BAB 13

BAB 13



Pagi setelah membaca dokumen ketiga, Julian datang ke sekolah lebih awal.

Bukan karena ada tugas. Bukan karena ingin mencari Erlina sebelum teman-teman lain datang. Ia hanya tidak sanggup terlalu lama berada di kamar.

Laptopnya masih terbuka di atas meja ketika ia pergi.

Dokumen 03 tetap menyala.

Beberapa kandang tidak dibuat dari besi. Beberapa kandang dibuat dari rasa bersalah.

Kalimat itu mengikuti Julian sampai ke gerbang sekolah.

Ia duduk di bangku dekat lapangan, memandangi beberapa siswa yang sedang bermain bola sebelum bel masuk. Udara pagi masih dingin. Rumput di pinggir lapangan tampak basah. Dari kantin, aroma minyak goreng mulai menyebar pelan.

Di kehidupan yang ia ingat, pagi seperti ini tidak pernah berarti apa-apa.

Julian akan datang mepet bel, mengeluh karena belum mengerjakan tugas, lalu mencari Erlina hanya untuk menyalin jawabannya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, ia akan duduk sendirian di tempat yang sama sambil takut pada orang yang pernah ia jadi.

"Pagi-pagi sudah kelihatan kayak habis kena masalah besar."

Julian menoleh.

Dimas, teman sekelasnya, berdiri sambil membawa dua roti. Ia mengulurkan salah satunya kepada Julian.

"Makan," katanya. "Wajah kamu pucat."

Julian menerima roti itu. "Makasih."

Dimas duduk di sebelahnya. Mereka diam beberapa saat, hanya mendengar suara sepatu yang bergesekan dengan lapangan.

"Kamu berantem sama Erlina?" tanya Dimas akhirnya.

Julian menoleh. "Kelihatan banget?"

"Bukan kelihatan. Erlina juga jadi lebih pendiam." Dimas menggigit rotinya. "Kalian biasanya kalau ada masalah, satu sekolah juga tahu. Kamu marah-marah, dia nangis, terus dua hari kemudian baikan."

Julian menunduk.

Dimas tidak bermaksud jahat. Ia hanya menceritakan sesuatu yang bagi dirinya biasa. Namun Julian baru sadar: mungkin semua orang melihat pola itu. Hanya dirinya yang selalu merasa pertengkaran mereka adalah urusan pribadi yang tidak perlu dipertanyakan.

"Kali ini beda," kata Julian.

"Kenapa?"

Julian menatap lapangan. "Karena mungkin aku baru sadar, selama ini aku selalu pengin menang."

Dimas tertawa kecil. "Ya itu sih dari dulu."

Julian meliriknya.

Dimas berhenti tertawa. "Maksud gue, bukan menang dalam arti jahat. Tapi kamu kalau sudah merasa benar, susah banget dibilangin. Kadang Erlina cuma mau kamu dengerin, tapi kamu sudah sibuk cari alasan."

Julian meremas bungkus roti di tangannya.

"Aku seburuk itu?"

Dimas tampak ragu. "Jul, semua orang punya jeleknya. Tapi... ya, kadang kamu bikin orang bingung. Kamu bisa baik banget, terus tiba-tiba jadi dingin kalau sesuatu nggak sesuai pikiran kamu."

Julian mengangguk pelan.

Kalimat itu cocok dengan Julian yang ia kenal.

Cocok juga dengan Julian dalam putaran ketiga.

"Kalau mau baikan," lanjut Dimas, "jangan datang cuma buat minta maaf. Dengerin dulu dia marah tentang apa."

Bel sekolah berbunyi.

Dimas berdiri, menepuk bahu Julian, lalu berjalan menuju kelas.

Julian tetap duduk beberapa detik lebih lama.

Dengerin dulu dia marah tentang apa.

Terdengar mudah.

Tetapi bagi Julian, mendengarkan berarti menerima kemungkinan bahwa ia bukan orang baik dalam cerita hidupnya sendiri.

Erlina datang ke kelas tepat ketika guru pertama hampir masuk.

Ia tidak melihat ke arah Julian. Tidak menghindar secara berlebihan juga. Ia hanya menjalani pagi itu seperti biasanya—menyapa teman perempuan di dekat bangkunya, mengeluarkan buku, lalu memperhatikan pelajaran.

Julian tidak mengirim pesan.

Ia tidak menghampiri Erlina saat istirahat.

Ia tidak mencari alasan untuk memulai percakapan.

Namun ia tetap memperhatikan hal-hal kecil tanpa bisa menahannya. Cara Erlina menunduk ketika membaca. Cara ia mengikat rambutnya ketika kepanasan. Cara ia menahan senyum saat temannya membisikkan sesuatu.

Julian sadar, memberi ruang bukan berarti perasaannya langsung hilang.

Memberi ruang hanya berarti ia tidak menggunakan perasaannya sebagai alasan untuk menuntut.

Saat jam istirahat kedua, teman Erlina mendatangi meja Julian.

"Ini buat kamu."

Ia meletakkan buku catatan cokelat tua di meja.

Julian mengernyit. "Dia balikin?"

"Katanya terima kasih." Teman itu menatap Julian sebentar. "Dia juga bilang, lain kali kalau mau kasih sesuatu, kasih langsung. Jangan pakai orang lain."

Julian mengangguk. "Iya. Maaf."

Teman itu pergi.

Julian memandangi buku catatan tersebut.

Buku itu masih terbungkus kertas cokelat. Tidak dibuka. Kartu kecil yang ia tulis masih terselip di bawah tali.

Ia tidak merasa marah.

Ada rasa kecewa, tentu saja. Tapi jauh di bawahnya, ada sesuatu yang lebih tenang: Erlina tidak wajib menerima pemberiannya. Ia tidak berutang kelembutan hanya karena Julian akhirnya mencoba melakukan sesuatu yang benar.

Julian memasukkan buku itu ke tas.

Sepulang sekolah, Julian pergi ke tempat magang.

Hari itu Nadine memberinya tugas yang lebih sulit: menulis artikel berdasarkan wawancara seorang penulis lokal yang bukunya baru terbit.

"Jangan cuma tulis biodata dan sinopsis," kata Nadine sambil memberikan rekaman suara. "Cari satu hal yang bikin pembaca merasa orang ini nyata."

Julian mengangguk.

Penulis yang diwawancarai bernama Raka Adinata. Ia belum terkenal. Bukunya dicetak terbatas. Ia masih bekerja sebagai penjaga toko alat musik pada siang hari dan menulis setiap malam.

Dalam rekaman, Raka bercerita tentang proses menulis novelnya selama enam tahun.

"Dulu saya pengin bikin buku yang mengubah hidup orang," suara Raka terdengar sedikit gugup. "Tapi lama-lama saya sadar, tulisan saya mungkin nggak mengubah hidup siapa-siapa. Paling nggak, tulisan itu bantu saya ngerti hidup saya sendiri."

Julian menghentikan rekaman.

Ia menyalin kalimat itu ke buku catatan.

Tulisan membantu saya mengerti hidup saya sendiri.

Bukankah selama ini ia justru menggunakan tulisan untuk menolak mengerti? Ia membuat tokoh-tokoh yang bisa kembali, membetulkan, menyelamatkan, dan menghapus. Ia menjadikan setiap cerita sebagai pintu keluar dari kesalahan.

Bukan jendela untuk melihat dirinya sendiri.

Julian mulai menulis artikelnya.

Namun di tengah paragraf kedua, ia berhenti.

Ia membuka browser dan mencari satu judul yang muncul di kepalanya tanpa alasan.

KEMBALI.

Bukan dokumen di laptopnya.

Bukan judul novel yang belum ia tulis.

Ia mencari judul itu di arsip internal media.

Hasilnya kosong.

Ia mencoba membuka folder tugas lama di komputer kantor. Tidak ada apa-apa yang berkaitan dengan judul itu.

Tetapi saat ia kembali ke dokumen artikel, sebuah baris sudah muncul di bawah paragraf yang sedang ia tulis.

Penulis yang baik tidak selalu mengetahui akhir cerita. Kadang, ia hanya cukup jujur untuk tidak memaksa tokohnya hidup sesuai keinginannya.

Julian menatap layar.

Kalimat itu terdengar seperti kutipan dari Raka, tetapi tidak ada di rekaman.

Ia memutar ulang audio dari awal.

Tidak ada.

Ia mengecek histori revisi dokumen.

Baris itu tercatat masuk pada pukul 16.17.

Saat itu, Julian sedang membuka browser.

Tidak ada nama pengguna lain.

Tidak ada perangkat lain yang terhubung.

Ia menghapus kalimat tersebut.

Lalu ia menunggu.

Tidak ada yang berubah.

Julian menghembuskan napas.

Mungkin ia memang menulisnya tanpa sadar.

Mungkin itulah yang terjadi pada seluruh dokumen dari putaran-putaran sebelumnya: Julian menulis sesuatu ketika terlalu lelah, lalu menghapusnya dari ingatan karena tidak siap menerima isinya.

Pikiran itu seharusnya menenangkan.

Sebaliknya, ia merasa lebih takut.

Karena kalau semua tulisan itu berasal dari dirinya sendiri, berarti tidak ada siapa pun yang sedang menghukumnya.

Tidak ada kekuatan misterius.

Tidak ada orang asing yang mengirim peringatan.

Hanya Julian, yang berkali-kali menulis kebenaran untuk dirinya sendiri—lalu berkali-kali memilih tidak membacanya.

Ketika pulang, matahari sudah tenggelam.

Julian sampai di rumah dan mendapati papa duduk di teras, bukan di ruang tamu seperti biasanya. Kemejanya masih dipakai, tetapi wajahnya tampak pucat. Di dekat kursi, ada tas kerja yang belum dibuka.

"Papa belum makan?" tanya Julian.

Papa mengangkat kepala. "Belum. Mama lagi masak."

"Kok duduk di luar?"

"Gerah."

Julian duduk di sebelahnya.

Biasanya ia akan langsung masuk kamar, menunda segala sesuatu sampai rasa bersalah membuatnya kembali. Tetapi hari ini ia tidak.

"Kantor gimana?" tanyanya.

Papa mengangkat bahu. "Biasa."

Julian menatap wajah papa.

"Biasa itu capek atau biasa itu memang nggak ada apa-apa?"

Papa menoleh. Ada senyum kecil yang cepat hilang.

"Kamu sekarang banyak tanya."

"Karena dulu aku kurang nanya."

Papa menatap jalanan di depan rumah. "Kadang orang dewasa memang kelihatan baik-baik saja, Jul. Bukan karena nggak ada masalah. Tapi karena mereka belum tahu mau cerita ke siapa."

Julian menelan ludah.

"Papa bisa cerita ke aku."

Papa tidak menjawab cukup lama.

Lalu ia berkata, "Nanti."

Julian mengangguk.

"Nanti," katanya. "Aku tunggu."

Papa menepuk bahu Julian.

Di dalam rumah, mama memanggil mereka makan.

Julian berdiri lebih dulu, lalu membantu papa bangkit dari kursinya.

Papa tidak protes.

Namun ketika tangan Julian menyentuh lengannya, ia menyadari sesuatu.

Tubuh papa terasa lebih ringan dari yang seharusnya.

Seolah ada bagian dari lelaki itu yang perlahan mulai menghilang, bahkan ketika ia masih duduk tepat di samping Julian.

Malamnya, Julian tidak membuka laptop.

Ia mengambil buku catatan cokelat yang dikembalikan Erlina dan meletakkannya di laci paling bawah meja. Bukan sebagai hukuman, bukan sebagai benda yang harus dilupakan, hanya sebagai pengingat bahwa tidak semua hal yang diberikan harus diterima.

Kemudian ia membuka buku tulis biasa.

Di halaman kosong, ia menulis:

Hari ini, Erlina mengembalikan hadiahnya.

Hari ini, aku tidak mengejarnya.

Hari ini, papa bilang "nanti".

Aku tidak tahu apa yang sedang menunggu di depan.

Tapi mungkin aku tidak harus tahu untuk bisa tetap tinggal.

Ia menutup buku itu.

Tidak ada kalimat tambahan.

Tidak ada folder baru.

Tidak ada dokumen dari putaran lain.

Hanya tulisan Julian sendiri.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, ia membiarkan satu halaman tetap menjadi miliknya.



Report Page