00 : Prolog
Senggani
ㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤApabila saya hanya diberi kesempatan untuk membenci satu hal di dunia, maka jawabnya adalah pemakaman.
ㅤㅤㅤOrang-orang menganggap seakan reaksi yang paling normal saat menghadiri pemakaman hanya menangis tersedu kala melihat seseorang yang sudah tidak lagi bernyawa perlahan ditelan buana. Saya, sebaliknya, hanya berdiri terdiam merenungkan kebebasan yang terasa aneh menjalar di seluruh tubuh. Tidak ada satu tetes air matapun terjatuh dari netra saya yang terkunci pada tanah kuburan yang masih basah.
ㅤㅤㅤSaya Senggani Januarta. Serius, itu nama perempuan. Dahulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ibu guru saya bertanya kepada saya. Katanya, "apa arti namamu?" Kala itu saya tidak tahu jawabnya.
ㅤㅤㅤAwalnya, saya merasa sangat keberatan dengan nama pemberian ibu ini. Orang-orang di sekitar saya sering kali salah paham, mereka mengira seorang bernama Senggani adalah laki-laki. Namun, kadar feminitas saya kembali hadir setelah mengetahui bahwa Senggani berasal dari nama bunga. Apabila digabungkan, arti nama saya menjadi : setangkai bunga yang memiliki ambisi membaja. Bagus!
ㅤㅤㅤKata ibu, bunga itu simbol kehidupan. Pikiran saya berkontradiksi dengan pernyataan ibu saya itu. Menurut saya, bunga juga berkaitan dengan kematian, seperti sekarang ini. Orang-orang menabur bunga di atas gundukan tanah dengan raut wajah sedih, ada pula yang memasang wajah yang disedih-sedihkan, berharap seseorang yang sudah mati terkubur di bawah sana akan tersenyum senang dan menari-nari karena kuburnya bertabur kelopak bunga mawar. Dan orang mati yang sudah dikubur itu adalah ayah saya.
ㅤ"Senggani," suara parau seorang wanita paruh baya membuat saya menengok ke arahnya. Saya tak mengucap apa-apa.
ㅤ"Apa yang kamu rasakan sekarang, Nduk?"
ㅤ"Bebas."
ㅤIbu menghela nafas panjang. Katanya pada saya, "setidaknya kamu merasa kehilangan. Setidaknya, ikutlah nyekar, menabur bunga."
ㅤSaya menggeleng. Pikir saya, untuk apa bersedih atas kepergian ayah saya sambil menabur bunga? Padahal, ayah saya sama sekali tidak suka dengan bunga. Apalagi dengan bunga Senggani yang hidup bersamanya selama tujuh belas tahun, sebelum akhirnya bunga itu memutuskan untuk gugur dari tangkainya, dan mengembara menimba ilmu di Surakarta.