01 : Makna
Senggani
ㅤㅤㅤMatahari timbul-hirap dari mega mendung kala saya mengamati langit kota Solo setelah dua hari berkunjung ke tanah kelahiran saya, Kota Kudus, untuk memenuhi panggilan ibu yang ditinggal mati jantung hatinya. Siang ini saya bergegas menuju kampus dengan menaiki kedua kaki saya. Atau saya boleh bilang, menaiki sepatu saya.
ㅤㅤㅤTenggelam dalam ladang ilmu pendidikan sejarah tadinya bukanlah keinginan saya. Keputusan hidup saya selama kurang lebih tujuh belas tahun selalu ada di tangan ibu dan ayah. Saya benci, saya dongkol, saya judeg ketika ibu memilihkan ladang ilmu untuk saya. Kenapa pula pendidikan sejarah? Saya gengsi, kadar intelektualitas saya terusik, kala itu saya menangis. Tapi, apa boleh buat? Saya orang Jawa asli, ibu dan ayah saya mendidik saya untuk menurut, tunduk, dan patuh dengan orang tua.
ㅤㅤㅤBahkan, setelah saya bisa berpikir mandiri, saya masih tertawan, saya tidak punya pilihan selain mengiyakan, termasuk mengiyakan kemauan ibu yang menghendaki saya belajar ilmu pendidikan sejarah seperti sekarang ini. Kata ibu saya, "Ibu kepengen kamu jadi guru. Semua orang bisa belajar. Semua orang bisa mencari ilmu. Tapi, tidak semua orang bisa memberikan ilmu."
ㅤㅤㅤSaya semakin judeg. Kok ibu saya berpikiran kalau ilmu itu datang dari seorang guru?
ㅤㅤㅤSaya dulunya meyakini bahwa guru itu tidak pintar, saya berpikir bahwa guru hanya lebih dulu paham tentang apa yang mereka ajarkan pada murid mereka. Ternyata, pernyataan saya salah. Seorang guru juga harus terus belajar. Profesor saya semester satu lalu pernah berpendapat. Katanya, "tugas guru bukanlah memberikan pelajaran. Tugas guru adalah mengupayakan agar siswa mau belajar."
ㅤㅤㅤSaya setuju. Bodoh atau pintar, mau mencari ilmu atau tidak, itu semua tergantung pada individu yang dalam kasus ini adalah murid. Tugas guru bukanlah semata-mata membacakan isi buku pelajaran seperti membacakan murid-murid dongeng sebelum tidur sehingga membuat mereka ngantuk di kelas. Tugas guru adalah membuat siswa mau belajar, mencari ilmu untuk kesejahteraan mereka sendiri. Ya, saya setuju dengan pernyataan profesor 60 tahunan itu.

ㅤㅤㅤSetelah berjalan dari rumah kos sekitar tiga puluh menit, saya sampai di kelas. Begitu saya mengambil posisi duduk, Srikandi, teman baik saya bergegas menghampiri untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya ayah saya dua hari yang lalu. Teman-teman saya yang lain ikut nimbrung memberi ucapan bela sungkawanya sepuluh menit kemudian.
ㅤㅤㅤTak ingin terus-terusan merasa dikasihani, saya membuka obrolan, "Jadi aku ketinggalan apa dua hari ini?"
ㅤㅤㅤBelum sempat pertanyaan saya terjawab, gerombolan orang di sekitar saya sudah berhamburan. Rupanya, Profesor Lesmana sudah datang.
ㅤㅤㅤSetelah meletakkan buku-bukunya di atas meja, Profesor Lesmana mengedar pandang. "Setiap manusia terlahir bebas dan murni," beliau membuka kelas dengan kalimat demikian dan membuat saya mengernyit. Ah, masak sih?
ㅤㅤㅤ"Namun, seiring berjalannya waktu, manusia menjadi tertawan oleh pikirannya sendiri," ucap Profesor Lesmana merampungkan kalimatnya.
ㅤㅤㅤSeketika mak deg, saya baru sadar bahwa beliau sedang mengutip teori Rousseau, salah satu tokoh dalam peristiwa Revolusi Perancis. Sejenak saya pikir saya akan keblinger dengan pemikiran awam yang tidak mempercayai kebebasan sebelum saya kabur dari sesuatu yang katanya disebut rumah itu.
ㅤㅤㅤApabila saya memilih untuk percaya dengan Rousseau, maka saya akan menemukan jalan buntu dalam pemikiran tentang hidup saya. Apakah berarti kebebasan yang baru saya rasakan dua hari yang lalu adalah fana? Apakah saya masih tertawan dengan pikiran saya sendiri?
ㅤㅤㅤTuhan, tolong saya.
Memikirkan ini saja sudah bisa membuktikan bahwa Rousseau itu benar. Saya tertawan dengan pikiran saya sendiri. Tapi, apa yang terjadi pada diri saya sebelumnya? Kala saya masih punya sosok bernama Ayah dan Ibu yang bertahun-tahun menawan pemikiran saya, padahal saya juga tertawan oleh pikiran saya sendiri, apa artinya itu?
ㅤㅤㅤSaya ngacung, "Prof, apakah pikiran kita yang menawan diri kita ini, dapat ditawan atau dikendalikan oleh orang lain?"
ㅤㅤㅤProfesor Lesmana mengangkat alisnya. Ya, saya paham betul pertanyaan saya jauh di luar konteks pembahas perkuliahan hari ini. Tapi, toh beliau sendiri yang membuka kuliah dengan konsep kebebasan menurut Rousseau, saya jadi kepo.
ㅤㅤㅤProfesor Lesmana mengangguk, "Ya, orang lain mungkin dapat menyediakan informasi, argumen, atau perspektif baru yang mempengaruhi cara kita memandang sesuatu, tetapi keputusan akhir tentang bagaimana kita menafsirkan, merespons, dan bertindak berada dalam kendali kita sendiri,"
ㅤㅤㅤJangkrik!
ㅤㅤㅤApa benar selama ini saya yang salah kaprah memaknai kebebasan dalam hidup saya?