sebelum ia sempat menulis, matanya tertuju pada laptop.
Ada sesuatu yang berbeda.
Laptop itu tertutup rapat, tetapi sebuah halaman kertas terselip di bawahnya.
Kertas putih, terlipat dua.
Julian yakin kertas itu tidak ada ketika ia pergi pagi tadi.
Ia membukanya.
Tulisan di sana bukan tulisan tangan.
Itu hasil cetakan.
Di bagian atas halaman, tertulis:
PUTARAN KEENAM
Di bawahnya ada satu paragraf pendek.
Pada putaran keenam, aku berhasil menjaga papa tetap hidup lebih lama.
Aku mengingat setiap jadwal obat, setiap hasil pemeriksaan, setiap makanan yang tidak boleh ia makan. Aku berhenti menulis, berhenti bekerja, berhenti bertemu teman-teman, karena aku pikir kehadiranku adalah satu-satunya hal yang membuatnya selamat.
Papa hidup lebih lama.
Tapi di tahun terakhirnya, ia berkata bahwa rumah ini terasa seperti rumah sakit, dan aku terasa seperti orang asing yang selalu menunggu ia sakit lagi.
Julian memegang kertas itu begitu erat sampai sudutnya kusut.
Di bawah paragraf tersebut, ada satu kalimat.
Tubuh mengingat ketakutan yang pikiranmu berusaha lupakan.
Julian menatap kata-kata itu dalam diam.
Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
Kertas itu baru dicetak.
Masih hangat.