BAB 14

BAB 14



Papa pulang lebih awal pada hari Jumat.

Itu bukan sesuatu yang langsung disadari Julian. Ia baru tahu saat membuka pintu rumah sepulang sekolah dan mendapati sepatu kerja papa sudah berada di rak dekat pintu.

Biasanya, sepatu itu baru muncul setelah langit gelap.

Hari itu, matahari bahkan belum benar-benar turun.

Julian berdiri beberapa detik di ruang tamu.

Televisi menyala tanpa suara. Di meja, ada segelas air putih yang tinggal setengah. Tas kerja papa terletak di sofa, terbuka, dengan beberapa berkas keluar dari dalamnya.

"Ma?" panggil Julian.

Mama muncul dari dapur. Wajahnya tampak biasa saja, tetapi tangan kanannya masih memegang lap dapur terlalu erat.

"Kamu sudah pulang?"

"Papa di rumah?"

"Iya. Lagi istirahat."

"Kenapa?"

Mama berhenti sejenak.

"Capek saja."

Jawaban itu langsung membuat dada Julian mengencang.

Ia pernah mendengar terlalu banyak orang menggunakan kata capek untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.

"Papa sakit?"

"Bukan sakit." Mama berusaha tersenyum. "Tadi di kantor pusing, jadi pulang dulu. Sudah minum obat. Jangan dibesar-besarin."

Julian mengangguk, tetapi kakinya sudah bergerak ke arah kamar.

Papa berbaring di tempat tidur dengan satu tangan menutupi mata.

Kemeja kerjanya sudah berganti kaus tipis. Di meja samping tempat tidur ada obat, segelas air, dan jam tangan yang belum sempat disimpan.

Julian mengetuk pintu yang terbuka setengah.

"Pa?"

Papa menurunkan tangannya. "Pulang sekolah?"

"Iya."

"Kamu sudah makan?"

"Belum." Julian masuk ke kamar. "Papa gimana?"

"Cuma pusing."

Julian berdiri di dekat tempat tidur, tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin bertanya apakah papa sudah diperiksa dokter. Ia ingin memegang tangan papa, menelepon ambulans, atau memaksa papa berhenti bekerja.

Di kepalanya, kalimat dari putaran kedua bergerak seperti luka yang belum menutup.

Mama tetap pergi.

Dan aku tetap menyalahkan waktu.

Dalam putaran yang sekarang, papa yang terlihat lelah.

Apakah ini awal dari sesuatu?

Apakah ia kembali terlambat?

"Aku temenin ke dokter, ya," kata Julian.

Papa menggeleng. "Nanti saja."

"Nanti kapan?"

"Kalau masih pusing."

"Pa, jangan ditunda."

Papa menatapnya. "Julian."

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Julian berhenti.

"Papa cuma kecapekan." Papa duduk perlahan. "Kamu jangan langsung panik."

Julian menunduk.

Ia tahu papa benar. Ia belum tahu apa-apa. Satu pusing tidak selalu berarti penyakit besar. Satu wajah pucat tidak otomatis menjadi pertanda kehilangan.

Tetapi ketakutan tidak bekerja dengan bukti.

Ketakutan bekerja dengan bayangan.

"Aku cuma khawatir," katanya.

"Papa tahu." Papa tersenyum kecil. "Tapi khawatir itu beda sama mengambil alih."

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan papa.

Terlalu tepat.

Terlalu mirip dengan semua pelajaran yang terus menghantam Julian sejak ia kembali.

Papa mengambil gelas air di meja.

"Duduk," katanya.

Julian menurut.

"Kamu ingat nggak waktu kecil kamu demam tinggi?" tanya papa.

Julian menggeleng pelan.

"Kamu umur tujuh tahun. Mama panik banget. Papa juga, sebenarnya." Papa tersenyum samar. "Tapi dokter bilang kamu cuma butuh istirahat dan obat. Setelah itu, Papa belajar kalau sayang sama anak bukan berarti setiap kali dia sakit Papa harus takut kehilangan."

Julian menatapnya.

"Kadang kita cuma perlu ada di dekat orangnya," lanjut papa. "Bukan langsung memutuskan apa yang terbaik buat dia."

Julian menarik napas panjang.

Ia merasa seperti anak kecil yang baru pertama kali belajar bahwa perhatian tidak selalu harus berbentuk tindakan besar.

"Kalau Papa butuh apa-apa, bilang," katanya.

"Iya."

"Aku serius."

Papa tersenyum. "Papa juga."

Sore itu, Julian membatalkan magangnya.

Ia sudah mengetik pesan panjang kepada Nadine, lalu menghapus sebagian besar isinya.

Julian: Kak, maaf. Hari ini aku izin nggak bisa datang. Papa lagi kurang enak badan dan aku mau di rumah dulu. Besok aku siap kejar tugas yang tertinggal.

Nadine membalas tidak lama kemudian.

Nadine: Oke. Jaga papa kamu. Tugas bisa menyusul.

Julian membaca balasan itu beberapa kali.

Tugas bisa menyusul.

Kalimat yang sederhana, tetapi cukup untuk mengendurkan sesuatu dalam dadanya.

Ia membantu mama menyiapkan makan malam. Mengupas bawang, mencuci sayur, dan mengambilkan piring. Pekerjaan-pekerjaan kecil yang dulu selalu ia hindari karena merasa tidak ada hubungannya dengan hidup yang ingin ia bangun.

"Kamu nggak magang?" tanya mama.

"Izin."

"Karena papa?"

Julian mengangguk.

Mama berhenti mengiris wortel.

"Papa cuma pusing, Jul."

"Aku tahu."

"Kamu nggak usah langsung takut begitu."

Julian tersenyum tipis. "Aku sedang belajar nggak langsung panik."

Mama memandangnya lama.

"Kamu akhir-akhir ini seperti membawa beban yang bukan milik anak seumuran kamu."

Julian hampir menjawab bahwa mama benar.

Ia membawa tahun-tahun yang belum terjadi. Ia membawa kenangan tentang rumah yang kosong, pesan-pesan yang tidak dibalas, dan keinginan mustahil untuk mengulang setiap percakapan yang pernah ia sia-siakan.

Namun ia hanya berkata, "Mungkin aku baru sadar banyak hal."

Mama menghela napas, lalu kembali memotong sayur.

"Kalau sadar, jangan cuma jadi takut," katanya. "Jadiin alasan buat lebih baik."

Menjelang malam, Erlina mengirim pesan.

Erlina: Kamu nggak magang?

Julian sempat bingung. Ia tidak memberi tahu siapa pun di sekolah, kecuali Nadine.

Julian: Nggak. Papa lagi kurang enak badan.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Erlina: Serius? Sekarang gimana?

Julian: Lagi istirahat. Kayaknya cuma kecapekan.

Erlina: Semoga cepat baikan, ya.

Julian menatap pesan itu.

Tidak ada emotikon. Tidak ada kalimat panjang. Namun ada kepedulian yang tidak ia minta.

Ia hampir membalas dengan penjelasan lebih detail, lalu berhenti.

Tidak semua perhatian harus berubah menjadi pintu untuk kembali mendekat.

Julian: Makasih, Lin.

Erlina tidak membalas lagi.

Julian meletakkan ponsel di meja dapur, lalu kembali membantu mama.

Makan malam berlangsung lebih tenang daripada biasanya.

Papa sudah bisa duduk di meja, meski wajahnya masih tampak lelah. Mama beberapa kali bertanya apakah ia ingin tambah makanan. Papa beberapa kali berkata tidak perlu. Julian tidak memaksa.

Ia hanya mengisi gelas air papa ketika melihatnya kosong.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Namun papa menatap Julian sebentar dan mengangguk kecil.

Sesudah makan, Julian membantu mencuci piring.

Mama berdiri di dekatnya sambil mengeringkan piring yang sudah bersih.

"Dulu kamu paling susah diminta cuci piring," katanya.

"Aku masih susah, sebenarnya."

Mama tertawa kecil. "Tapi sekarang mau."

Julian membilas satu piring terakhir.

"Mungkin karena sekarang aku tahu, nanti belum tentu ada."

Tangan mama berhenti.

Julian langsung menyesal. Kalimat itu terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak boleh ia ungkapkan.

Namun mama hanya menatap piring di tangannya.

"Justru karena nggak tahu nanti ada atau nggak," katanya pelan, "jangan habiskan hari ini dengan takut."

Julian mengangguk.

Air dari keran tetap mengalir. Suaranya memenuhi jeda di antara mereka.

Malam itu, Julian tidak membuka laptop sampai semua orang tidur.

Ia hanya ingin memastikan papa benar-benar beristirahat. Ia mengecek kamar papa dua kali, lalu merasa bodoh karena tindakan itu. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia sedang mencoba belajar membedakan kepedulian dari kepanikan.

Sekitar pukul sebelas, ia kembali ke kamar.

Laptop di meja tertutup.

Namun di atasnya ada sebuah buku.

Buku itu bukan milik Julian.

Sampulnya biru tua, sudut-sudutnya sudah menguning, dan di bagian depan tertulis namanya dengan spidol hitam:

CATATAN JULIAN

Julian mengenal buku itu.

Ia dulu menggunakannya untuk menulis ide cerita. Buku yang ia kira hilang ketika pindah rumah dalam kehidupan lamanya.

Tangannya gemetar ketika membuka halaman pertama.

Di sana ada tulisan masa remajanya.

Kalau aku bisa balik ke satu hari, aku mau pilih hari sebelum aku pergi dari rumah ini.

Julian membalik halaman.

Berikutnya, tulisan itu lebih rapi. Lebih dewasa.

Pada putaran keempat, aku memilih tidak pindah rumah.

Aku tinggal.

Aku makan malam bersama mereka lebih sering.

Aku mengantar mama ke pasar.

Aku mendengarkan papa bercerita tentang kantor.

Tapi aku mengubah rumah ini menjadi tempat yang menakutkan.

Aku menolak setiap tawaran yang datang karena takut meninggalkan mereka.

Aku marah ketika papa pulang terlambat.

Aku membuat mama merasa bersalah setiap kali ia ingin memiliki hidup di luar rumah.

Aku tinggal secara fisik.

Tapi ketakutanku membuat semua orang di rumah ini merasa tidak bisa bernapas.

Julian berhenti membalik halaman.

Matanya jatuh pada satu kalimat yang ditulis lebih dalam dari yang lain.

Tinggal bukan berarti menahan. Menyayangi bukan berarti membuat seseorang takut pergi.

Dari ruang sebelah, terdengar suara batuk papa.

Julian langsung berdiri.

Tangannya sudah hampir meraih gagang pintu ketika ia berhenti.

Ia menarik napas.

Menunggu beberapa detik.

Kemudian ia berjalan ke kamar papa—bukan dengan kepanikan yang ingin mengambil alih, melainkan membawa segelas air.

Saat pintu kamar terbuka, papa menoleh.

"Kamu belum tidur?"

"Belum."

Julian meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.

"Minum dulu, Pa."

Papa melihat gelas itu, lalu melihat Julian.

"Terima kasih."

Julian mengangguk.

Ia tidak bertanya apakah papa baik-baik saja. Tidak meminta papa berjanji akan sehat. Tidak memaksa jawaban.

Ia hanya duduk di kursi dekat tempat tidur.

Dan untuk beberapa menit, ia menemani papa terjaga.



Report Page