Apa Itu Resesi Ekonomi? Apa Indikatornya?

Apa Itu Resesi Ekonomi? Apa Indikatornya?


Pertama, sejak awal Juni 2020, saat pembatasan sosial dilonggarkan perlahan, ekonomi mulai menggeliat. Kedua, pemerintah tidak lagi hanya memprioritaskan penanganan Covid-19, tapi juga berupaya mengangkat kembali ekonomi yang terpuruk. Namun, inflasi yang terlalu tinggi justru mempersulit kondisi ekonomi, karena harga-harga komoditas melonjak sehingga tak bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, utamanya yang kelas ekonominya menengah ke bawah.

Hal ini berimbas pada banyaknya perusahaan retail yang mengambil keputusan untuk menutup sejumlah gerainya. Tutupnya gerai retail tersebut tidak bisa dinafikan bahwa daya beli masyarakat rendah sehingga kegiatan ekonomi menjadi lesu. Akibat lebih lanjut atas penutupan gerai retail tersebut tentu saja tingkat pengangguran semakin tinggi.

Kedua, masalah stimulus yang sampai hari ini manfaatnya belum dirasakan oleh dunia usaha. "Distribusi stimulus ini yang utama pada sektor padat karya dan UMKM sehingga PHK dan gulung tikar tidak bertambah dari yang ada saat ini. Tanpa stimulus yang lancar, pelaku usaha perlu waktu lebih lama untuk bangkit," jelas Shinta. Meski menaruh proyeksi yang cukup optimis, Shinta menyoroti bahwa kondisi tersebut hanya akan tercapai jika pandemi tidak semakin parah dan memicu kebijakan pengendalian wabah yang ketat. Ibu Sri Mulyani juga pernah mengatakan kalau penurunan PDB di Q3 masih parah,Indonesia bisa masuk ke Resesi ekonomi.

Bahkan, negara-negara yang sebelumnya menjadi buah bibir media internasional karena dipersepsikan berhasil dalam penanganan Covid-19 juga tidak luput dari gambaran pesimistis ini. Pembangunan infrastruktur tetap berlanjut meski di tengah mewabahnya virus korona. Foto dok PUPRSeperti diberitakan, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No 72 Tahun 2020 untuk melebarkan defisit APBN menjadi 6,34% dari PDB. Dengan defisit sebesar ini, pemerintah bisa mengalokasikan dana stimulus sebesar Rp 695,2 triliun.

Sementara itu, peranan impor hampir sama dengan peranan ekspor, yaitu 18,9 persen. Ekonom senior Faisal Basri punya prediksi tersendiri, mengutip catatannya di laman resmi miliknya faisalbasri.com Minggu (19/7/2020), dia bilang Indonesia insyaallah tidak akan masuk ke jurang resesi ekonomi. Jokowi lantas mengatakan tak dapat membayangkan seanjlok apa perekonomian Indonesia jika pemerintah melakukan karantina atau lockdown. "Kebetulan juga impor merosot lebih dalam dari impor. Jadi kemerosotan perdagangan luar negeri justru positif buat pertumbuhan ekonomi sehingga memberikan sumbangsih dalam meredam kemerosotan pertumbuhan," ujar Faisal. Peranan ekspor barang dan jasa relatif rendah dan jauh lebih rendah dari Singapura, hanya 18,4 persen.

Oleh karenanya BI bersama dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan terus berupaya menjaga risiko agar ekonomi Indonesia tidak tertekan terlalu dalam. Pemerintah harus mengantisipasi dengan memberikan bantuan yang mengarah ke distribusi obat-obatan atau vitamin yang menyentuh langsung ke masyarakat terutama yang berada di daerah-daerah yang penyebaran virus ini masih sangat tinggi. pt. solid gold berjangka obat-obatan yang dapat menyembuhkan gejala-gejala mirip Covid-19 atau sejenisnya. Kedua pemberdayaan produk lokal dan hasil usaha pengusaha khususnya level mikro dan kecil.

Menurut Telisa, lampu kuning makro ekonomi Indonesia saat ini datang dari defisit neraca transaksi berjalan yang terus melebar, meskipun saat ini masih dalam batas aman sekitar tiga persen dari nilai PDB. Sepanjang tahun berjalan ini, Indeks Harga Saham Gabungan naik tipis 0,5 persen ke level 6.214. Keyakinan investor asing juga masih tinggi terlihat dari beli bersih yang mencapai Rp60 triliun sepanjang tahun berjalan ini.