BAB 12
Julian tidak membuka dokumen ketiga lagi malam itu.
Ia menutup laptop sebelum matahari terbit, lalu berbaring dengan punggung menghadap meja belajar. Namun tidur tidak datang. Setiap kali ia memejamkan mata, kalimat itu kembali muncul.
Pada putaran ketiga, aku berhasil membuat Erlina tetap tinggal. Dan itu adalah pertama kalinya aku benar-benar menghancurkannya.
Kalimat itu terasa lebih buruk daripada ancaman.
Karena Julian tidak bisa membayangkan dirinya menyakiti Erlina dengan sengaja.
Ia mungkin pernah marah. Pernah diam terlalu lama. Pernah menghilang ketika Erlina membutuhkannya. Pernah membuat perempuan itu merasa sendirian di dalam hubungan yang seharusnya dijalani berdua.
Tetapi menghancurkan?
Kata itu terlalu besar.
Atau mungkin selama ini ia hanya mengecilkan semua yang pernah ia lakukan.
Pagi itu, Erlina tidak membalas pesannya.
Julian mengirim satu pesan sederhana sebelum berangkat sekolah.
Julian: Pagi. Kamu sudah lebih baik?
Pesan itu terkirim.
Tidak dibaca.
Saat ia sampai di kelas, kursi Erlina masih kosong.
Julian duduk dan mencoba membuka buku pelajaran. Lima menit kemudian, ia melihat pintu kelas. Sepuluh menit kemudian, ia melihat layar ponsel.
Tidak ada balasan.
Saat guru masuk, Erlina baru datang.
Ia berjalan ke bangkunya tanpa melihat Julian. Wajahnya tidak terlihat marah, tetapi juga tidak seperti biasanya. Ia duduk, mengeluarkan buku, lalu menunduk sepanjang pelajaran dimulai.
Julian ingin mendekatinya saat istirahat.
Namun ketika bel berbunyi, Erlina langsung pergi bersama dua teman perempuannya.
Julian berdiri di dekat pintu kelas, memperhatikan punggungnya menjauh.
Bagian paling panik dalam dirinya ingin mengejar.
Bagian lain mengingat kalimat di dokumen ketiga.
Berhasil membuat Erlina tetap tinggal.
Apa artinya?
Memohon? Mengancam? Menyalahkan? Menjadi terlalu baik sampai Erlina merasa tidak enak untuk pergi?
Julian tidak tahu.
Dan ketidaktahuan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Di perpustakaan, Julian mencoba mencari Erlina.
Ia tidak berniat mengganggu. Setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Ia hanya ingin memastikan Erlina baik-baik saja.
Namun saat sampai di meja dekat jendela, Erlina tidak ada di sana. Yang ada hanya buku catatan biru miliknya, tertinggal di atas meja.
Julian mengenali buku itu. Erlina selalu membawanya ke mana-mana. Isinya catatan pelajaran, potongan lirik lagu, daftar buku yang ingin dibeli, dan kadang-kadang cerita pendek yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Julian berdiri di depan meja.
Ia tahu ia tidak boleh membukanya.
Tetapi sampul buku itu sedikit terbuka.
Di halaman yang tampak, ada tulisan tangan Erlina.
Aku takut suatu hari nanti aku harus menjelaskan semua hal kecil yang kulakukan agar seseorang percaya aku tidak akan meninggalkannya.
Julian membeku.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Ia tidak membaca halaman berikutnya. Ia tidak menyentuh buku itu. Namun satu kalimat itu sudah cukup untuk membuatnya ingin duduk di lantai perpustakaan dan menghilang.
"Julian?"
Ia menoleh.
Erlina berdiri beberapa meter darinya, membawa dua buku. Tatapannya langsung jatuh ke buku catatan yang terbuka di atas meja.
Julian mundur selangkah.
"Aku nggak baca," katanya cepat.
Erlina mendekat, lalu menutup buku itu dengan gerakan pelan. "Tapi kamu lihat."
"Aku nggak sengaja."
Erlina tidak menjawab.
"Aku beneran nggak bermaksud—"
"Kenapa kamu cari aku?" potong Erlina.
Julian terdiam.
Karena aku takut kamu menjauh.
Karena aku takut aku mengulang sesuatu.
Karena aku tidak tahu bagaimana membuatmu tetap ada tanpa berubah menjadi orang yang menahanmu.
"Aku mau minta maaf," katanya.
Erlina menghela napas kecil. "Julian, kamu sudah minta maaf."
"Aku tahu."
"Terus kamu mau apa?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi Julian tidak bisa menjawab.
Ia ingin Erlina membalas seperti dulu. Ia ingin mereka duduk bersama di kantin. Ia ingin perempuan itu tersenyum tanpa ada jarak. Ia ingin semua kembali normal.
Ia ingin Erlina tetap tinggal.
Dan tepat saat ia menyadari itu, kalimat dokumen ketiga kembali menghantamnya.
Aku berhasil membuat Erlina tetap tinggal.
Julian menunduk.
"Aku nggak tahu," katanya, suaranya pelan. "Aku cuma takut kamu jadi jauh."
Erlina memandangnya cukup lama.
"Aku memang lagi butuh jarak," katanya akhirnya.
Julian mengangkat wajah.
Erlina segera melanjutkan sebelum ia bisa bicara, "Bukan karena aku benci kamu. Bukan karena aku mau ninggalin kamu. Tapi karena aku capek merasa harus hati-hati sama apa yang aku lakukan, apa yang aku bilang, bahkan sama siapa aku ketemu."
Julian merasa tenggorokannya kering.
"Aku ngerti."
"Belum," jawab Erlina.
Kata itu tidak diucapkan keras. Justru karena tenang, kata itu terasa lebih tajam.
"Kamu bilang kamu ngerti, tapi setiap kali kamu takut, kamu langsung cari cara supaya rasa takut itu hilang. Kamu tanya aku. Kamu cari aku. Kamu lihat aku. Kamu minta jawaban." Erlina menggenggam buku catatannya. "Padahal rasa takut itu bukan sesuatu yang harus aku bereskan buat kamu."
Julian tidak membela diri.
Ia tidak punya pembelaan.
"Aku minta maaf," katanya lagi, lalu langsung sadar betapa kosongnya kalimat itu terdengar.
Erlina memejamkan mata sebentar.
"Aku tahu kamu nggak jahat, Jul."
Kalimat itu membuat Julian menatapnya.
"Tapi orang yang nggak jahat juga bisa bikin orang lain capek," lanjut Erlina. "Kadang malah lebih susah, karena dia selalu merasa niatnya baik."
Julian mengangguk. Matanya panas, tetapi ia menahan semuanya.
"Aku akan kasih kamu ruang," katanya.
Erlina tampak ragu, seolah belum yakin ia akan benar-benar melakukannya.
"Bukan karena aku nggak peduli," Julian melanjutkan. "Tapi karena aku harus belajar kalau peduli bukan berarti aku berhak tahu semua hal."
Erlina tidak tersenyum. Namun bahunya sedikit mengendur.
"Oke," katanya.
Julian melangkah mundur.
Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi ia memilih pergi lebih dulu.
Kali ini, bukan untuk menghukum Erlina.
Bukan untuk membuatnya mengejar.
Bukan untuk lari dari kebenaran.
Ia pergi karena Erlina meminta ruang, dan Julian ingin belajar menghormati sesuatu yang tidak bisa ia kontrol.
Sore hari, Julian tetap pergi magang.
Nadine meminta bantuannya untuk menulis artikel tentang program donasi buku di beberapa sekolah pinggiran kota. Julian menerima tugas itu tanpa banyak bicara.
Ia mewawancarai seorang relawan bernama Tia, mahasiswa tingkat akhir yang setiap akhir pekan mengumpulkan buku bacaan untuk anak-anak.
"Kenapa capek-capek ngurusin ini?" tanya Julian sambil mencatat.
Tia tersenyum. "Karena dulu ada orang yang ngasih aku buku. Sesederhana itu."
"Buku bisa mengubah hidup seseorang?"
"Bisa." Tia berpikir sejenak. "Tapi bukan karena bukunya aja. Karena ada orang yang percaya kita pantas dapat sesuatu yang baik."
Julian menulis jawaban itu.
Namun pikirannya tetap kembali pada Erlina.
Selama ini, ia mengira mencintai seseorang berarti memastikan orang itu tidak pergi. Padahal mungkin cinta seharusnya memberi seseorang rasa aman untuk tetap menjadi dirinya sendiri—bahkan ketika ia sedang tidak ingin dekat dengan kita.
Sepulang magang, Julian mampir ke toko alat tulis.
Ia membeli sebuah buku catatan baru berwarna cokelat tua. Sampulnya polos, tanpa gambar atau tulisan. Ia berdiri cukup lama di depan rak, sempat ingin membeli buku yang lebih cantik, lebih mahal, lebih cocok untuk Erlina.
Lalu ia berhenti.
Hadiah tidak akan menyelesaikan masalah.
Ia membeli buku itu bukan untuk membuat Erlina luluh.
Ia membeli karena pernah mendengar Erlina berkata bahwa ia suka buku catatan yang kosong. Katanya, halaman kosong tidak menuntut apa-apa.
Di rumah, Julian membungkus buku itu dengan kertas cokelat sederhana.
Ia tidak menulis surat panjang. Tidak ada janji akan berubah. Tidak ada permohonan agar Erlina membalas pesannya.
Hanya satu kartu kecil.
Buat kamu menulis apa pun yang ingin kamu tulis.
Tanpa harus menjelaskannya ke siapa pun.
— Julian
Keesokan paginya, ia menitipkan buku itu ke teman Erlina.
"Jangan bilang dari aku kalau dia nggak nanya," katanya.
Temannya mengernyit. "Kenapa ribet?"
"Karena dia nggak wajib terima apa pun dari aku."
Malam itu, Julian akhirnya membuka dokumen ketiga.
Ia tidak lagi berharap menemukan jawaban yang menyenangkan.
Ia membuka file 03, lalu menunggu layar memuat.
Tulisan yang semalam hanya satu kalimat kini bertambah.
Pada putaran ketiga, aku berhasil membuat Erlina tetap tinggal. Dan itu adalah pertama kalinya aku benar-benar menghancurkannya.
Aku berhenti sekolah di luar kota karena ia ingin mengejar mimpinya di kota ini. Aku menolak pekerjaan yang membuatku sering pulang malam karena ia pernah bilang rindu. Aku hadir dalam setiap kegiatan, setiap masalah, setiap kesedihan yang ia miliki.
Aku menyebut semuanya pengorbanan.
Lalu, ketika ia merasa sesak, aku membuatnya merasa bersalah karena ingin memiliki ruang.
Aku tidak pernah memukulnya. Tidak pernah mengancamnya. Tidak pernah berkata bahwa ia tidak boleh pergi.
Aku hanya membuatnya percaya bahwa pergi dariku berarti ia adalah orang yang jahat.
Julian membaca setiap kalimat dengan tubuh kaku.
Kamar terasa lebih dingin.
Di bawah paragraf itu, terdapat satu kalimat terakhir.
Beberapa kandang tidak dibuat dari besi. Beberapa kandang dibuat dari rasa bersalah.
Julian menutup laptop.
Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur.
Untuk waktu yang lama, ia tidak menangis.
Ia hanya duduk diam, membiarkan satu kenyataan perlahan mengambil bentuk di dalam dirinya.
Pada putaran ketiga, ia tidak kehilangan Erlina karena salah paham.
Ia kehilangan Erlina karena bahkan ketika diberi kesempatan untuk mencintainya lebih baik, Julian masih mengubah cinta menjadi cara untuk memiliki.