BAB 1

BAB 1




Julian berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya lebih muda. Tidak ada garis lelah di bawah mata. Tidak ada kerutan di dahi yang biasanya muncul setiap kali ia menatap layar terlalu lama. Rambutnya lebih pendek, lebih rapi, seperti gaya yang ia pakai sepuluh tahun lalu.

Ia menyentuh pipinya. Dingin. Nyata.

"Ini nggak mungkin," gumamnya.

Ia memutar keran wastafel, membasuh muka, lalu menatap cermin lagi. Wajah yang sama. Kamar mandi yang sama. Handuk gantung dengan motif kotak-kotak yang sudah lama tidak ia lihat.

Ia keluar dari kamar mandi. Lorong kecil di lantai atas rumah itu masih persis seperti yang ia ingat. Foto-foto lama di dinding. Jam dinding yang selalu terlambat lima menit. Bau kopi dari dapur yang naik ke atas.

Julian turun tangga perlahan, seolah takut langkahnya akan menghancurkan sesuatu.

Di ruang makan, mama sedang menaruh piring di atas meja. Papa sudah duduk dengan koran di tangan. Televisi menyala pelan, menampilkan berita pagi yang Julian tidak pernah ia perhatikan lagi di masa kini.

"Kamu sudah bangun, Jul?" tanya mama tanpa menoleh. "Cepat mandi, nanti telat."

Julian tertegun.

"Telat apa?" suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. Lebih muda. Lebih ringan.

Mama akhirnya menoleh. "Sekolah, lah. Kamu kan ada ulangan hari ini."

Julian menelan ludah.

Sekolah.

Ia melihat ke arah jam dinding. Pukul 06:42.

Ia ingat hari ini.

Ini adalah hari ketika ia seharusnya ulangan matematika. Ia ingat ia tidak belajar semalam sebelumnya. Ia ingat ia datang terlambat. Ia ingat ia mendapat nilai buruk, dan guru matematikanya berkata, "Kamu sebenarnya bisa, Julian. Tapi kamu tidak pernah serius."

Kalimat itu menempel di kepalanya selama bertahun-tahun.

"Jul?" mama menatapnya. "Kamu kenapa?"

"Nggak," jawab Julian cepat. "Aku... aku cuma kaget."

Ia duduk di kursi. Tangannya gemetar saat mengambil sendok.

Papa menurunkan korannya. "Kamu sakit?"

"Nggak, Pa. Aku baik-baik saja."

Papa menatapnya beberapa detik, lalu kembali ke koran. "Makan yang benar. Jangan lupa bawa bekal."

Julian mengangguk. Ia tidak lapar. Ia hanya menatap nasi di piringnya, lalu menatap mama yang sibuk di dapur, lalu menatap papa yang sesekali menyeruput kopi.

Semuanya nyata.

Semuanya masih ada.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin berkata, "Aku kangen kalian." Ia ingin berkata, "Maafin aku." Ia ingin berkata, "Aku akan pulang lebih sering."

Tapi ia tidak bisa. Kata-kata itu terlalu besar untuk pagi ini.

Ia hanya makan.

Setelah sarapan, Julian berjalan keluar rumah. Udara pagi masih segar. Motor-motor mulai ramai di jalan. Ia melihat sepedanya yang masih terparkir di samping pagar.

Ia ingat sepeda ini. Ia ingat ia pernah jatuh dari sepeda ini ketika mengejar Erlina yang sedang berjalan ke sekolah. Ia ingat ia tertawa, dan Erlina memarahinya, lalu membantu membersihkan lukanya.

Ia menyentuh setang sepeda. Dingin.

"Julian!"

Suara itu membuatnya menoleh.

Erlina berdiri di ujung jalan, memakai seragam sekolah yang sama seperti yang ia ingat. Tas di bahu, rambut diikat longgar. Wajahnya masih sama. Masih ada sedikit garis kesal di alisnya, seperti biasa.

"Kamu jalan atau nggak?" tanya Erlina. "Nanti telat."

Julian menatapnya.

Ini bukan mimpi.

Erlina berjalan mendekat. "Kamu kenapa sih? Dari tadi melongo."

"Aku..." Julian mencari kata. "Aku cuma... kaget lihat kamu."

Erlina mengerutkan kening. "Kita kan ketemu tiap hari."

"Iya. Tapi..." Julian berhenti. Ia tidak bisa menjelaskan. Bagaimana ia bisa berkata bahwa ia sudah bertahun-tahun tidak melihat wajah ini? Bahwa ia sudah menghafal setiap detail wajah ini dari ingatan, dari foto, dari mimpi?

Erlina menatapnya lama. Lalu ia menghela napas. "Kamu lagi mikirin sesuatu, ya?"

"Iya," jawab Julian pelan.

"Tentang apa?"

Julian menatap mata Erlina. Ia ingin berkata, "Tentang kita. Tentang semua yang aku rusak. Tentang bagaimana aku bisa memperbaikinya."

Tapi ia hanya berkata, "Tentang hari ini."

Erlina mendengus. "Ya udah, jalan sambil mikir. Ayo."

Ia mulai berjalan. Julian mengikuti.

Mereka berjalan berdampingan, seperti dulu. Jalanan yang sama. Sekolah yang sama. Orang-orang yang sama.

Tapi Julian tahu, ini bukan hari yang sama.

Ini adalah kesempatan.

Di sekolah, semuanya terasa aneh.

Guru-guru yang ia kenal hanya dari ingatan. Teman-teman yang sudah lama tidak ia temui. Papan tulis yang penuh rumus. Bau kapur yang sudah lama tidak ia cium.

Julian duduk di bangkunya. Ia menatap meja yang penuh coretan. Ada nama-nama yang ia kenal. Ada tanggal-tanggal yang ia ingat.

"Kamu serius hari ini?" tanya teman sebangkunya.

Julian menoleh. "Hah?"

"Ulangan. Kamu kan biasanya nggak pernah belajar."

Julian tersenyum tipis. "Hari ini beda."

Ia membuka bukunya. Ia mulai membaca.

Ia ingat semua ini. Ia ingat rumus-rumus ini. Ia ingat soal-soal yang akan keluar. Ia ingat ia pernah mendapat nilai buruk karena tidak belajar.

Tapi kali ini, ia belajar.

Ia menulis. Ia menghitung. Ia menjawab.

Dan ketika guru mengumpulkan kertas ulangan, Julian merasa ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak tahu apakah ini benar. Ia tidak tahu apakah ini akan mengubah apa pun.

Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian merasa bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang benar.

Siang hari, Julian dan Erlina duduk di kantin.

“Kamu tadi serius banget,” kata Erlina sambil membuka kotak makannya.

Julian mengangguk. “Aku lagi coba nggak nyerah sebelum mulai.”

Erlina menatapnya sambil mengunyah pelan. “Kamu habis kena ceramah siapa?”

“Bukan siapa-siapa.”

“Julian.”

Ia tersenyum kecil. Dulu, panggilan seperti itu selalu membuatnya kesal. Seolah Erlina bisa melihat bagian dirinya yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.

“Aku cuma kepikiran,” katanya. “Kalau aku terus begini, nanti aku jadi nggak punya apa-apa selain alasan.”

Erlina meletakkan sendoknya.

“Kamu dari dulu terlalu sering bilang kamu sebenarnya bisa,” katanya. “Tapi setiap ada kesempatan, kamu malah mundur.”

Julian mengangkat wajah.

“Bukan karena kamu bodoh,” lanjut Erlina. “Justru karena kamu takut hasilnya nggak sebagus bayangan kamu. Jadi kamu pilih nggak nyoba terlalu serius. Kalau gagal, kamu masih bisa bilang kamu belum benar-benar usaha.”

Julian terdiam.

Kalimat itu menyakitkan karena benar.

Di kehidupan yang lama, ia pernah mendengar versi kalimat serupa. Ia saat itu tertawa dan mengatakan Erlina terlalu sok tahu. Hari ini, ia hanya memandangi meja.

“Aku mungkin memang begitu,” katanya pelan.

Erlina tampak terkejut. “Kamu nggak marah?”

“Aku mau coba dengerin.”

“Kenapa?”

Julian ingin menjawab dengan seluruh hidup yang telah ia lewati. Namun ia hanya berkata, “Karena mungkin selama ini aku lebih sibuk membela diri daripada berubah.”

Erlina tidak tersenyum lebar. Ia hanya menggeser kotak makan ke arah Julian.

“Ya sudah,” katanya. “Mulai dari makan yang benar dulu. Kamu dari pagi kelihatan kayak belum sadar sepenuhnya.”

Julian tertawa kecil.

Momen itu sederhana. Namun untuk Julian, itu terasa seperti pintu yang baru dibuka sedikit.

Mereka duduk diam. Suara kantin ramai di sekitar mereka. Tapi bagi Julian, dunia seolah berhenti.

Ia tahu ini baru awal.

Ia tahu masih banyak hal yang harus ia perbaiki.

Tapi untuk pertama kalinya, Julian merasa bahwa ia sedang berjalan ke arah yang benar.

Dan ia tidak akan berhenti kali ini.



Report Page