BAB 10
Julian tidak masuk sekolah keesokan harinya.
Ia bangun dengan kepala berat dan mata panas. Semalaman ia hampir tidak tidur. Laptop di meja belajarnya sudah tertutup, tetapi kalimat-kalimat dari dokumen itu terus bergerak di kepalanya.
Pada putaran ketiga, ia mengikuti perempuan itu sampai ke rumah sakit.
Pada putaran kelima, ia menginterogasinya di depan toko buku.
Pada putaran kedelapan, ia memilih pergi sebelum sempat melihat apa pun.
Pada semua putaran itu, ia tetap kehilangan perempuan yang sama.
Putaran ketiga.
Putaran kelima.
Putaran kedelapan.
Julian mencoba menyusun angka-angka itu seperti rumus. Kalau ia sekarang berada di putaran kesembilan, berarti ada delapan hidup lain yang pernah ia jalani. Delapan versi dirinya yang berusaha lebih rajin, lebih perhatian, lebih berhasil, lebih pantas dicintai.
Delapan versi yang tetap gagal.
Tetapi kenapa ia tidak mengingat semuanya?
Ia hanya membawa satu kehidupan ke masa lalu. Satu rangkaian ingatan yang terasa utuh. Sekolah yang tidak ia jalani dengan serius. Tawaran magang yang pernah ia tolak. Rumah yang ia tinggalkan. Papa dan mama yang terlalu sering ia abaikan. Erlina yang ia putuskan karena salah paham.
Bagaimana dengan tujuh kehidupan sebelumnya?
Apakah ia pernah berhasil mempertahankan Erlina?
Apakah papa dan mama hidup lebih lama?
Apakah ia menjadi penulis lebih cepat?
Atau mungkin ia membuat semuanya jauh lebih buruk?
"Julian?"
Suara mama dari balik pintu membuatnya tersentak.
"Kamu nggak sekolah?"
Julian menatap jam. Sudah pukul delapan lebih sedikit.
"Aku nggak enak badan, Ma."
Pintu terbuka perlahan. Mama masuk dengan membawa segelas air dan obat.
"Demam?"
"Nggak. Cuma pusing."
Mama meletakkan punggung tangan di dahi Julian. Sentuhan itu hangat, lembut, dan membuat dadanya mendadak sesak.
"Kamu kebanyakan capek," kata mama. "Sekolah, magang, pulang malam. Mama sudah bilang jangan semua kamu kejar sendiri."
Julian menunduk.
Ia ingin menjelaskan bahwa bukan tugas dan magang yang membuatnya pusing. Melainkan kemungkinan bahwa ia sudah berkali-kali hidup, berkali-kali kehilangan, berkali-kali berusaha memperbaiki sesuatu yang mungkin tidak bisa diperbaiki.
"Ma," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kalau seseorang dikasih kesempatan buat ngulang hidupnya... menurut mama dia harus ngapain?"
Mama menatapnya sejenak, seolah mengira Julian sedang membicarakan sesuatu yang ia tonton di televisi.
"Ngulang hidup?" Mama duduk di tepi tempat tidur. "Kenapa nanya begitu?"
"Cuma kepikiran."
Mama tersenyum tipis. "Kalau mama dikasih kesempatan, mungkin mama mau lebih sabar."
"Cuma itu?"
"Cuma itu nggak gampang, Julian." Mama membenarkan selimutnya. "Kita sering mikir kalau dikasih kesempatan kedua, kita bakal bikin hidup sempurna. Padahal mungkin yang perlu diubah cuma cara kita menjalani hal kecil."
Julian terdiam.
Mama melanjutkan, "Misalnya, kalau dulu mama lagi capek terus ngomel ke kamu, mungkin mama mau bicara lebih pelan. Kalau papa pulang larut, mungkin mama mau tanya kabarnya dulu sebelum mengeluh. Bukan karena hidup kami jadi sempurna. Tapi karena kami mungkin bisa lebih baik satu sama lain."
"Kalau ada hal yang benar-benar besar?"
"Yang besar juga dimulai dari hal kecil." Mama mengusap rambutnya. "Tapi jangan sampai kamu terlalu sibuk memperbaiki kemarin sampai lupa menjaga hari ini."
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah ditulis di laptop Julian.
Namun mama mengucapkannya tanpa mengetahui apa pun.
Julian menatap wajah perempuan itu. Ia ingin mengingat semua detailnya. Garis tipis di dekat mata. Rambut yang mulai terlihat beberapa helai putih. Cara ia tersenyum setiap kali berusaha membuat Julian tidak khawatir.
"Kenapa lihat mama begitu?" tanya mama.
Julian menggeleng. "Nggak apa-apa."
Mama berdiri. "Istirahat. Nanti mama buatin bubur."
Saat mama hampir keluar, Julian memanggilnya lagi.
"Ma."
Mama menoleh.
"Aku sayang mama."
Wajah mama melunak.
"Mama tahu," katanya. "Mama juga sayang kamu."
Pintu tertutup perlahan.
Julian memejamkan mata, tetapi kali ini ia tidak mencoba tidur.
Menjelang siang, Erlina datang.
Julian mendengar suaranya di ruang tamu lebih dulu.
"Julian sakit?" tanyanya kepada mama.
"Iya, katanya pusing. Kamu mau masuk?"
"Boleh?"
"Masuk saja. Tapi jangan lama-lama, ya. Biar dia istirahat."
Beberapa detik kemudian, pintu kamar Julian diketuk.
"Masuk," katanya.
Erlina membuka pintu pelan. Ia masih mengenakan seragam sekolah. Tasnya menggantung di bahu, sementara di tangannya ada buku catatan dan sebuah kantong plastik kecil.
"Kamu beneran sakit?" tanyanya.
"Lumayan."
Erlina mendekat, lalu meletakkan kantong plastik di meja. "Aku bawain bubur dari kantin. Tapi kayaknya mama kamu sudah mau bikin juga."
Julian menatapnya. "Makasih."
Erlina tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat meja belajar, menatap laptop Julian yang tertutup.
"Semalam kamu nggak balas lagi."
"Aku bingung mau bilang apa."
"Aku juga bingung," jawab Erlina.
Julian mengangguk pelan.
"Lin, soal kemarin—"
"Aku tahu kamu minta maaf." Erlina menarik kursi, lalu duduk dengan jarak cukup jauh dari tempat tidur. "Tapi aku nggak datang buat dengar kamu minta maaf lagi."
Julian diam.
"Aku datang karena kamu nggak masuk sekolah. Aku khawatir." Erlina memainkan ujung tali tasnya. "Tapi aku juga mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu sebenarnya kenapa?"
Julian menatapnya.
Pertanyaan itu terdengar mudah. Namun jawabannya terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam satu kalimat.
Aku berasal dari masa depan.
Aku pernah kehilangan kamu.
Aku melihatmu di toko buku bersama laki-laki yang sama di hidup lain, lalu menghancurkan hubungan kita karena aku terlalu takut bertanya.
Aku mungkin sudah menjalani hidup ini delapan kali sebelumnya.
Ia tidak bisa mengatakan semua itu.
"Kamu berubah banget," kata Erlina sebelum ia sempat mencari jawaban. "Dulu kamu cuek. Sekarang kamu malah terlalu perhatian. Dulu kamu susah diminta cerita. Sekarang kamu kelihatan seperti nyimpen sesuatu yang besar."
Julian tersenyum hambar. "Mungkin aku cuma lagi berusaha lebih baik."
"Lebih baik buat siapa?"
Pertanyaan itu membuat Julian terdiam.
Erlina menatapnya lurus-lurus.
"Buat aku?" lanjutnya. "Buat papa-mama kamu? Buat kerjaan kamu? Atau buat diri kamu sendiri?"
"Aku nggak tahu."
"Itu masalahnya." Erlina menghela napas. "Kamu selalu ngomong mau berubah, Julian. Tapi aku nggak pernah tahu kamu berubah karena kamu benar-benar mau jadi lebih baik atau karena kamu takut ditinggalkan."
Julian memandang seprai di atas kakinya.
Erlina benar.
Ia berusaha menjadi baik karena takut kehilangan papa, mama, dan Erlina. Ia menerima magang karena takut mengulang penyesalan. Ia belajar karena takut menjadi anak pintar yang menyia-nyiakan hidup. Ia memperbaiki semuanya dengan ketakutan sebagai tenaga penggeraknya.
Namun ketakutan tidak pernah membuat seseorang hadir dengan tenang.
Ketakutan hanya membuatnya menggenggam terlalu erat.
"Aku takut," kata Julian akhirnya.
Erlina tidak menyela.
"Aku takut salah. Takut kehilangan. Takut suatu hari nanti aku sadar aku bisa melakukan sesuatu, tapi aku nggak melakukannya." Julian mengangkat wajah. "Kadang aku merasa kalau aku nggak tahu kamu lagi di mana atau lagi sama siapa, pikiranku langsung bikin cerita sendiri."
Erlina menatapnya cukup lama.
"Dan kamu percaya sama cerita itu?"
Julian tidak langsung menjawab.
"Jujur," kata Erlina.
"Kadang."
Erlina mengangguk kecil. Wajahnya tidak marah. Itu justru lebih sulit dihadapi.
"Berarti masalahnya bukan aku nggak cerita," katanya. "Masalahnya kamu sudah punya cerita sendiri sebelum aku sempat bicara."
Julian menggenggam selimut.
"Maaf."
"Kamu boleh minta maaf." Erlina berdiri. "Tapi aku nggak mau jadi orang yang harus terus membuktikan bahwa aku nggak seperti cerita di kepala kamu."
Julian menatapnya, panik.
"Lin, aku nggak—"
"Aku nggak bilang kita selesai." Erlina mengangkat satu tangan, menghentikannya. "Aku cuma butuh kamu ngerti. Aku bukan bukti untuk kamu kumpulkan. Aku bukan jawaban buat rasa takut kamu."
Kalimat itu membuat Julian tidak bisa berkata apa-apa.
Erlina mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia menoleh ke meja belajar Julian.
"Itu laptop yang kamu pakai buat nulis, kan?"
"Iya."
"Coba tulis semua yang sebenarnya mau kamu bilang. Kalau kamu belum bisa cerita ke aku, setidaknya jangan bohong ke tulisan kamu sendiri."
Julian menatapnya.
Erlina membuka pintu.
"Cepat sembuh," katanya, lalu pergi.
Sore hari, setelah demam ringan yang sebenarnya lebih mirip kelelahan mulai turun, Julian membuka laptop.
Ia tidak membuka dokumen KEMBALI.
Ia membuat dokumen baru.
Judulnya:
ERLINA BUKAN BUKTI
Ia mengetik satu kalimat.
Aku selalu mencari bukti bahwa seseorang akan pergi, supaya aku bisa merasa tidak terlalu terkejut ketika mereka benar-benar meninggalkanku.
Julian berhenti.
Lalu ia menambahkan:
Tetapi ketakutan bukan firasat. Ketakutan sering kali hanya luka lama yang sedang mencari wajah baru untuk disalahkan.
Untuk beberapa menit, tidak ada apa-apa.
Tidak ada kalimat yang berubah.
Tidak ada paragraf misterius.
Julian hampir merasa lega.
Kemudian ia melihat satu folder baru di sisi kiri layar.
Folder itu tidak memiliki nama.
Ia membukanya.
Di dalamnya ada sembilan dokumen.
Masing-masing diberi judul sederhana.
01
02
03
04
05
06
07
08
09
Julian tidak menyentuh mouse selama beberapa detik.
Tangannya bergetar saat mengklik dokumen pertama.
Layar memuat perlahan.
Di bagian atas halaman, hanya ada satu kalimat.
Putaran pertama selalu terasa seperti mukjizat.
Julian menggeser halaman ke bawah.
Namun sebelum ia sempat membaca lebih jauh, listrik di rumah kembali padam.
Layar laptop mati.
Kamar mendadak gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Julian tidak merasa sedang diberi kesempatan.
Ia merasa sedang dibawa menuju sesuatu yang selama ini berusaha ia lupakan.