BAB 11

BAB 11


Listrik baru menyala hampir satu jam kemudian.

Selama menunggu, Julian tidak keluar kamar.

Ia duduk di tepi tempat tidur dengan laptop tertutup di pangkuan. Dari ruang tamu, ia mendengar mama menyalakan lilin. Papa membuka lemari berkali-kali, mencari senter yang entah selalu diletakkan di mana. Sesekali, suara mereka terdengar seperti potongan hidup yang sangat biasa.

Namun malam itu, Julian tidak mampu merasa biasa.

Di dalam laptopnya ada sembilan dokumen.

Sembilan angka.

Sembilan kemungkinan hidup.

Ia tidak tahu apa yang lebih menakutkan: kenyataan bahwa ia pernah kembali berkali-kali, atau kemungkinan bahwa ia sudah membaca semua itu sebelumnya—lalu tetap memilih melupakannya.

"Julian," panggil mama dari luar kamar. "Makan dulu, nak."

"Aku nanti aja, Ma."

"Jangan nanti. Kamu dari siang makannya sedikit."

Julian memejamkan mata.

Ia hampir menjawab dengan kesal. Hampir berkata bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Namun suara Erlina sore tadi kembali terdengar di kepalanya.

Kalau kamu belum bisa cerita ke aku, setidaknya jangan bohong ke tulisan kamu sendiri.

Julian berdiri.

"Aku keluar, Ma."

Mereka makan malam dengan penerangan dua lilin.

Papa meletakkan satu lilin di tengah meja, sementara mama menyalakan lilin lain di dekat dapur. Bayangan mereka memanjang di dinding. Rumah terasa lebih kecil tanpa lampu, tetapi entah kenapa juga terasa lebih hangat.

"Listriknya sering mati akhir-akhir ini," kata mama sambil mengambilkan sayur.

"Katanya gardu dekat pasar lagi diperbaiki," jawab papa.

Julian mengaduk nasi di piringnya tanpa selera.

Papa memperhatikannya. "Masih pusing?"

"Sudah mendingan."

"Kamu kelihatan kepikiran."

Julian mengangkat wajah.

Dalam kehidupan lamanya, ia selalu menyembunyikan banyak hal dari papa. Ia merasa papa tidak akan mengerti. Atau mungkin, ia tidak pernah benar-benar memberi papa kesempatan untuk mengerti.

"Pa," katanya pelan. "Kalau Papa dikasih kesempatan ngulang satu hal, Papa mau ngulang apa?"

Mama menatap Julian, lalu papa.

Papa tidak segera menjawab. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan memandang nyala lilin.

"Mungkin," katanya akhirnya, "Papa mau lebih sering pulang sebelum kamu tidur."

Julian terdiam.

"Dulu waktu kamu kecil, Papa sering mikir kerja keras itu cara paling jelas buat sayang sama keluarga." Papa tersenyum tipis. "Ternyata kadang orang rumah nggak butuh kita bawa pulang sesuatu. Mereka cuma butuh kita pulang."

Mama mengangguk kecil.

"Papa nggak nyesel kerja," lanjutnya. "Tapi Papa nyesel karena kadang pulangnya cuma badan. Kepala sama hati Papa masih di kantor."

Julian menunduk.

Kalimat itu seperti cermin.

Bukankah itu yang ia lakukan pada Erlina? Duduk di dekatnya, tetapi pikirannya berada di masa depan. Berusaha pulang ke rumah, tetapi membawa kepalanya ke semua kemungkinan buruk yang belum terjadi.

"Kalau bisa diulang," kata Julian, "Papa mau ubah semuanya?"

Papa menggeleng.

"Nggak ada hidup yang bisa diulang semuanya." Ia menatap Julian. "Kalau Papa balik ke masa lalu dengan pikiran yang sekarang, mungkin Papa memang akan pilih beberapa hal yang berbeda. Tapi kalau Papa terlalu sibuk mengubah semua yang salah, bisa jadi Papa malah nggak sampai punya kamu."

Julian mengangkat wajah.

Papa tersenyum kecil. "Jadi, ya... mungkin Papa cuma mau belajar lebih hadir. Bukan jadi orang lain."

Listrik menyala tepat setelah kalimat itu selesai.

Lampu di ruang makan berkedip beberapa kali, lalu terang. Nyala lilin di tengah meja mendadak tampak kecil dan tidak berarti.

Namun bagi Julian, percakapan itu tinggal lebih lama daripada cahaya.

Ia kembali ke kamar setelah membantu mama membereskan meja.

Laptopnya masih ada di sana.

Saat layar menyala, folder tanpa nama itu tetap terbuka.

01

02

03

04

05

06

07

08

09

Julian memandangi daftar itu.

Ia menarik kursi perlahan.

Lalu mengklik dokumen pertama.

Butuh beberapa detik sebelum isinya muncul.

Tidak panjang.

Hanya satu halaman.

PUTARAN PERTAMA

Aku bangun dengan keyakinan bahwa Tuhan akhirnya kasihan kepadaku.

Aku kembali ke usia tujuh belas tahun, ke kamar yang sama, rumah yang sama, suara mama dari dapur yang sama. Papa masih membaca koran. Erlina masih mengirim pesan sebelum sekolah.

Aku menangis di kamar mandi karena tidak percaya mereka masih ada.

Aku berjanji akan memperbaiki semuanya.

Aku belajar lebih serius. Aku menerima tawaran kerja yang dulu kutolak. Aku tidak pindah rumah. Aku lebih sering makan bersama papa dan mama. Aku tidak memutuskan Erlina saat melihatnya bersama laki-laki lain.

Dalam putaran pertama, aku pikir daftar itu cukup.

Aku pikir hidup adalah soal memilih jawaban yang benar dari kesalahan-kesalahan lama.

Aku salah.

Julian berhenti membaca.

Tulisan itu terasa dekat. Terlalu dekat.

Bahasanya seperti bahasanya sendiri, tetapi lebih dingin. Tidak ada usaha memperindah kalimat. Tidak ada metafora. Hanya seseorang yang menulis karena takut lupa.

Ia menurunkan pandangan.

Di bawah paragraf terakhir, ada satu tanggal.

Tanggal yang sama dengan hari ini.

Tahun yang berbeda.

Dua belas tahun lalu.

Julian menekan tombol scroll.

Tidak ada kelanjutan.

Hanya halaman kosong.

Ia mengklik dokumen kedua.

PUTARAN KEDUA

Pada putaran pertama, aku terlalu sibuk memperbaiki daftar.

Ketika mama sakit, aku panik. Aku menemani mama ke mana-mana. Aku berhenti magang supaya bisa lebih sering di rumah. Aku menolak kesempatan kuliah di luar kota karena takut meninggalkan mereka.

Aku berhasil punya lebih banyak waktu bersama mama.

Tapi aku mulai menyalahkan mama setiap kali ia terlihat lelah. Aku marah saat papa tetap bekerja. Aku menganggap mereka tidak menghargai pengorbananku.

Bahkan ketika aku sedang berusaha mencintai mereka, aku masih menjadikan cinta sebagai alasan untuk mengatur hidup mereka.

Mama tetap pergi.

Dan aku tetap menyalahkan waktu.

Julian menutup mulut dengan tangan.

Kamar terasa mendadak sesak.

Ia belum pernah melihat mama sakit dalam putaran yang sekarang. Ia bahkan belum ingin membayangkannya. Tetapi tulisan itu membawa ketakutan tersebut begitu dekat hingga Julian merasa bisa mendengar suara mesin rumah sakit, mencium bau obat, melihat lorong putih yang dingin.

Namun yang paling menyakitkan bukan kalimat Mama tetap pergi.

Melainkan kalimat sebelumnya.

Aku masih menjadikan cinta sebagai alasan untuk mengatur hidup mereka.

Julian teringat dirinya di lorong sekolah. Bertanya pada Erlina siapa yang akan ia temui. Bersikeras menawarkan mengantar. Merasa tindakannya lahir dari kepedulian, padahal sebenarnya dari ketakutan.

Ia menutup dokumen kedua.

Tangan Julian bergerak ke dokumen ketiga, tetapi berhenti.

Ia belum siap.

Ia tahu, di sana mungkin ada hidup yang lebih buruk. Mungkin ada versi dirinya yang lebih kejam. Mungkin ada kenyataan yang selama ini terkubur karena terlalu menyakitkan untuk diingat.

Namun rasa takutnya kalah oleh satu pertanyaan.

Kalau aku sudah pernah hidup berkali-kali, kenapa aku tetap kembali ke titik yang sama?

Ia mengklik 03.

Layar sempat berkedip.

Lalu dokumen terbuka.

Tetapi kali ini bukan tulisan panjang.

Hanya satu kalimat.

Pada putaran ketiga, aku berhasil membuat Erlina tetap tinggal. Dan itu adalah pertama kalinya aku benar-benar menghancurkannya.

Julian menatap layar tanpa bergerak.

Di bawah kalimat itu, tidak ada penjelasan.

Tidak ada jawaban.

Hanya ruang kosong.

Kursor berkedip sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seolah seseorang—atau dirinya sendiri—masih menunggu keberanian Julian untuk membaca kelanjutannya.



Report Page