Adik Kelas.
Trinite RentSaat ini waktu menunjukan pukul 10.30, sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi kencang. Sejak tadi Hannah mengecek jam dinding dikelasnya, ia terus menghitung berapa menit lagi menuju istirahat sejak jam 10. Berbeda dengan anak kelas 12 yang sudah menetap dikantin sejak tadi, guru yang mengajar kelas 12 sedang mengadakan rapat, alhasil anak-anak tersebut dibiarkan begitu saja selama tidak mengganggu adik kelasnya.
Bel berbunyi kencang, pak Gun sang guru IPS segera menutup kelasnya. Baru saja pak Gun melangkahkan kaki keluar kelas, Hannah segera menarik tangan Kiara teman sebangkunya. Saking semangatnya, tarikan Hannah membuat Kiara tersungkur dari kursinya, teman-teman sekelasnya sempat menertawakannya tetapi kejadian tersebut tidak berlangsung lama.
"Ki buruan larinya, nanti kita kehabisan batagor mas Andi." Ucap Hannah sambil menarik tangan Kiara.
"Yaelah Han, batagor doang dikejar, cowok kek yang lu kejar, bukan batagor, lagian ya, ini kaki gue biru gara-gara lu tarik tadi." Omel Kiara yang masih kesakitan karna kejadian tadi.
"Udahlah gue traktir, keburu abis nanti." Hannah masih berusaha agar Kiara mau diajak berlari.
"Janji ya? boong awas aja, gue bilangin pak Gun nanti kalau ulangan minggu kemaren lu ngintip jawaban gue." Ancam Kiara.
"Dih, kan gue ngintip bukan nyalin jawaban."
"Tapi jawaban lu mirip persis kaya punya gue Han." Mereka terus beradu mulut sampai didepan gerobak batagor mas Andi, tetapi kali ini takdir tidak berpihak kepada mereka, ketika mereka sampai didepan gerobak yang mereka dapati hanyalah gerobak yang sudah kosong.
"Yah gara-gara lo Ki."
"Tanya dulu elah ke mas Andi nya." Usul Kiara.
"Mas masih ada ga batagornya?" Tanya Kiara kepada Andi sang penjual batagor.
"Wah ga ada neng, ini terakhir buat mas Bagja." Ucap Mas Andi sambil menunjuk Bagja.
Saat dua gadis itu melihat arah jari mas Andi, mereka terkejut karna orang yang dimaksud mas Andi adalah kakak kelas mereka yang terkenal galak. Kiara segera menghela napasnya lalu berbisik kepada Hannah.
"Han, balik yuk, atau cari makanan lain gitu, gue males bngt berurusan sama kakel galak itu." Ucap Kiara pelan sambil sesekali menunjuk Bagja.
"Yaud-"
"Nama kamu Hannah ya?" Tanya Bagja memotong omongan Hannah.
Jantung Hannah berdebar kencang karna ia takut berbuat salah didepan kakak kelasnya, masalahnya akan panjang jika mereka mencari ribut. Bagja memang dikenal sebagai kakak kelas yang galak, ditambah lagi ia anggota osis serta kapten basket di SMA nya. Melihat postur tubuhnya yang tinggi saja nyali sudah menciut, apalagi diajak ngobrol tiba-tiba.
"I-iya kak." Jawab Hannah terbata-bata.
"Kalau kamu mau batagornya ambil aja, udah gue bayar tadi." Ucap Bagja.
"Eh" Hannah kebingungan saat mendengar ucapan Bagja.
"Nanti kasih ke Hannah aja ya mas Andi, saya duluan." pamit Bagja lalu berjalan menuju meja kantin yang dipenuhi teman-temannya.
"Batagor lu mana ja? tadi bukannya lu bilang mau beli batagor." Tanya Rafi teman sekelasnya saat melihat Bagja mendekat ke arah meja.
"Gue kasih ke dekel, kayanya baru keluar kelas, terus ga kebagian batagor."
Selesai Bagja menuntaskan kalimatnya, Ode dan Arya tersedak minuman mereka. Semua pandangan teman Bagja langsung tertuju pada Hannah yang masih berdiri didekat gerobak batagor.
"Pantes cantik." Ucap Ode, Arya dan Rafi bersamaan, Bagja hanya merespon kalimat temannya dengan tatapan bingung.
"Daah balik yuk, udah bosen gue disini." Ajak Bagja lalu berdiri meninggalkan teman-temannya yang masih mencerna kejadian yang berlangsung.
"Serius Bagja sebaik itu sekarang sama cewek? mana itu dekel kan." Ucap Arya bertanya kepada Ode dan Rafi.
5 hari berlalu sejak kejadian itu, sebenarnya sejak 5 hari lalu Bagja selalu mempertanyakan ada apa dengan hati kecilnya, ia selalu berdebar dengan cepat ketika Bagja melihat senyuman Hannah. Bahkan dari jarak jauh saja ketika melihat Hannah, senyumannya terukir jelas.
•••
Hari ini Kiara tidak masuk sekolah karna ia harus menemani adiknya yang sedang sakit dirumah, orang tua Kiara sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak sempat menjaga anaknya yang tengah terbaring lemah karna penyakit demam.
Seperti biasa, Hannah selalu menuju kantin setiap bel berbunyi, tetapi kali ini ia hanya sendiri, tidak bersama Kiara. Saat sedang menyuap batagor ke dalam mulutnya, tiba-tiba kursi yang berada disebelah Hannah ditarik, ia melihat kesampingnya, ternyata Bagja yang duduk.
"Sorry gue ambi kursi disini, yang lain penuh." Kata Bagja. "Gapapa kak." balas Hannah sambi melanjutkan makannya.
10 detik berlalu tanpa obrolan, Bagja merasa suasana mereka begitu canggung, ditambah lagi dengan tatapan siswa lain yang merasa janggal dengan kejadian yang sedang berlangsung.
"Nama gue Bagja, anak kelas 12B" ucap Bagja memperkenalkan dirinya.
"Aku Hannah kak, dari kelas 10A." kali ini Hannah juga memperkenalkan dirinya.
Selang beberapa menit setelah mereka berkenalan, Hannah izin pamit menuju kelasnya karna beberapa menit lagi bel istirahat selesai berbunyi, Bagja hanya menganggukan kepalanya tanda ia tidak keberatan.
Ternyata pertemuan mereka tidak berakhir begitu saja, 2 minggu berlalu dengan banyaknya pertemuan antara mereka, mulai dari mereka tidak sengaja melempar senyuman saat berada diperpustakaan, saat pulang sekolah, dan masih banyak kejadian lainnya yang tidak disengaja.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang isi otak Bagja hanyalah Hannah, Hannah, dan Hannah. Begitu juga Hannah yang mulai merasakan benih cinta didalam hatinya, jika mereka memang berjodoh, takdir akan mempersatukan mereka berdua dan menuntun mereka dalam membuat kenangan indah.