Asmarandana

Asmarandana

tracvisscott


Malam hari ini udara Kota Malang terasa sejuk, pun tidak terlalu dingin. Hawanya sangat mendukung jika ingin bergelung menikmati hangatnya selimut dengan kasur.

Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan besar sana lantaran waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari di mana raja malam tentu masih menunjukkan eksistensinya di cakrawala sana.

Kendati demikian, masih banyak anak muda yang bekeliaran pada tempat-tempat nongkrong seperti cafe, restoran, angkringan, atau pun warung yang masih pada jam bukanya.

Dari arah selatan, seorang pemuda berbalut kaos oblong hitam dengan celana Adidas berwarna serupa keluar dari mobil yang dikendarai. Melangkahkan tapak demi setapak kakinya menuju sekumpulan pemuda laki-laki lain seperti dirinya yang pada jam-jam seperti ini masih asik berbincang di Warman, alias Warungnya Pak Rahman.


Mari sebut saja orang itu, Danton.


Dia adalah captain dari sekumpulan pemuda laki-laki yang sudah disebutkan tadi.

“Wetsss, jam segini baru dateng bosqu?” tanya pemuda bernama Imal yang dibalas lambaian tangan kanan oleh Danton. Ia mendudukkan daksanya pada kursi Warman dan membuka ponsel guna mengecek pesan masuk. Hanya sebentar lalu mematikan benda pipih itu kembali dan meletakkannya pada meja.

“Cuma segini? Fendy sama Sergio mana?” tanya Danton sembari menilik sekeliling. Paningalnya tidak menemukan kedua anak adam nyeleneh itu.

“Mau ngomonge arep golek wedang ronde.” jawab laki-laki lain bernama Barda lalu menyesap kopi susunya yang sudah hampir dingin. (Translate : Tadi bilangnya mau nyari wedang ronde.)

“Wedang ronde mana jam segini jualan?” tanyanya seiring dengan kening yang mengerut heran.

“Dolanmu kurang adoh, Ton, Ton. Nang cerak tugu pas kae loh onok bazzar, nek bengi bengi seh buka” sahut Jabar yang sedang mabar game PUPG dengan Rifai. Umurnya setara dengan Danton, dan kebetulan mereka berada pada perguruan tinggi dan jurusan yang sama. (Translate : Mainmu kurang jauh, Ton, Ton. Di deket tugu waktu itu loh ada bazzar, kalau malem malem masih buka)

“Beli di situ doang lama,” komentar Danton.

Dengan jari tangan yang masih sibuk bergerak pada layar handphone, Jabar menyahut, “sabar sek loh diluk ngkas, yo, paling tekan.” (Translate : sabar dulu loh bentar lagi, ya, paling sampai.)

“Alah, cok! Kui loh onok musuh nang ngarepmu bukane dipateni malah mundur!” kesal Jabar pada Rifai yang malah melewatkan kesempatan untuk membunuh lawannya. (Translate : Alah, cok! Itu loh ada musuh di depanmu bukannya dibunuh malah mundur!)

“Eh, ngentot. Lu dari tadi juga bukannya bantuin lawan malah sembunyi doang. Main gur kakean omong tok kon!” sahut Rifai membela diri.

Kon artinya adalah kamu, tapi itu bahasa lebih kasarnya, alias ngoko.

“Dari tadi si Fendy sama Sergio pamitnya? suruh balik buruan dah, tuku wedang ronde nang cerak tugu tok kok koyo tuku nang cerak Makkah.” ujar Danton pada yang lain. (Translate : beli wedang ronde di deket tugu doang kok kaya beli di deket Makkah.”

“Yo, paling lek ra ketemu wedang ronde pindah berburu purel, Mas” jawab Imal acuh lalu mencomot satu lumpia kering yang sudah mulai alot dari piring atas meja dan melahabnya. (Translate : Ya, paling kalau ga ketemu wedang ronde pindah berburu cewek penghibur, Mas)

Mendengar jawaban yang tak kalah nyeleneh dari dua anak didiknya yang lain itu sontak membuat tangan kanan Danton terulur guna memukul kepala Imal yang langsung menghindar agar tidak terkena pukulan sang captain. Imal sadar benar kalau pukulan laki-laki yang lebih tua 3 tahun di atasnya itu sungguh terasa, maka dari itu lebih baik menghindar dari pada menempatkan diri.

“Mulakno nganggo bismillah dhisek sakdurunge cocotmu ngomong iku.” peringat Barda yang dibalas helaan napas. (Translate : Makannya pakai bismillah dulu sebelum mulutmu ngomong itu.)


BRAK!


Gebrakan di meja terdengar sebelum suara Imal menyahut kesal, “piye sih cok, awakku iki wong kristen kok malah kon ngomong bismillah!” sungutnya. (Translate : gimana sih cok, diriku ini orang kristen kok malah suruh ngomong bismillah!)

Barda menepuk dahinya pelan karena teringat bahwa Imal memeluk keyakinan yang berbeda. Wajahnya seperti kaum alim, tapi terdapat atma yang nyeleneh sedikit.

Bagi Danton, sudah tidak mengherankan lagi perbincangan nyeleneh seperti tadi terdengar selama di club Parelas, atau Pasukan Racer Sebelas. Bahkan, dirinya kerap sekali merasa pusing melihat kelakuan anak didiknya yang sungguh aktif liar binasa itu.

Kepalanya melengok ke belakang. “Telpon Fendy sama Sergio, bilang suruh ke sini cepetan.” titah Danton pada Yanuar yang malam ini juga turut serta ke Warman.

Lelaki dengan rambut dikuncir ke belakang itu memberi jempol tangan kanan tanda mengiyakan.

Belum sampai sambungan dijawab, suara klakson mobil terdengar dari dekat. Mobil warna merah maroon berlogo kuda itu melaju dengan gagahnya, meninggalkan debu yang berterbangan di jalur tanah yang terlewati. Ia berputar menggesekkan ban pada tanah dengan kencang hingga suara gesekkannya benar-benar terdengar.




Jabar menunjuk mobil yang memarkir di samping mobil Danton menggunakan dagu, “Tuh, murid lo yang paling sontoloyo udah dateng.”

Dua lelaki bertubuh jangkung keluar dari dalamnya. “BANG ANTOOOONNN, KAMISYU SARANGHAE JINJJA ARILASO!” Fendy berteriak, berlari ke arah Danton yang tengah duduk dan menerjangnya dengan dekapan erat akan rasa rindu.

Yang menerima dekapan tentu berontak berusaha melepaskan diri. “Minggiro cok, gilo aku karo awakmu!” (Translate : Minggir cok, geli aku sama dirimu!)

Fendy menarik kurva bibir ke bawah, merengut. “Jahat bener lu, Bang. Aku kan kangen karena lama ga ketemu!” pelukannya pada Danton terlepas.

Merasa jengah, Sergio menoyor kepala Fendy dari belakang. “Ga usah lebay, oon. Lu baru kepisah dua hari sama dia.”

Paningal Fendy menyipit, mendekatkan wajah ke arah Sergio seperti menelisik. “Iyakah? Nice info, tapi lo jelek.”

Sebelum geplakan kembali mendarat di kepala, Fendy segera beralih ke samping Jabar. “Mas, aku mau ketemu cewek uayu tenan lho nang cerak perempatan ngarep kono”

Masih dengan fokusnya dalam game, Jabar menyahuti sang adik tingkat, “Lho, lak tenan, Ton, jarene si Imal mau. Melipir golek purel dhisik ta arek e.” (Translate : Lho, kan bener, Ton, katanya si Imal tadi. Melipir cari cewek penghubur dulu anaknya.)

Mendengar kata kurang pantas didengar itu membuatnya merasa berang. “Iku Mbak Jamila, ya, cok! Ojo dipadakno karo lonte!” Sergio menimpali. (Translate : Itu Mbak Jamila, ya, cok! Jangan disamain sama lonte!)

“Jamila sopo maneh seh lur, onok ae saben dino wedokan sek mbok omongke.” heran Rifai. (Translate : Jamila siapa lagi sih lur, ada aja setiap hari perempuan yang diomongin.)

Jabar menghela napas kesal setelah game di layar handphone menunjukkan kekalahan. “Alah, kae loh seng sering beli putu ayu deket jalan tikungan mau ke rumah gua, gebetane si Sugiono iku.” sahutnya pada Rifai.

“Sergio, anjing!” umpat sang pemilik asma tersebut.

“Wuasu, seng tuku lak akeh! Ora mung siji loro telu hok ya hok ya!” Barda menimpali dengan kesal. (Translate : Anjing, yang beli kan banyak! Ga cuma satu dua tiga hok ya hok ya!)

Yanuar menghela napas lelah mendengar konservasi antara teman-teman dengan kakak tingkatnya. “Jamila Arini yang rambutnya panjang suka dikuncur ke bawah di belakang itu lho, Bang.” jelas Yanuar pada Barda.


BUGH!


“Kirek!” umpat Sergio kepada Badra sembari mengusap lengan kirinya yang ngilu. (Translate : Anjing!)

Yang diumpati malah tengah melotot kaget. “OALAH, KON SENENG KARO MBAK NINI, GI?!” heboh Barda.

“Yo, terus lapo?”

Badra menggelengkan kepala tidak habis pikir. “Welok tenan, lagi sek adimu tingkat we ra iso digapai, malih muluk-muluk nang Mbak Jani ki loh”

“Wes siap patah hati durung mase?” ledek Imal memasang wajah yang njengkeli kalau kata Danton.

Yang menerima ledekan jelas menampilkan ekspresi muram. “Ra bakal! Delok wae sok, ya, cok! Ngasi dadi tak uyuhi raimu.” (Translate : Ga bakal! Lihat aja ntar, ya, cok! Sampai jadi tak pipisin mukamu)

“Iyakah? Ih, ngerinya...” sahut Jabar dengan ekspresi takut dibuat-buat.

Rifai mengelus dagu dengan jempol dan telunjuk, paningalnya menelisik dengan pemikiran yang sibuk menyusun spekulasi. “Hmm, pantes kadang suka tiba-tiba senyum sendiri. Jebul lagi kasmaran toh arek e?” (Translate : Ternyata lagi kasmarah toh anaknya?)

“Beliau ini emang kadang kadang kreji, ngab” sahut Jabar.

“Penting kaga cuma ngelusin foto anime sambil ah ah” sindir Sergio dan melenggang pergi memesan kopi.

“Kuntul!”

Anak-anak Parelas spontan tertawa mendengar hal itu dan menghadiahi Jabar dengan sorakan mengejek. Sungguh, guyonan yang tercipta selalu murni tanpa harus mencari-cari.

Malam ini mereka berbincang sedikit tentang perlombaan yang hendak diikuti dan siapa kandidat yang akan diajukan untuk mewakili club Parelas. Sesekali mereka melemparkan ejekan dan guyonan yang mengundang gelak tawa para anggota dan berakhir dengan menghabiskan kopi masing-masing lalu pulang untuk mengistirahatkan diri. Bersiap menunggu terbitnya sang bagaskara yang akan bersinar di atas cakrawala.



Sugeng dalu kanca-kancaku.

Report Page